'cookieChoices = {};' Nasihat Islami Untuk Kesehatan Jiwa dan Raga.

Saturday, June 1, 2024

Ketika Nabi Musa menyeru Fir'aun.

 



 



 

Cerita peristiwa Nabi Musa dan Harun menghadapi Fir'aun agar menyembah Tuhan, jadi pelajaran dan bisa meningkatkan keimanan, dimana ketika Musa mengeluarkan mukjizat dari Allah SWT, dikatakan  sihir. Dan bantahan  Fir'aun ditunjukkan dengan Fir'aun mengumpulkan tukang sihir sekota melawan mukjizat Musa. Tukang sihir kalah dan iman. Fir'aun marah lalu tukang sihir disalib , selanjutnya bagaimana potongan cerita nya.

Peristiwa ini adalah bagian dari kisah Nabi Musa dan Nabi Harun dalam Al-Qur'an. Ketika Musa meminta Fir'aun untuk membebaskan Bani Israel dari perbudakan, Fir'aun menolak dan mengklaim bahwa mukjizat yang diperlihatkan oleh Musa hanyalah sihir. Fir'aun kemudian memanggil tukang sihir untuk menandingi mukjizat tersebut. Namun, tukang sihir itu akhirnya menyadari kebenaran dan kekuatan Allah, dan mereka pun beriman kepada-Nya. Fir'aun, dalam kemarahannya, memutuskan untuk menghukum mati dengan disalib mereka sebagai peringatan bagi yang lain.

Sebelum Musa kembali ke Mesir untuk membebaskan Bani Israel, dia tinggal di Madyan dan bekerja sebagai gembala untuk Nabi Syuaib (Shu'aib), yang juga disebut sebagai Nabi Sueb dalam beberapa tradisi. Di Madyan, Musa bertemu dengan putri Nabi Syuaib, yang dalam beberapa tradisi disebut sebagai Zipporah atau Safura. Musa menikahi putri Nabi Syuaib tersebut dan tinggal di Madyan selama beberapa waktu.
Setelah 10 tahun tinggal di Madyan, mendadak Musa merasa rindu kepada ibunya dan rindu untuk kembali ke Mesir dan membebaskan Bani Israel dari penindasan Fir'aun. Ketika Musa dan keluarganya melakukan perjalanan pulang ke Mesir, terjadi peristiwa penting yang disebut sebagai "peristiwa api yang tak terbakar". Musa melihat cahaya yang terang benderang dari sebuah semak duri, namun semak tersebut tidak terbakar. Ketika Musa mendekat, Allah berbicara langsung kepadanya melalui semak tersebut, memerintahkan Musa untuk kembali ke Mesir dan membebaskan Bani Israel.
Setelah peristiwa ini, Musa bersama keluarganya melanjutkan perjalanan menuju Mesir, di mana dia akan menghadapi Fir'aun dan memulai misinya untuk membebaskan Bani Israel dari perbudakan.

Saat tiba di Mesir, Musa menyampaikan pesan dari Allah kepada Fir'aun, meminta agar Bani Israel dibebaskan dari perbudakan. Fir'aun menolak permintaan Musa dan bahkan memperberat penindasan terhadap Bani Israel.
Musa, didukung oleh saudaranya, Harun, kemudian memperlihatkan mukjizat dari Allah untuk membuktikan kebenaran misi mereka.

Namun, Fir'aun tetap keras kepala dan menolak untuk mengakui kebenaran. Ini memicu serangkaian peristiwa, termasuk pertempuran antara mukjizat Musa dan tukang sihir yang dibawa Fir'aun.

10 bencana yang menimpa Mesir dalam kisah Nabi Musa adalah:
Air berubah menjadi darah: Air di Mesir menjadi darah, tidak dapat diminum dan menyebabkan kematian bagi banyak makhluk hidup.
Belalang: Belalang menyerbu Mesir, merusak tanaman dan menyebabkan kelaparan.
Nyamuk atau kutu: Nyamuk atau kutu menyerang manusia dan hewan, menyebabkan rasa gatal dan ketidaknyamanan.
Nyamuk yang menyebabkan penyakit: Nyamuk membawa penyakit yang menjangkiti manusia dan hewan.
Hujan batu: Hujan batu besar turun dari langit, merusak tanaman dan harta benda.
Belerang dan api: Hujan belerang dan api menyala menyelimuti Mesir, membakar tanaman dan harta benda.
Hujan yang menyebabkan banjir: Hujan deras yang menyebabkan banjir di seluruh Mesir.
Jangkrik: Jangkrik menyerbu Mesir, merusak sisa-sisa tanaman yang masih bertahan.
Kegelapan: Gelap gulita menyelimuti Mesir selama beberapa waktu, mengganggu kehidupan sehari-hari.
Kematian anak sulung: Allah menyebabkan kematian anak sulung di setiap keluarga Mesir sebagai hukuman terakhir sebelum Fir'aun akhirnya membebaskan Bani Israel.

Setelah serangkaian peristiwa, termasuk 10 bencana (plague) yang menimpa Mesir, Fir'aun masih tidak mau menyerah.

Kisah kematian anak sulung adalah bagian dari serangkaian bencana yang menimpa Mesir dalam kisah Nabi Musa. Allah memperingatkan Fir'aun bahwa jika dia tidak membebaskan Bani Israel, maka anak sulung semua keluarga Mesir akan mati. Fir'aun tetap keras kepala dan menolak mematuhi perintah Allah.
Pada malam terakhir sebelum Musa dan Bani Israel melarikan diri dari Mesir, Allah mengutus malaikat pencabut nyawa untuk menempuh langkah terakhir. Malaikat itu mengambil nyawa anak sulung di setiap keluarga MesirMalaikatitu mengambil nyawa anak sulung di setiap keluarga Mesir, termasuk anak Fir'aun sendiri. Ini adalah hukuman terakhir sebelum Fir'aun akhirnya membebaskan Bani Israel.
Kematian anak sulung ini merupakan momen puncak dalam bencana-bencana yang menimpa Mesir, dan menjadi titik balik yang membuat Fir'aun mengizinkan Musa dan Bani Israel pergi. Ini adalah bagian penting dari kisah penyelesaian kebebasan Bani Israel dan kehancuran pemerintahan Fir'aun yang zalim.

Musa dan Bani Israel akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dari Mesir menuju Tanah Perjanjian yang dijanjikan oleh Allah. Perjalanan mereka penuh dengan cobaan dan ujian, tetapi akhirnya Allah membimbing mereka melintasi Laut Merah dan menyelamatkan mereka dari kejaran Fir'aun. Fir'aun dan pasukannya tenggelam di laut, mengakhiri pemerintahan Fir'aun yang zalim.

Fir'aun dan pasukannya mengejar Musa dan Bani Israel karena Fir'aun merasa terhina dan ingin menegaskan kekuasaannya yang sedang dipertanyakan. Ketika Musa meminta izin untuk membawa Bani Israel pergi dari Mesir, Fir'aun menolak dan menganggapnya sebagai ancaman terhadap kekuasaannya. Fir'aun tidak ingin kehilangan tenaga kerja murah yang disediakan oleh Bani Israel dan juga merasa bahwa pemberontakan ini dapat mengganggu stabilitas politiknya.

Selain itu, Fir'aun merasa terhina karena serangkaian mukjizat yang ditunjukkan oleh Musa telah menunjukkan kekuasaan Allah di atas kekuasaannya. Fir'aun merasa perlu untuk menunjukkan kekuasaannya dan memperlihatkan bahwa dia tidak akan mengizinkan siapapun untuk menantangnya, termasuk Musa dan Bani Israel.
Jadi, Fir'aun dan pasukannya mengejar Musa dan Bani Israel sebagai upaya untuk menegaskan kekuasaannya yang sedang dipertanyakan dan untuk menahan perlawanan yang dianggapnya sebagai ancaman terhadap pemerintahannya.

Setelah Bani Israel selamat menyeberangi Laut Merah, Fir'aun dan pasukannya mengejar mereka ke dalam laut yang telah terbelah. Namun, ketika Fir'aun dan tentaranya berada di tengah-tengah laut yang terbelah, air laut kembali menyatu dan menenggelamkan mereka. Fir'aun dan pasukannya tenggelam, mengakhiri pemerintahannya yang kejam.

Dalam cerita kisah Nabi Musa, Fir'aun dan pasukannya mengejar Musa dan Bani Israel ke dalam Laut Merah setelah Musa berhasil membagi air laut untuk memberikan jalan bagi Bani Israel. Ketika Bani Israel berhasil menyeberangi laut, air kembali menyatu, menenggelamkan Fir'aun dan pasukannya.


Sudah kehendaklah Allah jasad Fir'aun itu utuh, cara Allah menunjukkan kekuasaannya.

Tentang mengapa jasad Fir'aun utuh sampai sekarang, secara akal pikiran prosesnya cara Allah , dimana hal itu mungkin dibuat terjadi karena kondisi tertentu di bawah air yang dapat memperlambat proses dekomposisi. Air asin dan suhu dingin di dasar laut dapat memperlambat pembusukan jasad. Selain itu, beberapa cerita dan tradisi menambahkan elemen keajaiban atau perlindungan ilahi atas jasad Fir'aun, sehingga menjaga keutuhan tubuhnya selama berabad-abad. Namun, hal ini lebih pada aspek mitologis atau kepercayaan keagamaan daripada fakta ilmiah.

Allahu Aklam. Allah Maha Mengetahui. Mudah mudahan kisah ini bisa menginspirasi kita semua. Dan semoga manfaat dan barokah.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari misi Nabi Musa, dan kesombongan Fir'aun kepada Tuhan nya. Ikuti berikutnya.

 

sumber: - https://id.wikipedia.org/wiki/Tulah_Mesir

              - QS. 7 : 133 
              - QS. 79 : 15 - 26

Friday, May 31, 2024

Keutamaan Sahabat Umar bin Khattab ra dan Sahabat Lainnya dalam mendampingi Nabi SAW

 



Hikmah dari kedua perang telah banyak diterangkan dalam Alquran dan Al-Hadis, dimana menunjukkan pentingnya ketabahan, keberanian, dan kepercayaan kepada Allah. Perang Uhud, misalnya, mengajarkan tentang pentingnya ketaatan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan. Perang Badar menggambarkan keberhasilan yang diperoleh melalui bantuan Allah kepada orang-orang yang beriman, meskipun mereka dalam posisi yang lemah. Dalam perang itu peran para Sahabat luar biasa berperanan


Keutamaan para Sahabat tidak hanya tercermin dalam perang, tetapi juga dalam pengabdian mereka kepada ajaran Islam dan Rasulullah SAW. 

Kita sama mengetahui keutamaan Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali ra  dalam perang badar dan uhud telah didukung oleh beberapa hadis dan ayat-ayat Alquran. Berikut kita membahas dengan Umar bin Khattab (ra)



Umar bin Khattab (ra)


Umar bin Khattab adalah sahabat Rasulullah yang terkenal dengan keadilannya, keberaniannya, dan keteguhannya dalam mempertahankan kebenaran Islam. Sebelum menjadi Muslim, Umar dikenal sebagai tokoh yang kuat dan tegas. Namun, setelah memeluk Islam, kekuatannya dipergunakan untuk memperjuangkan kebenaran dan melindungi umat Islam.


Salah satu keutamaan Umar adalah keadilannya. Beliau sangat tegas dalam menegakkan hukum-hukum Islam dan memastikan bahwa keadilan ditegakkan bagi semua orang, baik Muslim maupun non-Muslim. Rasulullah SAW pernah bersabda tentangnya, "Sesungguhnya keadilan Umar itu lebih berat di sisi Allah daripada seluruh dunia dan seisinya." (Hadis riwayat Abu Dawud)


Umar juga terkenal dengan keberaniannya dalam mempertahankan Islam. Pada masa awal Islam, ketika umat Muslim masih lemah dan terusir dari Makkah, Umar tidak ragu-ragu untuk menunjukkan keberaniannya dengan terang-terangan memeluk Islam di tengah-tengah kota Makkah yang musyrik. Ini merupakan momen penting dalam sejarah Islam yang menunjukkan keberanian dan keteguhan Umar dalam keyakinannya.


Dalam Alquran, Allah SWT memberikan pujian kepada Umar dalam beberapa ayat. Salah satunya adalah dalam Surah Al-Hujurat (49:6), "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." Ayat ini menunjukkan pentingnya keadilan dan kehati-hatian dalam menanggapi berita atau informasi, sebuah nilai yang ditekankan oleh Umar dalam kepemimpinannya.



Usman bin Affan (ra)


Usman bin Affan adalah salah satu sahabat Rasulullah yang terkenal dengan kemuliaan akhlaknya, kemurahan hatinya, dan kecintaannya kepada Islam. Salah satu keutamaan utama Usman adalah kedermawanan dan kemurahan hatinya. Beliau sangat dermawan dalam memberikan harta kekayaannya untuk kepentingan umat Islam dan membangun masyarakat Muslim.


Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda tentang Usman, "Tidaklah seorang manusia memberikan harta yang lebih bermanfaat daripada Usman." (Hadis riwayat Bukhari) Keutamaan ini menunjukkan tingkat kedermawanan dan kemurahan hati Usman dalam menyokong dakwah dan kepentingan umat Islam.


Usman juga dikenal dengan ketaatannya kepada Rasulullah dan keteguhan imannya. Ia adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Ketika Rasulullah masih hidup, Usman selalu mendukung dan mematuhi ajaran beliau dengan setia.


Dalam Alquran, ada beberapa ayat yang dapat kita hubungkan dengan keutamaan Usman. Salah satunya adalah dalam Surah Al-Bayyinah (98:8), "Orang-orang yang mengikuti Rasul yang ummi, yang didapati mereka tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka." Ayat

ini menegaskan bahwa orang-orang yang mengikuti Rasulullah, termasuk Usman, adalah orang-orang yang dijamin keberkahan dan keselamatan oleh Allah.



Ali bin Abi Thalib (ra)


Ali bin Abi Thalib adalah sepupu dan menantu Rasulullah, serta salah satu sahabat terdekat beliau. Ali dikenal dengan keberaniannya di medan perang dan kebijaksanaannya dalam memecahkan masalah. Salah satu keutamaan Ali adalah keteguhannya dalam mempertahankan kebenaran Islam, bahkan ketika itu berarti berhadapan dengan kesulitan dan penderitaan.


Ali juga terkenal dengan kearifannya dalam memberikan nasihat dan penyelesaian konflik. Rasulullah SAW pernah bersabda tentangnya, "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu masuknya." (Hadis riwayat Ibnu Majah) Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Ali dalam meneruskan dan menjaga ajaran Islam.


Salah satu momen puncak keberanian Ali adalah ketika ia menghadapi Amr bin Wudd, seorang pejuang yang dianggap tak terkalahkan di medan perang. Dalam pertempuran tersebut, Ali berhasil mengalahkan Amr dengan keberanian dan kekuatannya yang luar biasa. Keberanian Ali dalam pertempuran ini menjadi legenda dalam sejarah Islam.


Dalam Alquran, keutamaan Ali juga dapat ditemukan. Salah satu ayat yang terkait adalah dalam Surah Al-Insan (76:5), "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, merekalah sebaik-baik makhluk." Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki iman dan beramal saleh, termasuk Ali, adalah yang terbaik di antara makhluk Allah.


Dengan demikian, Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali ra adalah empat sahabat yang memiliki keutamaan yang luar biasa dalam Islam. Mereka adalah teladan bagi umat Islam dalam keberanian, keadilan, kedermawanan, dan keteguhan iman. Hadis-hadis dan ayat-ayat Alquran yang menyebutkan keutamaan mereka menjadi bukti betapa pentingnya peran mereka dalam sejarah dan ajaran Islam.

Popular Posts