Friday, February 6, 2026

Ketika Syaitan Bersumpah Menyesatkan Anak Adam





Bagus untuk hadiah Istri atau anak tercinta

HANIFA SYAR’I MADAME ANTI UV BAJU UMROH HAJI PENGAJIAN BUSANA MUSLIMAH SYARI MUSLIM GAMIS ANTI UV FRENCH KHIMAR ANTI UV BY ARSY


Ancaman dari Empat Arah dan Cara Menjaga Kesehatan Jiwa dan Raga

Syaitan bukan sekadar makhluk yang membangkang, tetapi makhluk yang bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan seluruh anak Adam. Sumpah itu direkam Allah dalam Al-Qur’an sebagai peringatan sepanjang zaman, bukan sekadar kisah masa lalu.

Allah Ta‘ala berfirman:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Ia (syaitan) berkata: ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan menghadang mereka di jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’”

(QS. Al-A‘raf: 16–17)

Ayat ini adalah peta strategi syaitan yang ia akui sendiri di hadapan Allah.

Syaitan Menghadang di Jalan yang Lurus

Ancaman terbesar bukan saat manusia berada di jalan maksiat, tetapi ketika ia sedang berjalan menuju ketaatan. Hal ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah ﷺ:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ كُلِّهَا

“Sesungguhnya syaitan duduk menghadang anak Adam di setiap jalan yang ia lalui.”

(HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Artinya, syaitan tidak lelah. Ia menunggu di setiap persimpangan hidup manusia.


Makna “Mendatangi dari Empat Arah” Menurut Al-Qur’an dan Hadis


1.syaitan mendatangi anak Adam

empat arah

dalil Al-Qur’an dan hadis

kesehatan jiwa dan raga Dari Depan – Merusak Pandangan Akhirat dan Masa Depan

Syaitan menakut-nakuti manusia tentang:

kematian

masa depan

kesulitan hidup jika taat

Ia membisikkan keraguan dalam akidah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟

Syaitan mendatangi salah seorang dari kalian lalu berkata: ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu?’”

(HR. Muslim)

Keraguan ini menggerogoti ketenangan jiwa, membuat hati gelisah dan kehilangan arah.


2.syaitan mendatangi anak Adam

empat arah

dalil Al-Qur’an dan hadis

kesehatan jiwa dan raga Dari Belakang – Mengikat dengan Dunia dan Masa Lalu

Syaitan membuat manusia:

terikat dengan dosa lama hingga putus asa

terlalu cinta dunia

takut meninggalkan kenyamanan

Dalam hadis lanjutan, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Syaitan menghadang di jalan hijrah dan berkata: ‘Apakah engkau akan meninggalkan negerimu dan hartamu?’”

(HR. An-Nasa’i)

Inilah serangan dari belakang: menahan langkah kebaikan dengan bayangan dunia.


3. Dari Kanan – Merusak Amal Kebaikan

Ini arah paling berbahaya. Syaitan menyusup ke dalam ibadah:

menanamkan riya’

merasa paling benar

ujub dengan amal

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa syaitan mengalir dalam diri manusia:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya syaitan mengalir dalam diri anak Adam seperti aliran darah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, amal bisa rusak tanpa disadari, walau tampak baik di luar.


4. Dari Kiri – Menghias Maksiat dan Meremehkan Dosa

Syaitan tidak langsung menjerumuskan ke dosa besar. Ia memulai dari yang kecil dan diremehkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ

“Jauhilah dosa-dosa kecil yang diremehkan.”

(HR. Ahmad)

Dosa kecil yang terus dikumpulkan akan:

mengeraskan hati

menggelapkan jiwa

melemahkan tubuh


Mengapa Syaitan Tidak Menyebut “Dari Atas dan Bawah”?

Para ulama memberi isyarat mendalam:

Atas → rahmat dan pertolongan Allah

Bawah → sujud dan kerendahan diri

Ketika seorang hamba bersujud, syaitan kalah dan menangis:

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي

“Jika anak Adam sujud, syaitan menjauh sambil menangis.”

(HR. Muslim)

Inilah benteng yang tidak bisa ditembus.


Dampak Tipu Daya Syaitan pada Kesehatan Jiwa dan Raga

Islam memandang manusia secara utuh: hatijiwa → pikiran → tubuh

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ

“Dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika hati rusak oleh bisikan syaitan:

jiwa gelisah

emosi tidak stabil

tubuh ikut lemah


Benteng Menghadapi Serangan Empat Arah

1. Dzikir pagi dan petang

2. Shalat tepat waktu dan sujud panjang

3. Ikhlas dalam amal

4. Menjauhi dosa kecil

5. Memperbanyak syukur, karena syaitan berkata:

“Engkau tidak akan dapati kebanyakan mereka bersyukur.”


Musuh yang Bersumpah, tapi Allah Lebih Berkuasa

Syaitan bersumpah menyesatkan,

namun Allah bersumpah melindungi hamba-Nya yang ikhlas.

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka.”

(QS. Al-Hijr: 42)

Selama hati hidup dengan dzikir,

jiwa tenang dalam tawakal,

dan tubuh tunduk dalam sujud,

👉 syaitan hanya bisa menggoda, tidak pernah berkuasa.


Bagus untuk hadiah Istri atau anak tercinta

HANIFA SYAR’I MADAME ANTI UV BAJU UMROH HAJI PENGAJIAN BUSANA MUSLIMAH SYARI MUSLIM GAMIS ANTI UV FRENCH KHIMAR ANTI UV BY ARSY


Thursday, January 22, 2026

Nasehat Keteguhan Hati di Tengah Tipu Daya Dunia

 



Dalam perjalanan iman, seorang mukmin sering diuji oleh apa yang tampak di hadapan mata: kemewahan orang-orang yang ingkar, kekuasaan yang seolah langgeng, dan kenikmatan dunia yang terlihat menggiurkan. Allah ﷻ tidak membiarkan hati orang beriman goyah tanpa bimbingan-Nya melalui Al-Qur’an. Pada QS. Ali ‘Imran ayat 196–200, Allah ﷻ memberikan nasehat yang sangat dalam: agar hati tidak tertipu oleh dunia, tetap teguh dalam iman, bersabar, dan selalu bertakwa.


Ayat-ayat ini sangat relevan sebagai nasehat Islami untuk kesehatan jiwa dan raga, karena ketenangan batin, kekuatan sabar, dan harapan kepada Allah adalah sumber kesehatan hati yang sejati.


Teks Ayat dan Maknanya

1️⃣ Jangan Tertipu oleh Kesenangan Orang Kafir

                        Allah ﷻ berfirman:

                        > لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ

                        “Janganlah sekali-kali engkau tertipu oleh bolak baliknya ( kebebasan ) orang-orang                                 kafir bergerak di negeri-negeri.”

                        (QS. Ali ‘Imran: 196)

Allah mengingatkan bahwa keberhasilan duniawi orang-orang yang ingkar bukanlah tanda kemuliaan di sisi-Nya. Itu hanyalah fase sementara yang sering menjadi ujian bagi orang beriman.


2️⃣ Kesenangan Dunia Itu Sedikit dan Sementara


                            > مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

                        “Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah Jahannam,                         dan itulah seburuk-buruk tempat.”

                        (QS. Ali ‘Imran: 197)

Dunia, seindah apa pun, tetaplah singkat. Kesalahan terbesar adalah menukar ketenangan iman dengan kenikmatan yang cepat sirna.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”

(HR. Muslim)

Hadis ini bukan untuk melemahkan semangat hidup, tetapi meluruskan orientasi hati agar tidak terikat berlebihan pada dunia.


Balasan Mulia bagi Orang Bertakwa

3️⃣ Surga sebagai Tempat Kembali yang Hakiki

                        > لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ

                        (QS. Ali ‘Imran: 198)

            Orang yang menjaga takwa mungkin terlihat sederhana di dunia, namun di sisi Allah mereka                 adalah penghuni kemuliaan yang abadi.

                    Allah ﷻ berfirman di ayat lain:

                            > وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

                        “Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”

                        (QS. Al-A‘la: 17)


Keadilan Allah untuk Semua Hamba-Nya

4️⃣ Orang Beriman dari Ahlul Kitab


                            > وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِمْ...

                            (QS. Ali ‘Imran: 199)

                    Ayat ini menegaskan keadilan Allah. Siapa pun yang beriman dengan tulus, merendahkan diri kepada Allah, dan tidak menukar ayat-ayat-Nya dengan kepentingan dunia, maka mereka mendapatkan pahala di sisi-Nya.


                            > إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

                            “Sesungguhnya Allah Maha cepat perhitungan-Nya.”

            Ini menjadi pengingat agar setiap amal dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesadaran.


Pesan Penutup: Resep Kemenangan Sejati

5️⃣ Lima Pilar Keteguhan Hidup Seorang Mukmin

                    Allah menutup rangkaian ayat ini dengan perintah yang sangat agung:

                        > يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

                        (QS. Ali ‘Imran: 200)


Lima pesan utama:

1. اصبروا (Bersabarlah) – kuatkan diri dala


m ketaatan.

2. صابروا (Saling menguatkan dalam sabar) – jangan berjalan sendiri.

3. رابطوا (Tetap siaga dan istiqamah) – jaga iman dari kelalaian.

4. hidup dalam kesadaran kepada Allah - (اتقوا الله  = Bertakwalah) – 

5.  keberuntungan hakiki, dunia dan akhirat - ( لعلكم تفلحون = Agar kalian beruntung

                        Rasulullah ﷺ bersabda:

                                                > حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

                        “Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, dan neraka dikelilingi oleh syahwat.”

                        ( HR. Bukhari dan Muslim)


Penutup: Kesehatan Jiwa dalam Cahaya Iman

Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa ketenangan jiwa tidak lahir dari banyaknya harta, tetapi dari keyakinan bahwa Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui. Ketika hati tidak silau oleh dunia, jiwa menjadi ringan, sabar menguat, dan tubuh pun ikut merasakan ketenangan.


> أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

(QS. Ar-Ra‘d: 28)


Semoga QS. Ali ‘Imran ayat 196–200 menjadi penguat langkah kita dalam menempuh hidup dengan iman, sabar, dan takwa, hingga bertemu Allah dalam keadaan hati yang tenang.


Catatan:  Bukan sekedar pakaian


Cek Rades - Kaftan Medina Bordir Premium + Manset Ceruty Babydoll Elegan Jumbo Lebaran



https://s.shopee.co.id/806bxG1W2t?share_channel_code=1







Thursday, January 1, 2026

Kenapa Badan Lemas Padahal Tidak Sakit? Ini yang Saya Alami di Usia Lanjut

( lihat air muka beliau, sangat sakit itu, kami merasakan nya. Jangan terjadi pada Anda. Ikuti nasehat Insya Alloh terjaga ) 



 

Kenapa Badan Lemas Padahal Tidak Sakit? Ini yang Saya Alami di Usia Lanjut

Ada masa di usia lanjut, ketika tubuh terasa lemas, tidak bertenaga, padahal:

Tidak sedang sakit

Tidak demam

Tidak flu

Saya sendiri pernah bertanya dalam hati,

“Kenapa badan terasa lemah, padahal rasanya baik-baik saja?”

Ternyata, lemas di usia lanjut tidak selalu berarti penyakit, tetapi sering menjadi tanda tubuh butuh perhatian lebih halus.

Lemas yang Berbeda dengan Sakit

Badan lemas yang saya maksud adalah:

Bangun tidur terasa berat

Gerak jadi malas

Tenaga cepat habis

Kepala terasa ringan, tapi bukan pusing berat

Kondisi ini sering dianggap sepele, padahal bila dibiarkan, kualitas hidup bisa menurun.


Noni morinda



Beberapa Penyebab Badan Lemas pada Usia Lanjut

1️⃣ Kurang Asupan Cairan

Tanpa disadari, minum berkurang karena:

Takut sering ke kamar mandi

Tidak merasa haus

Padahal, tubuh yang kurang cairan mudah lemas, meski tidak terasa haus.

2️⃣ Pola Makan Kurang Seimbang

Di usia lanjut:

Nafsu makan menurun

Porsi makan lebih sedikit

Jika protein, mineral, dan energi kurang, tubuh memberi sinyal berupa lemas.

3️⃣ Kurang Gerak dalam Waktu Lama

Terlalu sering duduk atau berbaring membuat:

Otot melemah

Sirkulasi melambat

Akhirnya, saat berdiri atau berjalan, tenaga cepat habis.



Minyak urut Dayak Kalimantan


4️⃣ Tidur Kurang Berkualitas

Bukan soal lama tidur, tapi nyenyaknya.

Sering terbangun malam hari membuat tubuh tidak pulih sempurna.

5️⃣ Tekanan Darah Tidak Stabil

Tekanan darah yang:

Mudah naik turun

Terlalu rendah atau terlalu tinggi

Bisa membuat tubuh terasa lemas tanpa rasa sakit yang jelas.

Yang Saya Rasakan Sendiri

Dalam pengalaman saya:

Badan lebih segar saat minum cukup

Lemas berkurang setelah gerak ringan rutin

Tubuh terasa lebih nyaman saat pola tidur dijaga

Perubahan kecil, tapi dampaknya terasa nyata.

Cara Sederhana Mengurangi Badan Lemas

Langkah ringan yang bisa dicoba:

Minum Teratur

Tidak menunggu haus.

Sedikit tapi sering.

Gerak Ringan Setiap Hari

Jalan santai

Peregangan ringan

Gerak sendi perlahan

Perhatikan Jam Tidur

Tidur lebih awal, bangun lebih teratur.

Dengarkan Tubuh

Jika lemas berulang dan makin berat, jangan ragu mencari pendampingan tenaga kesehatan.

Penutup

Di usia lanjut, tubuh tidak selalu “berteriak” saat butuh perhatian.

Kadang ia hanya berbisik lewat rasa lemas.

Mendengarkannya adalah bentuk merawat amanah yang Allah titipkan.

Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi sesama yang sedang menjalani fase kehidupan yang sama. 

Wednesday, December 31, 2025

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati



Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati

Seiring bertambahnya usia, banyak dari kita mulai merasakan perubahan pada raga. Tubuh yang dahulu terasa ringan, kini mudah lelah. Gerak tidak lagi seluwes dulu, dan waktu istirahat pun terasa berbeda. Pada saat seperti inilah hati sering diuji: antara menerima dengan lapang, atau mengeluh dalam diam.



Minyak Urut Dayak Kalimantan



Pada fase usia tertentu, melemahnya raga sering hadir bersama keluhan-keluhan kecil yang terasa nyata. Ada yang merasakan lutut nyeri ketika berdiri terlalu lama, kaki mudah kram di malam hari, atau badan terasa kaku saat bangun tidur. Keluhan seperti ini tidak selalu berat, namun cukup untuk menguji kesabaran dan ketenangan hati, terutama ketika datang berulang-ulang.

Sebagian orang bertanya dalam batin, “Apakah ini pertanda Allah tidak lagi memberi kekuatan?”

Padahal, Al-Qur’an justru menjelaskan bahwa keadaan seperti ini adalah bagian dari sunnatullah.

Allah Ta‘ala berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً

“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban.”

(QS. Ar-Rum: 54)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa melemahnya raga bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah Dia tetapkan dengan penuh hikmah.

Namun Islam tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa usaha. Rasulullah ﷺ bersabda:

تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً

“Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.”

(HR. Abu Dawud)


Ikhtiar menjaga raga adalah bagian dari syukur. 

Setiap usaha yang dilakukan dengan niat baik dan cara yang dibenarkan syariat memiliki nilai ibadah, meskipun hasilnya tidak selalu langsung terlihat.

Dalam menjalani ikhtiar, sebagian orang merasakan perubahan ketika mulai lebih memperhatikan kebutuhan raganya. Menjaga pola makan, mencukupi minum, serta mencoba cara-cara alami yang dirasakan membantu tubuh menjadi lebih rileks. Hasilnya memang tidak selalu cepat, namun bagi sebagian orang, ikhtiar kecil yang dilakukan dengan sabar mampu menghadirkan rasa ringan dan harapan.

Di sisi lain, ketenangan jiwa memiliki pengaruh besar terhadap raga. Hati yang dipenuhi kecemasan dan keluh kesah sering membuat tubuh terasa semakin berat. Sebaliknya, hati yang bersandar kepada Allah, menerima takdir dengan lapang, sering kali membuat raga lebih tenang menjalani hari.

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang sederhana namun sarat makna:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Memohon ‘afiyah bukan hanya meminta terbebas dari penyakit, tetapi juga memohon ketenangan jiwa dan kekuatan raga untuk tetap taat kepada Allah.

Jika hari ini raga terasa melemah, jangan tergesa-gesa berputus asa. Bisa jadi Allah sedang mengajak kita untuk lebih mengenal diri, lebih lembut terhadap tubuh yang telah lama menemani, dan lebih dekat kepada-Nya melalui kesabaran.

Karena pada akhirnya, kesehatan jiwa dan raga bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk digunakan sebaik-baiknya dalam ketaatan kepada Allah.

Penutup Doa

Ya Allah, kuatkanlah jiwa kami ketika raga melemah. Bimbinglah kami dalam ikhtiar yang Engkau ridai, dan karuniakanlah kepada kami ketenangan serta ‘afiyah di dunia dan akhirat. Aamiin.


Sunday, December 28, 2025

Jangan putus asa dari Rahmat Allah




Dewita dress gamis silky premium klik disini 



"Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah"

(Lanjutan dari tema: “Hidup Itu Pasti Diuji”)


🌅 Pengantar: Ketika Hidup Terasa Gelap…

Setiap jiwa pasti akan merasakan getirnya ujian.
Dan saat ujian datang bertubi-tubi, manusia mulai bertanya:
“Apakah aku sedang dimurkai Allah?”
“Apakah masih ada harapan untukku?”
“Apakah aku masih pantas dicintai Allah?”

Ada yang kehilangan orang tercinta.
Ada yang gagal dalam usaha dan hancur secara ekonomi.
Ada yang terjebak dalam maksiat dan tak sanggup melepaskan diri.

Pada titik tertentu…
Banyak orang merasa tidak ada jalan kembali.
Mereka mulai merasa tidak layak untuk dimaafkan,
hingga akhirnya putus asa

Padahal, putus asa dari rahmat Allah adalah dosa besar.

"Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
(QS. Yusuf: 87)

💔 Mengapa Allah Menyebut “Putus Asa” Sebagai Ciri Orang Kafir?

Karena putus asa berarti meragukan sifat Allah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan Maha Membuka Jalan.

Putus asa adalah bisikan setan yang membisikkan:

“Allah tidak akan menerima taubatmu.”
“Dosamu terlalu besar.”
“Sudahlah, terlambat untuk kembali.”

Padahal, dalam hadis qudsi, Allah berkata:

“Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dosamu, walaupun sebanyak langit dan bumi.”
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي
(HR. Tirmidzi, no. 3540, sahih)

🔎 Lihatlah kehidupan nyata di sekitar kita:

  • Ada mantan preman yang bertobat dan menjadi ustadz.
  • Ada perempuan yang dulu hidup dalam kelam, kini menutup aurat dan berdakwah.
  • Ada pengusaha bangkrut yang dulunya jauh dari masjid, tapi setelah kehilangan segalanya, kini menjadi imam salat subuh setiap hari.

Mengapa mereka bisa? Karena mereka tidak putus asa dari rahmat Allah.


🌿 Ayat Teragung Bagi Para Pendosa

Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebut sebuah kalimat yang disebut oleh para ulama sebagai “ayat yang paling memberi harapan”.

"Katakanlah (wahai Nabi): Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang."
قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
(QS. Az-Zumar: 53)

🔍 Kata “Asrafu” artinya adalah mereka yang telah melampaui batas.
Bukan hanya berdosa… tapi berlebihan dalam dosa.

Artinya: ayat ini bukan hanya untuk orang baik yang terpeleset sesekali,
tapi juga untuk mereka yang merasa hidupnya penuh noda.

Apa alasanmu untuk tetap merasa tidak bisa kembali?


🌙 Allah Menunggu di Malam Hari…

Banyak orang yang malu kembali. Tapi Rasulullah ﷺ menyampaikan pesan yang membuat hati kita tenang:

"Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di malam hari."
إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ
(HR. Muslim, no. 2759)

➡️ Ini adalah isyarat:
Setiap waktu adalah peluang.
Setiap waktu adalah kesempatan baru.


🌧️ Kehidupan Itu Tidak Selalu Cerah

Ada masa-masa sulit.
Tapi di balik semua itu, Allah sedang menguji:
Apakah engkau tetap berharap kepada-Ku? Ataukah engkau menyerah sebelum waktunya?

"Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Maka tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang rugi."
أَفَأَمِنُوا۟ مَكْرَ ٱللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْخَـٰسِرُونَ
(QS. Al-A'raf: 99)

⏳ Maka jika kamu hari ini sedang dalam gelap…
Jangan tunggu terang itu datang dari luar.

Mulailah menyalakan pelita kecil dalam hatimu: dengan istighfar, dengan satu rakaat malam, dengan satu lembar mushaf.


🌻 Penutup: Jalan Pulang Selalu Terbuka

Sahabatku yang sedang diuji,
yang merasa lelah, kalah, dan bersalah…

Ketahuilah…

Allah tidak melihat siapa dirimu hari ini, tapi ke mana langkahmu bergerak.

Apakah menuju-Nya…
Atau menjauh dari-Nya?

Maka jangan tunda untuk kembali.
Karena jalan pulang itu tidak pernah ditutup.

Bahkan, Allah menunggumu setiap malam…
Agar kamu kembali, walau hanya dengan air mata

Menjaga Lisan: Jalan Menuju Cinta Allah dan Rasul-Nya

 



Temukan Setelan olahraga muslimah tunik wanita/setelan senam tunik/setelan olahraga muslim wanita



Menjaga Lisan: Jalan Menuju Cinta Allah dan Rasul-Nya

Pengantar

Dalam perjalanan hidup, manusia sering datang kepada Allah dengan doa-doa yang penuh harap. Kita memohon dengan sungguh-sungguh, bahkan terkadang dengan air mata. Namun tidak jarang, apa yang kita pinta tidak juga terwujud, atau terwujud dengan cara yang tidak kita kehendaki.

Di saat seperti itulah, hati mulai diuji. Lisan pun ikut diuji.

Sebagian orang tetap menjaga ucapannya, memilih diam dan bersabar. Namun sebagian yang lain—tanpa sadar—mulai mengeluh, membandingkan takdirnya dengan orang lain, bahkan mempertanyakan kebijaksanaan Allah.

Padahal, di balik setiap doa yang belum terkabul, ada pelajaran besar tentang iman, adab, dan lisan yang terjaga. Dan dari situlah, jalan menuju cinta Allah dan Rasul-Nya terbuka bagi hamba yang mau memahami.

Isi Utama

Islam mengajarkan bahwa lisan adalah cermin hati. Apa yang keluar dari mulut kita sering kali menggambarkan seberapa dalam keyakinan kita kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika doa belum dikabulkan, lisan bisa menjadi sumber pahala besar—atau justru sebab menjauhnya rahmat Allah. Mengeluh berlebihan, menyalahkan keadaan, apalagi menuduh Allah tidak adil, adalah tanda bahwa hati sedang lelah dan iman sedang diuji.

Padahal Allah sendiri telah menenangkan hati hamba-Nya dengan firman-Nya:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Tidak semua doa dikabulkan sesuai dengan apa yang kita mau, bukan karena Allah tidak sayang, tetapi justru karena Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan. Ada doa yang ditunda agar iman kita matang. Ada doa yang diganti dengan keselamatan. Ada pula doa yang disimpan sebagai pahala di akhirat.

Orang yang menjaga lisannya di saat seperti ini adalah orang yang memahami hakikat iman. Ia memilih berkata baik, berprasangka baik kepada Allah, dan menyerahkan urusan hatinya dengan penuh tawakal. Sikap inilah yang mendekatkannya pada cinta Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan dalam menjaga lisan, bahkan dalam penderitaan. Beliau tidak membalas keburukan dengan caci maki, tidak mengeluh pada takdir, dan tidak pernah putus berharap kepada Allah.

Penutup dan Doa

Menjaga lisan bukan perkara ringan. Ia menuntut kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Namun justru dari lisan yang terjaga itulah, ketenangan hati lahir dan cinta Allah mengalir.

Jika hari ini doa kita belum dikabulkan, mari bertanya pada diri sendiri:

Apakah lisan kita masih terjaga dalam ridha? Ataukah mulai goyah oleh keluhan?

Mari kita tutup dengan doa:

اللَّهُمَّ اهْدِ قُلُوبَنَا، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاضِينَ بِقَضَائِكَ، الْمُحِبِّينَ لَكَ وَلِرَسُولِكَ

Ya Allah, luruskanlah hati kami, jagalah lisan kami, jadikan kami hamba-hamba yang ridha atas ketetapan-Mu, dan anugerahkan kepada kami cinta-Mu serta cinta Rasul-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.







Sunday, December 21, 2025

Tenang Bersama Allah, Meski Dunia Tak Memahami




Gamis Umroh Jasmine Syar' 

by Arsi hijab seragam dress terbaru



Ada masa dalam hidup ketika kita memilih diam, bukan karena kalah.

Ada saat kita bersabar, bukan karena lemah.

Dan ada waktu kita berbuat baik, namun justru disalahpahami.

Dunia bertanya, “Mengapa kau tak membela diri?”

Padahal hati kita menjawab pelan,

“Karena Allah Maha Mengetahui.”


Dunia Menilai Tampilan, Allah Menilai Kedalaman

Manusia terbiasa menilai dari apa yang tampak.

Siapa yang paling lantang, dianggap paling benar.

Siapa yang paling terlihat, disangka paling ikhlas.

Padahal Allah sejak awal mengingatkan kita:

إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”

(QS. Ali ‘Imran: 119)

Apa yang tersembunyi dari manusia, tidak pernah tersembunyi dari Allah.

Niat yang tidak diucapkan, air mata yang tidak dilihat, dan kesabaran yang tidak dipuji — semuanya tercatat rapi di sisi-Nya.


Mengapa Orang Ikhlas Sering Tidak Dipahami?

Karena orang ikhlas tidak sibuk menjelaskan dirinya.

Ia lebih sibuk menjaga hatinya.

Ia tidak berlomba mencari pembenaran, karena keyakinannya tidak bergantung pada penilaian manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Niat itu tempatnya di hati.

Dan hati — hanya Allah yang benar-benar tahu.


Ketika Diam Lebih Menyelamatkan daripada Bicara

Tidak semua kesalahpahaman harus diluruskan.

Tidak semua tuduhan perlu dijawab.

Kadang, membela diri justru melukai hati sendiri.

Kadang, diam adalah bentuk tawakal tertinggi.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”

(QS. At-Talaq: 3)

Cukupkan hatimu dengan Allah,

meski manusia belum mencukupkan penilaiannya.


Tanda Ketenangan yang Bersumber dari Allah

Ketenangan sejati bukan berarti hidup tanpa ujian.

Ia hadir ketika:

Kita tidak gelisah meski tidak dipuji

Kita tetap lembut meski disalahpahami

Kita sibuk memperbaiki diri, bukan membuktikan diri

Allah berjanji:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Jika hatimu tenang saat dunia meragukanmu,

maka bisa jadi Allah sedang menjagamu dari riya dan ujub.


Penutup: Cukuplah Allah Menjadi Saksi

Wahai jiwa yang lelah,

tidak apa-apa jika tidak semua orang memahami langkahmu.

Tidak semua kebaikan harus disaksikan manusia.

Tidak semua kesabaran harus dibenarkan dunia.

Selama Allah ridha,

selama niat dijaga,

selama hati tetap bersama-Nya —

ketenangan itu nyata, meski dunia tak memahami.


Thursday, December 18, 2025

Orang Cerdas Adalah Orang yang Mengoreksi Diri






Jovitech microphone wireless mic clip on dual lavalier mikrofon peredam kebisingan vlog with charging case LM03 terbaru.




Pengantar


Di zaman ketika orang berlomba terlihat paling benar, paling pintar, dan paling didengar, kita sering lupa satu perkara yang sangat mendasar: mengoreksi diri sendiri.

Padahal, tidak sedikit orang yang lisannya fasih, ilmunya luas, bahkan nasihatnya indah, tetapi hatinya sempit dan jiwanya lelah.


Islam tidak memuliakan kecerdasan yang membesarkan ego.

Islam memuliakan kecerdasan yang menundukkan diri.

Rasulullah ﷺ tidak mendefinisikan orang cerdas sebagai mereka yang menang dalam perdebatan, tetapi sebagai mereka yang berani bercermin sebelum menghakimi.


1. Definisi Orang Cerdas Menurut Rasulullah

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ


“Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi (menghisab) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Hadis ini sangat tegas dan jujur.

Orang cerdas bukan yang selalu benar, tetapi yang selalu mau memperbaiki diri.


Ia bertanya pada dirinya:

“Apa niatku?”

“Di mana salahku?”

“Apakah ini diridhai Allah atau hanya memuaskan egoku?”

Inilah kecerdasan yang jarang, tetapi menyelamatkan.


2. Al-Qur’an Mengajarkan Muhasabah, Bukan Menyalahkan

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ


“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.”

(QS. Al-Hasyr: 18)


Perhatikan, Allah tidak berkata:


“Lihat kesalahan orang lain”

“Hitung dosa saudaramu”

Tetapi:

“Hendaklah setiap jiwa melihat apa yang ia persiapkan.”

Orang yang sibuk mengoreksi diri tidak punya waktu untuk membenci.


3. Mengoreksi Diri Melahirkan Kelapangan

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Orang yang terbiasa muhasabah:

Hatinya longgar

Tidak mudah tersinggung

Tidak reaktif

Tidak keras mempertahankan pendapat


Sebaliknya, orang yang anti koreksi:

Hidupnya tegang

Mudah marah

Mudah lelah batin

Sulit tenang


4. Kecerdasan yang Menyehatkan Jiwa


Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ

(QS. Qaf: 37)


“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang memiliki hati (yang hidup).”


Hati yang hidup adalah hati yang:

Mau dinasihati

Mau ditegur

Mau berubah

Muhasabah membuat jiwa sehat, karena beban ego dilepaskan.

Dan ketika jiwa sehat, tubuh pun lebih ringan.


5. Lawan dari Orang Cerdas

Rasulullah ﷺ melanjutkan:

وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا

“Orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya.”


Ia selalu:

Membela diri

Mencari pembenaran

Sulit mengakui kesalahan


Inilah kecerdasan palsu yang melelahkan dan menyempitkan.


Penutup

Orang yang cerdas bukanlah orang yang tidak pernah salah,

melainkan orang yang tidak keras mempertahankan kesalahan.


Ia hidup dengan hati yang longgar,

jiwa yang sehat,

dan langkah yang ringan menuju Allah.


Sebelum kita sibuk menilai orang lain,

ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri:


“Jika hari ini aku menghadap Allah,

apa yang sudah aku perbaiki dari diriku?”


Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang cerdas menurut langit,

bukan sekadar pintar menurut manusia.


Wallāhu a‘lam.

Thursday, December 11, 2025

Indonesia yang Kita Jaga Bersama: Nasihat untuk Semua Lapisan warga masuk kita.






Aroma Therapy Lavender Essential Oil 10ml



🕊️ Indonesia yang Kita Jaga Bersama: Nasihat untuk Semua warga masyarakat kita. 


Dalam suasana negeri yang sering terasa gaduh oleh perbedaan pendapat, persaingan kepentingan, dan hiruk pikuk politik, kita mudah lupa bahwa Indonesia berdiri bukan karena satu kelompok, tetapi karena kita semua.


Bangsa ini tidak dibangun oleh orang kuat saja.

Bukan pula oleh yang pintar saja.

Bukan oleh pejabat saja.

Bukan oleh rakyat kecil saja.


Indonesia berdiri karena kita saling menopang, meski berbeda jalan, profesi, pandangan, dan latar belakang.

1. Untuk Pemimpin dan Pejabat Negara

Kami tidak menuntut sempurna.

Yang kami harapkan sederhana:

Jadilah pemimpin yang mengutamakan hati nurani,

Yang berani mendengar kritik tanpa marah,

Yang memilih memadamkan api saat rakyat resah,

Yang sadar bahwa jabatan hanya sementara,

Dan kelak setiap kebijakan akan dipertanggungjawabkan—

bukan hanya di hadapan sejarah, tetapi juga di hadapan Allah.

Bangsa ini kuat ketika pemimpinnya takut berbuat zalim, bukan takut kehilangan jabatan.


2. Untuk Para Pengusaha dan Pelaku Usaha

Negeri ini membutuhkan keberanian Anda.

Usaha Anda membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi, dan memberi harapan bagi banyak keluarga.


Tapi jangan lupa:

Keuntungan yang berkah tidak datang dari tipu daya.

Hak pekerja bukan musuh usaha, ia adalah penyangga keberkahan.

Keadilan dalam bisnis lebih lama hidupnya daripada harta yang berlimpah.

Ketika dunia ekonomi naik turun, yang membuat negeri ini tetap berdiri adalah para pelaku usaha yang jujur, sabar, dan teguh.


3. Untuk Rakyat Biasa

Jangan pernah merasa diri kecil.

Justru Anda lah tulang punggung negeri ini.

Dari tangan Anda, pangan dihasilkan.

Dari keringat Anda, kota dibangun.

Dari kerja keras Anda, anak-anak Indonesia sekolah.

Dari doa Anda, negeri ini tetap dijaga Allah.

Jangan hilangkan kebaikan dalam hati hanya karena politik sedang gaduh.

Negeri besar ini tetap tegak karena rakyatnya tetap memilih sabar, tertib, dan tidak saling menyakiti.


4. Untuk Para Anak Muda

Bangsa ini menitipkan masa depannya pada Anda.

Di tengah informasi yang cepat, gosip yang liar, dan berita yang sering membingungkan, tetaplah berdiri dengan akal dan akhlak.

Gunakan teknologi untuk memajukan, bukan menghina.

Gunakan pikiran untuk membangun, bukan merusak.

Gunakan kreativitas untuk memberi solusi, bukan menambah keruh keadaan.

Generasi Anda lah yang akan menentukan apakah Indonesia tetap bersinar atau justru redup.


5. Untuk Semua Lapisan Bangsa

Kita boleh berbeda.

Kita boleh berdebat.

Kita boleh kecewa.

Itu semua manusiawi.


Tapi jangan biarkan perbedaan membuat kita bermusuhan.

Ingatlah pesan Allah:


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpeganglah kalian semua pada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.”

(QS. Ali Imran: 103)


Dan pesan Rasulullah:


المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzhalimi dan tidak membiarkannya.”

(HR. Bukhari & Muslim)


Yang dibutuhkan Indonesia sekarang bukan hanya pembangunan fisik, tapi pembangunan hati.

Bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tapi pertumbuhan akhlak.

Bukan hanya persaingan politik, tapi persatuan niat untuk menjaga negeri.


Penutup: Indonesia Akan Baik Jika Kita Tetap Baik

Keadaan politik bisa naik turun.

Ekonomi bisa menguat melemah.

Pendapat boleh berbeda.


Tapi selama hati kita tetap jernih,

lidah tidak memecah belah,

dan doa tetap kita panjatkan setiap hari…


Indonesia akan terus dijaga oleh Allah.

Sebab negeri ini milik kita semua.

Dan negeri ini hanya akan baik jika kita semua terus memilih menjadi baik.

Semoga bermanfaat, menjadi buah pikiran kita semua untuk dipertimbangkan . Allah Maha Melihat, Allah Maha Mengetahui  terhadap kita semua 


Thursday, December 4, 2025

Cahaya Penjaga Malam: Keutamaan 10 Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah”



Kebaya Ayunda Premium – Tulle Spanggrel + Brokat Premium (Full Puring)Hadir dengan desain anggun dan bahan yang mewah, Kebaya Ayunda Premium menjadi pilihan sempurna untuk acara formal, wisuda, lamaran, kondangan, hingga pesta keluarga



“Cahaya Penjaga Malam: Keutamaan 10 Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah”


Pengantar

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, seorang hamba sangat membutuhkan perlindungan, ketenangan, dan cahaya yang menjaga hatinya dari segala keburukan. Di antara hadiah besar dari Allah adalah sepuluh ayat terakhir Surah Al-Baqarah—ayat yang tidak hanya menjadi penjaga, tetapi juga doa yang pasti dikabulkan, dan pelipur lara bagi jiwa seorang Muslim.

Ayat-ayat ini adalah warisan istimewa dari Rasulullah ﷺ kepada umatnya, turun dari “khazanah di bawah Arsy”, sebagaimana disampaikan dalam hadis-hadis sahih. Membacanya bukan sekadar ibadah, tetapi perlindungan langit yang turun ke bumi.


Keutamaan ayat ini

1. Ayat Pelindung dari Gangguan Setan

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ لِلشَّيْطَانِ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ»
“Setan lari dari rumah yang dibacakan surah Al-Baqarah.”
(HR. Muslim)

Secara khusus, tentang dua ayat terakhir beliau bersabda:

«لَا يَقْرَبُهَا شَيْطَانٌ تِلْكَ اللَّيْلَةَ»
“Setan tidak mendekatinya pada malam itu.”
(HR. Ahmad, Tirmidzi)

Maka membaca 10 ayat terakhir sebelum tidur ibarat memasang benteng yang tidak terlihat, namun sangat kuat.


2. Mencukupi Sebagai Pelindung Malam Itu

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ قَرَأَ الآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ»
“Siapa yang membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah di malam hari, maka itu cukup baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama mengatakan:
“Kafatahu” artinya mencukupinya dari segala keburukan, gangguan setan, dan bahkan dianggap pahala ibadah malam.


3. Ayat yang Turun dari Khazanah di Bawah Arsy

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُعْطِيتُ مِنَ الْكَنْزِ الَّذِي تَحْتَ الْعَرْشِ خَوَاتِيمَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ»
“Aku diberi penutup Surah Al-Baqarah dari perbendaharaan di bawah Arsy.”
(HR. Ahmad dan An-Nasai)

Tidak ada ayat yang mendapatkan kemuliaan seperti ini.


4. Mengandung Doa yang Dikabulkan Allah

Di akhir Al-Baqarah ada doa-doa besar yang diucapkan oleh ribuan lidah Muslim setiap hari:

﴿رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا﴾
﴿رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا﴾
﴿رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ﴾
﴿وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا﴾

Dalam hadis Muslim, Allah langsung menjawab:

«قد فعلت»
“Aku telah mengabulkannya.”

Inilah doa yang dijamin langsung oleh Allah.


5. Memperkuat Keimanan dan Tawakal

Ayat pembuka dari 10 ayat terakhir menyatakan:

﴿آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ … وَالْمُؤْمِنُونَ﴾

Ibnu Katsir menjelaskan:
Ayat ini adalah pujian Allah kepada Rasulullah ﷺ dan seluruh orang beriman karena sempurnanya keimanan mereka.

Ini ayat penguat jiwa. Ayat yang mengingatkan bahwa seorang mukmin berjalan dengan cahaya iman dan pertolongan Allah.


6. Menghapus Beban Umat Terdahulu

Di dalam doa penutup terdapat permohonan agar umat Islam tidak diberi beban berat seperti umat-umat sebelumnya.

Dan Allah menjawab:

«قد فعلت» – “Aku kabulkan.”

Artinya:
Allah telah memudahkan syariat ini, dan memberi kita jalan yang lapang untuk menjadi hamba-Nya.


Penutup

Sepuluh ayat terakhir Al-Baqarah adalah ketenangan bagi hati, penjaga rumah, dan pengabul doa-doa besar seorang hamba. Tidak ada kerugian bagi siapa pun yang membacanya setiap malam. Bahkan, ia adalah ibadah ringan yang diganjar perlindungan berat.

Mulailah malam ini, wahai jiwa. Bacalah ayat-ayat mulia ini sebelum memejamkan mata, dan biarkan cahaya Al-Baqarah menjaga malam Anda.

Sunday, November 23, 2025

Kesombongan yang Membinasakan – Pelajaran dari Walid bin al-Mughirah untuk Umat Hari Ini”

 




Cek Mukena Travelling Premium 2in1 jumbo armani silky set sejadah printing dengan harga Rp269.000. Dapatkan di Shopee sekarang!

 


Kesombongan yang Membinasakan – Pelajaran dari Walid bin al-Mughirah untuk Umat Hari Ini”



Pengantar

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, umat Islam sedang menghadapi sebuah penyakit yang lebih berbahaya daripada wabah fisik: kesombongan hati. Banyak orang shalat, puasa, berzakat, namun hati mereka tidak pernah tunduk. Ada yang merasa ibadahnya paling benar, ada yang merasa derajatnya lebih tinggi dari orang lain, ada yang merasa bisa selamat hanya dengan amal dahulu… seolah dirinya memiliki jaminan.

Umat semakin pintar, tetapi tidak semakin beradab.
Semakin banyak ilmu, namun semakin sedikit kerendahan hati.
Semakin banyak dakwah, tetapi semakin sedikit kesadaran diri.

Padahal, musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan kesombongan dalam dadanya sendiri.

Kesombongan inilah yang membuat iblis terkutuk.
Kesombongan pula yang membuat banyak kaum sebelum kita dibinasakan.
Dan dalam Al-Qur’an, Allah menghadirkan contoh yang sangat tajam melalui seorang tokoh Quraisy:
Walid bin al-Mughirah—tokoh berpengaruh, pintar, kuat, dan dihormati… tetapi hatinya hancur oleh kesombongan.


Cek Karpet Masjid roll Sajadah Mushola Turki Style Tebal lebar 4 X 30 Meter Karpet Premium GREEN KODE 01 dengan harga Rp49.999.999. Dapatkan di Shopee sekarang!



Kisah Walid bin al-Mughirah: Ketika Kesombongan Menjadi Bencana

Ketika Rasulullah ﷺ membacakan wahyu tentang penjaga neraka yang berjumlah 19 malaikat, Walid tidak gentar. Ia malah tertawa sinis dan berkata:

"Biarkan 10 malaikat untukku, dan kalian hadapi sisanya!"

Ucapan yang menunjukkan kesombongan tanpa akal.
Satu malaikat saja mampu membalik bumi, sementara ia dengan pongah menantang sepuluh.

Namun di balik kesombongan itu, Walid sesungguhnya tahu bahwa Al-Qur’an itu benar. Allah sendiri mengabadikan pengakuan batinnya:

إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ
“Sungguh dia memikirkan dan menimbang-nimbang.”
(QS. Al-Muddatsir: 18)

Dia tahu kebenaran… tetapi menolaknya karena takut kehilangan kedudukan.

Allah mengecamnya dengan ayat-ayat yang keras:

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا
“Biarkan Aku (yang mengurus) orang yang Aku ciptakan sendirian…”
(Al-Muddatsir: 11)

Hingga Allah menjelaskan sifat jahatnya:

ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ، ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ
“Lalu ia bermuka masam dan cemberut, kemudian berpaling dan menyombongkan diri.”
(Al-Muddatsir: 22–23)

Ia berpaling dari kebenaran bukan karena tidak mengerti, tetapi karena kesombongan lebih ia cintai daripada ketundukan kepada Allah.


Hadis yang Berkaitan dengan Kesombongan

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.”
(HR. Muslim)

✦ Dan Allah mencela orang yang sombong menolak ayat:

سَأُصْلِيهِ سَقَرَ
“Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar (neraka).”
(Al-Muddatsir: 26)

Hadis dan ayat-ayat ini menjadi gambaran tepat sifat Walid.


Apa Pelajaran untuk Umat Hari Ini?

1. Jangan merasa lebih hebat dari orang lain

Karena Allah tidak melihat amal sebesar apa, tetapi hati seperti apa.

2. Jangan bangga dengan ibadah sampai meremehkan orang lain

Seorang ahli ibadah pun bisa binasa bila ia sombong, sementara pendosa bisa diampuni jika ia rendah hati.

3. Jangan menolak nasihat karena gengsi

Walid bin al-Mughirah tahu kebenaran, namun harga dirinya lebih tinggi daripada hidayah.

Berapa banyak orang hari ini yang menolak kebenaran bukan karena tak paham, tapi karena ego?

4. Bangunlah dengan jiwa yang tunduk

Jangan merasa kuat, karena manusia bukan apa-apa tanpa rahmat Allah.


Nasihat Penutup

Saudaraku,
Kesombongan itu seperti api kecil yang dibiarkan menyala dalam dada.
Ia pelan-pelan membakar iman… tanpa disadari.

Betapa banyak orang yang terlihat baik, tetapi rusak dari dalam.
Betapa banyak orang yang berilmu, tetapi tidak tersentuh kebenaran.
Betapa banyak orang yang tahu jalan Allah, tetapi memilih jalan lain… seperti Walid.

Karena itu, marilah kita meluruskan hati.
Lembutkan diri.
Berhentilah merasa paling benar, paling ibadah, paling berjuang.

Allah tidak menilai dari banyaknya amal, tapi dari tulus dan tunduknya hati.

Semoga kita dijauhkan dari sifat Walid bin al-Mughirah,
dan diberikan hati yang bersih, rendah hati, serta selalu siap menerima kebenaran.

اللهم طهر قلوبنا من الكبر والرياء، وارزقنا صدق التوبة وحسن الخاتمة.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Thursday, November 13, 2025

Naik Derajat di Surga dengan Hafalan Al-Qur’an




Cek Rauna Pride - Parade Gamis 05 Gamis Cotton Gamis Wanita Dewasa Dress Muslimah dengan harga Rp229.900. Dapatkan di Shopee sekarang! PLEASE  CLICK HERE





Naik Derajat di Surga dengan Hafalan Al-Qur’an

🌿 Pengantar

Setiap huruf dari Al-Qur’an yang kita baca membawa cahaya ke dalam hati dan pahala yang tiada tara. Namun, bagi mereka yang menghafal, menjaga, dan mengamalkan isi Al-Qur’an, Allah ﷻ menjanjikan sesuatu yang lebih agung — derajat yang tinggi di surga, setinggi banyaknya hafalan yang mereka miliki.

Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar menumpuk ayat dalam ingatan, tetapi menanamkan kalam Allah dalam hati, menjadikannya cahaya dalam hidup, dan penuntun di akhirat.


📜 Dalil dari Hadis Rasulullah ﷺ

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن صحيح.

Artinya:

“Akan dikatakan kepada orang yang membaca dan menghafal Al-Qur’an: ‘Bacalah dan naiklah (derajat demi derajat), dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu di surga berada pada ayat terakhir yang engkau baca.’
(HR. Abu Dawud no. 1464, At-Tirmidzi no. 2914 — hadis hasan sahih)


💎 Makna yang Dalam

Hadis ini menjelaskan bahwa setiap ayat yang dihafal dan diamalkan akan menjadi tangga menuju tempat yang lebih tinggi di surga.
Semakin banyak hafalan dan semakin tulus amalnya, semakin tinggi pula derajatnya di sisi Allah.

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

“Makna ‘bacalah dan naiklah’ adalah bahwa jumlah ayat yang dibaca menjadi sebab bertambahnya derajat di surga, dan derajatnya sesuai dengan jumlah hafalannya di dunia.”
(Syarh Shahih Muslim, 6/84)


🌺 Hafalan yang Hidup dalam Amal

Namun, hafalan tanpa amal ibarat taman tanpa air. Orang yang benar-benar disebut “ash-habul Qur’an” bukan hanya yang hafal lafaznya, tetapi juga yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam akhlak, ibadah, dan kesabaran hidupnya.

Allah ﷻ berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبَابِ
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang berakal mengambil pelajaran.”
(QS. Shad: 29)


🌿 Penutup

Setiap ayat yang engkau hafal hari ini akan menuntunmu naik satu tangga di surga kelak. Maka jangan biarkan hari berlalu tanpa menambah hafalan, walau hanya satu ayat.

Tanamkan niat bukan sekadar menjadi hafiz di dunia, tetapi menjadi penghuni surga tertinggi di sisi Allah ﷻ.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mendengar panggilan mulia itu di akhirat nanti. Aamiin. 


NB:

Kalau Anda berkenan, tolong lah memberi kan komentar dibawah, bila ini manfaat sampai kan pada kerabat handai taulan. Atau memberi kan saran buat blog ini agar lebih manfaat buat Ummat pada umumnya. Kami yakin InsyaAllah Anda akan mendapatkan balasan dengan pahala besar di sisi Alloh SWT. 


Wednesday, November 12, 2025

Jadilah Wali Allah yang Haq — Hidup Tanpa Takut, Mati Tanpa Sesal






Cek Veselka Mukena Dewasa Hawwa Signature Prayer Set Sajadah Travelling Hampers Seserahan Pernikahan Mukena Motif Printing Premium dengan harga Rp800.829. Dapatkan di Shopee sekarang! 



Pendahuluan

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia, manusia sering kali diliputi rasa takut dan kesedihan. Takut akan masa depan, takut kehilangan, takut gagal, sedih karena musibah, kecewa oleh manusia, dan resah oleh keadaan yang tak menentu. Namun Allah ﷻ memberikan sebuah ketenangan abadi dalam firman-Nya yang penuh kasih, dalam Surah Yūnus ayat 62–64:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati.
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.
Bagi mereka berita gembira di kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Itulah kemenangan yang besar.”

(QS. Yūnus: 62–64)


Siapakah Wali Allah Menurut Ibnu Katsir?

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa wali-wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Mereka mencintai Allah, menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidupnya.

Ibnu Katsir menegaskan:

“Setiap orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, maka dia adalah wali Allah.”

Artinya, kewalian bukanlah gelar khusus bagi orang tertentu, bukan karena keturunan, pakaian, atau keajaiban.
Tetapi karena keimanan yang kokoh dan ketakwaan yang konsisten.


Tidak Takut dan Tidak Bersedih

Allah menegaskan dua jaminan bagi wali-wali-Nya:

  1. Tidak takut terhadap masa depan.
    Mereka yakin bahwa segala yang menanti telah diatur oleh Allah dengan sebaik-baiknya.
  2. Tidak bersedih atas masa lalu.
    Mereka ridha dengan takdir yang sudah berlalu, dan tidak menyesal berlebihan atas apa yang hilang dari dunia.

Inilah ketenangan sejati: hidup dengan iman dan tawakal, bukan dengan ketakutan dan kegelisahan.
Wali Allah hidup dalam cahaya keyakinan, bahwa segala urusan berada dalam genggaman Allah.


Berita Gembira di Dunia dan Akhirat

Ibnu Katsir menafsirkan ayat:

لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Bagi mereka berita gembira di kehidupan dunia dan di akhirat.”

Menurut beliau, busyra (kabar gembira) di dunia adalah ru’yā ṣāliḥahmimpi baik yang menjadi tanda cinta Allah kepada hamba-Nya.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

الرؤيا الصالحة جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة
“Mimpi yang baik adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.”
(HR. al-Bukhari)

Sedangkan busyra di akhirat, kata Ibnu Katsir, ialah ucapan para malaikat kepada para wali ketika ajal menjemput mereka:

لَا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Janganlah kamu takut dan jangan bersedih hati, bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
(QS. Fuṣṣilat: 30)

Sungguh, kabar gembira yang menenangkan hati, baik saat masih hidup di dunia maupun ketika ruh dipanggil menuju kehidupan abadi.


Janji Allah yang Tidak Berubah

لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ
“Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa janji Allah kepada para wali-Nya pasti benar, tidak akan diubah dan tidak akan dikhianati.
Mereka telah dijamin oleh Allah dengan pertolongan, kemuliaan, dan surga sebagai balasan atas keteguhan iman dan takwanya.

ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Itulah kemenangan yang besar.”

Kemenangan yang sesungguhnya bukanlah harta atau kedudukan,
tetapi ridha Allah dan kebahagiaan yang kekal di sisi-Nya.


Pelajaran untuk Kita

  1. Menjadi wali Allah bukanlah mustahil.
    Setiap mukmin yang menjaga iman dan takwanya berpeluang menjadi kekasih Allah.
    Bukan karena keajaiban, tapi karena ketulusan ibadah dan ketaatan.

  2. Hilangkan ketakutan dan kesedihan berlebihan.
    Orang yang dekat dengan Allah tidak mudah panik oleh dunia, sebab hatinya tertambat kepada Zat yang Maha Mengatur.

  3. Ketenangan sejati datang dari iman.
    Dunia bisa menawarkan banyak hiburan, tetapi hanya dzikir dan takwa yang menghadirkan kedamaian yang sesungguhnya.


Penutup

Menjadi wali Allah berarti hidup dalam naungan cinta dan penjagaan-Nya.
Tidak ada ketakutan terhadap masa depan, tidak ada kesedihan terhadap masa lalu.
Yang ada hanyalah ketenangan, keyakinan, dan kebahagiaan yang mengalir dari hati yang mengenal Tuhannya.

اللهم اجعلنا من أوليائك الصالحين، الذين لا خوف عليهم ولا هم يحزنون.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk wali-wali-Mu yang saleh, yang tidak takut dan tidak bersedih.”