Ada manusia yang gelisah karena merasa hidupnya tertinggal.
Melihat orang lain memiliki jabatan tinggi, ia merasa gagal.
Melihat orang lain hidup berkecukupan, ia merasa Allah tidak adil padanya.
Melihat orang lain terlihat sukses, ia sibuk bertanya:
"Mengapa hidup saya tidak seperti mereka?"
Padahal manusia sering lupa satu kenyataan besar:
setiap manusia berjalan di atas qadar Allah yang berbeda-beda.
Tak seorang pun mengetahui bagaimana qadar dirinya esok hari.
Tak seorang pun tahu kapan lapang datang.
Tak seorang pun tahu kapan ujian berakhir.
Tak seorang pun tahu bagaimana akhir hidupnya.
Namun Allah telah mengetahui semuanya jauh sebelum kita dilahirkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ، قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
"Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Allah berfirman kepadanya: Tulislah. Pena berkata: Wahai Rabbku, apa yang harus aku tulis? Allah berfirman: Tulislah seluruh takdir segala sesuatu hingga hari kiamat."
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Sejak saat itu, perjalanan hidup setiap manusia telah Allah ketahui.
Rezeki manusia tidak sama
Ada orang yang jabatannya sama, namun penghasilannya berbeda.
Ada orang yang usahanya sama, namun hasilnya berbeda.
Ada orang terlihat sederhana tetapi hatinya tenang.
Ada pula orang yang kaya raya namun hidupnya penuh kecemasan.
Mengapa?
Karena qadar manusia tidak sama.
Namun satu hal yang harus diyakini:
Allah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya.
Qur'an Allah berfirman:
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
"Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya."
(QS. Hud: 6)
Para ulama sering menggambarkan:
bahkan seekor ulat kecil yang buta di tempat tersembunyi pun Allah beri makan.
Lalu mengapa manusia begitu takut akan rezekinya?
Saat hidup lapang, manusia sering lupa Allah
Ketika hidup berkecukupan, sebagian orang berkata:
"Ini karena kerja keras saya."
"Ini karena kecerdasan saya."
"Saya sukses karena kemampuan saya sendiri."
Mereka lupa bahwa Allah yang membuka pintu rezeki.
Mereka lupa bersyukur.
Padahal Qur'an Allah berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
"Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah."
(QS. An-Nahl: 53)
Saat hidup sulit, manusia sering putus asa
Sebaliknya, orang yang hidup dalam kekurangan sering berkata:
"Saya gagal."
"Saya tidak mampu."
"Hidup saya paling berat."
Padahal bisa jadi Allah sedang mendidiknya melalui kesabaran.
Bisa jadi Allah sedang menyelamatkannya dari kesombongan.
Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan derajat yang tinggi di akhirat.
Dunia diberikan kepada banyak orang
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا مَنْ أَحَبَّ
"Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang Dia cintai."
(HR. Ahmad)
Dunia bukan ukuran kemuliaan.
Akhiratlah tujuan sebenarnya.
Kehidupan akhirat itu kekal
Banyak manusia hanya sibuk mengejar dunia yang sementara.
Padahal kebahagiaan akhirat jauh lebih baik dan kekal selamanya.
Qur'an Allah berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
"Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."
(QS. Al-A’la: 17)
Hari akhirat adalah kehidupan yang tidak berujung.
Inilah yang sering dilupakan manusia.
Qadar bisa berubah dengan doa
Meski qadar telah ditulis, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa doa sangat besar pengaruhnya.
Beliau bersabda:
لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ
"Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa."
(HR. Tirmidzi)
Karena itu jangan menyerah.
Jangan hanya meratap.
Perbanyak doa.
Perbaiki ibadah.
Dekatkan diri kepada Allah.
Jangan mudah menghakimi orang lain
Ada orang hidupnya sempit.
Ada yang ibadahnya masih belum sempurna.
Ada yang hidupnya penuh ujian.
Jangan mudah menghakimi.
Kita tidak tahu qadar yang sedang mereka jalani.
Tugas kita adalah mendoakan dan membantu.
Penutup
Sungguh beruntung orang yang mencari dunia bukan sekadar untuk dipuji manusia...
tetapi agar derajatnya di sisi Allah semakin tinggi.
Orang seperti itu akan bahagia di dunia...
dan insyaAllah bahagia di akhirat.
Karena hidup bukan tentang siapa paling kaya.
Bukan siapa paling terkenal.
Tetapi siapa yang paling baik akhir perjalanannya di hadapan Allah سبحانه وتعالى.
NB . Bila tulisan ini bermanfaat tolong memberikan komen yang membagun dan sampaikan kepada sanak handai taulan bahwa Nasihat Islami Barakallah bermanfaat karena berdasar kan dalil dalil Alquran Sunnah SAW.

Bila memasuki lansia banyak masalah.
Untuk kenyaman ibadah Temukan Sajadah Tebal Empuk Sholat
Busa Polos Premium Bulu Rasfur

Comments
Post a Comment