'cookieChoices = {};' Nasihat Islami Untuk Kesehatan Jiwa dan Raga.

Thursday, April 3, 2025

Sujud Satu Ayat: Ketika Dahi Menyentuh Bumi, Langit pun Terbuka



Kadang-kadang kita membaca Al-Qur’an hanya dengan mata. Bibir bergerak, tapi hati tak tersentuh. Namun, ada ayat-ayat yang menggetarkan langit, yang membuat para sahabat Nabi tak mampu berdiri atau duduk setelah mendengarnya—mereka langsung meletakkan dahi mereka ke tanah, bersujud dalam tunduk yang paling dalam.


Itulah sujud tilawah, sujud satu ayat yang menggetarkan jiwa.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ketika membaca ayat sajdah, beliau langsung sujud. Para sahabat yang mendengarnya pun ikut sujud, meskipun mereka tak sedang dalam shalat. Bahkan saking penuhnya rasa tunduk, disebutkan:

"...hingga tak satu pun dari kami mendapatkan tempat untuk meletakkan dahinya."

(HR. Bukhari)


Bayangkan, sahabat-sahabat yang penuh cinta kepada Al-Qur’an itu, ketika mendengar satu ayat saja, bukan sekadar berkata “MasyaAllah,” atau “bagus sekali ayat ini,” tapi langsung rebah, meletakkan wajah di tanah. Mereka tahu bahwa ayat itu bukan sekadar bacaan, melainkan seruan dari Tuhan semesta alam:

"Bersujudlah kepada-Ku."


Apa itu Sujud Tilawah?

Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan ketika membaca atau mendengar ayat sajdah dalam Al-Qur’an. Ada sekitar 15 tempat dalam Al-Qur’an yang disunnahkan untuk bersujud ketika sampai padanya.

Ini bukan sekadar gerakan. Ini adalah bentuk cinta dan tunduk. Tanda bahwa hati ini masih hidup dan sadar bahwa yang berbicara dalam ayat itu bukan makhluk, tapi Allah Ta’ala.

Doa Sujud Tilawah (Hadis Shahih Abu Dawud):

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya:

“Wajahku bersujud kepada Tuhan yang telah menciptakannya, membuka pendengaran dan penglihatannya dengan kekuatan dan daya-Nya. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta.”

Mengapa Kita Jarang Sujud Saat Membaca Qur’an?

Barangkali karena kita membaca tanpa menghadirkan hati. Barangkali karena suasana rumah dan hati kita tak lagi seperti rumah Rasulullah dan para sahabat. Sujud menjadi berat, karena hati tak lagi ringan.

Namun justru itulah kita perlu menghidupkannya kembali.

Bayangkan…

Di ruang sunyi malam, atau di sela membaca mushaf, engkau berhenti sejenak. Meletakkan HP atau mushaf, lalu engkau bersujud. Tak ada yang melihat. Tapi langit melihat. Malaikat mencatat. Dan bumi menjadi saksi bahwa engkau pernah bersujud karena satu ayat dari Tuhanmu.


Penutup:

Mungkin kita tak sehebat para sahabat. Tapi kita bisa memulai seperti mereka. Menyambut panggilan ayat sajdah bukan dengan lewat begitu saja, tapi dengan sujud yang jujur dan rendah hati. Barangkali, satu sujud yang kita lakukan—meski dengan tubuh lemah dan hati yang penuh dosa—cukup untuk menggugurkan beban hidup dan membuka jalan berkah dari langit.


Mari hidupkan kembali satu sujud karena satu ayat. Semoga sujud itu menjadi cahaya yang menyinari hidup kita dan membangkitkan kembali rasa tunduk yang hilang.










Wednesday, April 2, 2025

Keberuntungan Sejati



 Ekstra besar 60cm✔ emari plastik susun storage box
lemari pakaian plastik kotak penyimpanan baju box penyimpanan serbaguna


Keberuntungan Sejati: Dijauhkan dari Neraka dan Dimasukkan ke Surga


Pengantar

Setiap manusia mendambakan kebahagiaan dan keberuntungan dalam hidupnya. Namun, sering kali keberuntungan diukur dengan harta, jabatan, atau kesuksesan duniawi. Padahal, dalam pandangan Islam, keberuntungan sejati bukanlah kekayaan atau kehormatan di dunia, melainkan keselamatan dari neraka dan masuknya seseorang ke dalam surga. Inilah makna yang Allah tegaskan dalam firman-Nya:


فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

"Maka barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."

(QS. Ali 'Imran: 185)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa dunia hanyalah tempat sementara. Segala kesenangan dan penderitaan di dunia akan berakhir, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Pikirkanlah bagaimana mencapainya.  Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللَّهِ، مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ - وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ - فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ؟

"Demi Allah, dunia ini dibandingkan dengan akhirat tidak lain seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke dalam lautan, lalu lihatlah apa yang tersisa pada jarinya setelah ia mengeluarkannya."

(HR. Muslim No. 2858)


Hadis ini menggambarkan betapa kecilnya dunia dibandingkan dengan akhirat. Sering kali kita terjebak dalam urusan dunia, hingga lupa bahwa keberuntungan yang sejati adalah terbebas dari siksa neraka dan mendapatkan kenikmatan surga. Betapa dahsyatnya siksa di Neraka , walaupun siksaan menghancurkan tubuhnya, namun mereka tidak mati. Apa artinya seklimak apapun bentuk siksaan terus dirasakan, karena mereka tidak ada mati, semakin lama semakin sakit. Siksa didunia klimaknya manusia tidak mampu menahan langsung mati, di neraka tidak ada kematian.  Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً، ثُمَّ يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ

"Akan didatangkan seorang yang paling banyak merasakan kesusahan di dunia, tetapi ia termasuk penghuni surga, lalu ia dicelupkan ke dalam surga sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, 'Wahai anak Adam, pernahkah engkau mengalami kesusahan sedikit pun? Pernahkah engkau merasakan penderitaan sedikit pun?' Maka ia menjawab, 'Tidak, demi Allah, wahai Rabbku, aku tidak pernah mengalami kesusahan atau penderitaan sama sekali.'"

(HR. Muslim No. 2807)


Perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan orang yang dicelupkan dalam air kehidupan ini adalah orang beriman yang pernah masuk neraka karena dosanya. Mereka adalah orang-orang beriman tetapi masih berbuat aniaya, melanggar aturan Allah, Rasul-Nya, dan Imam mereka. Mereka mendapatkan hisab yang berat, menderita di dunia, dan lebih-lebih di akhirat disiksa dalam neraka dalam waktu yang lebih lama dibanding kehidupan mereka di dunia. Namun, ketika tiba waktunya untuk dikeluarkan dari neraka karena keimanan mereka yang masih tersisa, mereka akan dicelupkan ke dalam kenikmatan surga sehingga mereka melupakan semua penderitaan di dunia dan di akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَهْلَ الجَنَّةِ لَيَرَوْنَ أَهْلَ الغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا تَرَوْنَ الكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الغَابِرَ فِي الأُفُقِ مِنَ المَشْرِقِ أَوِ المَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تِلْكَ مَنَازِلُ الأَنْبِيَاءِ لَا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ، قَالَ: بَلَى، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا المُرْسَلِينَ

"Sesungguhnya penghuni surga akan melihat penghuni kamar-kamar tinggi di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang bercahaya di langit timur atau barat, karena perbedaan derajat di antara mereka." Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, apakah itu tempat para nabi yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun selain mereka?" Beliau menjawab, "Bukan, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul-Nya."

(HR. Bukhari No. 3256, Muslim No. 2831)


Penutup

Saudaraku, janganlah kita tertipu dengan gemerlap dunia yang sementara. Marilah kita berusaha mengejar keberuntungan sejati dengan beriman dan beramal saleh. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ فِي الجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

"Sesungguhnya tempat cemeti salah seorang dari kalian di surga itu lebih baik daripada dunia seisinya."

(HR. Bukhari No. 2892, Muslim No. 2836)

Jika tempat sekecil itu lebih berharga dari dunia dan seisinya, lalu bagaimana dengan kenikmatan surga yang lebih besar? Maka, mari kita renungkan dan persiapkan bekal terbaik untuk akhirat. Semoga Allah menjauhkan kita dari neraka dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Aamiin.



Popular Posts