Ketika Kebaikan Melukai, Ketika Keburukan Dapat Diterima.
Ada saat di mana kita merasa telah berbuat baik, tapi ternyata ada hati yang terluka karenanya. Ada saat di mana kita mengira sedang menolong, tapi justru membuat orang merasa terhina. Ada saat di mana kita merasa sudah benar, tapi di hadapan Allah, niat kita berbelok arah.
Sebaliknya, ada juga saat di mana kita merasa telah melakukan kesalahan besar, tapi justru itulah yang menyadarkan kita dan orang lain. Ada saat di mana kita menyesali kata-kata yang pernah keluar, tetapi ternyata justru kalimat itulah yang membuka pintu perubahan bagi seseorang.
Pernahkah kita menasihati seseorang dengan niat baik, tetapi kata-kata kita justru menjadi pisau tajam yang menyakiti hatinya?
Pernahkah kita membantu orang lain, tetapi setelahnya muncul perasaan sombong yang tidak kita sadari?
Pernahkah kita berbicara jujur, tetapi kejujuran itu malah melukai tanpa perlu?
Pernahkah kita diam untuk menjaga diri, tetapi justru diam kita dianggap sebagai pengabaian?
Pernahkah kita memilih jalan yang salah dalam hidup, tetapi justru itu yang membawa kita lebih dekat kepada Allah?
Manusia sering kali terjebak dalam ilusi tentang kebaikan dan keburukan. Apa yang kita anggap baik, belum tentu diterima baik oleh Allah dan manusia. Apa yang kita anggap buruk, bisa jadi adalah jalan yang justru membawa kita pada kebaikan sejati.
Lalu, di mana letak keseimbangan itu?
Di sinilah kita perlu merenung. Bahwa amalan bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita melakukannya, kepada siapa, kapan, dan dengan hati seperti apa.
- Kebaikan yang disampaikan dengan keangkuhan bisa menjadi racun.
- Kejujuran tanpa kebijaksanaan bisa berubah menjadi pedang yang menusuk.
- Diam yang salah tempat bisa menyakiti lebih dari kata-kata.
Keburukan yang membuat seseorang kembali kepada Allah, bisa lebih baik daripada kebaikan yang melahirkan kesombongan.
Maka sebelum berbuat, tanyakan pada hati kita:
"Apakah ini benar di mata Allah? Apakah ini baik di hati manusia? Apakah ini akan menjadi penyesalan di akhirat?"
Karena di akhirat, bukan hanya perbuatan yang akan dihisab.
Niat, cara, dan akibatnya pun akan ditimbang.
Merenungi Setiap Langkah:
Kebaikan, Keburukan, dan Timbangan di Akhirat
Kita sering menganggap bahwa kebaikan selalu membawa kebaikan, dan keburukan pasti berujung buruk. Tapi kenyataan hidup sering kali lebih kompleks dari itu. Ada kebaikan yang melukai, ada kejujuran yang menyakitkan, ada niat baik yang berubah menjadi bencana. Sebaliknya, ada keburukan yang akhirnya menyadarkan, ada kesalahan yang justru membawa seseorang kembali ke jalan yang benar.
Di sinilah pentingnya merenungi setiap langkah yang kita ambil. Apa yang kita lakukan bukan hanya soal benar atau salah menurut manusia, tetapi bagaimana hal itu akan dipandang oleh Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita dzikir sebagai perisai, pengingat, sekaligus penyempurna dari setiap amalan yang kita lakukan.
Salah satu dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menutup setiap majelis, setiap bacaan Al-Qur’an, dan bahkan setiap shalat adalah:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
"Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik."
Dzikir ini bukan sekadar lafaz, tetapi sebuah renungan dan pengakuan:
"Subhanakallahumma wa bihamdika" → Aku mengakui bahwa Engkau, ya Allah, Mahasuci dari segala kekurangan, dan aku memuji-Mu atas segala nikmat yang Engkau berikan.
"Asyhadu alla ilaha illa anta" → Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Segala yang kulakukan, mestinya hanya untuk-Mu.
"Astaghfiruka wa atubu ilaik" → Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu atas kesalahan yang kusadari maupun yang tidak kusadari.