Sunday, November 23, 2025

Kesombongan yang Membinasakan – Pelajaran dari Walid bin al-Mughirah untuk Umat Hari Ini”

 




Cek Mukena Travelling Premium 2in1 jumbo armani silky set sejadah printing dengan harga Rp269.000. Dapatkan di Shopee sekarang!

 


Kesombongan yang Membinasakan – Pelajaran dari Walid bin al-Mughirah untuk Umat Hari Ini”



Pengantar

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, umat Islam sedang menghadapi sebuah penyakit yang lebih berbahaya daripada wabah fisik: kesombongan hati. Banyak orang shalat, puasa, berzakat, namun hati mereka tidak pernah tunduk. Ada yang merasa ibadahnya paling benar, ada yang merasa derajatnya lebih tinggi dari orang lain, ada yang merasa bisa selamat hanya dengan amal dahulu… seolah dirinya memiliki jaminan.

Umat semakin pintar, tetapi tidak semakin beradab.
Semakin banyak ilmu, namun semakin sedikit kerendahan hati.
Semakin banyak dakwah, tetapi semakin sedikit kesadaran diri.

Padahal, musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan kesombongan dalam dadanya sendiri.

Kesombongan inilah yang membuat iblis terkutuk.
Kesombongan pula yang membuat banyak kaum sebelum kita dibinasakan.
Dan dalam Al-Qur’an, Allah menghadirkan contoh yang sangat tajam melalui seorang tokoh Quraisy:
Walid bin al-Mughirah—tokoh berpengaruh, pintar, kuat, dan dihormati… tetapi hatinya hancur oleh kesombongan.


Cek Karpet Masjid roll Sajadah Mushola Turki Style Tebal lebar 4 X 30 Meter Karpet Premium GREEN KODE 01 dengan harga Rp49.999.999. Dapatkan di Shopee sekarang!



Kisah Walid bin al-Mughirah: Ketika Kesombongan Menjadi Bencana

Ketika Rasulullah ﷺ membacakan wahyu tentang penjaga neraka yang berjumlah 19 malaikat, Walid tidak gentar. Ia malah tertawa sinis dan berkata:

"Biarkan 10 malaikat untukku, dan kalian hadapi sisanya!"

Ucapan yang menunjukkan kesombongan tanpa akal.
Satu malaikat saja mampu membalik bumi, sementara ia dengan pongah menantang sepuluh.

Namun di balik kesombongan itu, Walid sesungguhnya tahu bahwa Al-Qur’an itu benar. Allah sendiri mengabadikan pengakuan batinnya:

إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ
“Sungguh dia memikirkan dan menimbang-nimbang.”
(QS. Al-Muddatsir: 18)

Dia tahu kebenaran… tetapi menolaknya karena takut kehilangan kedudukan.

Allah mengecamnya dengan ayat-ayat yang keras:

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا
“Biarkan Aku (yang mengurus) orang yang Aku ciptakan sendirian…”
(Al-Muddatsir: 11)

Hingga Allah menjelaskan sifat jahatnya:

ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ، ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ
“Lalu ia bermuka masam dan cemberut, kemudian berpaling dan menyombongkan diri.”
(Al-Muddatsir: 22–23)

Ia berpaling dari kebenaran bukan karena tidak mengerti, tetapi karena kesombongan lebih ia cintai daripada ketundukan kepada Allah.


Hadis yang Berkaitan dengan Kesombongan

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.”
(HR. Muslim)

✦ Dan Allah mencela orang yang sombong menolak ayat:

سَأُصْلِيهِ سَقَرَ
“Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar (neraka).”
(Al-Muddatsir: 26)

Hadis dan ayat-ayat ini menjadi gambaran tepat sifat Walid.


Apa Pelajaran untuk Umat Hari Ini?

1. Jangan merasa lebih hebat dari orang lain

Karena Allah tidak melihat amal sebesar apa, tetapi hati seperti apa.

2. Jangan bangga dengan ibadah sampai meremehkan orang lain

Seorang ahli ibadah pun bisa binasa bila ia sombong, sementara pendosa bisa diampuni jika ia rendah hati.

3. Jangan menolak nasihat karena gengsi

Walid bin al-Mughirah tahu kebenaran, namun harga dirinya lebih tinggi daripada hidayah.

Berapa banyak orang hari ini yang menolak kebenaran bukan karena tak paham, tapi karena ego?

4. Bangunlah dengan jiwa yang tunduk

Jangan merasa kuat, karena manusia bukan apa-apa tanpa rahmat Allah.


Nasihat Penutup

Saudaraku,
Kesombongan itu seperti api kecil yang dibiarkan menyala dalam dada.
Ia pelan-pelan membakar iman… tanpa disadari.

Betapa banyak orang yang terlihat baik, tetapi rusak dari dalam.
Betapa banyak orang yang berilmu, tetapi tidak tersentuh kebenaran.
Betapa banyak orang yang tahu jalan Allah, tetapi memilih jalan lain… seperti Walid.

Karena itu, marilah kita meluruskan hati.
Lembutkan diri.
Berhentilah merasa paling benar, paling ibadah, paling berjuang.

Allah tidak menilai dari banyaknya amal, tapi dari tulus dan tunduknya hati.

Semoga kita dijauhkan dari sifat Walid bin al-Mughirah,
dan diberikan hati yang bersih, rendah hati, serta selalu siap menerima kebenaran.

اللهم طهر قلوبنا من الكبر والرياء، وارزقنا صدق التوبة وحسن الخاتمة.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Thursday, November 13, 2025

Naik Derajat di Surga dengan Hafalan Al-Qur’an




Cek Rauna Pride - Parade Gamis 05 Gamis Cotton Gamis Wanita Dewasa Dress Muslimah dengan harga Rp229.900. Dapatkan di Shopee sekarang! PLEASE  CLICK HERE





Naik Derajat di Surga dengan Hafalan Al-Qur’an

🌿 Pengantar

Setiap huruf dari Al-Qur’an yang kita baca membawa cahaya ke dalam hati dan pahala yang tiada tara. Namun, bagi mereka yang menghafal, menjaga, dan mengamalkan isi Al-Qur’an, Allah ﷻ menjanjikan sesuatu yang lebih agung — derajat yang tinggi di surga, setinggi banyaknya hafalan yang mereka miliki.

Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar menumpuk ayat dalam ingatan, tetapi menanamkan kalam Allah dalam hati, menjadikannya cahaya dalam hidup, dan penuntun di akhirat.


📜 Dalil dari Hadis Rasulullah ﷺ

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن صحيح.

Artinya:

“Akan dikatakan kepada orang yang membaca dan menghafal Al-Qur’an: ‘Bacalah dan naiklah (derajat demi derajat), dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu di surga berada pada ayat terakhir yang engkau baca.’
(HR. Abu Dawud no. 1464, At-Tirmidzi no. 2914 — hadis hasan sahih)


💎 Makna yang Dalam

Hadis ini menjelaskan bahwa setiap ayat yang dihafal dan diamalkan akan menjadi tangga menuju tempat yang lebih tinggi di surga.
Semakin banyak hafalan dan semakin tulus amalnya, semakin tinggi pula derajatnya di sisi Allah.

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

“Makna ‘bacalah dan naiklah’ adalah bahwa jumlah ayat yang dibaca menjadi sebab bertambahnya derajat di surga, dan derajatnya sesuai dengan jumlah hafalannya di dunia.”
(Syarh Shahih Muslim, 6/84)


🌺 Hafalan yang Hidup dalam Amal

Namun, hafalan tanpa amal ibarat taman tanpa air. Orang yang benar-benar disebut “ash-habul Qur’an” bukan hanya yang hafal lafaznya, tetapi juga yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam akhlak, ibadah, dan kesabaran hidupnya.

Allah ﷻ berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبَابِ
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang berakal mengambil pelajaran.”
(QS. Shad: 29)


🌿 Penutup

Setiap ayat yang engkau hafal hari ini akan menuntunmu naik satu tangga di surga kelak. Maka jangan biarkan hari berlalu tanpa menambah hafalan, walau hanya satu ayat.

Tanamkan niat bukan sekadar menjadi hafiz di dunia, tetapi menjadi penghuni surga tertinggi di sisi Allah ﷻ.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mendengar panggilan mulia itu di akhirat nanti. Aamiin. 


NB:

Kalau Anda berkenan, tolong lah memberi kan komentar dibawah, bila ini manfaat sampai kan pada kerabat handai taulan. Atau memberi kan saran buat blog ini agar lebih manfaat buat Ummat pada umumnya. Kami yakin InsyaAllah Anda akan mendapatkan balasan dengan pahala besar di sisi Alloh SWT. 


Wednesday, November 12, 2025

Jadilah Wali Allah yang Haq — Hidup Tanpa Takut, Mati Tanpa Sesal






Cek Veselka Mukena Dewasa Hawwa Signature Prayer Set Sajadah Travelling Hampers Seserahan Pernikahan Mukena Motif Printing Premium dengan harga Rp800.829. Dapatkan di Shopee sekarang! 



Pendahuluan

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia, manusia sering kali diliputi rasa takut dan kesedihan. Takut akan masa depan, takut kehilangan, takut gagal, sedih karena musibah, kecewa oleh manusia, dan resah oleh keadaan yang tak menentu. Namun Allah ﷻ memberikan sebuah ketenangan abadi dalam firman-Nya yang penuh kasih, dalam Surah Yūnus ayat 62–64:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati.
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.
Bagi mereka berita gembira di kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Itulah kemenangan yang besar.”

(QS. Yūnus: 62–64)


Siapakah Wali Allah Menurut Ibnu Katsir?

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa wali-wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Mereka mencintai Allah, menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidupnya.

Ibnu Katsir menegaskan:

“Setiap orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, maka dia adalah wali Allah.”

Artinya, kewalian bukanlah gelar khusus bagi orang tertentu, bukan karena keturunan, pakaian, atau keajaiban.
Tetapi karena keimanan yang kokoh dan ketakwaan yang konsisten.


Tidak Takut dan Tidak Bersedih

Allah menegaskan dua jaminan bagi wali-wali-Nya:

  1. Tidak takut terhadap masa depan.
    Mereka yakin bahwa segala yang menanti telah diatur oleh Allah dengan sebaik-baiknya.
  2. Tidak bersedih atas masa lalu.
    Mereka ridha dengan takdir yang sudah berlalu, dan tidak menyesal berlebihan atas apa yang hilang dari dunia.

Inilah ketenangan sejati: hidup dengan iman dan tawakal, bukan dengan ketakutan dan kegelisahan.
Wali Allah hidup dalam cahaya keyakinan, bahwa segala urusan berada dalam genggaman Allah.


Berita Gembira di Dunia dan Akhirat

Ibnu Katsir menafsirkan ayat:

لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Bagi mereka berita gembira di kehidupan dunia dan di akhirat.”

Menurut beliau, busyra (kabar gembira) di dunia adalah ru’yā ṣāliḥahmimpi baik yang menjadi tanda cinta Allah kepada hamba-Nya.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

الرؤيا الصالحة جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة
“Mimpi yang baik adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.”
(HR. al-Bukhari)

Sedangkan busyra di akhirat, kata Ibnu Katsir, ialah ucapan para malaikat kepada para wali ketika ajal menjemput mereka:

لَا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Janganlah kamu takut dan jangan bersedih hati, bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
(QS. Fuṣṣilat: 30)

Sungguh, kabar gembira yang menenangkan hati, baik saat masih hidup di dunia maupun ketika ruh dipanggil menuju kehidupan abadi.


Janji Allah yang Tidak Berubah

لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ
“Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa janji Allah kepada para wali-Nya pasti benar, tidak akan diubah dan tidak akan dikhianati.
Mereka telah dijamin oleh Allah dengan pertolongan, kemuliaan, dan surga sebagai balasan atas keteguhan iman dan takwanya.

ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Itulah kemenangan yang besar.”

Kemenangan yang sesungguhnya bukanlah harta atau kedudukan,
tetapi ridha Allah dan kebahagiaan yang kekal di sisi-Nya.


Pelajaran untuk Kita

  1. Menjadi wali Allah bukanlah mustahil.
    Setiap mukmin yang menjaga iman dan takwanya berpeluang menjadi kekasih Allah.
    Bukan karena keajaiban, tapi karena ketulusan ibadah dan ketaatan.

  2. Hilangkan ketakutan dan kesedihan berlebihan.
    Orang yang dekat dengan Allah tidak mudah panik oleh dunia, sebab hatinya tertambat kepada Zat yang Maha Mengatur.

  3. Ketenangan sejati datang dari iman.
    Dunia bisa menawarkan banyak hiburan, tetapi hanya dzikir dan takwa yang menghadirkan kedamaian yang sesungguhnya.


Penutup

Menjadi wali Allah berarti hidup dalam naungan cinta dan penjagaan-Nya.
Tidak ada ketakutan terhadap masa depan, tidak ada kesedihan terhadap masa lalu.
Yang ada hanyalah ketenangan, keyakinan, dan kebahagiaan yang mengalir dari hati yang mengenal Tuhannya.

اللهم اجعلنا من أوليائك الصالحين، الذين لا خوف عليهم ولا هم يحزنون.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk wali-wali-Mu yang saleh, yang tidak takut dan tidak bersedih.”



Luka di Balik Jubah Kesalehan






Cek Jaket Wanita Muslimah - Hijacket Elektra Original For Hijaber | Jaket Syari Panjang Wanita dengan harga Rp223.000. Dapatkan di Shopee sekarang! 



Wahai Pencuri Berjubah Suci, Apakah Engkau Tidak Takut kepada Allah? 

Luka di Balik Jubah Kesalehan

Kita hidup di zaman penuh ironi. Saat masjid dipenuhi suara takbir, di ruang-ruang kekuasaan justru terdengar suara tipu daya. Saat seseorang mengaku Muslim, menunaikan salat lima waktu, bahkan menyuarakan ayat-ayat suci, ternyata tangan yang sama mencuri, memanipulasi, dan mengkhianati kepercayaan rakyat.

Bagaimana mungkin seseorang berdiri di hadapan Allah, tetapi masih berani berdusta kepada makhluk-Nya?
Bagaimana mungkin seorang yang mengaku Muslim justru menjadi pelaku utama dari kerusakan yang nyata?

Salat, Tiang Agama yang Diabaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ"
“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.”
(HR. Tirmidzi no. 2616, hasan sahih)

Salat adalah fondasi keislaman seseorang. Bila salat tegak, maka agama tegak. Bila salat runtuh, maka runtuh pula agamanya.

Tapi, mengapa masih ada orang yang rajin salat, namun tetap berani mencuri? Di mana efek dari salatnya?

Salat Seharusnya Mencegah Kemungkaran

Allah menegaskan:

"إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ"
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah dalam salat itu lebih besar (pahalanya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Salat bukan sekadar gerakan tubuh, tapi seharusnya menjadi benteng bagi jiwa. Ia menanamkan rasa malu kepada Allah, rasa takut melanggar batas. Namun, bagi sebagian orang, salat hanya rutinitas kosong, tanpa pengaruh dalam hati dan perbuatan.


Cek Andini Outfit - One Set Remaja Celana Kulot (Blouse Wanita + Loose Pants + Jilbab Paris Jadul) LP046 dengan harga Rp165.169. Dapatkan di Shopee sekarang! 


Apakah Mereka Tidak Tahu Allah Maha Melihat?

Allah Ta'ala berfirman:

"اللَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَيُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ"
“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur.”
(QS. Al-Baqarah: 255)

"وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا"
“Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya.”
(QS. Al-An’am: 59)

Bagaimana mungkin seseorang masih berani menipu rakyat, mengakali hukum, dan menyalahgunakan jabatan, padahal tahu bahwa Allah tidak pernah lengah?

Ihsan: Ibadah Seolah Melihat Allah

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan makna ihsan:

"أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ"
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
(HR. Muslim, no. 8)

Ihsan adalah puncak keimanan—merasakan kehadiran Allah dalam setiap amal. Bila seseorang benar-benar sadar bahwa Allah sedang melihat, niscaya ia akan malu untuk berbuat maksiat. Namun mereka yang mencuri, memanipulasi, dan berkhianat, berarti telah hilang rasa ihsannya.

Apakah Mereka Yakin dengan Hari Hisab?

Allah berfirman:

"وَنَضَعُ ٱلْمَوَٰزِينَ ٱلْقِسْطَ لِيَوْمِ ٱلْقِيَـٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا ۖ"
“Kami akan tegakkan timbangan keadilan pada hari kiamat. Maka tidak seorang pun dirugikan sedikit pun.”
(QS. Al-Anbiya: 47)

Jika mereka yakin bahwa semua amal akan ditimbang, lalu mengapa masih berani menumpuk dosa yang tak terbendung?

Rasulullah bersabda:

"إنَّ أقربَ الناسِ منِّي مجلسًا يومَ القيامةِ أحاسنُهم أخلاقًا"
“Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi, no. 2018)

Orang baik akan mulia di akhirat. Sedangkan para perusak yang berselimut jubah agama akan menjadi saksi keburukan bagi diri mereka sendiri.

Penutup: Sadar Sebelum Ajal Menjemput

Wahai para pemilik kuasa...
Wahai yang berpakaian rapi namun hatinya penuh kerakusan...
Tidakkah kalian malu kepada Allah?

Jangan tunggu hingga ajal menjemput saat tangan kalian masih mencengkeram harta haram. Jangan tunggu ketika rakyat menangis dan doa mereka menembus langit, memohon keadilan dari Dzat yang Maha Adil.

"وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًۭا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍۢ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ"
“Bertakwalah kepada hari di mana kamu akan dikembalikan kepada Allah. Lalu setiap jiwa akan diberi balasan atas apa yang ia kerjakan, dan mereka tidak akan dizalimi.”
(QS. Al-Baqarah: 281)

Jika engkau benar Muslim, buktikan dengan jujur. Jika engkau takut neraka, buktikan dengan taubat.

Dan bagi kita semua: Jangan tepuk tangan bagi pencuri. Jangan ikut merendahkan agama dengan memuliakan kemunafikan. Bangkitlah bersama kejujuran, agar rahmat Allah kembali menyelimuti negeri ini.

Saturday, November 8, 2025

Rahasia Pengobatan Herbal: Cara Paham Herbalis untuk Kesehatan Menyeluruh







Cek Jaket Wanita Muslimah - Hijacket Elektra Original For Hijaber | Jaket Syari Panjang Wanita dengan harga Rp223.000. Dapatkan di Shopee sekarang! 




Pengantar


Kesehatan bukan hanya tentang tubuh yang tidak sakit, tapi juga tentang keseimbangan antara pikiran, hati, dan ruhani. Di tengah dunia modern yang serba kimia, pengobatan herbal hadir membawa kesejukan dan kembali mengingatkan kita pada fitrah: bahwa setiap tanaman yang tumbuh di bumi ini memiliki hikmah dan manfaat bagi manusia.


Mengapa Kita Harus Memahami Cara Paham Herbalis

Seorang herbalis sejati percaya bahwa makanan sehari-hari seharusnya sudah menjadi obat. Sementara obat herbal hanya berfungsi menyempurnakan nutrisi yang kurang.

Namun sayangnya, banyak orang makan hanya berdasarkan selera, bukan kebutuhan tubuh. Akibatnya, nutrisi tidak seimbang dan kesehatan mulai terganggu.

Pengobatan herba adalah pengobatan tertua di dunia. Lebih dari 70% penduduk bumi masih menggunakannya. Ilmu modern kini menguatkan tradisi tersebut dengan penelitian ilmiah yang membuktikan khasiat herba dalam membantu sistem tubuh bekerja alami.


> Itulah sebabnya, dalam pengobatan herba sering muncul fase yang disebut Krisis Penyembuhan — atau Direction of Cure.


Saat itu tubuh sedang membuang racun, memperbaiki jaringan, dan menyeimbangkan sistem dalamnya.

Bukan tanda bahaya, tapi justru tanda bahwa tubuh sedang bekerja.

Bahan Dasar

Alami (tanaman, akar, buah)

Sintetis (bahan kimia)

Efek pada Tubuh

Probiotik – memperkuat sistem tubuh

Toksin – menekan sistem tubuh


Fokus Pengobatan

Mengobati penyebab (causative)

Mengobati gejala (symptomatic)


Efek Lanjut

Krisis penyembuhan (DOC)

Efek samping

Sifat Jangka Panjang

Konstruktif (membangun kesehatan)

Destruktif (melemahkan fungsi tubuh)



💚 Penyembuhan Secara Menyeluruh (Holistik)


Pengobatan dengan paham herbalis tidak hanya menargetkan fisik, tetapi juga mental, emosi, dan spiritual. Sebab, kesehatan sejati bukan hanya tubuh yang segar, tapi juga hati yang tenang dan pikiran yang jernih.

Seorang herbalis akan mengarahkan pasien untuk memperbaiki pola makan, memperbaiki cara berpikir, serta memperbanyak dzikir dan doa agar sistem tubuh kembali selaras dengan kehendak Allah.


Penutup

Mari kita renungkan firman Allah:

يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ

“Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”

(QS. An-Nahl: 69)


Pengobatan herba adalah jalan kembali ke alam dan kembali ke fitrah.

Ia bukan hanya mengobati sakit, tapi menyucikan tubuh, pikiran, dan hati.

Mari kenali kembali herba, pahami rahasianya, dan gunakan dengan ilmu dan keimanan.


📞 Informasi & Konsultasi Herba:

WA/SMS: 0852-9527-0482

📺 Channel YouTube: Nasihat Islami Barakallah



Keutamaan Salat Sunnah 12 Rakaat: Amal Ringan, Balasan Surga


Cek [ready stock] Gamis set French Khimar  ELIZA | ABAYA Set Wolpeach exclusive RANIKO dengan harga Rp269.000. Dapatkan di Shopee sekarang! 



Judul: Keutamaan Salat Sunnah 12 Rakaat: Amal Ringan, Balasan Surga

🌿 Pengantar

Setiap muslim mendambakan surga, tempat kembalinya orang-orang beriman dengan penuh kebahagiaan. Namun, perjalanan menuju surga bukanlah hal yang mudah. Allah menetapkan kewajiban salat lima waktu sebagai tiang agama. Namun, sering kali dalam salat wajib, kita lalai dari kekhusyukan, tergesa-gesa, atau pikiran melayang entah ke mana.

Rasulullah ﷺ yang penuh kasih sayang terhadap umatnya, memberikan jalan tambahan bagi kita. Jalan yang ringan, tetapi penuh pahala dan manfaat. Yaitu dengan salat sunnah rawatib 12 rakaat setiap hari. Amalan ini beliau jaga sepanjang hidupnya, bahkan beliau menjanjikan balasan yang luar biasa: sebuah rumah di surga.

Betapa besar nikmat Allah. Hanya dengan beberapa rakaat tambahan, seorang hamba bisa meraih ganjaran yang tak ternilai.


🌿 Dalil Tentang 12 Rakaat Sunnah

Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ»

“Barangsiapa yang mengerjakan salat sunnah sebanyak 12 rakaat dalam sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di surga.”
(HR. Muslim no. 728)

🌿 Rincian 12 Rakaat Sunnah

  • 4 rakaat sebelum Zuhur
  • 2 rakaat sesudah Zuhur
  • 2 rakaat setelah Maghrib
  • 2 rakaat setelah Isya
  • 2 rakaat sebelum Subuh


Waktu Salat Salat Sunnah Rawatib Jumlah Rakaat
Sebelum Zuhur Qabliyah Zuhur 4 rakaat
Sesudah Zuhur Ba’diyah Zuhur 2 rakaat
Sesudah Maghrib Ba’diyah Maghrib 2 rakaat
Sesudah Isya Ba’diyah Isya 2 rakaat
Sebelum Subuh Qabliyah Subuh 2 rakaat

Total: 12 Rakaat


🌿 Keutamaan Salat Sunnah 12 Rakaat

  1. Dibangunkan rumah di surga — hadiah besar yang dijanjikan Rasulullah ﷺ.
  2. Penyempurna salat wajib — menutup kekurangan yang tak bisa dihindari dalam salat fardhu.
  3. Menjaga hati dari kelalaian — membuat hati tetap hidup dalam zikrullah.
  4. Tanda cinta kepada Rasulullah ﷺ — karena sunnah ini beliau jaga hingga akhir hayat.

Khusus dua rakaat sebelum Subuh (qabliyah Fajr), Rasulullah ﷺ bersabda:

«رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا»
“Dua rakaat sunnah Fajr lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
(HR. Muslim no. 725)


🌿 Penutup



Dalam hiruk-pikuk dunia, kita sering lelah mengejar rumah megah di bumi. Namun, Rasulullah ﷺ menawarkan rumah di surga… dengan harga yang sangat ringan: 12 rakaat sunnah setiap hari.

Inilah kesempatan emas yang tidak boleh kita sia-siakan. Amal kecil, tetapi balasannya kekal. Amal ringan, tetapi buahnya luar biasa.

Mari kita jaga amalan ini dengan istiqamah. Semoga Allah membangunkan rumah di surga bagi kita semua, dan menempatkan kita bersama Nabi Muhammad ﷺ di tempat yang paling mulia. 

Waktu Salat Salat Sunnah Rawatib Jumlah Rakaat
Sebelum Zuhur Qabliyah Zuhur 4 rakaat
Sesudah Zuhur Ba’diyah Zuhur 2 rakaat
Sesudah Maghrib Ba’diyah Maghrib 2 rakaat
Sesudah Isya Ba’diyah Isya 2 rakaat
Sebelum Subuh Qabliyah Subuh 2 rakaat

Total: 12 Rakaat

Thursday, November 6, 2025

“Ketika Orang Zalim Menyesal di Hari Kiamat — Renungan QS Asy-Syura:22”

 





Cek [ready stock] Gamis set French Khimar  ELIZA | ABAYA Set Wolpeach exclusive RANIKO dengan harga Rp269.000. Dapatkan di Shopee sekarang


Ketika Orang Zalim Menyesal di Hari Kiamat — Renungan QS Asy-Syura:22

Ayat Al-Qur'an: Surah Asy-Syura Ayat 22

اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ berfirman:

﴿تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌۢ بِهِمْ ۖ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ فِى رَوْضَاتِ ٱلْجَنَّـٰتِ ۖ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ﴾

Artinya: "Kamu akan melihat orang-orang yang zalim itu ketakutan karena (akibat) dari apa yang telah mereka kerjakan, dan (azab itu) pasti menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh (berada) di taman-taman surga. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Itulah karunia yang besar."
(QS. Asy-Syura: 22)


Penjelasan Ayat

Pada hari kiamat, segala kedustaan manusia akan dibongkar. Orang-orang zalim—yakni mereka yang berbuat kejahatan, kesyirikan, penindasan, fitnah, dan pengingkaran terhadap kebenaran—akan terlihat ketakutan luar biasa. Mereka menyadari bahwa amal jahat mereka tidak akan bisa ditolak, dan azab yang mereka remehkan selama hidup akan benar-benar menimpa mereka.

Bayangkan, di dunia mereka menyebut Rasulullah ﷺ sebagai tukang sihir, orang gila, bahkan berusaha membunuhnya. Padahal Rasulullah telah memberi peringatan akan kedahsyatan hari kiamat. Namun mereka tertipu oleh kesenangan dunia yang fana.

Hari itu, manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar. Tidak ada naungan selain dari Allah. Matahari didekatkan, peluh membanjiri tubuh, dan hari itu berlangsung selama lima puluh ribu tahun lamanya. Semua orang dalam keadaan panik, menyesal, dan terdiam, tak mampu berkata-kata, menunggu keputusan Allah.

Sedangkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka ditempatkan di taman-taman surga. Mereka mendapatkan apa pun yang mereka kehendaki, dengan penuh kemuliaan dan ketenangan. Itulah karunia yang besar yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang taat.


Hadis-Hadis Pendukung

1. Panjang dan Dahsyatnya Hari Kiamat

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ، كَقُرْصَةِ النَّقِيِّ، لَيْسَ فِيهَا عَلَمٌ لِأَحَدٍ

"Manusia dikumpulkan pada hari kiamat di atas tanah putih bersih seperti roti, tidak ada tanda-tanda pengenal di sana untuk seorang pun."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Semua manusia sama, tak ada pangkat, jabatan, atau harta yang dibanggakan. Semua hanya menunggu hasil amalnya.

2. Hari Itu Sepanjang 50.000 Tahun

Allah berfirman:

﴿تَعْرُجُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ﴾

"Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun."
(QS. Al-Ma’arij: 4)

Ini menggambarkan betapa panjang, berat, dan penuh penantian hari itu. Hanya orang yang beriman yang mendapatkan ketenangan.


Zalim Itu Tidak Harus Membunuh – Tapi Mengabaikan Kebenaran

Banyak yang merasa aman karena tak membunuh, tak mencuri. Tapi berapa banyak dari kita yang zalim kepada diri sendiri dan orang lain dengan menolak kebenaran, meninggalkan salat, menghina perintah Allah, atau bahkan mengolok dakwah Nabi Muhammad ﷺ?

Allah berfirman:

﴿وَمَا ظَلَمْنَـٰهُمْ وَلَـٰكِن كَانُوٓا۟ هُمُ ٱلظَّـٰلِمِينَ﴾
"Dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri."
(QS. Az-Zukhruf: 76)


Kemenangan Besar Bagi Orang Beriman

Dalam QS. Asy-Syura:22, Allah menegaskan bahwa "mereka mendapatkan apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka."

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

"Sesungguhnya di surga terdapat apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka mendapatkan keridhaan Allah, tempat kembali yang indah, dan terhindar dari siksa yang mengerikan.


Apakah Kita Tidak Mau Mengambil Pelajaran?

Kita hidup di zaman di mana banyak orang mengulang kesalahan kaum dahulu: menolak peringatan, mengejek dakwah, sibuk dengan dunia, dan menunda taubat.

Padahal Allah telah memberi peringatan dengan begitu jelas. Rasulullah ﷺ sudah mengorbankan segalanya demi menyampaikan kebenaran. Namun sebagaimana di masa lalu, hari ini pun masih ada yang berkata:

“Itu hanya dongeng orang dahulu!”
“Ah, kiamat masih lama!”
“Kami belum siap taat!”

Apakah hati kita sudah terkunci?

Allah berfirman:

﴿فَوَيْلٌۭ لِّلْقَـٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ فِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِينٍۢ﴾
"Maka celakalah mereka yang hatinya keras untuk menerima peringatan Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."
(QS. Az-Zumar: 22)


Penutup: Waktunya Kembali Sebelum Terlambat

Wahai jiwa yang lupa, jangan tunggu kematian menghampiri baru ingin berubah. Jangan tunggu penyesalan, karena penyesalan di akhirat tidak bisa mengubah apa-apa.

Ambillah pelajaran dari kisah orang-orang zalim yang ketakutan pada hari kiamat, dan jadikan dirimu termasuk orang-orang yang beriman dan beramal saleh, agar kelak kita berada di taman-taman surga dan mendapatkan segala yang kita kehendaki dari sisi Allah.

Sebagaimana firman-Nya dalam ayat penutup ini:

﴿ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ﴾
"Itulah karunia yang besar."

Mari kita perbanyak istighfar, dzikir, salat tepat waktu, dan amal kebaikan. Jangan tunda taubat. Dunia wajar dicari tapi bersikap bijaklah, dengan banyak ilmu agama orang akan menjadi bijak. Dunia hanya sebentar, akhirat selamanya, hari yang tak ada ujungnya, jangan sampai menjadi orang tergolong orang penghuni Neraka selamanya.


Monday, October 27, 2025

Memuliakan dan Meramaikan Masjid: Tanda Hidupnya Iman di Hati



Cek Mukena Travel Jumbo Premium Armania Silk 2in1 Set Sejadah Terbaru Alea Series dengan harga Rp269.000. Dapatkan di Shopee sekarang! 



🌿 Memuliakan dan Meramaikan Masjid: Tanda Hidupnya Iman di Hati

Di antara tanda keimanan yang sejati adalah cinta terhadap rumah Allah.
Hati seorang mukmin tidak akan pernah merasa tenang kecuali ketika ia dekat dengan masjid — tempat di mana ruhnya beristirahat, air matanya menetes, dan doanya terangkat ke langit.

Masjid bukan hanya tempat sujud, tapi pusat kehidupan iman, tempat umat ini menegakkan hubungan dengan Allah dan mempersatukan hati di bawah cahaya tauhid.


🌸 Ciri Orang Beriman: Memakmurkan Masjid

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Taubah: 18)

Ayat ini menjelaskan bahwa memakmurkan masjid adalah bukti nyata keimanan.
Tidak setiap orang mau melangkahkan kakinya ke masjid, kecuali mereka yang hatinya hidup dan rindu kepada Allah.
Sementara yang lalai, mereka lebih mencintai dunia daripada rumah Allah yang penuh rahmat.


🌷 Masjid: Rumah Allah yang Dimuliakan

Allah ﷻ juga berfirman:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
“(Cahaya Allah itu) terdapat di rumah-rumah (masjid) yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya; bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. An-Nur: 36)

Memuliakan masjid berarti menjaga kebersihannya, menegakkan salat berjamaah, dan menjadikannya tempat ilmu serta dzikir.
Mereka yang hatinya selalu terpaut dengan masjid akan mendapatkan tempat mulia di sisi Allah.


💧 Hati yang Terikat dengan Masjid

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ
“Dan seorang laki-laki yang hatinya selalu terikat dengan masjid (akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya).”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Betapa mulianya mereka yang hatinya selalu rindu ke masjid.
Di saat banyak orang tertidur lelap, ia berwudhu di tengah dinginnya malam demi salat Subuh berjamaah.
Di saat orang lain sibuk dengan urusan dunia, ia bersegera menuju panggilan adzan — Hayya ‘alash shalah… Hayya ‘alal falah…

Hati mereka tidak bisa jauh dari masjid, karena di situlah mereka merasa paling dekat dengan Rabb mereka.


🌙 Langkah Menuju Masjid: Langkah Menuju Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan beliau juga bersabda:

بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid dalam kegelapan (waktu Subuh dan Isya) dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Setiap langkah menuju masjid bukan sekadar gerakan kaki, tapi tanda cinta kepada Allah yang akan dibalas dengan cahaya dan ampunan di hari kiamat.


🌺 Kesaksian Iman bagi Ahli Masjid

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ
“Apabila kalian melihat seseorang yang terbiasa datang ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia adalah orang beriman.”
(HR. At-Tirmidzi)

Masjid adalah cermin hati.
Mereka yang hidupnya dekat dengan masjid, hidupnya akan penuh berkah.
Sedangkan mereka yang jauh dari masjid, hatinya akan gersang dan gelap dari cahaya iman.


🌾 Menutup dengan Renungan

Masjid adalah tempat yang disucikan oleh Allah.
Di sanalah air mata taubat menetes, di sanalah hati-hati bertemu dalam cinta karena Allah.
Barang siapa memuliakan rumah Allah di dunia, niscaya Allah akan memuliakannya di akhirat.

Maka, wahai saudaraku…
Jangan biarkan masjid sepi dari langkah kita, jangan biarkan sajadahnya berdebu tanpa sujud kita.
Karena di antara penghuni surga nanti, akan ada wajah-wajah yang dahulu senantiasa hadir ke masjid — dengan hati yang rindu kepada Allah setiap waktu.


🌟 Doa Penutup

اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا مُتَعَلِّقَةً بِمَسَاجِدِكَ، وَنَوِّرْ وُجُوهَنَا بِنُورِ الصَّلَاةِ وَالْإِيمَانِ
“Ya Allah, jadikan hati kami selalu terikat dengan masjid-masjid-Mu, dan sinarilah wajah kami dengan cahaya salat dan iman.”

Saturday, October 25, 2025

Kisah Orang Beriman yang Masih Terjerumus ke Neraka

 



Cek Mukena Travel Jumbo Premium
Armania Silk 2in1 Set Sejadah Terbaru Alea Series
dengan harga Rp269.000. Dapatkan di Shopee sekarang! 

Jeritan zhalimun linafsih

Saudaraku yang dirahmati Allah,Tidak ada penderitaan yang lebih mengerikan dari siksa api neraka. Panasnya tidak bisa dibandingkan dengan api dunia, bahkan api dunia hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka. Orang-orang yang masuk ke dalamnya tidak sekadar dibakar, tetapi kehilangan bentuk, kehilangan harapan, kehilangan arah.

Walaupun entah berapa ahkob baru dikeluarkan dari Neraka, untuk mereka ingin berpaling dari neraka, tidak akan bisa tanpa kehendak Allah  — hingga Allah-lah yang memalingkan wajah mereka. Mereka memohon dengan tangis yang tak pernah berhenti. Inilah kisah mereka, orang-orang beriman yang dahulu berbuat zalim kepada diri sendiri, padahal sudah beriman. Mereka disebut dalam Al-Qur’an sebagai golongan ketiga dari umat beriman — “zhalimun linafsih” — orang yang menganiaya diri sendiri.


Hidup di dunia bukan untuk bermain-main. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
(QS. الذاريات: 56)
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Namun, betapa banyak orang beriman yang lalai. Mereka tetap shalat, tetap puasa, tetapi juga menganiaya diri sendiri dengan maksiat, menzalimi orang lain, dan tidak bertaubat. Mereka termasuk yang dimaksud Allah:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
(QS. فاطر: 32)

Golongan “ظالم لنفسه” adalah mereka yang beriman tapi masih bermaksiat. Jika Allah tidak mengampuni, mereka disiksa dahulu di neraka untuk dibersihkan yang lamanya ahkob, nauzubillah men dzalik.



Tiga Golongan Umat Beriman (Surah Fathir: 32)

Allah ﷻ berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ
“Kemudian Kami wariskan Kitab (Al-Qur’an) kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami; maka di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”
(QS. Fathir: 32)

Golongan pertama adalah yang bersegera dalam kebaikan.
Golongan kedua, mereka yang pertengahan: kebaikan dan keburukannya seimbang.
Golongan ketiga — zhalimun linafsih, yakni orang beriman yang melakukan dosa besar, yang melalaikan perintah Allah, yang shalatnya lalai, lisannya tajam, hatinya keras, dan amalnya sering dicampur kezaliman.


Mengapa Mereka Sampai ke Neraka?

Mereka tidak kufur kepada Allah, tetapi lalai dan sombong dalam ketaatan. Mereka tahu kebenaran, tapi menunda taubat. Mereka mengaku cinta Rasulullah ﷺ, tapi membiarkan lidahnya menyakiti sesama.

Nabi ﷺ bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ، فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ، أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka berbuat seperti orang beriman, tapi hatinya kotor. Maka Allah menimpakan hukuman, agar hati mereka disucikan di sana, sebelum akhirnya dikeluarkan oleh rahmat-Nya.

Orang beriman yang “menganiaya diri” ini adalah mereka yang tahu kebenaran, namun tetap mengerjakan dosa besar tanpa taubat. Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ أَحَدُكُمُ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ
(HR. Bukhari-Muslim)
“Tidak seorang pun dari kalian akan masuk surga hanya karena amalnya (saja).”

Jika amal tak sebanding dengan dosa, mereka ditahan di neraka sampai dibersihkan.

Apakah mereka tidak sadar, kalau lamanya hari di akhirat itu berbeda dengan lamanya hari di dunia?  Kebanyakan mereka tidak yakin kalau lamanya sehari di akhirat sebagai seribu tahun bilangan hari di dunia. Ingat ingat lah itu. 

Pedihnya azab dan lamanya masa tinggal

Bayangkan panasnya api neraka. Nabi ﷺ bersabda:

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ
(HR. Muslim)
“Api kalian di dunia ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka Jahanam.”

Andai orang kafir di neraka selama bilangan pasir bumi, itu masih terukur. Tapi bagi yang kafir, musyrik, dan munafik – Allah tegaskan:

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا * خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
(QS. الأحزاب: 64-65)
“Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”



Ketika Neraka Menelan Wujud

Mereka tinggal di dalam neraka dengan lamanya yang tak bisa dibayangkan. Dalam Al-Qur’an disebutkan kata “ahqābā”, yang berarti masa yang amat panjang — bukan 100 atau 1000 tahun, tetapi berulang-ulang masa tanpa hitungan dunia.

لَٰبِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا
“Mereka tinggal di dalamnya selama masa yang panjang (ahqābā).”
(QS. An-Naba’: 23)

Tubuh mereka hancur, wajah hitam legam, daging mengelupas, lalu terbentuk kembali untuk merasakan azab lagi. Tidak ada yang bisa berpaling dari api itu kecuali Allah sendiri yang memalingkannya.


Dialog Haru dengan Allah

Ketika Allah memerintahkan agar mereka dikeluarkan — wajah mereka sudah tidak dikenali lagi. Mereka merangkak keluar dari neraka, dengan tubuh gosong, tanpa bentuk. 

Lalu Allah memberi izin, mereka dimasukkan ke sungai kehidupan (Nahrul Hayah), tubuh mereka tumbuh seperti biji yang tumbuh di tepi aliran air, indah dan segar kembali. 

Mereka berkata dengan suara serak penuh air mata:

“Ya Rabb, Engkau telah menyelamatkan kami dari neraka, maka palingkanlah wajah kami darinya…”

Namun mereka tidak mampu memalingkan wajah sendiri, hingga Allah memalingkannya dengan tangan-Nya — sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih bahwa Allah berfirman dan tertawa kepada mereka karena kasih sayang-Nya.


Dialog orang terakhir keluar dari neraka didalam (HR. Muslim, hadits panjang)

– Orang terakhir keluar dari neraka tidak mampu memalingkan wajahnya dari api, kecuali Allah yang memalingkannya.
– Ia berkata, “Ya Rabb, palingkanlah wajahku dari neraka, jangan jadikan aku makhluk-Mu yang paling celaka.”
– Allah berfirman, “Jika Aku kabulkan, apakah engkau akan meminta lagi?”
– Ia berjanji tidak akan meminta lagi. Allah pun palingkan wajahnya.

Kemudian ia berkata lagi, “Ya Rabb, dekatkanlah aku ke pintu surga.” Allah bertanya lagi. Ia berjanji lagi. Allah pun dekatkan.

Setelah dekat, ia melihat keindahan surga. Ia pun berkata, “Ya Rabb, masukkanlah aku ke surga.” Allah tersenyum dan berfirman:
“Wahai anak Adam, betapa khianatnya engkau!”
Lalu Allah tertawa, dan dengan rahmat-Nya Allah masukkan ia ke surga.

Mereka berkata:

“Ya Rabb, izinkan kami masuk surga.”
Allah berfirman:
“Apakah engkau masih meminta lagi setelah Aku selamatkan dari neraka?”
Mereka menjawab:
“Ya Rabb, Engkau telah memberi kami nikmat yang besar, namun kami ingin ridha-Mu.”

Syukur setelah masuk surga

Orang beriman yang diselamatkan ini berkata seperti dalam QS Fāṭir 


قَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

(QS. فاطر: 34)

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Setelah dibersihkan dan dibangkitkan kembali di sungai kehidupan, mereka masuk surga. Para malaikat berkata kepada mereka:

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

(QS. Az-Zumar: 73)

“Selamat sejahtera atasmu, kamu telah bersih, maka masuklah ke dalamnya (surga), kamu kekal di dalamnya.”

Ketika mereka masuk surga, terdengarlah ucapan yang begitu indah:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَذْهَبَ عَنَّا ٱلْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌۭ شَكُورٌۭ (٣٤)
ٱلَّذِىٓ أَحَلَّنَا دَارَ ٱلْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِۦ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌۭ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌۭ (٣٥)
“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
Yang menempatkan kami di tempat yang kekal karena karunia-Nya; di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula lesu.”

(QS. Fāthir: 34–35)


Pelajaran untuk Kita

Dari kisah ini, kita memahami bahwa Allah tidak menzalimi siapa pun. Setiap dosa, sekecil apa pun, jika tidak diampuni, akan dimintai pertanggungjawaban.
Namun rahmat Allah lebih luas dari murka-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُخْرِجُ قَوْمًا مِنَ النَّارِ بَعْدَ مَا مَسُّهُمُ النَّارُ، فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، فَيُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيِّينَ
“Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan suatu kaum dari neraka setelah mereka disentuh oleh api, lalu mereka masuk surga. Maka mereka disebut ‘al-jahannamiyyūn’.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka adalah orang-orang beriman yang zalim terhadap diri sendiri — namun masih memiliki kalimat Lā ilāha illallāh di hatinya.


Penutup: Hidup Ini Bukan Main-main

Saudaraku, hidup di dunia ini bukan permainan. Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya, bukan untuk menumpuk dosa lalu berharap ampunan tanpa taubat.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)

Rezeki, ujian, dan nikmat sudah ditentukan oleh Allah sesuai kadar masing-masing. Maka jangan berputus asa dari rahmat-Nya, tetapi jangan pula bermain-main dengan dosa.

Juga hidup ini bukan permainan. Allah sudah menjamin rezeki setiap hamba sesuai takdirnya.

Jadi jangan ngoyo mencari rezeki yang halal dan jaga niat dalam mencari rezeki, kebahagiaan hakiki itu di Surga. 

Kebahagiaan dunia itu kalau dijalani paling lama seratus tahun atau seumur kodar masing-masing, setelah itu pasti mati dan ada pertanggungjawaban yang menunggu, hisaban Allah. Kita tidak boleh bodoh. 

 Tugas utama kita hanya beribadah dan menjaga diri dari dosa. Jangan sampai kita termasuk “ظالم لنفسه” yang harus dibersihkan di neraka dulu. Perbanyaklah taubat, amal saleh, dan ikhlaskan niat.

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
(QS. آل عمران: 185)
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh ia telah beruntung.”


Cek Mukena Travel Jumbo Premium
Armania Silk 2in1 Set Sejadah Terbaru Alea Series
dengan harga Rp269.000. Dapatkan di Shopee sekarang!  

Semoga Allah menjauhkan kita dari azab-Nya dan mengaruniakan kita masuk surga-Nya tanpa hisab. Āmīn.










Sunday, October 19, 2025

Menjaga Generasi dari Jalan yang Dimurkai dan Sesat: Nasihat Islami untuk Kesehatan Jiwa dan Raga





Alcavella Zaura Koko Series 


Pengantar

Di dalam setiap rakaat salat kita, minimal 17 kali sehari, kita membaca doa besar dalam Surah Al-Fatihah. Kita memohon kepada Allah agar diberi hidayah menuju jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat, dan dijauhkan dari jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat. Ini bukan hanya doa pribadi, tetapi juga doa untuk keluarga dan generasi kita.
Kesehatan jiwa dan raga bukan hanya soal fisik dan psikologis, tetapi juga tentang arah hidup yang benar. Jika arah hidup salah, jiwa sakit dan raga pun mudah terjerumus pada kebiasaan buruk.



1️⃣ Makna Ayat Terakhir Al-Fatihah

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“(Yaitu) jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7)

Jalan orang-orang yang diberi nikmat: para nabi, shiddiqin, syuhada, shalihin (QS. An-Nisā’: 69).
Yang dimurkai: orang yang tahu kebenaran tapi enggan mengamalkan (contoh: Yahudi).
Yang sesat: orang yang bersemangat beribadah tapi tanpa ilmu sehingga menyimpang (contoh: Nasrani).

2️⃣ Kesehatan Jiwa dalam Ayat Ini

  • Ilmu + Amal adalah resep kesehatan jiwa: mengetahui kebenaran (ilmu) lalu mengamalkannya (amal).
  • Jiwa yang tahu kebenaran tapi melawan akan menjadi keras (dimurkai).
  • Jiwa yang semangat tanpa ilmu mudah terombang-ambing (sesat).
  • Keduanya merusak ketenangan batin dan membawa dampak buruk pada fisik.

3️⃣ Peran Kita untuk Generasi

  • Doakan anak-anak muda: supaya diberi hidayah ke jalan lurus.
  • Ajarkan ilmu agama yang benar dengan bahasa yang mudah.
  • Jadilah teladan: anak muda lebih melihat contoh ketimbang mendengar kata-kata.
  • Lingkungan positif: bantu mereka punya teman dan aktivitas baik agar terjaga.
  • Tegas tapi lembut: luruskan kesalahan tanpa menghakimi pribadi.

4️⃣ Dampak bagi Kesehatan Raga

  • Jiwa yang tenang karena berada di jalan lurus lebih mudah menjaga kesehatan tubuh.
  • Allah berfirman:

    أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
    “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28).

  • Hati yang tenteram membantu tekanan darah stabil, mengurangi stres, dan meningkatkan imun tubuh.

Penutup

Membaca Al-Fatihah bukan sekadar rutinitas salat, tapi doa yang mendalam agar kita dan generasi kita selamat. Kesehatan jiwa dan raga berawal dari hati yang lurus dan pikiran yang benar. Dengan mengamalkan ilmu, mendidik generasi dengan kasih sayang, dan senantiasa memohon hidayah, kita berharap anak-anak muda terjaga dari jalan yang dimurkai dan sesat. Semoga Allah menjadikan kita semua istiqamah di jalan-Nya. Āmīn.




Saturday, October 11, 2025

Rahasia di Balik Kesabaran atas Cobaan


🌿 Rahasia di Balik Kesabaran atas Cobaan

✨ Pengantar

Setiap manusia pasti diuji. Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa cobaan — entah berupa kesulitan yang menyesakkan dada, atau keberhasilan yang menguji kesyukuran.
Namun di balik setiap ujian, tersembunyi kasih sayang Allah yang sangat dalam.
Karena Allah tidak pernah menimpakan musibah untuk menyakiti, melainkan untuk menyucikan dan meninggikan derajat hamba-Nya.


🌸 1. Cobaan adalah Tanda Cinta Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ."
(رواه البخاري)

Artinya:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.”
(HR. Bukhari)

Cobaan adalah tanda perhatian dan kasih sayang Allah, karena hanya hamba pilihan yang diberi kesempatan untuk membersihkan diri melalui ujian.


🌸 2. Dalam Kesulitan Ada Kemudahan

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh, bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Setiap kesulitan membawa serta kemudahan, meski kadang tak langsung tampak.
Allah menegaskan dua kali agar kita tidak putus asa — karena tidak ada ujian tanpa hikmah, dan tidak ada penderitaan tanpa akhir yang indah.


🌸 3. Ujian Datang dari Dua Arah: Nikmat dan Musibah

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)

Kekayaan, jabatan, kesehatan, dan keberhasilan juga ujian — apakah kita bersyukur dan tunduk, atau justru lalai dan sombong.
Begitu pula kesulitan, menjadi ujian apakah kita sabar dan tetap berprasangka baik kepada Allah.


🌸 4. Pahala Sabar Tanpa Batas

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)

Hanya sabar yang dijanjikan pahala tanpa batas.
Karena sabar bukan sekadar menahan diri, tapi menyerahkan seluruh jiwa kepada Allah dengan penuh keyakinan dan ketenangan.


🌸 5. Kesabaran Adalah Cahaya

Rasulullah ﷺ bersabda:

"وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ."
(رواه مسلم)

Artinya:
“Kesabaran adalah cahaya.”
(HR. Muslim)

Cahaya inilah yang menerangi hati di tengah gelapnya ujian.
Orang sabar tidak buta arah, sebab ia yakin setiap langkah hidupnya dalam genggaman Allah.


🌸 6. Ujian Adalah Jalan Para Nabi

عَنْ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟
قَالَ: "الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ..."
(رواه الترمذي)

Artinya:
Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?”
Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian yang semisalnya, lalu yang setelahnya.”
(HR. Tirmidzi)

Semakin tinggi derajat iman seseorang, semakin berat pula ujiannya.
Karena Allah ingin mengangkatnya lebih tinggi di sisi-Nya.


🌸 7. Pahala Besar di Balik Musibah

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
"مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ."
(رواه البخاري ومسلم)

Artinya:
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, atau kegundahan — bahkan duri yang menusuknya — melainkan Allah akan menghapus sebagian dari kesalahannya karenanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam hadis lain:

"لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا لَهُ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْأَجْرِ فِي الْمَصَائِبِ، لَتَمَنَّى أَنْ يُقَرَّضَ بِالْمَقَارِيضِ."
(رواه الترمذي وقال حديث حسن غريب)

Artinya:
“Seandainya seorang mukmin mengetahui pahala yang disediakan Allah baginya atas musibah, niscaya ia akan berharap agar tubuhnya digunting (karena musibah)!”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menggambarkan betapa luasnya rahmat dan pahala di balik ujian, sampai-sampai manusia yang diuji di dunia akan berharap di akhirat agar bisa diuji lagi jika ia tahu betapa besarnya ganjaran itu.


🌸 8. Allah Bersama Orang yang Sabar

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Bersama — bukan hanya berarti menolong, tetapi menyertai dengan rahmat, kasih, dan perlindungan.
Orang sabar tidak pernah benar-benar sendiri, sebab Allah selalu bersamanya.


🌷 Penutup

Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, melainkan teguh dalam iman, tenang dalam ujian, dan yakin pada janji Allah.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ۝
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”
(QS. Al-Baqarah: 155–156)

Siapa pun yang sabar, sesungguhnya ia sedang berjalan menuju kedekatan dengan Allah, menuju ketenangan yang abadi di sisi-Nya.


🕊️ 

Tuesday, September 23, 2025

Para Syuhada Uhud: Hidup Bahagia di Surga


 




🌿

Di tengah derasnya arus dunia, kita sering lupa bahwa kemuliaan sejati bukanlah pada panjangnya usia, melainkan pada bagaimana kita mengisinya. Kisah para syuhada Perang Uhud yang diabadikan Allah dalam QS. Âli ‘Imrân ayat 170 adalah pengingat yang menggugah: mereka yang gugur di jalan Allah bukanlah mati, melainkan hidup di sisi-Nya, diberi rezeki dan kenikmatan yang tidak pernah kita bayangkan.

Rasulullah ﷺ menggambarkan keadaan ruh mereka berada dalam burung-burung hijau yang bebas menikmati sungai-sungai surga, buah-buahannya, dan bernaung di bawah ‘Arsy. Mereka berharap kita yang masih di dunia tahu kemuliaan ini, agar tidak ragu berjuang menegakkan kebenaran.

Pengantar ini mengajak kita berhenti sejenak, merenungi perjalanan hidup: adakah kita siap mengorbankan diri demi iman, ataukah kita masih berat melangkah? Kisah para syuhada ini bukan sekadar sejarah, tetapi cermin bagi setiap hati yang rindu pada ridha-Nya.


Temukan Alcavella - Zaura Koko Series | Baju Pria Dewasa Muslim Premium Lengan Panjang Ied Lebaran seharga Rp584.550. Dapatkan sekarang juga di Shopee! ) 






(Renungan QS. Âli ‘Imrân:170)

Allah ﷻ berfirman:

فَرِحِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا۟ بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Mereka (para syuhadâ’) bergembira dengan karunia yang Allah berikan kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (yang belum menyusul mereka) bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Âli ‘Imrân:170)

Ayat ini turun berkenaan dengan para syuhada Perang Uhud. Dalam sebuah hadits 


Sahih Muslim no. 1887 tentang ruh para syuhada yang berada dalam burung hijau dan keistimewaan mereka. :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
أَرْوَاحُهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ تَأْوِي إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ فَاطَّلَعَ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ اطِّلاَعَةً فَقَالَ هَلْ تَشْتَهُونَ شَيْئًا قَالُوا أَيَّ شَيْءٍ نَشْتَهِي وَنَحْنُ نَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شِئْنَا فَفَعَلَ ذَلِكَ بِهِمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَلَمَّا رَأَوْا أَنَّهُمْ لَنْ يُتْرَكُوا مِنْ أَنْ يُسْأَلُوا قَالُوا يَا رَبِّ نُرِيدُ أَنْ تَرُدَّ أَرْوَاحَنَا فِي أَجْسَادِنَا حَتَّى نُقْتَلَ فِي سَبِيلِكَ مَرَّةً أُخْرَى بِاللهِ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(Sahih Muslim 1887)

Terjemahan ringkasnya:

“Ruh mereka berada dalam perut-perut burung hijau yang memiliki lampu-lampu gantung di bawah ‘Arsy, mereka bebas berkeliaran dari surga di mana saja mereka suka, kemudian mereka kembali ke lampu-lampu tersebut. Tuhannya memandang mereka dan bertanya: Apakah kalian menginginkan sesuatu? Mereka menjawab: ‘Apa yang kami inginkan—kami bebas berkeliaran dari surga ke mana kami mau.’ Allah bertanya tiga kali. Setelah mereka menyadari bahwa mereka tidak akan dibiarkan tanpa diberi pertanyaan, mereka berkata: ‘Ya Rabb, kami ingin agar Engkau kembalikan ruh kami ke badan kami supaya kami bisa terbunuh di jalan-Mu sekali lagi.’ Maka Allah melihat bahwa mereka tidak butuh apa pun lagi, lalu dibiarkan dalam kegembiraan mereka.”


Hadits ini memberi gambaran indah: para syuhada hidup dalam kebahagiaan, ruh mereka berada dalam burung-burung hijau yang bebas menjelajahi sungai-sungai dan buah-buahan surga, lalu kembali ke lentera emas di bawah naungan ‘Arsy. Mereka berharap kaum mukminin yang masih di dunia mengetahui kemuliaan mereka agar tidak berat membela agama Allah.

Renungan ini menjadi pengingat bahwa mati syahid bukanlah akhir, melainkan kehidupan yang penuh kemuliaan. Ayat ini juga menjadi motivasi bagi orang beriman untuk tetap teguh membela kebenaran, tidak takut dan tidak bersedih hati, sebab balasan Allah jauh lebih agung dari pengorbanan kita.


Pesan yang Bisa Diambil

  1. Orang yang gugur di jalan Allah bukanlah mati dalam pengertian kita; mereka hidup di sisi Allah.
  2. Para syuhada merasakan kenikmatan surga bahkan sebelum kiamat tiba.
  3. Keinginan para syuhada agar kita tidak takut berjuang membela agama menjadi motivasi bagi kita untuk tetap teguh di atas iman.






Friday, September 5, 2025

Kematian: Peringatan Abadi bagi Setiap Jiwa

 









Kematian: Peringatan Abadi bagi Setiap Jiwa

Pengantar

Kematian adalah sebuah kepastian. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindarinya, baik ia raja maupun rakyat, kaya maupun miskin, muda maupun tua. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara, tempat kita diuji apakah kita benar-benar tunduk kepada Allah atau justru terpedaya oleh gemerlap dunia.

Allah ﷻ telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa kematian adalah keniscayaan yang tidak bisa ditunda barang sedetik pun. Kesadaran akan hal ini seharusnya menjadi pengingat agar kita tidak terlena oleh harta, kedudukan, atau kesenangan dunia yang fana.


Kepastian Kematian

Allah ﷻ berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa kemenangan sejati bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau panjangnya usia, melainkan selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga Allah.


Harta Bukan Jaminan

Sering kali manusia terjebak dalam ilusi harta. Mereka mengira bahwa dengan harta yang bertumpuk, hidup akan selamat. Padahal Allah ﷻ mengingatkan:

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Dan harta-hartamu serta anak-anakmu itu, sekali-kali tidaklah mendekatkan kamu kepada Kami, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih.” (QS. Saba’: 37)

Harta hanyalah ujian. Bagi yang kaya, apakah ia bersyukur, berzakat, dan berinfak? Bagi yang miskin, apakah ia tetap bersabar, tidak berputus asa, dan menjaga kehormatan dirinya?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim no. 2742)


Hidayah Lebih Berharga dari Harta

Apa arti harta jika tanpa hidayah? Berapa banyak orang kaya yang tersiksa batinnya, kehilangan arah hidup, dan mati dalam keadaan lalai dari Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad kepada Ummat mu yang sudah beriman ), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu ( hidayah Allah), hendaklah mereka bergembira. Itu ( hidayah Allah) lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

(Yūnus ayat:58)



Allah ﷻ berfirman:

وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ
“Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Petunjuk Allah adalah cahaya yang lebih berharga dari segala harta. Tanpa hidayah, harta hanya menjadi beban yang menyeret pemiliknya ke dalam siksa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71, Muslim no. 1037)


Penutup 

Saudaraku, hidup ini hanyalah perjalanan singkat menuju akhirat. Harta, jabatan, dan dunia yang kita kejar mati-matian hanyalah titipan. Sementara itu, amal shalih, dzikir, doa, dan ketundukan hati kepada Allah lah yang akan menemani kita di alam kubur.

Ingatlah, kematian tidak pernah mengetuk pintu. Ia bisa datang kapan saja, tanpa peringatan. Maka berbekallah dengan hidayah, amal shalih, dan hati yang selalu rindu bertemu Allah.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang selalu sadar bahwa dunia hanyalah ujian, dan kemenangan sejati adalah ketika kelak kita dipanggil dengan kalimat penuh kemuliaan:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam (golongan) hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)