Blog yang membahas keseimbangan hidup melalui panduan Islami, meliputi kesehatan jiwa dan raga, makanan halal dan thayyib, serta amalan spiritual yang menenangkan hati dan menguatkan iman
Pandangan agama terhadap pikun dalam Islam. Dalam Islam, menjaga kesehatan mental dan fisik sangat penting. Ada banyak ayat Alquran dan hadis yang menekankan pentingnya menjaga kesehatan tubuh dan pikiran. Salah satu contoh adalah hadis yang menyatakan bahwa tubuh memiliki hak yang harus dijaga.
Penjelasan singkat tentang pandangan Islam terhadap menjaga kesehatan mental dan fisik, serta beberapa ayat Alquran dan hadis yang relevan.
Bahwa dalam Islam, menjaga kesehatan mental dan fisik dianggap sebagai bagian dari kewajiban seorang Muslim terhadap dirinya sendiri. Allah SWT menciptakan tubuh dan pikiran manusia, dan sebagai hamba-Nya, kita bertanggung jawab untuk menjaga keduanya agar tetap sehat. Berikut adalah beberapa ayat Alquran yang menyoroti pentingnya menjaga kesehatan:
1. "Dan makanlah dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Al-A'raf: 31)
Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk makan dan minum dengan seimbang, tanpa berlebihan. Konsep keseimbangan dalam pola makan ini merupakan prinsip penting dalam menjaga kesehatan tubuh.
2. "Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu." (An-Nisa: 29)
Ayat ini menegaskan larangan untuk membahayakan diri sendiri, baik secara fisik maupun mental. Merawat tubuh dan menjaga kesehatan mental adalah bagian dari penghormatan terhadap karunia Allah yang diberikan kepada kita.
Selain ayat Alquran, ada juga banyak hadis yang menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan menghindari penyakit. Salah satu hadis yang relevan adalah:
"Sesungguhnya tubuh itu butuh istirahat sebagaimana tulang membutuhkan daging. Ketika daging telah lemah, maka tulang pun menjadi lemah." (HR. Bukhari)
Hadis ini menekankan pentingnya istirahat bagi tubuh untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan.
Dengan menjaga kesehatan tubuh dan pikiran, seorang Muslim dapat menjalani hidup dengan lebih baik dan lebih produktif, serta memenuhi kewajiban agamanya dengan lebih baik pula.
Lebih jauh dapat dijelaskan , agar lebih mendalam dan bermanfaat bagi kita semua, bahwa dalam Islam, menjaga kesehatan fisik dan mental dianggap sebagai bagian integral dari ibadah. Allah SWT menciptakan manusia dengan sempurna dan memberikan tubuh serta akal sebagai anugerah-Nya. Oleh karena itu, sebagai hamba-Nya, kita memiliki kewajiban moral dan agama untuk merawat dan menjaga keduanya dengan sebaik mungkin.
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa kesehatan fisik dan mental saling terkait dan memengaruhi satu sama lain. Ketika tubuh kita sehat, pikiran kita cenderung lebih jernih dan kesehatan mental kita juga lebih terjaga. Begitu pula sebaliknya, ketika pikiran kita sehat dan tenang, tubuh kita pun cenderung lebih sehat.
Allah SWT dalam Alquran mengajarkan prinsip keseimbangan dalam segala hal, termasuk dalam makanan dan minuman. Ayat yang disebutkan sebelumnya, "Dan makanlah dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan" (Al-A'raf: 31). Itu mengajarkan kita untuk mengonsumsi makanan dan minuman dengan seimbang dan tidak berlebihan. Ini menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh agar tetap bugar dan bertenaga untuk beribadah.
Selain itu, Allah SWT juga melarang kita untuk membahayakan diri sendiri, baik secara fisik maupun mental. "Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu" (An-Nisa: 29). Dengan larangan ini, Allah mengajarkan kita untuk menghargai dan merawat diri sendiri sebagai amanah-Nya.
Dalam hadis yang disebutkan diatas sebelumnya, Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan kita akan pentingnya istirahat bagi tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, istirahat yang cukup dan berkualitas merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan tubuh dan pikiran.
Dengan mematuhi ajaran Islam tentang menjaga kesehatan fisik dan mental, kita dapat menjalani kehidupan yang lebih produktif, bahagia, dan bermakna. Dengan tubuh dan pikiran yang sehat, kita dapat lebih fokus dalam beribadah, bekerja, dan berinteraksi dengan sesama. Oleh karena itu, menjaga kesehatan merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.
Perang Badar dan Perang Uhud adalah dua peristiwa penting dalam sejarah Islam yang memiliki banyak hikmah dan pelajaran bagi umat Muslim. Dalam uraian ini, saya berusaha menjelaskan perang-perang tersebut serta pelajaran yang dapat diambil darinya, secara orang awam.
Perang Badar:
Perang Badar terjadi pada tahun kedua Hijriah di daerah Badar, dekat Madinah. Perang ini terjadi antara kaum Muslimin yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW dan kaum Quraisy dari Makkah. Meskipun pasukan Muslimin jauh lebih kecil dalam jumlah, mereka berhasil meraih kemenangan yang mengejutkan.
1. Kepercayaan kepada Allah:
Perang Badar menunjukkan pentingnya kepercayaan dan tawakal kepada Allah. Meskipun pasukan Muslimin jauh lebih lemah secara jumlah dan persenjataan, keberhasilan mereka dalam pertempuran menunjukkan bahwa kemenangan datang dari Allah.
2. Kesatuan Umat:
Perang Badar juga mengajarkan pentingnya kesatuan umat. Meskipun pasukan Muslimin terdiri dari berbagai suku dan latar belakang, mereka bersatu di bawah panji Islam untuk melawan musuh bersama. Ini mengilhami umat Muslim untuk bersatu dalam menghadapi tantangan.
3. Perencanaan yang Matang:
Kemenangan Muslimin dalam Perang Badar juga didukung oleh perencanaan yang matang dari Nabi Muhammad SAW. Beliau secara cermat merencanakan strategi militer dan menempatkan pasukan dengan bijaksana, meskipun dalam kondisi yang sulit.
4. Pengorbanan dan Ketabahan:
Perang Badar juga mengajarkan pentingnya pengorbanan dan ketabahan. Para Sahabat rela mengorbankan segalanya, termasuk nyawa mereka, untuk membela agama dan komunitas mereka. Ketabahan mereka dalam menghadapi musuh yang jauh lebih besar merupakan contoh inspiratif bagi umat Muslim.
Perang Uhud:
Perang Uhud terjadi pada tahun ketiga Hijriah, beberapa bulan setelah Perang Badar. Perang ini merupakan pertempuran yang lebih sulit bagi kaum Muslimin, di mana mereka mengalami kekalahan setelah awalnya meraih keberhasilan.
1. Ketaatan dan Kepatuhan:
Perang Uhud mengajarkan pentingnya ketaatan dan kepatuhan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Kekalahan pasukan Muslimin sebagian disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap perintah Nabi Muhammad SAW untuk mempertahankan posisi tertentu di medan perang.
2. Kepemimpinan yang Bijaksana:
Perang Uhud juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang bijaksana. Meskipun kekalahan terjadi, Nabi Muhammad SAW tetap tenang dan berusaha menjaga kestabilan pasukannya. Kepemimpinan beliau menjadi contoh bagi pemimpin Muslim dalam menghadapi cobaan dan kegagalan.
3. Pelajaran dari Kegagalan:
Perang Uhud mengajarkan pentingnya belajar dari kegagalan. Setelah kekalahan tersebut, Nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya mengambil pelajaran penting untuk memperbaiki strategi dan taktik mereka di masa depan.
4. Sabar dan Istiqamah:
Perang Uhud juga mengajarkan pentingnya kesabaran dan istiqamah dalam menghadapi cobaan dan kesulitan. Meskipun mengalami kekalahan dan cedera, para Sahabat tetap teguh dalam iman dan tekad mereka untuk melanjutkan perjuangan.
Pelajaran Umum:
Kedua perang tersebut memberikan beberapa pelajaran umum bagi umat Muslim:
- Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya:
Kunci kesuksesan bagi umat Muslim adalah ketaatan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.
- Kesatuan dan Solidaritas:
Umat Muslim perlu bersatu dan solid dalam menghadapi tantangan dan cobaan.
- Perencanaan yang Bijaksana:
Perencanaan yang matang dan strategi yang bijaksana penting dalam menghadapi musuh.
- Ketabahan dan Pengorbanan:
Ketabahan dan pengorbanan merupakan sifat-sifat yang penting dalam perjuangan melawan kezaliman dan ketidakadilan.
- Belajar dari Kegagalan:
Kegagalan adalah bagian dari proses belajar, dan umat Muslim perlu mengambil pelajaran dari setiap kegagalan untuk memperbaiki diri dan strategi di masa depan.
Dengan memahami hikmah dan pelajaran dari Perang Badar dan Perang Uhud, umat Muslim dapat mengambil inspirasi dan pedoman dalam menghadapi tantangan dan cobaan di masa kini dan mendatang.
Menyikapi mimpi secara Islami adalah jalan yang
terbaik, mengingat ada bermacam-macam pendapat di kalangan masyarakat yang
dapat mempengaruhi kejiwaan dan utamanya masalah keimanan Islami itu sendiri.
Pendapat-pendapat dikalangan masyarakat ada yang berdasarkan ilmiah, ada juga
berdasarkan angan-angan masing-masing. Ada juga dari cerita turun temurun
dengan dibumbui bermacam-macam sikap tergantung yang membawa cerita.
Mengambil dari wikipedia, mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan
penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra dalam tidur. Lebih
jauh dikatakan bahwa para ilmuwan berusaha memecahkan rahasia mimpi manusia.
Ada yang mengatakan mimpi terjadi karena adalah motivasi manusia yang tidak
disadari. Ia adalah motivasi terselubung dan terendap di alam bawah sadar. Ia
menyebutkan bahwa naluri manusia dapat dirasakan oleh kesadaran ( Sigmund
Freud). Yang lain berpendapat karena aktivitas otak dalam REM (tidur
nyenyak) memiliki kesamaan dengan aktivitas otak saat kita sedang dalam keadaan
tersadar. Sirkuit otak tetap memiliki aktivitas yang normal seperti saat kita
terbangun. Oleh sebab itu, kita akan tetap mempunyai respons emosi yang nyata
saat bermimpi. Ada juga para ahli menyebutkan bahwa mimpi hanyalah sisa-sisa
dari pemrosesan informasi yang kita terima sebelum tidur atau beberapa hari
sebelumnya. Beberapa psikolog meyakini mimpi hanyalah bentuk pemrosesan
informasi yang dianggap tidak terlalu penting. Tidak mau ketinggalan sebagian
ahli terjadinya mimpi karena selama kita tertidur, kita akan mendengar beberapa
bunyi. Beberapa bunyi memiliki frekuensi yang mampu ditangkap oleh indra
manusia. Saat memasuki fase REM, otak tetap merespons apa yang terjadi di luar
tubuh kita.
Kita mengenal bahwa mimpi itu ada sebagai mimpi
buruk dan ada juga mimpi baik, bagi si pemimpi. Tak masalah bila si pemimpi
bersikap cuek, ga ambil pusing dengan mimpinya. Lain halnya bagi orang sangat
sensitif terhadap mimpinya, bisa bisa itu akan mengganggu kejiwaannya. Sebagian
lagi dari mimpinya apakah sebagai mimpi buruk atau mimpi baik menduga duga yang
arahnya ke syirik yang dilarang agama.
Kita mengutip dari halodoc, mengatakan mimpi buruk
pada orang dewasa bisa dikatakan sudah berbahaya bila sampai menyebabkan
gangguan tidur, stres, dan mimpi buruk terjadi secara rutin. Walaupun
kebanyakan mimpi buruk tidak mengganggu, tapi bila terlalu sering terjadi,
mimpi buruk juga berpotensi menyebabkan gangguan psikologis pada
pengidapnya. Mimpi Buruk Itu dapat berdampak terhadap kesehatan
psikologis, bisa stress, kecemasan yang berlebihan.
Bagaimanapun mimpi boleh dikatakan sebagai suatu
karunia dalam hidup yang penuh misteri ini, pantas untuk kita syukuri sebagai
mahluk kepada Maha Penciptanya.Adapun sebagian orang, mimpi tak lebih hanyalah
dari bunga-bunga tidur belaka.
Akan tetapi Mimpi malah menimbulkan rasa ingin tahu
dan bikin orang berusaha untuk mengetahui makna di baliknya. Orang yang
mengalami mimpi, selau saja berupa teka teki bagi dirinya, bikin penasaran buat
tahu. Mungkin semua orang mengalami mimpi, kadang tak terlepas dari
aktivitasnya sehari yang dialaminya tadi.
Ada yang berpendapat kalau mimpi tidur tandanya
tubuh ada perlu istirahat yang berkualitas. Tidur yang berkualitas adalah waktu
yang tepat untuk memulai hal baru buat produktivitas kehidupan Anda. Di sisi
lain, mimpi tentang tidur konon merupakan pertanda buruk buat kesehatan yang
sering tidak teramut karena kesibukan.
Ada juga yang menafsirkan mimpi tentang tidur
melambangkan kabar baik. Serjauh manapun, semua tafsir yang yang disampaikan
hanya berupa ramalan angan-angan dan susah bahkan tidak dapat dipastikan
kebenarannya.
Dilain pihak ada pula yang membenarkan
tafsir-tafsir mimpi yang berbahaya, keluar jalur akidah agama yang mendekati
pada syirik, tahayul, yang ini tidak boleh terjadi. Sebab kepahaman agama Islam
itu sendiri bagi pemeluknya ada kadarnya masing-masing, kasihan bila kepahaman
agamanya masih rendah pasti mudah terpengaruh.
Karena itu karena mimpi bisa mempengaruhi kejiwaan dan keyakinan banyak orang,
sebaiknya sebagai orang Islam bersikaplah yang islami. Merujuklah apa yang jadi
ketentuan atau petunjuk Allah Rasul. Karena mimpi itu bukan barang baru,
di era Nabi saw, sudah banyak juga sahabat yang sudah pada bermimpi.
Itulah mengapa, kami mengajak agar perlu menyikapi mimpi secara Islami dalam
rangka bersikap bijaksana dalam memaknainya.
Sekarang bagaimana tuntunan Nabi saw, pada waktu sahabat melaporkan mimpinya.
Kita ambil dari riwayat hadis Muslim
juz 4, hal 68 no 2262
dari Jabir Rasul saw bersabda:
Ketika seseorang dari kalian bermimpi pada mimpi yang dia benci
mimpi buruk, maka dia supaya meludah sebelah kiri sebanyak tiga kali, dan supaya memohon perlindungan pada Allah dari syaitan sebanyak tiga kali. Lalu pindah
bergeser dari tempat tidurnya itu,
juz 4, hal 68 no 2263
Dari Abu Hurairoh bersabda Rasul SAW,Apabila telah
dekat waktunya (hari kiamat) hampir saja mimpi orang yang beriman tidak akan
berdusta. Yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur ucapannya,
Maka adapun mimpi itu ada tiga, mimpi yang baik
kegembiraan dari Allah, mimpi yg menyusahkan atau mimpi buruk, dari syaiton,
dan mimpi yang bercerita seseorang pada dirinya atau terobsesi angan2nya karena
memikirkan sesuatu.
Adapun bila benci dia pada mimpinya, hendaklah dia
bangun untuk solat, dan jangan kalian ceritakan dengan mimpi itu kepada orang
lain.
Cukup dua hadis itu saja saya kira, sebenarnya ada
banyak, tapi itu sudah cukup untuk praktek kehidupan keseharian saudara
Islam.
Praktek minta perlindungan pada Allah mengucapkan ta'awudz.
lafadz ta'awudz:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Pindah tidur, maksudnya bergeser dari tempat
tidurnya, biasanya mereka membalikan bantalnya sudah cukup berubah posisi.
Lakukan solat kalau betul sangat membencikan.
Doa yang baik-baik.
Jangan ceritakan pada orang lain, karena bila diceritakan akan mengarah ke
syaudhon billah, malah terkena dalil, aku tergantung persangkaan hambaku, bisa
terwujud, jangan dilakukan , itu permainan syaiton agar orang yang beriman berdosa
percaya permainan syaiton.
Insya Allah begitu saja, semoga bermanfaat.
Sumber:
Hadist Muslim Juz 4,
halodoc.com
merdeka.com
uninus.ac.id
detik.com
islam.nu.or.id
id.wikipedia.org/wiki/Mimpi
Responding to dreams in an Islamic way is the best way, bearing in mind that there are various opinions among the public that can affect the psyche and especially the issue of the Islamic faith itself. Opinions among the public are based on science, some are based on their own wishful thinking. There are also stories passed down from generation to generation seasoned with various attitudes depending on who carries the story.
Taking from wikipedia, dreams are subconscious experiences that involve visions, hearing, thoughts, feelings, or senses in sleep. It is further said that scientists are trying to solve the secret of human dreams. Some say dreams happen because it is an unconscious human motivation. It is a hidden motivation and is buried in the subconscious. He mentioned that human instincts can be felt by consciousness (Sigmund Freud). Others argue because brain activity in REM (deep sleep) has similarities to brain activity when we are awake. Brain circuits still have normal activity as when we are awake. Therefore, we will still have a real emotional response when dreaming. There are also experts who say that dreams are just leftovers from processing the information we receive before going to bed or a few days before. Some psychologists believe dreams are just a form of information processing that is considered to be of little importance. Do not want to miss some of the experts on the occurrence of dreams because while we are asleep, we will hear some sounds. Some sounds have frequencies that can be captured by the human senses. When entering the REM phase, the brain continues to respond to what is happening outside our bodies.
We know that dreams exist as bad dreams and there are good dreams, for the dreamer. It doesn't matter if the dreamer is ignorant, doesn't bother with his dreams. It's another case for people who are very sensitive to their dreams, it could disturb their psyche. Another part of his dream, whether it was a bad dream or a good dream, suspects that it leads to shirk which is prohibited by religion.
We quote from halodoc, saying that nightmares in adults can be said to be dangerous if they cause sleep disturbances, stress, and nightmares occur regularly. Although most nightmares are not disturbing, if they occur too often, nightmares also have the potential to cause psychological disorders in the sufferer. Nightmares It can have an impact on psychological health, it can be stress, excessive anxiety.
However dreams can be said as a gift in this mysterious life, we deserve to be grateful as creatures to the Supreme Creator. As for some people, dreams are nothing more than mere sleeping flowers.
However, dreams actually arouse curiosity and make people try to find out the meaning behind them. People who experience dreams, always in the form of a riddle for him, make him curious to know. Maybe everyone has dreams, sometimes they are inseparable from the day's activities that they experienced earlier.
Some argue that sleeping dreams are a sign that the body needs quality rest. Quality sleep is the right time to start new things for the productivity of your life. On the other hand, dreams about sleep are said to be a bad sign for health, which is often not maintained due to busyness.
There are also those who interpret dreams about sleep as symbolizing good news. No matter how far, all the interpretations conveyed are only in the form of wishful predictions and it is difficult to even ascertain the truth.
On the other hand, there are also those who justify dangerous dream interpretations, deviate from religious beliefs that approach shirk, superstition, which should not happen. Because the understanding of the religion of Islam itself for its adherents has its own level, it's a pity if the understanding of the religion is still low, it will definitely be easily influenced.
Because of that, because dreams can affect the psychology and beliefs of many people, it is better if you as a Muslim act in an Islamic manner. Refer to what is the provision or guidance of Allah the Messenger. Because dreams are not new, in the era of the Prophet saw, there were also many friends who had dreams.
That is why, we invite you to address dreams in an Islamic way in order to be wise in interpreting them.
Now what about the Prophet's guidance, when a friend reported his dream. We take from the history of Muslim hadith
juz 4, page 68 no 2262
from Jabir, Rasulullah saw said:
When one of you dreams of a dream that he hates bad dreams, then he should spit on his left side three times, and ask Allah for protection from the devil three times. Then shifted from the bed
Secara
Islami kita sangat perhatian masalah hidayah, karena secara dalil hidayah itu
datangnya dari Allah. Allah telah memberi ketentuan bahwa barang siapa yang
Allah menghendaki seseorang mendapat hidayah atau petunjuk, maka Allah akan
melapangkan hati nya untuk menerima Islam. Sebaliknya Allah tidak menghendaki
seseorang dapat hidayah maka hatinya akan sempit dalam menerima Islam,
digambarkan orang itu seakan-akan disuruh naik kelangit.
Hidayah
yang dimaksud adalah nikmat berupa keimanan yang diberikan oleh Allah kepada
individu manusia.
Semua orang Islam berdoa antara lain yang sangat sering dibaca:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta
lindungilah kami dari azab neraka.”
Itu artinya apa, orang yakin kehidupan itu ada di dunia dan ada kehidupan
akhirat.
Secara
etimologis, hidayah berarti ar-rasyaad ‘bimbingan’ dan ad-dalaalah ‘petunjuk’.
Kata ini bahkan punya keterkaitan yang erat dengan kata hadiah. Bedanya,
hidayah bersifat abstrak dan spiritual, sedangkan hadiah bersifat konkret,
material. Hidayah secara etimologi (bahasa) lawan dari al-dalālah yang
bermakna kesesatan. Hidayah itu sendiri adalah memberi petunjuk. Alquran adalah
mukjizat Islam secara etimologi lafaẓ hidayah yaitu bermakna yaitu menunjukkan,
menuntun, memberitahu jalan yang benar.
Pada umumnya, hidayah dibagi menjadi dua yakni yang pertama hidayah bayan wal irsyad
(penjelasan dan petunjuk). Hidayah ini cenderung dimiliki oleh para nabi dan
rasul. Hidayah turun kepada mereka dan mereka punya kewajiban menyampaikan dan
menjelaskan hal tersebut kepada umat yang ada bersama mereka pada saat itu.
Kemudian ada hidayah taufiq, yang merupakan hidayah yang Allah turunkan kepada
hamba-hamba Allah, siapa saja, dengan syarat punya kemauan dan kesungguhan
untuk mendapatkan hidayah Allah. Allah menjadikan ilham dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah SWT. Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya
kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang
yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima
petunjuk.” (QS. Al-Qashash : 56)
Ayat
ini turun saat kematian Abu Thalib dalam keadaan ia musyrik kepada Allah. . Maka ucapan terakhir yang
dikatakan oleh Abu Thalib adalah: bahwa ia tetap masih berada pada agamanya
Abdul Muthalib, dan dia menolak untuk mengucapkan kalimat: “la ilaha illallah“,
kemudian Rasulullah bersabda: “sungguh akan aku mintakan ampun untukmu kepada
Allah, selama aku tidak dilarang”, lalu Allah menurunkan firman-Nya:
“Sesungguhnya
kamu (hai Muhammad tak bisa memberikan hidayah (petunjuk) kepada orang-orang
yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada orang yang
dikehendaki-Nya.” (QS. Al Qashash: 57).
Barang
siapa yang dikehendaki Allah mendapat hidayah atau petunjuk, Allah akan
melapangkan hati nya untuk menerima Islam. Akan tetapi barang siapa yang
dikehendaki Allah tidak dapat hidayah maka hatinya akan sempit untuk menerima
Islam, seakan-akan dia disuruh naik kelangit. QS. Al-An'am :125
"Segala
puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak
akan mendapat hidayah (ke Surga) kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan
kami" (QS al-A’raaf: 43).
Hidayah
tidak dapat dibeli, tapi ini adalah nikmat Allah yang hanya dianugerahkan
kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Namun, ada beberapa jalan yang bisa
dilakukan manusia untuk mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
“Sesungguhnya
kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang
yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima
petunjuk.” (QS. Al-Qashash : 56)
Maka ucapan terakhir yang
dikatakan oleh Abu Thalib adalah: bahwa ia tetap masih berada pada agamanya
Abdul Muthalib, dan dia menolak untuk mengucapkan kalimat: “la ilaha illallah“,
kemudian Rasulullah bersabda: “sungguh akan aku mintakan ampun untukmu kepada
Allah, selama aku tidak dilarang”, lalu Allah menurunkan firman-Nya:
“Tidak
layak bagi seorang Nabi serta orang-orang yang beriman memintakan ampunan
(kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” (QS. Al Bara’ah: 113).
Karena apabila Nabi Muhammad ﷺ sebagai makhluk termulia
dan yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah, tidak dapat memberi hidayah
kepada siapapun yang beliau inginkan, maka tidak ada sembahan yang haq
melainkan Allah, yang bisa memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia
kehendaki. Allah yang lebih tahu hakikatnya- peristiwa ini adalah peristiwa
paling menyedihkan yang dialami Rasulullah dalam hidupnya. Memang benar,
Rasulullah banyak mengalami musibah kehilangan orang-orang yang beliau cintai.
Beliau menyaksikan dua orang istrinya wafat sebelum dirinya, Khadijah dan
Zainab bin Khuzaimah radhiallahu ‘anhuma. Satu per satu anak-anak beliau wafat
mendahului dirinya, kecuali Fatimah. Beliau juga kehilangan sahabat-sahabat
dekat semisal Hamzah bin Abdul Muthalib, Abu Salamah bin Abdul Asad, Utsman bin
Mazh’un, Saad bin Mu’adz, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dll.
Radhiallahu ‘anhum. Tapi, musibah kematian Abu Thalib berbeda. Kematian Abu
Thalib ini lebih terasa berat. Mengapa? Karena sang paman yang sangat beliau
cintai wafat dalam kekufuran. Sedangkan keluarga dan sahabat-sahabatnya tadi
wafat dalam keimanan. Beliau -dengan izin Allah- tetap akan berjumpa dengan
mereka di telaganya dan di surga kelak. Adapun Abu Thalib, perpisahan dengannya
adalah perpisahan untuk selama-lamanya.
Peristiwa
wafatnya Abu Thalib ini memberikan pesan yang dalam pada kita bahwa segala
perkara itu di tangan Allah. Dia mengetahui yang tidak kita ketahui. Dia
mengetahui mata-mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di sanubari. Dia
tahu, mana orang yang layak mendapat hidayah.
Seseorang
itu tak hanya dipandang zahirnya, tapi batinnya jauh lebih penting. Dari Abu
Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya
Allah tidak melihat kepada fisik kalian, tidak juga pada tampilan kalian. Akan
tetapi ia melihat kepada hati kalian.” Nabi menunjukkan tangannya ke dada.
Orang-orang
kafir Quraisy tidak menaruh iba untuk menghormati wafatnya pembesar bani Hasyim
ini. Bahkan mereka bergembira dan menampakkan suka cita. Mereka berkumpul
mengunakan kesempatan untuk semakin menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Dalam benak mereka, sekarang Muhammad tanpa perlindungan.
“Orang-orang
Quraisy senantiasa takut dan lemah hingga wafatnya Abu Thalib.” (HR. Hakim dalam
Mustadrak 4243).
Mereka
berusaha menumpuk-numpuk derita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wafatnya
Abu Thalib adalah ujian berat yang dihadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam di tahun ke-10 kenabian beliau. Di tahun ini, Nabi mengalami banyak
musibah berat. Di awal tahun, orang-orang Quraisy memboikot bani Hasyim.
Pemboikotan dimulai dari tahun ke-7 kenabian hingga ke-10. Hingga bani Hasyim
tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Baru saja bebas dari pemboikotan, paman
beliau wafat. Yang berat adalah, sang paman wafat dalam kekufuran. Tiga hari
kemudian, istri beliau, Khadijah, wafat. Ujian terus berdatangan. Beliau
semakin ditekan. Dan berturut-turut ujian lainnya. Termasuk ditolak berdakwah
di Thaif. Karena itu, wajar tahun ini disebut tahun kesedihan.
Nasihat
dan saran mengingat hidayah yang diberikan Allah pada masing-masing sebagai manusia,
maka bagaimana baiknya kita menyikapi nasehat hidayah, utamanya untuk diri kita
masing-masing dan keluarga. Kita orang yakin kehidupan itu dunia dan kehidupan
akhirat, itu haq, pasti terjadi. Kita pun meyakini kalau sorga itu haq pasti
akan ditemui, dan neraka itu haq, pasti akan keberadaannya. Kehidupan dunia
kehidupan yang fana tempatnya cobaan, untuk menentukan kehidupan akhirat kita.
Sebagai orang Islam kita selalu berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan
di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Untuk
mencapai itu semua di dunia bahagia dan akhirat bahagia artinya masuk sorga,
cara yang ditempuh dalam mengisi hidup di dunia kita harus berusaha mendekatkan
diri pada Allah. Caranya, adalah dengan Taqorrub ilallah, yaitu lewat.
Kesungguhan niat mendekatkan diri pada Allah. Mengerjakan kewajiban-kewajiban
ibadah dengan tertib. Memperbanyak sholat sunnah, puasa sunnah, dan
shodaqoh. Membaca Al-Quran dengan mengerti maknanya. Berdoa dan sholat
pada sepertiga malam yang akhir (qiyamullail). Banyak dzikir kepada Allah.
Sabar keporo ngalah , menahan hawa nafsu dan menjadikan syaitan sebagai musuh.
Menjauhi dosa besar dan tidak meremehkan dosa kecil. Menjaga pergaulan,
menghindari ahli maksiat. Memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah, tobat
berarti berpindah dari hal yang kurang baik menuju ke kehidupan dengan penuh
keimanan Allah SWT, dan taubat dalam arti sesungguhnya.
Demikianlah,
pemahaman hidayah itu dari Allah, mudah-mudahan saja bermanfaat dan barokah..
Siapapun tak akan mau mengalami yang namanya kehidupan yang
sempit, kehidupan yang terbayang sebagai kehidupan yang serba susah, dimana
apapun yang ingin dicapai sangat sulit. Seumpama dalam hal mencari uang
mencari nafkah, hanya dapat sedikit diluar dari kebiasaan orang umumnya. Ingin
berkeluarga, bingung siapa yang mau dengan orang pekerjaan serabutan belum
mapan seperti saya. Ketika sudah bekeluarga, kepengin punya anak turun, dengan susah payah
baru sepuluh tahun baru dapat turunan. Ketika anak sudah hadir, timbul persoalan dari apa susu bayi sampai urusan balita, timbul masalah anak sekolah dimana. Lebih banyak
lagi urusan kemasyarakatan, disaat orang tua mencari nafkah yang serabutan,
dirumah anak kita entah dengan siapa berinteraksi. Timbul lakon-lakon tidak
lazim pada anak sedang tumbuh remaja, sementara ibu juga sibuk cari tambahan
buat makan sehari hari. Ini semua kehidupan lumrah dan nyata dalam masyarakat. Sementara, terjadi sebaliknya pada pihak keluarga yang soal materi tidak ada soal, semua
dijalankan dari mulai urusan maisyah urusan mencari nafkah mudah dan berlebih,
menurut sudut pandang ukuran manusia normal, tidak tercermin sebagi orang puas, lega, apa yang sudah dimiliki, malah mencari terus dan berusaha terus lebih banyak mengingat permintaan anak
pesan istri. Merasa khawatir kurang terus gelisah terus, apa yang dicari apa yang dipikirkan. Terlihat istri aktif kemana mana anak juga sibuk berinteraksi menjaga gengsi gaul, tapi
kata tetangga semua mengeluhkan kehidupannya. Ada apa itu semua, apa yang
terjadi dengan kedua ilustrasi itu, yang betul ada dikalangan ummat manusia
dimanapun, seperti mengalami kehidupan yang sempit. Bahkan lebih ekstrim lagi kalau kita simak berita-berita disemua
media ada nyata.
Secara Islami
kita melihat, apakah ini dimaksud kehidupan yang sempit, kita coba memakai
pendapat para ulama yang berdasarkan kaidah Islami. Dari sana rata-rata
menggunakan ayat berikut :
Barang siapa
yang berpaling dari peringatan Ku (maksudnya ku nya Allah), maka sesungguhnya
baginya kehidupan yang sempit. Akan mengumpulkan Aku pada hari kiamat dalam
keadaan buta. QS Thoha (20) : 124
Jadi
karena engkau mengabaikan peringatanku ayat-ayatku, engkau diberi kehidupan
sempit didunia, dan di alam kubur disiksa. Dan pada hari kiamat engkau dikumpulkan
dalam keadaan buta juga tidak ada lagi hujjah,
Sebenarnya adanya kamu merasakan kehidupan yang sempit karena kamu telah kedatangan ayat2ku, tapi engkau melupakannya. Padahal sudah ada ayat
ayatnya Allah, ada orang yang menyampaikan dan mengajak pada kamu, tapi kamu melupakannya maksudnya mengabaikannya bahkan tidak bisa menerima. Demikian pula hari ini engkau pun dilupakan
atau ditinggal didalam siksa. Sangat mengerikan, berdasarkan ayat ini Allah tidak main-main dengan ayat-ayatnya.
Kalau
di rangkum beberapa pikiran ulama, jadinya berdasarkan ayat itu, mengatakan,
barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maksudnya dari petunjuk Allah,
tidak menerima, dan tidak mewujudkannya, apa yang diingatkan Allah, yakni dari
agama Allah, serta berpaling dari membaca kitab-Ku dan berpaling dari
beramal dengan isi kandungan Alquran, maka sesungguhnya baginya di dunia ini kehidupan
sempit lagi sengsara, (walaupun tampaknya dia termasuk orang bermartabat dan
berkemudahan) di dunia, dia akan mendapat kehidupan yang menderita dan penuh
kesulitan meski secara zahir dia mendapat kenikmatan; kehidupan yang sengsara
lagi sempit di dunia ini dan juga di alam kubur. Dan Allah akan
menghimpunnya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta dan tidak ada hujjah. Dan
Allah akan menggiringnya di padang Mahsyar pada hari Kiamat kelak dalam
keadaan buta; tidak bisa melihat dan tidak memiliki hujah. dan pada hari kiamat
dia akan dibangkitkan dalam keadaan buta, sehingga dia akan bertanya:
“Ya
Tuhanku, mengapa Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal ketika di
dunia aku dapat melihat?”( QS 20: 125 )
Oleh karena itu saudaraku yang Islami, tak tertutup kemungkinan
itu terjadi dikalangan kita, tinggal kita introspeksi diri kita masing-masing
seberapa jauh kita sudah menunaikan kewajiban kita sebagai hamba Allah.
Sebab semua
kita terlahir, karena sudah menjawab pertanyaan Allah sewaktu alam roh, Alastu
birobbikum? Apakah Aku bukan Tuhanmu? Kita menjawab, bala, ya wahai Tuhanku.
(Ingatlah) ketika
Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan
Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman),
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami
bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan,
“Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,”
Jadi
penjelasan lebih jauh, Allah perintah telah kepada Nabi Muhammad. Ceritakan
Muhammad ketika itu Tuhanmu, mengambil janji kepada anak-anak Adam, ketika
Allah mengeluarkan mereka dari punggung Nabi Adam, (prakteknya yang diusap
punggungnya Nabi Adam), keluarlah anak-anak-turun nya semua yang masih berupa
arwah. Ketika Allah mengeluarkan anak-turun Adam, dikeluarkan semua (tapi dalam
bentuk arwah), oleh Allah dijanji, dan dipersaksikan pada diri mereka, (apa
janjinya yang diambil Allah dari mereka?), mereka dijanji sanggup iman, tidak
syirik, mereka dijanji untuk menetapi perintah Allah, menjauhi larangan Allah,
Iman kepada Allah, iman kepada Rasul- Rasul Allah, termasuk iman kepada
Kitab-kitab Allah, mereka berjanji seperti itu dipersaksikan kepada mereka.
Kemudian Allah menanyakan, Bukankah Aku Tuhan Kalian? (apa jawab mereka) , bala
, iya, syahidna, bersaksi kami, bahwa Tuhanku hanya Engkau. Berarti zaman arwah
dulu sudah dijanji oleh Allah, sanggup iman kepada Allah, sanggup iman kepada
utusan Allah, sanggup iman kepada kitab-kitab Allah.
Disebut sanggup iman pada Allah , otomatis yang berhubungan dengan Allah
dipercaya semua, rasulnya, kitabnya, supaya dipercaya semua, (mereka mengakui),
agar tidak berkata kalian pada hari kiamat, kami lupa.
Adanya
kamu saya minta untuk mempersaksikan ini, supaya kamu nanti pada hari kiamat
tidak alasan , wah saya lupa. Apalagi dalam Alquran di ulang lagi, diceritakan
lagi. Oleh Nabi Muhammad diingatkan lagi, diceritakan lagi, kita belajar,
membaca, mengaji saat ini dingatkan lagi, supaya kalian nanti pada hari kiamat
tidak berkata, tidak alasan, bahwa saya lupa dengan janji saya.
Termasuk kalau didalam hadist Abu Daud itu diceritakan, bahwa Allah itu
menciptakan Nabi Adam, Allah mengusap punggungmya Nabi Adam dengan tangan
kanannya, kemudian Allah mengeluarkan dari Nabi Adam itu anak turunnya, Anak
turan yang aku keluarkan dari Nabi Adam ini adalah kami persiapkan menjadi
penghuni sorga, mereka itu nanti akan beramal sesuai dengan amalan ahli sorga
sampai matinya, kemudian Allah mengusap lagi punggungnya Nabi Adam, kemudian
nabi akan mengeluarkan anak Adam itu, tapi waktu masih berujud
arwah, nyawa, mereka itu aku jadikan untuk Neraka, untuk menjadi penghuni
neraka, mereka akan beramal sesuai dengan amalan ahli neraka,
Kemudian ada seorang sahabat setelah mendengar hadist itu, bertanya kepada
Nabi, Lha terus untuk apa kita beramal Nabi, kalau sudah memang ada
qodarnya menjadi ahli sorga atau ahli neraka, lantas amalan kita itu untuk
apa,
Nabi
menjawab: ketika Allah menjadikan seorang hamba ini menjadi ahli sorga, maka oleh
Allah diamalkan, dibuat beramal amalan-amalan ahli sorga sampai dia mati tetap
beramal amalan ahli sorga, akhirnya Allah memasukkan hamba tersebut dengan
amalannya kedalam sorga.
Demikian
juga ketika Allah menjadikan seorang hamba untuk menjadi penghuni neraka, maka
untuk didunianya oleh Allah diberi mengamalkan amalan ahli neraka sampai
matinya tetap mengamalkan amalan ahli neraka, ga mau solat, ga mau ibadah, ga
mau baca Alquran ga mengaji, sampai matinya, akhirnya Allah memasukkan hamba
itu kedalam neraka, sebab amalan itu.
Jadi
kalau sekarang kita mengamalkan amalan ahli sorga, supaya disyukuri, minta
terus pada Allah supaya tetap beramal amalan ahli sorga sampai mati. sehingga
kita mati dalam keadaan husnul khotimah, semoga semua menjadi ahli sorga,
Aamiin. Mudah mudahan yang sedikit ini bisa menolong pencerahannya bagi yang
memerlukannya.
Anyone would not want to experience
what is called a cramped life, a life that is imagined as a difficult life,
where whatever you want to achieve is very difficult. For example, in terms of
making money, making a living can only be a little out of the ordinary for
people in general. If you want to have a family, you are confused about who
wants someone with odd jobs that are not yet established. When you have a
family, you want to have children down, with great difficulty it is only ten
years old that you can have children. More societal affairs when parents make a
living odd jobs, at home our children don't know who we interact with. Unusual
acts arise in children who are growing up, while mothers are also busy looking
for extras for their daily meals. This is all normal and real life in society.
On the other hand, on the family side, there are no problems with material
matters. Everything is carried out, starting with the business of making a
living, making an easy and extravagant living. keep trying and keep trying to
remember more requests for children to order from your wife. It can be seen
that the wife is active everywhere, the children are also busy interacting, but
the neighbors said that everyone was complaining about their life. What is it
all about, what happened to the two illustrations, which is true among mankind
everywhere. It's even more extreme if we look at the news in all the media.
Islamically, we see whether this is
meant by a narrow life. We try to use the opinion of the scholars who are based
on Islamic principles. From there the average uses the following paragraph:
Whoever turns away from My warnings
(I mean Allah), then indeed he will have a narrow life. Will gather Me on the
Day of Resurrection blind. QS Thoha (20): 124
So because you ignored my warnings
from my verses, you were given a narrow life on earth and buried in torment.
And on the Day of Judgment you will be gathered in a state of blindness and
there will be no evidence,
Actually you have come my verses,
but you forgot them. Even though there are already verses from Allah, there are
people who convey and invite you, but you forget to ignore them and cannot
accept them, so today you are also forgotten or left in torment.
If we summarize some of the
thoughts of these scholars, it will be based on that verse, saying, whoever
turns away from My warning, that is, from Allah's guidance, does not accept,
and does not make it happen, what Allah reminds him, namely from Allah's
religion, and turns away from reading My book and turning away from doing good
deeds with the contents of the Qur'an, then actually for him in this world life
is narrow and miserable, (even though it seems he is one of the people with
dignity and ease) in the world, he will have a life of suffering and full of
difficulties even though physically he gets pleasure; a miserable and cramped
life in this world and also in the grave. And Allah will collect them on the
Day of Resurrection blind and without evidence. And Allah will lead him to the
plains of Mahsyar on the Day of Resurrection later in a blind state; unable to
see and has no argument. and on the Day of Resurrection he will be raised
blind, so he will ask:
"O my Lord, why did you raise
me blind, when in the world I could see?" (Surah 20: 125)
Therefore, my Muslim brothers and sisters, it is possible that this will happen among us. It remains for us to introspect ourselves, how far we have fulfilled our obligations as servants of Allah.
Because all of us were born, because we answered God's question during the spiritual realm, Alastu birobbikum? Am I not your God? We answer, bala, yes my Lord.
(Remember) when your Lord brought
forth from the backbone of Adam's offspring, their descendants and Allah took
his testimony against themselves (while saying), "Am I not your
Lord?" They replied, "Yes (You are our God), we testify." (We
did it) so that on the Day of Judgment you (not) say, "Indeed we were
heedless of this,"
So a further explanation of Allah's
commands has been to the Prophet Muhammad. Tell Muhammad that at that time your
Lord, took a promise to the children of Adam, when Allah took them out of the
back of Prophet Adam, (the practice that was rubbed on the back of Prophet
Adam), all of his children who were still spirits came out. When Allah brought
out Adam's children, all of them were issued but in the form of spirits, Allah
promised, and witnessed to them, (what promise did Allah take from them?), They
were promised to be able to faith, not shirk, they were promised to obey
Allah's commands , stay away from Allah's prohibitions, Faith in Allah, faith
in Allah's Messengers, including faith in Allah's Books, they promised that way
was witnessed to them.
Then Allah asked, Am I not your
Lord? (what did they answer) , bala , yes, shahidna, testify us, that my Lord
is only You. This means that in the past, the spirit age had been promised by
God, capable of faith in God, capable of faith in God's messengers, capable of
faith in God's books.
It is called being able to believe
in Allah, automatically everything related to Allah is trusted by all, His
messengers, His books, so that all are believed, (they admit), so that you will
not say on the Day of Judgment, we forgot.
I ask you to testify about this, so
that you don't have excuses on the Day of Resurrection, wow I forgot. Moreover,
in the Koran it is repeated again, it is told again. The Prophet Muhammad
reminded him again, told him again, we study, read, recite the Koran at this
time, remind him again, so that you will not say on the Day of Judgment, there
is no reason, that I forgot my promise.
Including that in the hadith of Abu
Daud it is narrated that Allah created Prophet Adam, Allah rubbed Prophet
Adam's back with his right hand, then Allah took out from Prophet Adam his
descendant, the son of Turan that I took out from Prophet Adam is that we
prepared him to become the inhabitants of heaven. , they will later do good
deeds according to the practices of the experts in heaven until they die, then
Allah wipes again the back of Prophet Adam, then the prophet will bring out the
children of Adam, but when they are still in the form of spirits, souls, I make
them for Hell, to become residents of hell, they will act according to the
deeds of the people of hell,
Then there was a friend after
hearing the hadith, asked the Prophet, Then what are we doing for the Prophet's
charity, if there is already a decision to become an expert in heaven or an
expert in hell, then what is our practice for?
The Prophet replied: when Allah
made this servant a member of heaven, then by Allah he practiced it, made him
do good deeds of the experts of heaven until he died, he continued to do the
deeds of the experts of heaven, finally Allah put the servant with his deeds
into heaven.
Likewise, when Allah makes a
servant to become an inhabitant of hell, then for his world by Allah he is
given to practice the deeds of the experts of hell until his death, he
continues to practice the deeds of the experts of hell, he does not want to
pray, he does not want to worship, he does not want to read the Koran, he does
not recite the Koran, until his death, finally Allah put the servant in hell,
because of that practice.
So if now we practice the deeds of
the experts in heaven, to be grateful, keep asking Allah to keep doing the
deeds of the experts in heaven until we die. so that we die in a state of
husnul khotimah, may all be members of heaven, Aamiin. Hopefully this little
bit can help enlighten those who need it.
Untuk memahami qodar ini memang
suatu kesulitan sendiri, tidak saja orang orang zaman sekarang, para sahabat
Rasulullah yang mendengar langsung waktu itu sering mengambil kesimpulan yang
salah, diketahui ketika para sahabat itu bertanya kepada Rasul SAW. Kita merasa
penting memahamkan dalam masalah qodar Allah ini mengingat cobaan hidup yang
silih berganti.
Ibarat kata orang, adakalanya kita
dalam keadaan 'dibawah', dan adakalanya kita dalam kondisi 'diatas'. Maksudnya
tak selamanya kita hidup kekurangan, sewaktu waktu kita akan bisa saja senang.
Sama sama berpangkat jenderal tapi yang satu hidup mewah yang satu hidup pas
pasan. Sama sama jualan beras dipasar bersebelahan yang dijual sama harganya
sama kualitas sama tapi penghasilannya tetap beda. Jadi apa artinya itu semua.
Berikut kita simak suatu hadis dari Rasulullah barangkali bisa menolong
pemahaman tentang qodar Allah.
Pada suatu ketika, dari Abu
Hurairah, menyampaikan bahwa Nabi SAW bercerita, bahwa saling berdebat antara
Nabi Adam dan Nabi Musa, dimana perdebatan itu di menangkan oleh Nabi Adam.
Cerita nya, Ketika Nabi Musa
bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Musa mengatakan terhadap Nabi Adam, bahwa apakah
engkau Adam, yang menjerumuskan manusia dan menyebabkan manusia keluar dari
sorga, bertanya Musa dengan menunjukkan kekesalan. Jadi Musa, dengan nada kesal
berkata pada Adam, Engkau membuat manusia menjadi terlempar di dunia dan
menjadi berlumuran dosa.
Walaupun nabi Musa berkata begitu
sebagai anak turun nya, Nabi Adam tetap menghormat Nabi Musa.
Menjawab Nabi Adam, "Apakah
engkau Musa, orang yang telah mendapat ilmu segala sesuatu dan memilih Allah
padamu, mengalahkan manusia yang lain, dengan membawa risalahnya Allah? Dari
sekian banyak orang kamu telah dipilih Allah untuk membawa risalah Allah. Musa
menjawab, ya.
Maka apakah mencela engkau padaku,
atas perkara yang telah diqodarkan Allah, dan perkara itu pasti terjadi, sebelum aku diciptakan.? Setelah itu Nabi
Musa terdiam. Jadi orang bisa berbuat ketaatan atau berbuat kemaksiatan itu sudah ditakdirkan
oleh Allah, sudah ada qodar Allah, garis dari Allah.Sebelum Adam diciptakan
takdirnya sudah di tentukan oleh Allah, nanti Adam akan berbuat kemaksiatan.
Maka kalau kita lihat firman Allah
dan Sabda Rasulullah SAW dibawah
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقْدِيْرًا
Allah menciptakan semua makhluknya
kemudian Allah membuat qodar masing-masing makhluk
( QS.25 Al-Furqon :2 )
Diperkuat dalam riwayat ( Muslim ) Rasul SAW bersabda
كَتَبَ الله مَقَادِيرَ الخَلاَءِقِ السَّمَاواتِ
والا رضَ بِخَمْسِينَ ألْفَ سَنَةٍ
Allah telah menulis semua qodar atas
seluruh makhluknya lima puluh ribu tahun
sebelum Allah menciptakan langit dan
bumi
Jadi dari riwayat diatas hendaknya
kita yang mengisi kehidupannya cara Islami, segera menyadari kita berjalan
diatas takdir Allah yang dibuat untuk kita. Apa yang ingin kita sampaikan bahwa
hidup di dunia ini bersifat fana, semua berubah, yang awalnya janin, lahir
bayi, balita, remaja, dewasa, tua, wafat. Begitu juga awalnya manusia tidak
apa-apa, suatu kita bisa jadi orang kaya. Suatu saat kita merasakan bahagia
sukses disegala urusan tiba-tiba bisa gagal disegala masalah. Ketika orang
dalam situasi keadaan dibawah dalam segala apakah kita harus marah-marah dengan
kegagalan kita. Atau harus meratapinya apa yang kita sesalkan.
Oleh karena itu kita harus bijak
menyikapi hidup. Pertama kita harus menyadari pada akhirnya hidup kita didunia
akan batasnya dan setelah itu kita kembali kepada Allah menjalani hidup di alam
akhirat
Kemudian belajar dari pengalaman
hidup sendiri dan pengalaman hidup orang lain bahwa, sepanjang hidup tak
selamanya orang itu nikmat bahagia, dan tidak juga orang selamanya mendapat
cobaan menderita hidup susah. Dilain pihak tidak selamanya orang yang dalam kebenaran itu benar terus, adalanya dia
berbuat salah. Bukan mustahil orang yang selalu berbuat pelanggaran bisa
kembali jadi orang baik.
Sampai dalam suatu riwayat mengatakan bahwa Rasul SAW pernah menyampaikan, Andaikata semua manusia sudah jadi orang baik semua, pasti Allah akan mendatangkan kaum yang kaum itu akan berbuat salah dan bertaubat. Allah senang kepada orang yang bertaubat.
Jadi arah pembicaraan kita tentang qodar Allah ini, adalah kita memahami bahwa garis hidup kita sudah ada qodarnya. Maka menghadapi nya harus dengan bijak, ketika kita mengalami musibah jangan terlarut dalam kesedihan. Tidak hina orang dapat musibah karena itu adalah cobaan hidup yang sudah ditakdirkan sudah ada qodarnya. Sebagai orang yang Islami bagaimana yang diajarkan petunjuk dari Allah dan Rasul dalam ketika mengalami musibah, harus sabar. Nabi menuntunnya dengan doa, agar kita dalam keseharian sering-sering berdoa " “Allahummaj-‘alnii syakuuran, waj-‘alnii shabuuran, waj-‘alnii fii ‘ainii shaghii-ran, wafii a’yunin-naasi kabiiran”.
Insya Allah, kalau terus di lazimkan tidak disadari doa itu akan menjadi jiwa kita, cobalah.
Begitu juga bila menghadapi hidup yang selalu sukses, bahagia, kecukupan kita juga sedang menjalani qodar kita seperti, sehingga secara Islami kita terjaga dari sikap sombong, yaitu seolah olah keberhasilan itu sebab kepintaran dan keuletan kita, itu tidak. Semua terjadi karena izin Allah. Jangan sampai kita di takdirkan jadi orang yang tidak bersyukur dan sombong. Begitu saja Insya Allah pembahasan nya kita batasi, semoga yang sedikit ini bisa mendapatkan manfaat bagi kita semua.
To understand this destiny is
indeed a difficulty in itself, not only people today, the companions of the
Prophet who heard directly at that time often drew the wrong conclusions, it
was known when the friends asked the Prophet SAW. We feel it is important to
understand in this matter of God's destiny, remembering the trials of life that
go one after another.
As people say, sometimes we are
'under', and sometimes we are 'above'. It means that we don't always live in
poverty, at any time we will be happy. Both have the rank of general, but one
lives a luxurious life, the other lives just barely. It's the same as selling
rice in adjoining markets which are sold at the same price, the same quality,
but the income is still different. So what does it all mean. Here we look at a
hadith from the Messenger of Allah, perhaps it can help an understanding of
God's destiny.
At one point, from Abu Hurairah, he
conveyed that the Prophet SAW told a story, that the Prophet Adam and Prophet
Musa had a debate, where the debate was won by Prophet Adam. The story goes,
when Prophet Musa met Prophet Adam, Prophet Musa said to Prophet Adam, that are
you Adam, who plunged humans and caused humans to get out of heaven, asked
Moses with annoyance. So Moses, in an annoyed tone said to Adam, You made man
thrown into the world and became covered in sin.
Even though the prophet Musa said
that as his descendant, Prophet Adam still respected Prophet Musa.
Prophet Adam answered, "Are
you Musa, the one who has acquired knowledge of all things and chose Allah for
you, defeating other human beings, by bringing Allah's message? Of all the
people you have been chosen by Allah to carry Allah's message. Musa replied,
yes.
So do you reproach me for the
things that God has ordained, and these things must have happened before I was
created? After that the Prophet Musa was silent. So a person can act in
obedience or commit disobedience, that was predestined by God, there was a
destiny from God, a line from God. Before Adam was created, his destiny was
already determined by God, later Adam would commit disobedience.
So if we look at the word of Allah
and the Word of Rasulullah SAW below
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقْدِيْرًا
Allah created all his creatures
then Allah made the destiny of each creature
( QS. 25 Al-Furqan : 2 )
Strengthened in the history of (Muslim)
Rasulullah SAW said
كَتَبَ الله مَقَادِيرَ الخَلاَءِقِ السَّمَاواتِ
والا رضَ بِخَمْسِينَ ألْفَ سَنَةٍ
Allah has written all the destiny of
all creatures fifty thousand years before Allah created the heavens and the
earth
So, from the history above, those
of us who fill our lives in the Islamic way should immediately realize that we
are walking on the destiny Allah has made for us. What we want to convey is
that living in this world is temporary, everything changes, from the beginning
it is a fetus, a baby is born, a toddler, a teenager, an adult, an old man, he
dies. Likewise, at first it's okay for humans, one day we can become rich
people. One time we feel happy, successful in all matters, suddenly we can fail
in all problems. When people are in a situation where they are under
everything, we have to be angry with our failures. Or have to mourn what we
regret.
Therefore, we must be wise in
dealing with life. First we must realize that in the end our life in this world
will be limited and after that we return to Allah to live life in the afterlife
Then learn from one's own life
experience and the life experiences of others that, throughout life, people are
not always happy to be happy, and not people are always going to have trials
and suffering in a difficult life. On the other hand, people who are in the
truth are not always right, they are always wrong. It is not impossible that
people who always commit violations can return to being good people.
In a history it was said that the
Prophet SAW once said, If all humans had become good people, Allah would surely
bring people who would make mistakes and repent. Allah is pleased with those
who repent.
So the direction of our
conversation about God's destiny, is that we understand that our lifeline has a
destiny. So we have to deal with it wisely, when we experience a disaster,
don't be dissolved in sadness. It's not despicable for people to get into a disaster
because it's a trial in life that is predestined to have a destiny. As an
Islamic person, what is taught by guidance from Allah and the Messenger when
experiencing a disaster, one must be patient. The Prophet guided him with
prayer, so that in our daily lives we often pray "Allahummaj-'alnii
syakuuran, waj-'alnii shabuuran, waj-'alnii fii 'ainii shaghii-ran, wafii
a'yunin-naasi kabiiran".
God willing, if we continue to make
it a habit, we don't realize that prayer will become our soul, try it.
Likewise, when facing a life that
is always successful, happy, sufficient, we are also living our destiny like
this, so that Islamically we are protected from being arrogant, that is, as if
success is due to our intelligence and tenacity, it is not. Everything happens
because of Allah's permission. Don't let us be destined to be ungrateful and
arrogant people. Just like that, God willing, we will limit the discussion,
hopefully this little bit can benefit us all.
Berbuat adildalam hal sebagai saksi dalam suatu
peristiwa, dalam keadaan normal bisa berjalan dengan baik. Tapi dalam situasi
dimana orang yang membutuhkan saksi kita, itu bermasalah terhadap kita, orang
nya kelakuannya memang buruk pernah pula menyakiti hati kita. Atau yang
bermasalah masih ada hubugan kerabat dengan kita, akan timbul konflik
kepentingan.
Tapi apapun itu hukum adalah hukum
yang harus ditegakkan. Beruntungnya kita orang Islam punya pegangan peraturan
dari Allah Swt dan juga hadist hadist seperti kisah Rasulullah SAW dalam
menegakkan keadilan harus jadi pegangan umat Islam, khususnya yang menjadi
penegak hukum di negeri ini. Karena,dalam agama Islam untuk berbuat adil tidak
pernah pandang bulu,
Wahai orang-orang yang beriman
jadilah kalian orang yang menetapi karena Allah orang yang menjadi saksi dengan
adil. Jangan mendorong dari kalian marahnya kaum kelakuan kaum atas bahwa tidak
berbuat adil kamu sekalian. Adapun berbuat adil mendekatkan diri kepada
ketaqwaan, dan takutlah pada Allah, Sesungguhnya Allah maha waspada dengan
apa-apa mengerjakan kamu sekalian.(QS. Al-Ma'idah Ayat 8)
Jadilah kamu sebagai penegak
keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah
kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah
kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Demi jiwa Muhammad yang berada di
tangan-Nya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, aku akan memotong
tangannya." (HR. Bukhari )
Dari hadist tersebut kita bisa
ikuti riwayatnya. Ketika itu Urwah bin az-Zubair, salah seorang sahabat Nabi,
bercerita kepada Az-Zuhri tentang kejadian yang ia saksikan sewaktu Nabi hidup.
Pada waktu itu, Urwah melihat bahwa seorang wanita bernama Fatimah
al-Makhzumiyyah, putri dari pemimpin suku Al-Makhzumi, pada hari Fathu Mekah,
itu kedapatan mencuri.
Kaumnya minta tolong kepada Usamah
bin Zaid yang diketahui dekat dengan Nabi.
Ayahnya Usamah, Zaid bin Haritsah,
adalah anak angkat Nabi. Karena itu mereka menemui Usamah dan memintanya agar
bisa menolong putri kepala suku itu agar nantinya tidak akan dihukum oleh Nabi.
Singkat cerita Usamah mau beramal solih sehingga datanglah Usamah menemui Nabi
dengan menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya. Mendengar apa yang
dikatakan Usamah, wajah Nabi berubah marah.
Nabi bersabda, ''Apakah engkau akan
mempersoalkan ketentuan hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah?'' Usamah
kemudian berkata, ''Maafkan aku ya Rasul Allah.''
Rasulullah SAW berdiri di depan
para sahabatnya sambil berkhutbah dengan terlebih dahulu memuji Allah karena
Dialah pemilik segala pujian: ''Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum
kalian semua adalah disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri. Ketika salah
seorang yang dianggap memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi mencuri,
mereka melewatkannya atau tidak menghukumnya. Namun, ketika ada seorang yang
dianggap rendah, lemah dari segi materi, ataupun orang miskin yang tidak
memiliki apa-apa, dan orang-orang biasa, mereka menghukumnya. Ketahuilah, demi
Zat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaan-Nya, seandainya Fatimah putri
Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.'' (HR Bukhari, No. 4.304).
Nabi ingin mengajarkan kepada umat
manusia untuk tidak membeda-bedakan satu orang dengan yang lainnya dalam hukum.
Semua orang sama, tidak ada yang kebal hukum. Karena, pembedaan dalam hukum
merupakan sumber kehancuran umat-umat sebelum kita. Krisis ekonomi
berkepanjangan, bangsa yang selalu dirundung persoalan, gejolak sosial yang
hebat, merupakan imbas dari adanya hukum yang tidak adil. Hukum harus menjadi
hukum, ia harus mengenai siapa pun yang terkait dengannya. Ini yang diterap
oleh Nabi Muhammad SAW dengan tujuan mencapai keadilan yang haq senantiasa
sesuai petunjuk Allah.
"Sesungguhnya telah
membinasakan umat sebelum kalian, ketika di antara orang-orang terpandang yang
mencuri, mereka dibiarkan (tidak dikenakan hukuman). Namun ketika orang-orang
lemah yang mencuri, mereka mewajibkan dikenakan hukuman hadd. Demi jiwa
Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri,
aku akan memotong tangannya." (HR. Bukhari no. 4304 dan Muslim no. 1688
“Sesungguhnya yang telah
membinasakan umat sebelum kalian adalah jika ada orang terhormat dan mulia di
antara mereka mencuri, mereka tidak menghukumnya. Sebaliknya jika orang
rendahan yang mencuri, mereka tegakkan hukuman terhadapnya. Demi Allah, bahkan
seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan
memotong tangannya!”.
Tidak ada yang berubah pada
ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Wanita dari keluarga yang terhormat itu tetap
harus menjalani hukuman potong tangan.
Aisyah RA istri Rasulullah saw
menuturkan, “Wanita itu kemudian bertobat , memperbagus tobatnya, dan menikah.
Ia pernah datang dan menyampaikan hajatnya kepada Rasulullah.”
Setelah itu, Nabi menyuruh untuk
memotong tangan Fatimah al-Makhzumiyyah tersebut. Dan setelah pelaksanaan
hukuman itu selesai, Nabi menyatakan bahwa tobatnya telah diterima oleh Allah.
Dan, perempuan itu menjalani hidupnya secara normal, menikah, dan bekerja
seperti biasa. Hingga suatu ketika ia datang kepada Aisyah untuk mengajukan
suatu kebutuhan pada Nabi dan beliau menerimanya.
Kita berkeyakinan andai negeri ini
punya pendekar-pendekar hukum yang didalam jiwa terpateri ilmu dari Allah dan
RasulNya, tidak nanti mereka menghukumi secara hawa nafsu, Insya Allah negeri
kita bisa damai dan tentram. Siapa tahu, mudah mudahan.
Doing justice in terms of being a witness in an event, under normal circumstances can work well. But in situations where people need our witnesses, that's a problem for us, people whose behavior is bad have also hurt us. Or those with problems still have relatives with us, conflicts of interest will arise.
But whatever the law is a law that must be upheld. Luckily we Muslims have a handle on rules from Allah SWT and also hadiths such as the story of Rasulullah SAW in upholding justice must be a guideline for Muslims, especially those who become law enforcers in this country. Because, in Islam, to do justice is never discriminating,
O you who believe, be of you who are faithful, because Allah is a witness in justice. Don't push the anger of the people over the behavior of the people that you don't do justice to all of you. As for doing justice, draw closer to piety, and fear Allah. Indeed, Allah is aware of what you are doing. (QS. Al-Ma'idah Verse 8)
Be ye upholders of justice because of Allah, (when) bear witness fairly. And let not your hatred of a people encourage you to act unjustly. Be fair. Because (fair) is closer to piety. And fear Allah, verily, Allah is Aware of what you do.
For the sake of Muhammad's soul in His hands, if Fatimah the daughter of Muhammad steals, I will cut off her hands." (Narrated by Bukhari no. 4304 and Muslim no. 1688)
From this hadith we can follow its history. At that time Urwah bin az-Zubair, one of the Prophet's companions, told Az-Zuhri about the events he witnessed when the Prophet was alive. At that time, Urwah saw that a woman named Fatimah al-Makhzumiyyah, the daughter of the leader of the Al-Makhzumi tribe, was caught stealing on the day of Mecca's Fathu.
His people asked for help from Usama bin Zaid who was known to be close to the Prophet.
Usamah's father, Zaid bin Harithah, was the adopted son of the Prophet. Because of that they met Usama and asked him to help the daughter of the chief of the tribe so that later the Prophet would not punish him. In short, Usamah wanted to do good deeds so that Usamah came to meet the Prophet by telling him the purpose and purpose of his arrival. Hearing what Usama said, the Prophet's face turned angry.
The Prophet said,''Are you going to question the legal provisions that have been established by Allah?'' Usamah then said,''Forgive me O Messenger of Allah.''
Rasulullah SAW stood in front of his friends while preaching by first praising Allah because He is the owner of all praise: ''Indeed, the destruction of the peoples before you all was caused by their own actions. When someone who is considered to have high rank and position steals, they either skip it or don't punish them. However, when there is someone who is considered lowly, weak from a material point of view, or a poor person who has nothing, and is an ordinary person, they punish him. Know, for the sake of the Substance in whose power Muhammad's soul is in His power, if Fatimah the daughter of Muhammad steals, I will cut off her hands.''
The Prophet wanted to teach mankind not to discriminate between one person and another in law. Everyone is equal, no one is above the law. Because, differences in law are the source of the destruction of the people before us. The prolonged economic crisis, the nation which is always dogged by problems, the great social turmoil, is the result of the existence of unfair laws. Law has to be law, it has to be about whoever is related to it. This was implemented by the Prophet Muhammad SAW with the aim of achieving fair justice always according to God's instructions.
From 'Urwah bin Zubair, he said that the Prophet SAW once preached and said,
"Indeed, it has destroyed the people before you, when among the respected people who steal, they are left unpunished. But when weak people steal, they oblige to be subject to hadd punishment. By the soul of Muhammad who is in His hands, if Fatimah the daughter of Muhammad stole, I will cut off her hand." (Narrated by Bukhari no. 4304 and Muslim no. 1688
There is a woman who has stolen. He came from a respectable and respected family from Bani Makhzum.
Because of his actions, he also had to be punished according to the rules applied at that time, namely by cutting off his hands. However, the woman's people and family objected. Because of that, they made every effort to forgive the woman and cancel the punishment of cutting off her hands.
After that, the Prophet ordered to cut off Fatimah al-Makhzumiyyah's hand. And after the execution of the sentence was completed, the Prophet declared that his repentance had been accepted by Allah. And, the woman lived her life normally, married and worked as usual. Until one day he came to Aisyah to submit a need to the Prophet and he accepted it.
We believe that if this country had legal warriors whose souls were imbued with knowledge from Allah and His Messenger, they would not judge them based on lust, God willing, our country would be peaceful and peaceful. Who knows, hopefully.