Kadang-kadang kita membaca Al-Qur’an hanya dengan mata. Bibir bergerak, tapi hati tak tersentuh. Namun, ada ayat-ayat yang menggetarkan langit, yang membuat para sahabat Nabi tak mampu berdiri atau duduk setelah mendengarnya—mereka langsung meletakkan dahi mereka ke tanah, bersujud dalam tunduk yang paling dalam.
Itulah sujud tilawah, sujud satu ayat yang menggetarkan jiwa.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ketika membaca ayat sajdah, beliau langsung sujud. Para sahabat yang mendengarnya pun ikut sujud, meskipun mereka tak sedang dalam shalat. Bahkan saking penuhnya rasa tunduk, disebutkan:
"...hingga tak satu pun dari kami mendapatkan tempat untuk meletakkan dahinya."
(HR. Bukhari)
Bayangkan, sahabat-sahabat yang penuh cinta kepada Al-Qur’an itu, ketika mendengar satu ayat saja, bukan sekadar berkata “MasyaAllah,” atau “bagus sekali ayat ini,” tapi langsung rebah, meletakkan wajah di tanah. Mereka tahu bahwa ayat itu bukan sekadar bacaan, melainkan seruan dari Tuhan semesta alam:
"Bersujudlah kepada-Ku."
Apa itu Sujud Tilawah?
Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan ketika membaca atau mendengar ayat sajdah dalam Al-Qur’an. Ada sekitar 15 tempat dalam Al-Qur’an yang disunnahkan untuk bersujud ketika sampai padanya.
Ini bukan sekadar gerakan. Ini adalah bentuk cinta dan tunduk. Tanda bahwa hati ini masih hidup dan sadar bahwa yang berbicara dalam ayat itu bukan makhluk, tapi Allah Ta’ala.
Doa Sujud Tilawah (Hadis Shahih Abu Dawud):
سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Artinya:
“Wajahku bersujud kepada Tuhan yang telah menciptakannya, membuka pendengaran dan penglihatannya dengan kekuatan dan daya-Nya. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta.”
Mengapa Kita Jarang Sujud Saat Membaca Qur’an?
Barangkali karena kita membaca tanpa menghadirkan hati. Barangkali karena suasana rumah dan hati kita tak lagi seperti rumah Rasulullah dan para sahabat. Sujud menjadi berat, karena hati tak lagi ringan.
Namun justru itulah kita perlu menghidupkannya kembali.
Bayangkan…
Di ruang sunyi malam, atau di sela membaca mushaf, engkau berhenti sejenak. Meletakkan HP atau mushaf, lalu engkau bersujud. Tak ada yang melihat. Tapi langit melihat. Malaikat mencatat. Dan bumi menjadi saksi bahwa engkau pernah bersujud karena satu ayat dari Tuhanmu.
Penutup:
Mungkin kita tak sehebat para sahabat. Tapi kita bisa memulai seperti mereka. Menyambut panggilan ayat sajdah bukan dengan lewat begitu saja, tapi dengan sujud yang jujur dan rendah hati. Barangkali, satu sujud yang kita lakukan—meski dengan tubuh lemah dan hati yang penuh dosa—cukup untuk menggugurkan beban hidup dan membuka jalan berkah dari langit.
Mari hidupkan kembali satu sujud karena satu ayat. Semoga sujud itu menjadi cahaya yang menyinari hidup kita dan membangkitkan kembali rasa tunduk yang hilang.