Ada manusia yang gelisah karena merasa hidupnya tertinggal. Melihat orang lain memiliki jabatan tinggi, ia merasa gagal. Melihat orang lain hidup berkecukupan, ia merasa Allah tidak adil padanya. Melihat orang lain terlihat sukses, ia sibuk bertanya: "Mengapa hidup saya tidak seperti mereka?" Padahal manusia sering lupa satu kenyataan besar: setiap manusia berjalan di atas qadar Allah yang berbeda-beda. Tak seorang pun mengetahui bagaimana qadar dirinya esok hari. Tak seorang pun tahu kapan lapang datang. Tak seorang pun tahu kapan ujian berakhir. Tak seorang pun tahu bagaimana akhir hidupnya. Namun Allah telah mengetahui semuanya jauh sebelum kita dilahirkan. Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ، قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ "Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Allah berfirman kepadanya: Tulislah. Pena berkata: Wahai Rabbku, apa ...
Ada orang yang rumahnya besar, tetapi tidurnya gelisah. Ada yang hartanya banyak, tetapi dadanya sempit. Ada yang terlihat tertawa di depan manusia, tetapi menangis diam-diam saat malam tiba. Mengapa? Karena ketenangan hati bukan terletak pada banyaknya dunia yang kita miliki. Bukan pada pujian manusia. Bukan pada jabatan. Bukan pula pada hiburan yang hanya menenangkan sesaat lalu meninggalkan kehampaan. Allah telah memberi jawaban yang sangat jelas dalam Al-Qur’an: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d: 28) Ayat ini sangat singkat, tetapi menampar banyak manusia yang sibuk mencari ketenangan di tempat yang salah. Ada yang ketika gelisah justru mendekati maksiat. Ada yang melarikan diri pada hiburan berlebihan. Ada yang menenangkan diri dengan dosa. Padahal dosa sering kali bukan solusi, justru menambah luka baru dalam jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda: الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ ...