Kepemimpinan adalah amanah besar yang bukan sekadar posisi atau kehormatan, melainkan tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ. Sayangnya, dalam dunia modern, jabatan sering kali menjadi incaran yang diperebutkan dengan segala cara, bahkan dengan mengorbankan nilai-nilai kejujuran dan keadilan.
Islam telah memberikan tuntunan jelas tentang bahaya meminta jabatan, karena kepemimpinan bukanlah sesuatu yang boleh dikejar dengan ambisi pribadi. Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa mereka yang mengincar jabatan akan dibiarkan mengelolanya sendiri tanpa pertolongan Allah ﷻ, sementara mereka yang diberi amanah tanpa memintanya akan mendapatkan bimbingan dan kemudahan dari-Nya.
Dalam artikel ini, kita akan mengulas bagaimana Islam memandang kepemimpinan sebagai tanggung jawab berat, dalil-dalil yang menegaskan bahayanya meminta jabatan, serta prinsip-prinsip utama yang harus diperhatikan sebelum seseorang menerima posisi kepemimpinan. Semoga kita dapat memahami esensi kepemimpinan yang sejati dan menghindari ambisi duniawi yang dapat menjerumuskan kita ke dalam penyesalan di akhirat.
Dalam Islam, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang boleh diminta atau dikejar dengan ambisi. Rasulullah ﷺ telah memberikan petunjuk bahwa meminta jabatan justru akan mendatangkan beban besar di sisi Allah ﷻ. Sebaliknya, mereka yang tidak mengejar jabatan akan diberikan kemudahan dan pertolongan oleh-Nya.
Bahaya Meminta Jabatan dalam Islam
Banyak orang di zaman sekarang berlomba-lomba mencari jabatan, bahkan rela mengeluarkan harta agar terpilih. Padahal, Islam mengajarkan bahwa pemimpin adalah amanah besar yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
"Wahai ‘Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan. Karena jika engkau diberi jabatan dengan memintanya, maka engkau akan diserahkan kepada (ambisimu sendiri). Namun, jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya, maka engkau akan diberi pertolongan atasnya."
(HR. Bukhari No. 6616, Muslim No. 1652)
Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang meminta jabatan akan dibiarkan mengurusnya sendiri tanpa pertolongan Allah. Sebaliknya, jika seseorang diberikan jabatan tanpa meminta, maka Allah akan memberikan pertolongan dalam menjalankan amanah tersebut.
Jabatan sebagai Beban yang Berat
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kehormatan, melainkan beban yang bisa membawa seseorang kepada kehancuran jika tidak dikelola dengan adil dan amanah:
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَإِنَّهَا سَتَكُونُ نَدَامَةً وَحَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَةُ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ
"Kalian akan sangat berambisi terhadap jabatan, padahal kelak ia akan menjadi penyesalan dan kesedihan pada hari kiamat. Ia adalah kenikmatan di awalnya, namun keburukan di akhirnya."
(HR. Bukhari No. 7148)
Banyak pemimpin yang menikmati jabatan di dunia, tetapi di akhirat mereka akan menyesal jika tidak menggunakannya untuk keadilan dan kemaslahatan umat.
Dalil dari Al-Qur'an: Kepemimpinan sebagai Amanah
Allah ﷻ menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang hanya layak diemban oleh orang yang memiliki ilmu dan keadilan:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(QS. An-Nisa: 58)
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar amanah kepemimpinan hanya diberikan kepada yang berhak, bukan kepada mereka yang hanya berambisi untuk berkuasa.
Belajar Sebelum Menjadi Pemimpin
Meskipun meminta jabatan dilarang, Islam tetap menganjurkan setiap Muslim untuk mempersiapkan diri dengan ilmu dan kefahaman, jika suatu saat mereka diberikan tanggung jawab kepemimpinan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
"Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya."
(HR. Bukhari No. 59)
Seorang pemimpin harus memiliki ilmu, keadilan, dan amanah agar tidak menjerumuskan diri sendiri dan umatnya ke dalam kebinasaan.
Kesimpulan
- Islam melarang meminta jabatan karena akan menjadi beban yang berat di sisi Allah.
- Kepemimpinan adalah amanah yang harus diberikan kepada orang yang berilmu dan adil.
- Orang yang meminta jabatan akan dibiarkan Allah mengurusnya sendiri, sementara yang diberikan tanpa meminta akan mendapat pertolongan dari-Nya.
- Kepemimpinan yang tidak dijalankan dengan amanah akan menjadi penyesalan besar di akhirat.
Sebelum menjadi pemimpin, seseorang harus memiliki kefahaman dan kesiapan agar tidak membawa kehancuran.
Semoga kita selalu diberi pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab, serta dijauhkan dari ambisi duniawi yang hanya mengejar jabatan tanpa kesiapan. Wallahu a’lam bish-shawab.