'cookieChoices = {};' Nasihat Islami Untuk Kesehatan Jiwa dan Raga.: 2025

Thursday, April 3, 2025

Sujud Satu Ayat: Ketika Dahi Menyentuh Bumi, Langit pun Terbuka



Kadang-kadang kita membaca Al-Qur’an hanya dengan mata. Bibir bergerak, tapi hati tak tersentuh. Namun, ada ayat-ayat yang menggetarkan langit, yang membuat para sahabat Nabi tak mampu berdiri atau duduk setelah mendengarnya—mereka langsung meletakkan dahi mereka ke tanah, bersujud dalam tunduk yang paling dalam.


Itulah sujud tilawah, sujud satu ayat yang menggetarkan jiwa.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ketika membaca ayat sajdah, beliau langsung sujud. Para sahabat yang mendengarnya pun ikut sujud, meskipun mereka tak sedang dalam shalat. Bahkan saking penuhnya rasa tunduk, disebutkan:

"...hingga tak satu pun dari kami mendapatkan tempat untuk meletakkan dahinya."

(HR. Bukhari)


Bayangkan, sahabat-sahabat yang penuh cinta kepada Al-Qur’an itu, ketika mendengar satu ayat saja, bukan sekadar berkata “MasyaAllah,” atau “bagus sekali ayat ini,” tapi langsung rebah, meletakkan wajah di tanah. Mereka tahu bahwa ayat itu bukan sekadar bacaan, melainkan seruan dari Tuhan semesta alam:

"Bersujudlah kepada-Ku."


Apa itu Sujud Tilawah?

Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan ketika membaca atau mendengar ayat sajdah dalam Al-Qur’an. Ada sekitar 15 tempat dalam Al-Qur’an yang disunnahkan untuk bersujud ketika sampai padanya.

Ini bukan sekadar gerakan. Ini adalah bentuk cinta dan tunduk. Tanda bahwa hati ini masih hidup dan sadar bahwa yang berbicara dalam ayat itu bukan makhluk, tapi Allah Ta’ala.

Doa Sujud Tilawah (Hadis Shahih Abu Dawud):

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya:

“Wajahku bersujud kepada Tuhan yang telah menciptakannya, membuka pendengaran dan penglihatannya dengan kekuatan dan daya-Nya. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta.”

Mengapa Kita Jarang Sujud Saat Membaca Qur’an?

Barangkali karena kita membaca tanpa menghadirkan hati. Barangkali karena suasana rumah dan hati kita tak lagi seperti rumah Rasulullah dan para sahabat. Sujud menjadi berat, karena hati tak lagi ringan.

Namun justru itulah kita perlu menghidupkannya kembali.

Bayangkan…

Di ruang sunyi malam, atau di sela membaca mushaf, engkau berhenti sejenak. Meletakkan HP atau mushaf, lalu engkau bersujud. Tak ada yang melihat. Tapi langit melihat. Malaikat mencatat. Dan bumi menjadi saksi bahwa engkau pernah bersujud karena satu ayat dari Tuhanmu.


Penutup:

Mungkin kita tak sehebat para sahabat. Tapi kita bisa memulai seperti mereka. Menyambut panggilan ayat sajdah bukan dengan lewat begitu saja, tapi dengan sujud yang jujur dan rendah hati. Barangkali, satu sujud yang kita lakukan—meski dengan tubuh lemah dan hati yang penuh dosa—cukup untuk menggugurkan beban hidup dan membuka jalan berkah dari langit.


Mari hidupkan kembali satu sujud karena satu ayat. Semoga sujud itu menjadi cahaya yang menyinari hidup kita dan membangkitkan kembali rasa tunduk yang hilang.










Wednesday, April 2, 2025

Keberuntungan Sejati



 Ekstra besar 60cm✔ emari plastik susun storage box
lemari pakaian plastik kotak penyimpanan baju box penyimpanan serbaguna


Keberuntungan Sejati: Dijauhkan dari Neraka dan Dimasukkan ke Surga


Pengantar

Setiap manusia mendambakan kebahagiaan dan keberuntungan dalam hidupnya. Namun, sering kali keberuntungan diukur dengan harta, jabatan, atau kesuksesan duniawi. Padahal, dalam pandangan Islam, keberuntungan sejati bukanlah kekayaan atau kehormatan di dunia, melainkan keselamatan dari neraka dan masuknya seseorang ke dalam surga. Inilah makna yang Allah tegaskan dalam firman-Nya:


فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

"Maka barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."

(QS. Ali 'Imran: 185)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa dunia hanyalah tempat sementara. Segala kesenangan dan penderitaan di dunia akan berakhir, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Pikirkanlah bagaimana mencapainya.  Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللَّهِ، مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ - وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ - فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ؟

"Demi Allah, dunia ini dibandingkan dengan akhirat tidak lain seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke dalam lautan, lalu lihatlah apa yang tersisa pada jarinya setelah ia mengeluarkannya."

(HR. Muslim No. 2858)


Hadis ini menggambarkan betapa kecilnya dunia dibandingkan dengan akhirat. Sering kali kita terjebak dalam urusan dunia, hingga lupa bahwa keberuntungan yang sejati adalah terbebas dari siksa neraka dan mendapatkan kenikmatan surga. Betapa dahsyatnya siksa di Neraka , walaupun siksaan menghancurkan tubuhnya, namun mereka tidak mati. Apa artinya seklimak apapun bentuk siksaan terus dirasakan, karena mereka tidak ada mati, semakin lama semakin sakit. Siksa didunia klimaknya manusia tidak mampu menahan langsung mati, di neraka tidak ada kematian.  Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً، ثُمَّ يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ

"Akan didatangkan seorang yang paling banyak merasakan kesusahan di dunia, tetapi ia termasuk penghuni surga, lalu ia dicelupkan ke dalam surga sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, 'Wahai anak Adam, pernahkah engkau mengalami kesusahan sedikit pun? Pernahkah engkau merasakan penderitaan sedikit pun?' Maka ia menjawab, 'Tidak, demi Allah, wahai Rabbku, aku tidak pernah mengalami kesusahan atau penderitaan sama sekali.'"

(HR. Muslim No. 2807)


Perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan orang yang dicelupkan dalam air kehidupan ini adalah orang beriman yang pernah masuk neraka karena dosanya. Mereka adalah orang-orang beriman tetapi masih berbuat aniaya, melanggar aturan Allah, Rasul-Nya, dan Imam mereka. Mereka mendapatkan hisab yang berat, menderita di dunia, dan lebih-lebih di akhirat disiksa dalam neraka dalam waktu yang lebih lama dibanding kehidupan mereka di dunia. Namun, ketika tiba waktunya untuk dikeluarkan dari neraka karena keimanan mereka yang masih tersisa, mereka akan dicelupkan ke dalam kenikmatan surga sehingga mereka melupakan semua penderitaan di dunia dan di akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَهْلَ الجَنَّةِ لَيَرَوْنَ أَهْلَ الغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا تَرَوْنَ الكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الغَابِرَ فِي الأُفُقِ مِنَ المَشْرِقِ أَوِ المَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تِلْكَ مَنَازِلُ الأَنْبِيَاءِ لَا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ، قَالَ: بَلَى، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا المُرْسَلِينَ

"Sesungguhnya penghuni surga akan melihat penghuni kamar-kamar tinggi di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang bercahaya di langit timur atau barat, karena perbedaan derajat di antara mereka." Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, apakah itu tempat para nabi yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun selain mereka?" Beliau menjawab, "Bukan, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul-Nya."

(HR. Bukhari No. 3256, Muslim No. 2831)


Penutup

Saudaraku, janganlah kita tertipu dengan gemerlap dunia yang sementara. Marilah kita berusaha mengejar keberuntungan sejati dengan beriman dan beramal saleh. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ فِي الجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

"Sesungguhnya tempat cemeti salah seorang dari kalian di surga itu lebih baik daripada dunia seisinya."

(HR. Bukhari No. 2892, Muslim No. 2836)

Jika tempat sekecil itu lebih berharga dari dunia dan seisinya, lalu bagaimana dengan kenikmatan surga yang lebih besar? Maka, mari kita renungkan dan persiapkan bekal terbaik untuk akhirat. Semoga Allah menjauhkan kita dari neraka dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Aamiin.



Thursday, March 27, 2025

Setelah Ramadhan jangan lupa senantiasa

 


Setelah Ramadhan Jangan Lupa Silaturahim, Senantiasa Memperbanyak Dzikir dan Doa

Jangan lupa untuk selalu mengingat Allah dalam setiap kesempatan.

Ramadhan telah berlalu, tetapi semangat ibadah tidak boleh surut. Salah satu amalan yang harus terus kita jaga adalah dzikir dan doa. Ramadhan telah melatih kita untuk selalu dekat dengan Allah, dan kebiasaan ini harus tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari. Allah berfirman:

"Maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingatmu." (QS. Al-Baqarah: 152)

Dzikir bukan sekadar ucapan, tetapi bukti kecintaan dan ketergantungan seorang hamba kepada Allah. Setelah Ramadhan, kita harus tetap menjaga hati agar selalu terhubung dengan-Nya.

1. Dzikir sebagai Penyucian Jiwa

Hati manusia mudah dikotori oleh dosa dan kelalaian. Dzikir adalah cara terbaik untuk menyucikan hati dan mengingatkan kita akan tujuan hidup yang sebenarnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dengan orang yang mati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan dzikir, hati menjadi lebih tenang dan terbebas dari keresahan duniawi.

2. Doa sebagai Senjata Seorang Mukmin

Setelah Ramadhan, kita tetap membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap langkah kehidupan. Doa adalah senjata utama seorang mukmin yang tidak boleh ditinggalkan. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa." (HR. Tirmidzi)

Jangan ragu untuk berdoa dalam segala keadaan, baik saat senang maupun sulit. Allah selalu dekat dengan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam memohon.

3. Dzikir yang Dianjurkan Setelah Ramadhan

Setelah Ramadhan, biasakan untuk memperbanyak dzikir, terutama:

  • Dzikir pagi dan petang, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah ﷺ untuk perlindungan dari segala keburukan.
  • Istighfar, sebagai bentuk permohonan ampun atas dosa-dosa kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
    "Sungguh aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari 70 kali dalam sehari." (HR. Bukhari)
  • Tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir:
    • Subhanallah (Maha Suci Allah)
    • Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)
    • Laa ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah)
    • Allahu Akbar (Allah Maha Besar)

4. Keutamaan Orang yang Berdzikir

Dzikir bukan hanya memberikan ketenangan hati, tetapi juga mendatangkan pahala besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa mengucapkan ‘Subhanallahi wa bihamdih’ 100 kali dalam sehari, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, jangan sia-siakan kesempatan untuk terus berdzikir dan mengingat Allah setiap saat.

Kesimpulan

Setelah Ramadhan, jangan biarkan hati kembali lalai. Jadikan dzikir dan doa sebagai bagian dari kehidupan kita agar selalu dekat dengan Allah. Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan dan mendapatkan ketenangan hati serta keberkahan hidup.

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang senantiasa mengingat-Mu dan memohon kepada-Mu dalam setiap langkah hidup kami."


Wednesday, March 26, 2025

PASHMINA VOILE ARABIAN SHAWL | PASMINA VOAL ARABIAN




Temukan PASHMINA VOILE ARABIAN SHAWL | PASMINA VOAL ARABIAN | PASHMINA MIRACLE VOAL | Rayyanz hijab seharga Rp15.879. Dapatkan sekarang juga di Shopee! 



Pashmina Voile Arabian Shawl dari Rayyanz Hijab hadir untuk melengkapi keanggunan Anda di momen istimewa. Dengan bahan Miracle Voal Premium yang lembut dan nyaman, pashmina ini siap menemani suasana Lebaran, memberikan sentuhan elegan dalam setiap pertemuan dan silaturahim Ied. Hadir dengan warna-warna yang anggun, pashmina ini ikut menghiasi dunia hijab, menjadikan tampilan Anda lebih menawan di hari kemenangan.


Deskripsi Produk:
Pashmina Voile Arabian Shawl dari Rayyanz Hijab adalah pilihan sempurna bagi Anda yang menginginkan pashmina ringan, lembut, dan elegan. Terbuat dari bahan Miracle Voal Premium, hijab ini nyaman dipakai sepanjang hari, tidak mudah kusut, dan memiliki tekstur yang halus serta jatuh dengan indah. Dengan ukuran yang ideal, pashmina ini mudah dibentuk dan cocok untuk berbagai gaya hijab, baik untuk tampilan formal maupun kasual.

Keunggulan Produk:
✔️ Bahan Miracle Voal Premium – Ringan, adem, dan nyaman
✔️ Tekstur halus & tidak licin – Mudah dibentuk tanpa perlu jarum berlebih
✔️ Tersedia dalam berbagai warna elegan – Cocok untuk semua jenis outfit
✔️ Cocok untuk acara formal & sehari-hari

Spesifikasi:

  • Bahan: Miracle Voal Premium
  • Ukuran: ± 180 cm x 75 cm
  • Finishing: Jahitan rapi & eksklusif

Tampil anggun dan stylish dengan Pashmina Voile Arabian Shawl dari Rayyanz Hijab!

Rayyanz Hijab menghadirkan pashmina ini menyempurnakan tampilan Anda di hari yang penuh berkah. Tampil cantik, anggun, dan tetap nyaman dalam balutan Pashmina Voile Arabian Shawl



Mempertahankan kebiasaan Baik setelah Ramadhan.

 


Mempertahankan Kebiasaan Baik setelah Ramadhan

Jangan biarkan semangat ibadah hanya bertahan di bulan ini. Jadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan hidup yang lebih baik.

Bulan Ramadhan telah mengajarkan kita banyak hal—kesabaran, ketakwaan, dan kedisiplinan dalam beribadah. Namun, tantangan sesungguhnya datang setelah Ramadhan berakhir: mampukah kita mempertahankan kebiasaan baik yang telah kita bangun? Jangan biarkan semangat ibadah hanya menjadi kenangan Ramadhan, tetapi jadikan sebagai awal perubahan hidup yang lebih baik.

1. Melanjutkan Puasa Sunnah

Salah satu cara untuk menjaga kedekatan dengan Allah setelah Ramadhan adalah dengan melanjutkan puasa sunnah. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa berpuasa Ramadan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim)

Selain puasa Syawal, ada juga puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 bulan Hijriyah), dan puasa Daud yang sangat dianjurkan.

2. Menjaga Shalat Malam (Qiyamul Lail)

Di bulan Ramadhan, kita terbiasa melaksanakan shalat tarawih dan qiyamul lail. Jangan biarkan kebiasaan ini berhenti hanya karena Ramadhan telah usai. Allah berfirman:

"Dan pada sebagian malam, shalat tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra’: 79)

Shalat tahajud dan witir bisa tetap kita lakukan meskipun hanya beberapa rakaat. Keutamaannya sangat besar, terutama dalam memperkuat hati dan jiwa.

3. Menjaga Hubungan dengan Al-Qur'an

Selama Ramadhan, kita berusaha membaca dan mentadabburi Al-Qur'an lebih banyak. Jangan biarkan kebiasaan ini berhenti. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Cobalah untuk tetap membaca Al-Qur’an setiap hari, meskipun hanya beberapa ayat. Lebih baik lagi jika kita memahami maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

4. Konsisten dalam Bersedekah

Ramadhan adalah bulan berbagi, di mana kita banyak bersedekah dan membantu sesama. Kebiasaan ini tidak seharusnya berhenti setelah Ramadhan. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api." (HR. Tirmidzi)

Bersedekah bisa dalam bentuk uang, tenaga, ilmu, atau sekadar senyuman dan kebaikan kepada sesama.

5. Menjaga Lisan dan Hati

Di bulan Ramadhan, kita belajar menahan diri dari berkata buruk, bergunjing, dan marah. Setelah Ramadhan, kita harus tetap menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, menjaga hati dari penyakit seperti iri, sombong, dan dendam juga sangat penting untuk kesehatan jiwa.

Kesimpulan

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan ibadah kita, tetapi awal dari perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan mempertahankan kebiasaan baik seperti puasa sunnah, shalat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga lisan, kita bisa terus meraih keberkahan sepanjang tahun.

Semoga Allah memberi kita keistiqamahan dalam menjalankan amal shalih dan menjadikan kita hamba yang lebih baik setelah Ramadhan. Aamiin.


Tidak Ada yang Abadi di Dunia ini, Berbekallah

 



Tidak Ada yang Abadi di Dunia Ini

Berbekallah, karena dunia ini fana
Segala yang ada di dunia ini akan berakhir. Kehidupan yang kita jalani hanyalah persinggahan sementara. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

"Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan dunia adalah seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi dan meninggalkannya." (HR. Tirmidzi no. 2377, Ahmad no. 3701, dan Ibnu Majah no. 4109)

Allah ﷻ juga mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah ujian bagi manusia:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةًۭ لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا
"Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya." (QS. Al-Kahfi: 7)

Namun, banyak manusia yang tertipu dengan kehidupan dunia, mengejar harta, jabatan, dan kesenangan sesaat, tanpa memikirkan akhirat. Mereka lupa bahwa semua makhluk di langit dan bumi bertasbih kepada Allah ﷻ:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
"Segala yang di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. As-Saff: 1)

Tetapi ada manusia yang enggan bertasbih kepada-Nya. Mereka terlalu sibuk menumpuk kekayaan, memburu jabatan, hingga lupa akan tujuan hakiki kehidupan ini.


Kematian Itu Pasti, Perjalanan Akhirat Itu Panjang

Kematian adalah kepastian yang tak bisa dihindari. Namun, banyak orang yang tidak peduli, seolah-olah mereka akan hidup selamanya. Padahal, kematian hanyalah awal dari perjalanan menuju akhirat yang abadi.

Allah ﷻ berfirman:

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan balasan amal kalian." (QS. Ali Imran: 185)

Sayangnya, banyak yang mengabaikan agama dalam kehidupan mereka. Sejak dalam keluarga, agama kurang mendapat perhatian, dianggap sebagai urusan pribadi semata. Akibatnya, pemahaman agama menjadi lemah, banyak orang menafsirkan ajaran Islam sesuai keinginannya sendiri tanpa tuntunan yang benar. Hal ini melahirkan generasi yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam, bertindak semaunya, dan menjadikan dunia sebagai tujuan utama.


Kehidupan Dunia Itu Sementara, Akhirat Itu Kekal

Kita semua tahu bahwa dunia ini tidak kekal. Dulu kita bayi, kini sudah tua. Dulu kaya, sekarang miskin. Dulu berkuasa, kini tak berdaya. Hari ini tertawa, esok mungkin menangis.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al-Hadid: 20)

Setelah seseorang meninggal, hartanya diperebutkan ahli waris, istrinya mungkin menikah lagi, dan nama besarnya perlahan dilupakan. Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam sebuah hadits:

"Dunia itu adalah rumahnya orang yang tidak punya rumah di akhirat. Untuk dunia itulah orang yang tidak berakal mengumpulkan harta." (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Maka, apa gunanya menghabiskan hidup hanya untuk mengumpulkan harta yang tidak akan kita bawa mati? Apa nikmatnya menghadap Allah ﷻ dalam keadaan miskin amal?


Bersiaplah Sebelum Terlambat

Dunia ini hanyalah tempat ujian. Yang kita butuhkan bukan banyaknya harta, tapi ketakwaan kepada Allah ﷻ. Sebab, yang akan menemani kita di alam kubur bukanlah kekayaan atau jabatan, melainkan amal ibadah yang ikhlas karena-Nya.

Allah ﷻ berfirman:

وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًۭا وَخَيْرٌ أَمَلًۭا
"Sedangkan amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan." (QS. Al-Kahfi: 46)

Maka, sebelum ajal menjemput, marilah kita berbekal dengan amal saleh dan ketakwaan. Jangan sampai kita menyesal di akhirat nanti karena terlalu sibuk mengejar dunia, sementara akhirat kita abaikan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang sadar sebelum terlambat. آمين.



Jangan Sampai Menyesal di Akhirat

Banyak orang baru sadar setelah kematian menjemput, tetapi saat itu sudah terlambat. Mereka berharap bisa kembali ke dunia untuk beramal saleh, namun itu mustahil. Allah ﷻ telah mengingatkan dalam firman-Nya:

رَبِّ ٱرْجِعُونِ . لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًۭا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
"Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Namun, permintaan itu ditolak. Mereka harus menghadapi kenyataan pahit: kehidupan dunia telah usai, dan perjalanan menuju akhirat dimulai.


Apa Bekal Kita untuk Akhirat?

Maka, sebelum ajal tiba, kita harus bertanya pada diri sendiri:

  • Sudahkah kita menjadikan Allah sebagai tujuan utama hidup?
  • Apakah harta yang kita kumpulkan telah digunakan di jalan yang diridhai-Nya?
  • Bagaimana keadaan ibadah kita? Apakah dilakukan dengan ikhlas atau hanya sebatas rutinitas?

Rasulullah ﷺ bersabda:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
"Orang yang cerdas adalah yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya, lalu berangan-angan mendapat rahmat Allah." (HR. Tirmidzi no. 2459, Ahmad no. 17563)

Kecerdasan sejati bukanlah mereka yang pandai mengumpulkan harta atau meraih jabatan tinggi, tetapi mereka yang sadar bahwa hidup di dunia hanyalah persiapan menuju kehidupan abadi di akhirat.


Penutup: Insaflah Sebelum Terlambat

Dunia ini hanyalah ujian. Semua yang kita miliki akan lenyap, kecuali amal saleh yang kita bawa. Allah ﷻ telah mengingatkan kita:

وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ ۖ وَلَلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌۭ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
"Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka apakah kalian tidak memahaminya?" (QS. Al-An’am: 32)

Jangan sampai kita menyesal di akhirat nanti karena terlalu sibuk mengejar dunia dan melupakan bekal untuk kehidupan yang sesungguhnya. Mari kita perbaiki niat, tingkatkan ibadah, dan gunakan sisa hidup ini untuk mencari ridha Allah ﷻ.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua. Allahumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika. آمين.


Menyambut Idul Fitri

 


Menyambut Idul Fitri dengan Jiwa yang Bersih

Idul Fitri bukan hanya tentang baju baru, tetapi tentang hati yang kembali suci

Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi setiap Muslim yang telah menjalani ibadah puasa dengan penuh keikhlasan. Namun, kemenangan sejati bukanlah sekadar merayakan dengan hidangan lezat atau pakaian baru, melainkan kembalinya hati yang bersih dan jiwa yang suci.

Makna Idul Fitri yang Sesungguhnya

Kata Idul Fitri bermakna kembali kepada fitrah, yaitu keadaan suci seperti saat kita pertama kali diciptakan. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membersihkan hati dari sifat buruk seperti dengki, sombong, dan dendam. Oleh karena itu, setelah Ramadan berlalu, kita tidak boleh kembali kepada kebiasaan buruk yang merusak kebersihan hati.

Tiga Kunci Menyambut Idul Fitri dengan Jiwa yang Bersih

1. Memperbanyak Istighfar dan Taubat

Idul Fitri adalah momentum untuk benar-benar bersih, tidak hanya dari dosa-dosa kecil, tetapi juga dari kebiasaan yang mengotori hati. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
"Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni"
"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku." (HR. Tirmidzi)

Dengan istighfar dan taubat yang sungguh-sungguh, kita berharap mendapatkan pengampunan Allah sehingga jiwa kita kembali bersih.

2. Menyambung Silaturahmi dan Memaafkan Sesama

Salah satu sunnah yang dianjurkan di hari Idul Fitri adalah mempererat hubungan dengan keluarga dan sahabat. Allah berfirman:

"Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian." (QS. Al-Anfal: 1)

Memaafkan orang lain bukan hanya meringankan beban di hati, tetapi juga mendatangkan keberkahan dalam hidup. Jangan biarkan dendam atau sakit hati menghalangi kita dari kebahagiaan Idul Fitri yang hakiki.

3. Melanjutkan Amalan Baik Pasca-Ramadan

Puasa tidak berhenti di bulan Ramadan. Rasulullah ﷺ menganjurkan kita untuk melanjutkan puasa enam hari di bulan Syawal:

"Barang siapa berpuasa Ramadan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim)

Selain puasa, menjaga kebiasaan shalat malam, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah akan membantu kita mempertahankan kebersihan hati yang telah diperoleh selama Ramadan.

Kesimpulan

Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi titik awal kehidupan yang lebih baik. Mari kita sambut hari kemenangan ini dengan hati yang bersih, saling memaafkan, dan tetap istiqamah dalam kebaikan.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba yang kembali kepada fitrah, dengan hati yang lebih suci dan jiwa yang lebih tenang.

Taqabbalallahu minna wa minkum.


Monday, March 24, 2025

Kebijaksanaan di Tengah Ujian

 




Kebijaksanaan di Tengah Ujian: Menjaga Jiwa, Menegakkan Kebenaran

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini, kita masih dalam perjalanan mencari Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana doa-doa terangkat, kezaliman dipaparkan, dan harapan baru diteguhkan. Namun, di tengah sujud dan doa-doa kita, ada suara tangis ibu-ibu yang kehilangan anaknya karena ketidakadilan, ada teriakan mahasiswa yang dipukul karena menyampaikan aspirasi, ada ketakutan rakyat kecil yang dicurigai hanya karena berpendapat.

Lalu, di sisi lain, ada kemeriahan yang tak terganggu, ada pesta yang terus berjalan, seolah-olah negeri ini baik-baik saja.

Sebagai seorang Muslim, apa yang harus kita lakukan? Diam dan pasrah, atau berdiri dengan kebijaksanaan?

Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Menghadapi Kezaliman

Rasulullah ﷺ adalah manusia paling sabar dan penuh kasih, tetapi beliau tidak pernah tinggal diam terhadap kezaliman. Ketika ada penindasan, beliau berdakwah dengan hikmah, membangun kesadaran umat, dan tetap teguh meskipun dicaci, dipukul, bahkan diusir dari kampung halamannya sendiri.

Allah berfirman:
وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ
"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia..." (QS. Ali Imran: 140)

Zaman berputar, kezaliman bisa terjadi di mana saja, tetapi tugas kita bukanlah mengutuk zaman, melainkan menegakkan kebenaran dengan cara yang diridhai Allah.

Ketika Suara Rakyat Dibungkam, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  1. Tetap Menyuarakan Kebenaran dengan Hikmah
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    قَوْلُ الْحَقِّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَفْضَلُ الْجِهَادِ
    "Mengucapkan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim adalah jihad yang paling utama." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

    Suara kebenaran tidak boleh padam. Namun, Islam mengajarkan kita untuk menyampaikannya dengan hikmah, bukan dengan kebencian. Jika kezaliman dibalas dengan kebencian, maka perpecahan akan semakin besar. Tetapi jika kebenaran disampaikan dengan akhlak yang mulia, maka hati yang keras bisa luluh, dan rakyat akan semakin kuat.

  2. Menjaga Persatuan, Bukan Memperbesar Perpecahan
    Saat ini, banyak yang terpecah antara mereka yang mendukung dan menolak kebijakan tertentu. Namun, kita harus sadar bahwa musuh sejati bukanlah sesama rakyat, tetapi kezaliman itu sendiri. Jangan biarkan perbedaan pandangan membuat kita saling bermusuhan, karena justru itulah yang diinginkan oleh mereka yang ingin mempertahankan kekuasaan dengan menakut-nakuti rakyat.

    إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
    "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh." (QS. As-Saff: 4)

  3. Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kebiasaan
    Kezaliman bisa berlanjut jika rakyat diam. Jika mahasiswa tidak berbicara, jika ulama takut bersuara, jika rakyat biasa merasa tak berdaya, maka sejarah kelam akan terulang. Kita sudah melihat banyak negara yang jatuh ke tangan penguasa otoriter hanya karena rakyatnya takut untuk bergerak.

    "Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)

    Maka, jika kita tidak bisa turun ke jalan, setidaknya kita bisa menyebarkan kesadaran. Jika kita tidak bisa berteriak, setidaknya kita bisa berdoa. Jika kita tidak bisa melakukan apa-apa, maka jangan pernah mendukung kezaliman.

Lebaran: Kembali ke Fitrah, Kembali ke Keadilan

Hari kemenangan sebentar lagi tiba. Lebaran bukan hanya tentang baju baru dan makanan enak. Lebaran adalah kembali ke fitrah, kembali kepada nilai-nilai keadilan, persaudaraan, dan kebenaran.

Kita berdoa agar negeri ini kembali kepada keadilan. Kita berharap agar para pemimpin sadar bahwa kekuasaan bukan untuk mempertahankan diri sendiri, tetapi untuk melayani rakyat. Kita berdoa agar tidak ada lagi ibu yang menangis karena anaknya dipukuli hanya karena menyuarakan kebenaran.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan, kita tidak boleh putus asa. Perjuangan ini bukan tentang satu generasi, tetapi tentang masa depan bangsa. Kita harus tetap optimis, bahwa selama ada orang-orang baik yang berani bersuara, selama itu pula harapan masih ada.

اللهم اجعل هذا البلد آمنا مطمئنا وسائر بلاد المسلمين
"Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tenteram, serta negeri-negeri kaum Muslimin lainnya."

Kesimpulan: Terus Berjuang dengan Hikmah

  • Jangan takut menyuarakan kebenaran, tetapi lakukan dengan hikmah dan akhlak yang baik.
  • Jangan biarkan perpecahan terjadi di antara rakyat, karena persatuan adalah kekuatan.
  • Jangan pernah mendukung kezaliman, meskipun kita tidak bisa melawannya secara langsung.
  • Jadikan Ramadhan dan Lebaran sebagai momen untuk memperbaiki negeri, bukan sekadar pesta tanpa makna.

Mungkin kita tidak akan melihat perubahan dalam semalam, tetapi selama ada doa yang dipanjatkan, selama ada suara yang menyuarakan keadilan, maka perubahan pasti akan datang. Karena Allah tidak akan membiarkan kezaliman berlangsung selamanya.

وَسَيَعْلَمُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ أَىَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ
"Dan orang-orang yang zalim akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (QS. Asy-Syu'ara: 227)

Semoga Allah menjaga negeri ini, memberikan pemimpin yang adil, dan menguatkan hati kita dalam menghadapi ujian.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat menyambut Idul Fitri dengan hati yang tetap teguh dalam kebenaran.

Sunday, March 23, 2025

Jadilah Pemimpin untuk Semua Rakyatnya



Pemimpin untuk Semua Rakyat: Amanah Besar yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Pengantar

Dalam sistem demokrasi, seorang pemimpin yang terpilih bukan hanya untuk kelompok atau partainya sendiri, tetapi untuk seluruh rakyatnya, baik yang memilihnya maupun yang tidak. Kepemimpinan adalah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Seorang pemimpin harus berbicara dengan hati-hati, tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang menyakiti rakyatnya, terutama mereka yang berbeda pandangan. Ia juga harus menepati janjinya, karena janji yang tidak ditepati adalah tanda kemunafikan. Selain itu, pemimpin harus memiliki kesadaran agama agar ia selalu ingat bahwa setiap kebijakan dan keputusannya diawasi oleh Allah dan akan menjadi saksi di hari kiamat.

Allah telah mengingatkan dalam QS. Fussilat: 21 bahwa di akhirat nanti, anggota tubuh manusia sendiri akan menjadi saksi atas perbuatan yang telah dilakukan di dunia:

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِىٓ أَنطَقَ كُلَّ شَىْءٍۢ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍۢ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"Dan mereka berkata kepada kulit mereka, 'Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?' Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu berbicara telah menjadikan kami berbicara; dan Dia telah menciptakan kamu pada kali yang pertama, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.'" (QS. Fussilat: 21)

Ayat ini menjadi peringatan bagi semua, termasuk para pemimpin, bahwa tidak ada yang bisa disembunyikan di hadapan Allah. Jika seorang pemimpin berkhianat dalam amanahnya, menzalimi rakyatnya, atau tidak menepati janjinya, maka kelak bukan hanya rakyat yang menjadi saksi, tetapi juga tubuhnya sendiri.


1. Hidup Ini Singkat, Jangan Sia-Siakan Amanah

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa umur umatnya rata-rata tidak lebih dari 60-70 tahun, dan hanya sedikit yang lebih dari itu.

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
"Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit yang melebihi itu." (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)

Mati bisa datang kapan saja, tidak perlu menunggu tua. Maka, bagi para pemimpin, jangan terlena dengan jabatan. Jangan sombong hanya karena terpilih, jangan merasa kebal hukum, jangan mengkhianati rakyat, karena semuanya akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
"Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi (walau) seberat dzarrah (atom)." (QS. An-Nisa: 40)

Setiap keputusan pemimpin, sekecil apa pun, akan dicatat oleh Allah. Jangan sampai saat ajal datang, yang tersisa hanyalah penyesalan tanpa kesempatan kembali.


2. Kepemimpinan adalah Amanah, Bukan Hak Istimewa

Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah besar, bukan sekadar jabatan atau kekuasaan. Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil." (QS. An-Nisa: 58)

Seorang pemimpin harus berpihak kepada keadilan, bukan kepada kepentingan kelompoknya sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari & Muslim)

Maka, seorang pemimpin harus selalu berpikir jauh ke depan: apakah kebijakannya sudah benar di mata Allah? Apakah rakyatnya merasakan keadilan? Ataukah justru ada yang tertindas karena kebijakannya?


3. Jangan Ingkar Janji, Itu Tanda Kemunafikan

Pemimpin yang berjanji tetapi tidak menepatinya bukan hanya merugikan rakyat, tetapi juga memiliki tanda-tanda kemunafikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
"Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat." (HR. Bukhari & Muslim)

Allah juga mengingatkan:

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat dibenci di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 2-3)

Maka, pemimpin harus berhati-hati dalam membuat janji dan berusaha sekuat tenaga untuk menepatinya. Jika terdapat kendala dalam pelaksanaannya, ia harus transparan kepada rakyat dan mencari solusi terbaik.


4. Jaga Ucapan: Jangan Menyakiti Rakyat

Seorang pemimpin harus berbicara dengan bijak, tidak boleh merendahkan atau menyakiti rakyatnya.

Allah berfirman:

وَقُل لِّعِبَادِى يَقُولُوا۟ ٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.'" (QS. Al-Isra: 53)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim)

Pemimpin harus selalu menggunakan kata-kata yang menyejukkan, bukan memecah belah rakyatnya.


Kesimpulan

Hidup ini singkat, jangan sia-siakan amanah.
Pemimpin adalah amanah besar, dan setiap kebijakannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Jangan ingkar janji, karena itu adalah tanda kemunafikan.
Berbicaralah dengan hati-hati, jangan sampai menyakiti rakyat.
Semua perbuatan akan menjadi saksi di akhirat (QS. Fussilat: 21).

Wallahu a'lam bish-shawab.




Saturday, March 22, 2025

LAILATUL QADAR DAN RIWAYAT ASAL MULANYA



Masih sisa seminggu ayo Muslim cari tau dan tetap semangat. 

Malam lailatul qadar merupakan malam yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam seluruh dunia

Malam ini merupakan malam yang istimewa dan penuh dengan kemuliaan.

Salah satu kemuliaan dari malam tersebut adalah, 

*_Barangsiapa beribadah di dalamnya, maka ia akan mendapat kebaikan yang lebih baik daripada beribadah 1000 bulan"_*.. 


 *_“LAILATUL QODRI KHOIRUN MIN ALFI SYAHRIN”_*


LAILATUL QADAR DAN RIWAYAT ASAL MULANYA*

*Riwayat Pertama,*


Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam sangat mencintai umatnya. Maka sepanjang kehidupan beliau pun selalu memikirkan kebaikan untuk umatnya.

Suatu ketika beliau merenungkan, umur umat terdahulu yang lebih panjang jika dibandingkan dengan umur umat beliau, sehingga Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam merasa sedih.

Mustahil, umat beliau bisa melebihi umat terdahulu dalam kebaikan, jika kesempatan mengerjakan amal sholeh-nya lebih pendek.

Oleh karena itulah, Alloh menurunkan Surat Al-Qadr ini.

Alloh memberikan anugerah satu malam dari 10 malam terakhir di bulan Romadon, dan Alloh menyatakan bahwa umat Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang mau mengisi malam itu dengan ibadah kepada-Nya, maka ia akan mendapatkan pahala lebih baik daripada 1000 bulan

(83 tahun 4 bulan) 


*Riwayat Kedua,*


…ذَكَرَ رَسُولُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا أَرْبَعَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَبَدُوا اللهَ ثَمَانِينَ عَامًا لَمْ يَعْصُوهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ: أَيُّوبُ وَزَكَرِيَّا وَحِزْقِيلُ وَيُوشَعُ بْنُ نُونٍ، فَعَجِبَ الصَّحَابَةُ مِنْ ذَلِكَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: عَجِبَتْ أُمَّتُكَ مِنْ عِبَادَةِ أَرْبَعَةٍ ثَمَانِينَ سَنَةً لَمْ يَعْصُوهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ فَقَدْ أَنْزَلَ اللهُ عَلَيْكَ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ: (لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ) (القدر: 3) . هَذَا أَفْضَلُ مِمَّا عَجِبَتْ أُمَّتُكَ، فَسُرَّ بِذَلِكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ مَعَهُ. رواه ابن أبى حاتم في تفسيره

Pada suatu kesempatan, Rosululloh Shollalohu ‘Alaihi Wasallam 

mengisahkan 4 (empat) orang Nabi dari kalangan Bani Israil yang menghabiskan waktu selama 80 tahun untuk beribadah kepada Alloh, dan tidak pernah sekejap pun maksiat kepada Alloh.

Mereka adalah Nabi Ayub, Nabi Zakariya, Nabi Hizqil dan Nabi Yusya’ bin Nun Alaihimus salam.

Mendengar kisah-kisah mereka, para sahabat sangat takjub. Bagaimana mungkin bisa mendapatkan kedudukan yang demikian tinggi seperti itu?

Maka malaikat Jibril ‘Alaihis salam datang membacakan Wahyu Allah Surat Al-Qodar:

 *_“LAILATUL QODRI KHOIRUN MIN ALFI SYAHRIN”_*


*Riwayat Ketiga,*


... أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ حَتَّى يُصْبِحَ ثُمَّ يُجَاهِدُ الْعَدُوَّ حَتَّى يُمْسِيَ، فَعَلَ ذَلِكَ أَلْفَ شَهْرٍ فَعَجِبَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى: {لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ}... رواه ابن ابي جرير وابن المنذر وابن أبى حاتم


Sesungguhnya Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam menceritakan di kalangan orang Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah Qiyamul lail hingga pagi tidak tidur kemudian memerangi musuh hingga sore hari. Perbuatan ini dilakukan selama 1000 bulan.

Kaum muslimin  mengagumi  perjuangan orang tersebut maka Alloh menurunkan 


 *_“LAILATUL QODRI KHOIRUN MIN ALFI SYAHRIN”_*


Bagaimana dengan kita?


Ayo !!! semangat !!! 

Fastabiqul khairat untuk meraih lailatul Qadar


💪💪💪


Semoga pada tahun 2025 ini, kita oleh Alloh  SWT diberi pertolongan berupa  "kesehatan, kekuatan dan kemampuan sehingga dapat meraih Lailatul Qodar" Amal ibadah yang lebih baik dari pada 1000 bulan". 

ٱمين، ٱمين، ٱمين يارب العالمين

           

Ramadhan, 1446 H

Friday, March 21, 2025

Menjaga Amanah Kepemimpinan: "Tafakahu Qobla Antusawwadu dalam Perspektif Islam"

 



PAKET BUNDLING HEMAT SARUNG KOKO - SARKO KOBATA -
SET SARUNG DAN BAJU KOKO KOBATA LENGAN PANJANG


Kepemimpinan dalam Islam bukanlah sekadar posisi, tetapi amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Ungkapan "تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا" (Tafakahu qobla antusawwadu), yang berarti "Mencari kepahamanlah (berilmu) sebelum kalian menjadi pemimpin," menegaskan pentingnya ilmu sebelum seseorang memegang jabatan.


Namun, di era modern, fenomena politik sering kali berbanding terbalik dengan nilai-nilai ini. Jabatan dikejar dengan biaya besar, dan kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kesejahteraan rakyat. Islam menekankan bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab yang berat, bukan sekadar prestise atau alat untuk mempertahankan kekuasaan.


Lalu, bagaimana cara mengembalikan esensi kepemimpinan dalam Islam? Artikel ini akan mengupas urgensi ilmu sebelum kepemimpinan serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga keadilan dan amanah dalam bernegara.


Ungkapan "تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا" (tafakahu qobla antusawwadu) yang berarti "Mencari kepahamanlah  ( berilmulah ) sebelum kalian menjadi pemimpin" sering dikaitkan dengan nasihat untuk mencari ilmu sebelum memegang jabatan kepemimpinan. Namun, setelah menelusuri sumber-sumber hadis yang tersedia, tidak ditemukan riwayat langsung dari Nabi Muhammad ﷺ yang menyebutkan ungkapan tersebut. Kemungkinan, ini adalah perkataan dari sahabat atau ulama terdahulu yang menekankan pentingnya ilmu sebelum memegang amanah kepemimpinan.


Dalam konteks Indonesia saat ini, fenomena individu yang secara terbuka mencalonkan diri sebagai pemimpin, bahkan dengan mengeluarkan biaya besar, menjadi perhatian. Hal ini menunjukkan bahwa ambisi untuk mendapatkan jabatan dapat mengesampingkan nilai-nilai keikhlasan dan amanah yang diajarkan dalam Islam. Islam menekankan bahwa jabatan adalah amanah yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan, bukan untuk dikejar demi kepentingan pribadi.


Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu mengedepankan ilmu dan kefahaman sebelum menerima atau mengejar jabatan, serta menjaga niat agar tetap ikhlas dalam berkhidmat kepada masyarakat sesuai dengan tuntunan Islam.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa kekuasaan telah menjadi alat untuk mempertahankan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, bukan lagi sebagai amanah untuk kesejahteraan rakyat. Dalam Islam, kepemimpinan adalah tanggung jawab yang berat, dan penyalahgunaannya akan membawa kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.


Langkah-Langkah Mengatasi Situasi Ini


Menyebarkan Kesadaran dan Pendidikan Politik Islami

Rakyat perlu memahami hak dan kewajiban mereka dalam bernegara. Kesadaran ini bisa dibangun melalui dakwah, literasi politik Islami, serta pendidikan mengenai keadilan dan kepemimpinan yang benar.


Menguatkan Peran Ulama dan Tokoh Masyarakat

Ulama dan tokoh masyarakat harus berani berbicara dan memberi nasihat kepada penguasa dengan hikmah dan kebenaran, sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ bersabda:


أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

"Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim."

(HR. Abu Dawud No. 4344, Tirmidzi No. 2174)


Membangun Kekuatan Rakyat dengan Kebersamaan

Jika rakyat tercerai-berai, maka mereka mudah dikendalikan oleh penguasa yang zalim. Namun, jika mereka bersatu dengan niat yang benar, perubahan dapat terjadi. Persatuan ini harus dibangun atas dasar nilai-nilai kebenaran dan keadilan, bukan sekadar kepentingan politik semata.


Menggunakan Saluran Hukum yang Masih Ada

Jika masih ada lembaga hukum yang bisa digunakan untuk melawan ketidakadilan, maka jalur tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Sekalipun sistem hukum telah dilemahkan, tetap ada kemungkinan untuk menuntut perubahan melalui jalur yang sah.


Bersabar dan Tetap Istiqamah dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Dalam situasi sulit, tetap berdakwah dan menyuarakan kebenaran adalah kunci. Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya."

(QS. Al-Ma’idah: 2)


Memohon Pertolongan Allah dengan Doa dan Kesabaran

Sejarah menunjukkan bahwa penguasa zalim tidak akan bertahan selamanya. Kita harus tetap berdoa agar Allah menggantikan mereka dengan pemimpin yang lebih baik, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:


اللَّهُمَّ وَلِّ أُمُورَنَا خِيَارَنَا وَلَا تُوَلِّ أُمُورَنَا شِرَارَنَا

"Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang-orang yang terbaik di antara kami, dan jangan jadikan pemimpin kami orang-orang yang terburuk di antara kami."


Kesimpulan

Kezaliman penguasa bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah, tetapi Islam mengajarkan cara menghadapinya dengan hikmah. Kesadaran, pendidikan, persatuan, dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran adalah kunci utama. Sementara itu, doa dan ketakwaan harus terus dipupuk agar Allah menolong umat dari situasi yang sulit ini.

Semoga Allah menjaga negeri ini dan menggantikan pemimpin yang zalim dengan yang lebih baik. Aamiin.

Thursday, March 20, 2025

Menjauhi Ambisi Jabatan: Petunjuk Islam dalam Memilih Pemimpin




Kepemimpinan adalah amanah besar yang bukan sekadar posisi atau kehormatan, melainkan tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ. Sayangnya, dalam dunia modern, jabatan sering kali menjadi incaran yang diperebutkan dengan segala cara, bahkan dengan mengorbankan nilai-nilai kejujuran dan keadilan.

Islam telah memberikan tuntunan jelas tentang bahaya meminta jabatan, karena kepemimpinan bukanlah sesuatu yang boleh dikejar dengan ambisi pribadi. Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa mereka yang mengincar jabatan akan dibiarkan mengelolanya sendiri tanpa pertolongan Allah ﷻ, sementara mereka yang diberi amanah tanpa memintanya akan mendapatkan bimbingan dan kemudahan dari-Nya.

Dalam artikel ini, kita akan mengulas bagaimana Islam memandang kepemimpinan sebagai tanggung jawab berat, dalil-dalil yang menegaskan bahayanya meminta jabatan, serta prinsip-prinsip utama yang harus diperhatikan sebelum seseorang menerima posisi kepemimpinan. Semoga kita dapat memahami esensi kepemimpinan yang sejati dan menghindari ambisi duniawi yang dapat menjerumuskan kita ke dalam penyesalan di akhirat.

Dalam Islam, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang boleh diminta atau dikejar dengan ambisi. Rasulullah ﷺ telah memberikan petunjuk bahwa meminta jabatan justru akan mendatangkan beban besar di sisi Allah ﷻ. Sebaliknya, mereka yang tidak mengejar jabatan akan diberikan kemudahan dan pertolongan oleh-Nya.


Bahaya Meminta Jabatan dalam Islam


Banyak orang di zaman sekarang berlomba-lomba mencari jabatan, bahkan rela mengeluarkan harta agar terpilih. Padahal, Islam mengajarkan bahwa pemimpin adalah amanah besar yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda:



يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا


"Wahai ‘Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan. Karena jika engkau diberi jabatan dengan memintanya, maka engkau akan diserahkan kepada (ambisimu sendiri). Namun, jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya, maka engkau akan diberi pertolongan atasnya."

(HR. Bukhari No. 6616, Muslim No. 1652)


Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang meminta jabatan akan dibiarkan mengurusnya sendiri tanpa pertolongan Allah. Sebaliknya, jika seseorang diberikan jabatan tanpa meminta, maka Allah akan memberikan pertolongan dalam menjalankan amanah tersebut.


Jabatan sebagai Beban yang Berat

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kehormatan, melainkan beban yang bisa membawa seseorang kepada kehancuran jika tidak dikelola dengan adil dan amanah:


إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَإِنَّهَا سَتَكُونُ نَدَامَةً وَحَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَةُ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ


"Kalian akan sangat berambisi terhadap jabatan, padahal kelak ia akan menjadi penyesalan dan kesedihan pada hari kiamat. Ia adalah kenikmatan di awalnya, namun keburukan di akhirnya."

(HR. Bukhari No. 7148)


Banyak pemimpin yang menikmati jabatan di dunia, tetapi di akhirat mereka akan menyesal jika tidak menggunakannya untuk keadilan dan kemaslahatan umat.


Dalil dari Al-Qur'an: Kepemimpinan sebagai Amanah

Allah ﷻ menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang hanya layak diemban oleh orang yang memiliki ilmu dan keadilan:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا


"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

(QS. An-Nisa: 58)


Dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar amanah kepemimpinan hanya diberikan kepada yang berhak, bukan kepada mereka yang hanya berambisi untuk berkuasa.


Belajar Sebelum Menjadi Pemimpin

Meskipun meminta jabatan dilarang, Islam tetap menganjurkan setiap Muslim untuk mempersiapkan diri dengan ilmu dan kefahaman, jika suatu saat mereka diberikan tanggung jawab kepemimpinan. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

"Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya."

(HR. Bukhari No. 59)


Seorang pemimpin harus memiliki ilmu, keadilan, dan amanah agar tidak menjerumuskan diri sendiri dan umatnya ke dalam kebinasaan.


Kesimpulan

  • Islam melarang meminta jabatan karena akan menjadi beban yang berat di sisi Allah.

  • Kepemimpinan adalah amanah yang harus diberikan kepada orang yang berilmu dan adil. 

  • Orang yang meminta jabatan akan dibiarkan Allah mengurusnya sendiri, sementara yang diberikan tanpa meminta akan mendapat pertolongan dari-Nya. 

  • Kepemimpinan yang tidak dijalankan dengan amanah akan menjadi penyesalan besar di akhirat.

Sebelum menjadi pemimpin, seseorang harus memiliki kefahaman dan kesiapan agar tidak membawa kehancuran.


Semoga kita selalu diberi pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab, serta dijauhkan dari ambisi duniawi yang hanya mengejar jabatan tanpa kesiapan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Wednesday, March 19, 2025

Biasakan mengucapkan "Subhanakallahumma wa bihamdika, ....." ( Bagian 2 )

 





GAMIS TWIL ORY MASAKINI/ELEGANT TERLARIS

Ada kalanya kita merasa telah berbuat baik, namun tanpa sadar, ada hati yang terluka karenanya. Ada saat ketika kita berniat menolong, tetapi justru membuat seseorang merasa direndahkan. Ada pula momen di mana kita yakin telah berada di jalan yang benar, namun di hadapan Allah, niat kita ternyata telah melenceng.


Sebaliknya, ada kejadian di mana kita merasa telah melakukan kesalahan besar, tetapi justru kesalahan itulah yang membuka mata kita dan orang lain. Ada saat ketika kita menyesali kata-kata yang terucap, tetapi ternyata justru kalimat itulah yang menjadi pemantik perubahan dalam hidup seseorang.


Pernahkah kita menyampaikan nasihat dengan maksud baik, tetapi kata-kata kita malah melukai hati orang lain?

Pernahkah kita membantu seseorang, namun di baliknya terselip rasa bangga yang tak kita sadari?

Pernahkah kita berkata jujur, tetapi kejujuran itu justru menyakiti tanpa perlu?

Pernahkah kita memilih diam demi menjaga diri, tetapi diam itu malah disalahartikan sebagai sikap tak peduli?

Pernahkah kita mengambil jalan yang keliru, tetapi ternyata jalan itu justru mendekatkan kita kepada Allah?


Sering kali, manusia terperangkap dalam persepsi tentang kebaikan dan keburukan. Apa yang kita anggap baik belum tentu diridai Allah dan diterima dengan baik oleh manusia. Sebaliknya, sesuatu yang tampak buruk bisa jadi merupakan jalan yang mengantarkan kita pada kebaikan sejati.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.

Rasulullah ﷺ membaca dzikir ini setelah setiap shalat, majelis, bahkan setelah membaca Al-Qur'an, sebagai penyempurna dan penghapus kekhilafan.


Maka, siapa kita jika merasa semua yang kita lakukan sudah pasti benar?

Siapa kita jika merasa bahwa ucapan kita selalu membawa manfaat?

Siapa kita jika merasa bahwa amal kita sudah cukup tanpa memohon ampunan kepada Allah?


  • Mungkin kita pernah berkata dengan niat baik, tetapi menyinggung hati orang lain.
  • Mungkin kita pernah membantu seseorang, tetapi dalam hati terselip rasa bangga.
  • Mungkin kita pernah beribadah dengan penuh kekhusyukan, tetapi tanpa sadar ada perasaan lebih baik dari yang lain.


Dzikir ini mengajarkan kita untuk mengakhiri setiap amalan dengan kesadaran bahwa kita tidak sempurna. Bahwa ada yang luput dari niat kita. Bahwa ada yang mungkin salah dalam tindakan kita.


Dan hanya dengan memohon ampunan kepada Allah, amal kita akan diterima dengan sempurna.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: مَا جَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلَا تَلَا قُرْآنًا، وَلَا صَلَّى صَلَاةً، إِلَّا خَتَمَ ذَٰلِكَ بِكَلِمَاتٍ. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ كَلِمَاتٍ تَقُولُهُنَّ؟ قَالَ: نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْرًا خُتِمَ لَهُ طَابِعٌ عَلَى ذَٰلِكَ، وَمَنْ قَالَ شَرًّا كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ."

(HR. Muslim No. 484 dan Abu Dawud No. 4850)


Mari kita renungi:

Jika Rasulullah ﷺ yang telah dijamin surga saja selalu menutup amal dengan istighfar, bagaimana dengan kita?


  • Jangan biarkan kebaikan yang kita lakukan berubah menjadi dosa karena sombong. 

  • Jangan biarkan ibadah kita kehilangan ruh karena merasa cukup. 

  • Jangan biarkan perkataan kita melukai tanpa sadar.


Maka, setiap selesai berbuat, akhirilah dengan istighfar dan tobat. Agar amal yang kita lakukan benar-benar diterima oleh Allah.

Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.



Menyempurnakan Amal dengan Kesadaran dan Istighfar

Kehidupan ini penuh dengan warna: ada kebaikan yang kita niatkan dengan tulus, tetapi mungkin melukai. Ada kesalahan yang kita sesali, tetapi justru menjadi jalan menuju perbaikan. Ada kebanggaan dalam beribadah, yang tanpa sadar justru menjauhkan kita dari keikhlasan.

Maka, bagaimana kita bisa memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil benar-benar baik di sisi Allah?

Di sinilah pentingnya kesadaran—kesadaran bahwa manusia tidak luput dari kekhilafan. Dan kesadaran ini harus disertai dengan istighfar dan tobat agar amal yang kita lakukan menjadi sempurna di hadapan Allah ﷻ.


Kapan Dzikir Ini Sebaiknya Dibaca?

Setelah Majelis → Agar segala perkataan yang kurang baik dalam pertemuan itu diampuni oleh Allah.


  • Setelah Shalat → Sebagai bentuk penyempurnaan ibadah.


  • Setelah Membaca Al-Qur’an → Memohon agar bacaan kita benar-benar membawa manfaat dan berkah.


  • Sebelum Tidur → Agar hari yang telah kita lalui ditutup dengan istighfar, siapa tahu itu hari terakhir kita di dunia.


Kesimpulan: Jangan Pernah Merasa Cukup


Jangan merasa bahwa ibadah kita sudah cukup, bahwa kebaikan kita sudah sempurna, atau bahwa amal kita sudah pasti diterima. Jika Rasulullah ﷺ yang sudah dijamin masuk surga saja masih terus beristighfar, bagaimana dengan kita?


Setiap amal, sekecil apa pun, bisa bernilai besar atau bisa sia-sia tergantung pada niat, cara, dan penyempurnaannya.


Maka mari kita biasakan:

Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Agar setiap langkah kita selalu ditutup dengan kesadaran, istighfar, dan permohonan tobat.

Semoga Allah menerima amal kita, mengampuni kesalahan kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa sadar bahwa hanya dengan rahmat-Nya lah kita bisa selamat.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Sunday, March 16, 2025

Biasakan mengucapkan "Subhanakallahumma wa bihamdika, ....." ( Bagian 1 )

 


Ketika Kebaikan Melukai, Ketika Keburukan Dapat Diterima.

Ada saat di mana kita merasa telah berbuat baik, tapi ternyata ada hati yang terluka karenanya. Ada saat di mana kita mengira sedang menolong, tapi justru membuat orang merasa terhina. Ada saat di mana kita merasa sudah benar, tapi di hadapan Allah, niat kita berbelok arah.


Sebaliknya, ada juga saat di mana kita merasa telah melakukan kesalahan besar, tapi justru itulah yang menyadarkan kita dan orang lain. Ada saat di mana kita menyesali kata-kata yang pernah keluar, tetapi ternyata justru kalimat itulah yang membuka pintu perubahan bagi seseorang.


Pernahkah kita menasihati seseorang dengan niat baik, tetapi kata-kata kita justru menjadi pisau tajam yang menyakiti hatinya?

Pernahkah kita membantu orang lain, tetapi setelahnya muncul perasaan sombong yang tidak kita sadari?

Pernahkah kita berbicara jujur, tetapi kejujuran itu malah melukai tanpa perlu?

Pernahkah kita diam untuk menjaga diri, tetapi justru diam kita dianggap sebagai pengabaian?

Pernahkah kita memilih jalan yang salah dalam hidup, tetapi justru itu yang membawa kita lebih dekat kepada Allah?


Manusia sering kali terjebak dalam ilusi tentang kebaikan dan keburukan. Apa yang kita anggap baik, belum tentu diterima baik oleh Allah dan manusia. Apa yang kita anggap buruk, bisa jadi adalah jalan yang justru membawa kita pada kebaikan sejati.


Lalu, di mana letak keseimbangan itu?


Di sinilah kita perlu merenung. Bahwa amalan bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita melakukannya, kepada siapa, kapan, dan dengan hati seperti apa.


  • Kebaikan yang disampaikan dengan keangkuhan bisa menjadi racun.
  • Kejujuran tanpa kebijaksanaan bisa berubah menjadi pedang yang menusuk.
  • Diam yang salah tempat bisa menyakiti lebih dari kata-kata.

Keburukan yang membuat seseorang kembali kepada Allah, bisa lebih baik daripada kebaikan yang melahirkan kesombongan.


Maka sebelum berbuat, tanyakan pada hati kita:

"Apakah ini benar di mata Allah? Apakah ini baik di hati manusia? Apakah ini akan menjadi penyesalan di akhirat?"


Karena di akhirat, bukan hanya perbuatan yang akan dihisab.

Niat, cara, dan akibatnya pun akan ditimbang.


Merenungi Setiap Langkah:

Kebaikan, Keburukan, dan Timbangan di Akhirat


Kita sering menganggap bahwa kebaikan selalu membawa kebaikan, dan keburukan pasti berujung buruk. Tapi kenyataan hidup sering kali lebih kompleks dari itu. Ada kebaikan yang melukai, ada kejujuran yang menyakitkan, ada niat baik yang berubah menjadi bencana. Sebaliknya, ada keburukan yang akhirnya menyadarkan, ada kesalahan yang justru membawa seseorang kembali ke jalan yang benar.


Di sinilah pentingnya merenungi setiap langkah yang kita ambil. Apa yang kita lakukan bukan hanya soal benar atau salah menurut manusia, tetapi bagaimana hal itu akan dipandang oleh Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita dzikir sebagai perisai, pengingat, sekaligus penyempurna dari setiap amalan yang kita lakukan.


Salah satu dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menutup setiap majelis, setiap bacaan Al-Qur’an, dan bahkan setiap shalat adalah:


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ


"Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik."


Dzikir ini bukan sekadar lafaz, tetapi sebuah renungan dan pengakuan:

"Subhanakallahumma wa bihamdika" → Aku mengakui bahwa Engkau, ya Allah, Mahasuci dari segala kekurangan, dan aku memuji-Mu atas segala nikmat yang Engkau berikan.


"Asyhadu alla ilaha illa anta" → Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Segala yang kulakukan, mestinya hanya untuk-Mu.


"Astaghfiruka wa atubu ilaik" → Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu atas kesalahan yang kusadari maupun yang tidak kusadari.



Saturday, March 15, 2025

Menyempurnakan Keimanan dengan Menjaga Hati dan Pikiran



 Menyempurnakan Keimanan dengan Menjaga Hati dan Pikiran – Ramadhan adalah Momen Menyucikan Hati dari Penyakit-Penyakit Hati


Bulan Ramadhan adalah kesempatan bagi setiap Muslim untuk tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga membersihkan hati dan pikiran dari penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, dan kebencian. Rasulullah ﷺ bersabda:


إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

"Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati."

(HR. Bukhari, no. 52; Muslim, no. 1599)


Hadis ini menunjukkan bahwa hati adalah pusat kehidupan spiritual seorang Muslim. Jika hati bersih, maka perilaku dan amal ibadah pun menjadi lebih baik.


1. Membersihkan Hati dari Penyakit-Penyakit Hati


Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari sifat-sifat buruk yang merusak hati. Allah ﷻ berfirman:


يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

"(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."

(QS. Asy-Syu’ara: 88-89)


Di bulan Ramadhan, kita harus berusaha menjaga hati agar tetap bersih dengan cara:


  • Menghindari iri dan dengki – Senantiasa bersyukur dan tidak membandingkan diri dengan orang lain.

  • Menjauhkan diri dari kebencian – Memaafkan orang lain dan tidak menyimpan dendam.

  • Menghindari kesombongan – Menyadari bahwa segala sesuatu adalah karunia Allah dan selalu rendah hati.




2. Mengendalikan Pikiran agar Tetap Positif

Pikiran yang bersih dan positif akan membawa ketenangan jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda:


إِنَّ اللَّهَ يَكْرَهُ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ

"Sesungguhnya Allah membenci ucapan kotor dan sikap kasar."

(HR. Tirmidzi, no. 2002; dinilai hasan oleh Al-Albani)


Selama berpuasa, kita harus lebih berhati-hati dalam menjaga pikiran dengan cara:


  • Menghindari prasangka buruk – Selalu berpikir baik terhadap sesama.

  • Menjaga pandangan – Tidak melihat sesuatu yang haram atau yang bisa menimbulkan syahwat.

  • Memperbanyak dzikir dan tadabbur Al-Qur’an – Menenangkan hati dengan mengingat Allah ﷻ.




3. Ramadhan sebagai Momen untuk Mendekatkan Diri kepada Allah


Bulan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri. Rasulullah ﷺ bersabda:


إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

"Ketika datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu."

(HR. Bukhari, no. 1899; Muslim, no. 1079)


Ramadhan adalah kesempatan emas untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan:


  • Memperbanyak ibadah – Salat malam, membaca Al-Qur’an, dan berdoa.

  • Memperbanyak sedekah – Menolong orang lain dan berbagi rezeki.

  • Memperbaiki hubungan dengan sesama – Memaafkan kesalahan orang lain dan mempererat silaturahmi.




Kesimpulan


Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menyucikan hati dari penyakit-penyakit hati dan mengendalikan pikiran agar tetap positif. Dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih, keimanan kita akan semakin kuat, dan ibadah puasa kita akan menjadi lebih bermakna. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang memiliki hati yang bersih dan pikiran yang baik sehingga meraih ketakwaan yang sempurna.





Popular Posts