Nasehat Islami Tentang Kematian, Kehidupan, dan Persiapan Hati
Tidak ada manusia yang mengetahui kapan ajal akan datang.
Ada yang pagi masih berbicara dan bercanda, sore harinya sudah dipanggil menghadap Allah SWT. Ada yang sedang merencanakan masa depan, namun ternyata perjalanan hidupnya telah sampai di ujung waktu.
Karena itu Islam mengajarkan agar manusia tidak terlalu lalai terhadap dunia. Sebab suatu hari nanti akan datang sebuah waktu yang pasti.
Waktu ketika harta tidak lagi berguna. Waktu ketika jabatan tidak lagi menyelamatkan. Waktu ketika manusia hanya ditemani amalnya.
Itulah saat kematian tiba.
Kematian Adalah Kepastian
Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran : 185)
Kematian bukan hanya untuk orang tua. Bukan hanya untuk orang sakit. Tidak sedikit manusia yang dipanggil Allah ketika masih muda, sehat, dan kuat.
Karena itu seorang Muslim hendaknya selalu mempersiapkan diri sebelum datang hari yang tidak dapat ditunda.
Allah SWT juga berfirman:
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Artinya: “Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. An-Nahl : 61)
Ayat ini mengingatkan bahwa umur manusia sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Dunia Hanyalah Tempat Singgah
Sering kali manusia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa hidup ini hanya sementara.
Padahal rumah yang megah akan ditinggalkan. Kendaraan yang mahal akan ditinggalkan. Bahkan tubuh yang dirawat setiap hari pun suatu saat akan kembali menjadi tanah.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
Artinya: “Tidaklah aku dan dunia ini melainkan seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)
Begitulah hakikat kehidupan dunia.
Manusia datang sebentar, lalu pergi.
Karena itu jangan sampai hati terlalu melekat kepada dunia hingga lupa kepada akhirat.
Mengingat Kematian Membuat Hati Lebih Bijak
Banyak orang merasa hidup masih panjang sehingga menunda taubat, menunda ibadah, dan menunda memperbaiki diri.
Padahal tidak ada yang tahu apakah esok hari masih diberi kesempatan hidup atau tidak.
Rasulullah SAW bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ
Artinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)
Mengingat kematian bukan untuk membuat manusia putus asa.
Sebaliknya, mengingat kematian membuat hati lebih lembut, lebih tenang, dan lebih bijaksana dalam menjalani hidup.
Orang yang ingat kematian biasanya:
- lebih mudah memaafkan,
- tidak terlalu sombong,
- lebih berhati-hati dalam berbicara,
- dan lebih memikirkan amal akhirat.
Bekal Terbaik Adalah Amal Saleh
Ketika manusia meninggal dunia, semua yang dimilikinya akan tertinggal.
Yang ikut hanyalah amal perbuatannya.
Rasulullah SAW bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Artinya: “Mayit diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka dua akan kembali dan satu akan tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu seorang Muslim hendaknya memperbanyak amal saleh selama masih diberi kesempatan hidup.
Tidak harus menunggu kaya untuk bersedekah. Tidak harus menunggu tua untuk bertaubat. Tidak harus menunggu sempurna untuk mulai mendekat kepada Allah.
Jangan Menunda Taubat
Setiap manusia pasti memiliki dosa dan kesalahan.
Namun Allah SWT Maha Pengampun bagi hamba yang mau kembali kepada-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur : 31)
Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.
Karena itu jangan pernah malu untuk memperbaiki diri.
Persiapkan Hati Sebelum Saat Itu Tiba
Tidak ada manusia yang siap kehilangan orang yang dicintainya. Namun setiap manusia pasti akan mengalami perpisahan.
Karena itu persiapkan hati dengan:
- memperbaiki ibadah,
- memperbanyak dzikir,
- menjaga shalat,
- membaca Al-Qur’an,
- dan memperbanyak doa.
Doa yang sangat baik diamalkan:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah : 201)
Penutup
Bila saatnya itu tiba, manusia tidak lagi mampu kembali ke dunia untuk memperbaiki amalnya.
Karena itu selagi masih diberi umur, gunakan waktu untuk mendekat kepada Allah SWT.
Perbaiki hati. Perbaiki ibadah. Perbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Semoga Allah SWT menutup usia kita dalam keadaan husnul khatimah, mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Perlengkapan Ibadah Muslim Muslimah




Comments
Post a Comment