Kisah Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Teladan Tauhid dan Pengorbanan Setiap kali takbir Idul Adha berkumandang, kaum muslimin di seluruh dunia mengingat ibadah qurban. Hewan-hewan disembelih sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Namun sesungguhnya, qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Di balik ibadah qurban tersimpan kisah keimanan yang sangat agung dan menggetarkan hati. Kisah seorang ayah yang rela mengorbankan putra tercintanya demi menaati perintah Allah. Kisah seorang ibu yang ditinggalkan di padang tandus hanya bersama bayi kecilnya. Kisah sebuah keluarga yang mempertahankan tauhid di tengah ujian yang sangat berat. Itulah keluarga Nabi Ibrahim. Allah menjadikan beliau sebagai teladan bagi manusia sepanjang zaman. Nabi Ibrahim Menolak Kemusyrikan Kaumnya Nabi Ibrahim hidup di tengah masyarakat penyembah berhala. Bahkan ayah beliau sendiri adalah pembuat berhala dan pemimpin kesyirikan kaumnya. Namun sejak muda, Nabi Ibrahim telah diberi petunjuk oleh Allah ...
Di dunia yang penuh ujian ini, manusia terus mencari kebahagiaan. Ada yang mencarinya melalui harta, jabatan, pujian manusia, bahkan hiburan tanpa batas. Namun sering kali semua itu tidak mampu menenangkan hati, atau mendatangkan ketenangan jiwa, itu, tidak . Karena sesungguhnya, ketenangan jiwa sejati bukan terletak pada banyaknya dunia yang dimiliki, tetapi pada dekatnya hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang disebut para ulama sebagai manisnya keimanan. Manisnya iman adalah nikmat yang tidak bisa dibeli dengan dunia. Ia hadir di dalam hati orang-orang yang mengenal Allah, mencintai-Nya, dan terus berusaha taat kepada-Nya. Apa Itu Manisnya Keimanan? Rasulullah ﷺ bersabda: ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ Artinya : “Tiga perkar...