Wednesday, December 31, 2025

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati



Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati

Seiring bertambahnya usia, banyak dari kita mulai merasakan perubahan pada raga. Tubuh yang dahulu terasa ringan, kini mudah lelah. Gerak tidak lagi seluwes dulu, dan waktu istirahat pun terasa berbeda. Pada saat seperti inilah hati sering diuji: antara menerima dengan lapang, atau mengeluh dalam diam.



Minyak Urut Dayak Kalimantan



Pada fase usia tertentu, melemahnya raga sering hadir bersama keluhan-keluhan kecil yang terasa nyata. Ada yang merasakan lutut nyeri ketika berdiri terlalu lama, kaki mudah kram di malam hari, atau badan terasa kaku saat bangun tidur. Keluhan seperti ini tidak selalu berat, namun cukup untuk menguji kesabaran dan ketenangan hati, terutama ketika datang berulang-ulang.

Sebagian orang bertanya dalam batin, “Apakah ini pertanda Allah tidak lagi memberi kekuatan?”

Padahal, Al-Qur’an justru menjelaskan bahwa keadaan seperti ini adalah bagian dari sunnatullah.

Allah Ta‘ala berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً

“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban.”

(QS. Ar-Rum: 54)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa melemahnya raga bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah Dia tetapkan dengan penuh hikmah.

Namun Islam tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa usaha. Rasulullah ﷺ bersabda:

تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً

“Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.”

(HR. Abu Dawud)


Ikhtiar menjaga raga adalah bagian dari syukur. 

Setiap usaha yang dilakukan dengan niat baik dan cara yang dibenarkan syariat memiliki nilai ibadah, meskipun hasilnya tidak selalu langsung terlihat.

Dalam menjalani ikhtiar, sebagian orang merasakan perubahan ketika mulai lebih memperhatikan kebutuhan raganya. Menjaga pola makan, mencukupi minum, serta mencoba cara-cara alami yang dirasakan membantu tubuh menjadi lebih rileks. Hasilnya memang tidak selalu cepat, namun bagi sebagian orang, ikhtiar kecil yang dilakukan dengan sabar mampu menghadirkan rasa ringan dan harapan.

Di sisi lain, ketenangan jiwa memiliki pengaruh besar terhadap raga. Hati yang dipenuhi kecemasan dan keluh kesah sering membuat tubuh terasa semakin berat. Sebaliknya, hati yang bersandar kepada Allah, menerima takdir dengan lapang, sering kali membuat raga lebih tenang menjalani hari.

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang sederhana namun sarat makna:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Memohon ‘afiyah bukan hanya meminta terbebas dari penyakit, tetapi juga memohon ketenangan jiwa dan kekuatan raga untuk tetap taat kepada Allah.

Jika hari ini raga terasa melemah, jangan tergesa-gesa berputus asa. Bisa jadi Allah sedang mengajak kita untuk lebih mengenal diri, lebih lembut terhadap tubuh yang telah lama menemani, dan lebih dekat kepada-Nya melalui kesabaran.

Karena pada akhirnya, kesehatan jiwa dan raga bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk digunakan sebaik-baiknya dalam ketaatan kepada Allah.

Penutup Doa

Ya Allah, kuatkanlah jiwa kami ketika raga melemah. Bimbinglah kami dalam ikhtiar yang Engkau ridai, dan karuniakanlah kepada kami ketenangan serta ‘afiyah di dunia dan akhirat. Aamiin.


Sunday, December 28, 2025

Jangan putus asa dari Rahmat Allah




Dewita dress gamis silky premium klik disini 



"Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah"

(Lanjutan dari tema: “Hidup Itu Pasti Diuji”)


🌅 Pengantar: Ketika Hidup Terasa Gelap…

Setiap jiwa pasti akan merasakan getirnya ujian.
Dan saat ujian datang bertubi-tubi, manusia mulai bertanya:
“Apakah aku sedang dimurkai Allah?”
“Apakah masih ada harapan untukku?”
“Apakah aku masih pantas dicintai Allah?”

Ada yang kehilangan orang tercinta.
Ada yang gagal dalam usaha dan hancur secara ekonomi.
Ada yang terjebak dalam maksiat dan tak sanggup melepaskan diri.

Pada titik tertentu…
Banyak orang merasa tidak ada jalan kembali.
Mereka mulai merasa tidak layak untuk dimaafkan,
hingga akhirnya putus asa

Padahal, putus asa dari rahmat Allah adalah dosa besar.

"Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
(QS. Yusuf: 87)

💔 Mengapa Allah Menyebut “Putus Asa” Sebagai Ciri Orang Kafir?

Karena putus asa berarti meragukan sifat Allah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan Maha Membuka Jalan.

Putus asa adalah bisikan setan yang membisikkan:

“Allah tidak akan menerima taubatmu.”
“Dosamu terlalu besar.”
“Sudahlah, terlambat untuk kembali.”

Padahal, dalam hadis qudsi, Allah berkata:

“Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dosamu, walaupun sebanyak langit dan bumi.”
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي
(HR. Tirmidzi, no. 3540, sahih)

🔎 Lihatlah kehidupan nyata di sekitar kita:

  • Ada mantan preman yang bertobat dan menjadi ustadz.
  • Ada perempuan yang dulu hidup dalam kelam, kini menutup aurat dan berdakwah.
  • Ada pengusaha bangkrut yang dulunya jauh dari masjid, tapi setelah kehilangan segalanya, kini menjadi imam salat subuh setiap hari.

Mengapa mereka bisa? Karena mereka tidak putus asa dari rahmat Allah.


🌿 Ayat Teragung Bagi Para Pendosa

Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebut sebuah kalimat yang disebut oleh para ulama sebagai “ayat yang paling memberi harapan”.

"Katakanlah (wahai Nabi): Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang."
قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
(QS. Az-Zumar: 53)

🔍 Kata “Asrafu” artinya adalah mereka yang telah melampaui batas.
Bukan hanya berdosa… tapi berlebihan dalam dosa.

Artinya: ayat ini bukan hanya untuk orang baik yang terpeleset sesekali,
tapi juga untuk mereka yang merasa hidupnya penuh noda.

Apa alasanmu untuk tetap merasa tidak bisa kembali?


🌙 Allah Menunggu di Malam Hari…

Banyak orang yang malu kembali. Tapi Rasulullah ﷺ menyampaikan pesan yang membuat hati kita tenang:

"Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di malam hari."
إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ
(HR. Muslim, no. 2759)

➡️ Ini adalah isyarat:
Setiap waktu adalah peluang.
Setiap waktu adalah kesempatan baru.


🌧️ Kehidupan Itu Tidak Selalu Cerah

Ada masa-masa sulit.
Tapi di balik semua itu, Allah sedang menguji:
Apakah engkau tetap berharap kepada-Ku? Ataukah engkau menyerah sebelum waktunya?

"Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Maka tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang rugi."
أَفَأَمِنُوا۟ مَكْرَ ٱللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْخَـٰسِرُونَ
(QS. Al-A'raf: 99)

⏳ Maka jika kamu hari ini sedang dalam gelap…
Jangan tunggu terang itu datang dari luar.

Mulailah menyalakan pelita kecil dalam hatimu: dengan istighfar, dengan satu rakaat malam, dengan satu lembar mushaf.


🌻 Penutup: Jalan Pulang Selalu Terbuka

Sahabatku yang sedang diuji,
yang merasa lelah, kalah, dan bersalah…

Ketahuilah…

Allah tidak melihat siapa dirimu hari ini, tapi ke mana langkahmu bergerak.

Apakah menuju-Nya…
Atau menjauh dari-Nya?

Maka jangan tunda untuk kembali.
Karena jalan pulang itu tidak pernah ditutup.

Bahkan, Allah menunggumu setiap malam…
Agar kamu kembali, walau hanya dengan air mata

Menjaga Lisan: Jalan Menuju Cinta Allah dan Rasul-Nya

 



Temukan Setelan olahraga muslimah tunik wanita/setelan senam tunik/setelan olahraga muslim wanita



Menjaga Lisan: Jalan Menuju Cinta Allah dan Rasul-Nya

Pengantar

Dalam perjalanan hidup, manusia sering datang kepada Allah dengan doa-doa yang penuh harap. Kita memohon dengan sungguh-sungguh, bahkan terkadang dengan air mata. Namun tidak jarang, apa yang kita pinta tidak juga terwujud, atau terwujud dengan cara yang tidak kita kehendaki.

Di saat seperti itulah, hati mulai diuji. Lisan pun ikut diuji.

Sebagian orang tetap menjaga ucapannya, memilih diam dan bersabar. Namun sebagian yang lain—tanpa sadar—mulai mengeluh, membandingkan takdirnya dengan orang lain, bahkan mempertanyakan kebijaksanaan Allah.

Padahal, di balik setiap doa yang belum terkabul, ada pelajaran besar tentang iman, adab, dan lisan yang terjaga. Dan dari situlah, jalan menuju cinta Allah dan Rasul-Nya terbuka bagi hamba yang mau memahami.

Isi Utama

Islam mengajarkan bahwa lisan adalah cermin hati. Apa yang keluar dari mulut kita sering kali menggambarkan seberapa dalam keyakinan kita kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika doa belum dikabulkan, lisan bisa menjadi sumber pahala besar—atau justru sebab menjauhnya rahmat Allah. Mengeluh berlebihan, menyalahkan keadaan, apalagi menuduh Allah tidak adil, adalah tanda bahwa hati sedang lelah dan iman sedang diuji.

Padahal Allah sendiri telah menenangkan hati hamba-Nya dengan firman-Nya:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Tidak semua doa dikabulkan sesuai dengan apa yang kita mau, bukan karena Allah tidak sayang, tetapi justru karena Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan. Ada doa yang ditunda agar iman kita matang. Ada doa yang diganti dengan keselamatan. Ada pula doa yang disimpan sebagai pahala di akhirat.

Orang yang menjaga lisannya di saat seperti ini adalah orang yang memahami hakikat iman. Ia memilih berkata baik, berprasangka baik kepada Allah, dan menyerahkan urusan hatinya dengan penuh tawakal. Sikap inilah yang mendekatkannya pada cinta Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan dalam menjaga lisan, bahkan dalam penderitaan. Beliau tidak membalas keburukan dengan caci maki, tidak mengeluh pada takdir, dan tidak pernah putus berharap kepada Allah.

Penutup dan Doa

Menjaga lisan bukan perkara ringan. Ia menuntut kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Namun justru dari lisan yang terjaga itulah, ketenangan hati lahir dan cinta Allah mengalir.

Jika hari ini doa kita belum dikabulkan, mari bertanya pada diri sendiri:

Apakah lisan kita masih terjaga dalam ridha? Ataukah mulai goyah oleh keluhan?

Mari kita tutup dengan doa:

اللَّهُمَّ اهْدِ قُلُوبَنَا، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاضِينَ بِقَضَائِكَ، الْمُحِبِّينَ لَكَ وَلِرَسُولِكَ

Ya Allah, luruskanlah hati kami, jagalah lisan kami, jadikan kami hamba-hamba yang ridha atas ketetapan-Mu, dan anugerahkan kepada kami cinta-Mu serta cinta Rasul-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.







Sunday, December 21, 2025

Tenang Bersama Allah, Meski Dunia Tak Memahami




Gamis Umroh Jasmine Syar' 

by Arsi hijab seragam dress terbaru



Ada masa dalam hidup ketika kita memilih diam, bukan karena kalah.

Ada saat kita bersabar, bukan karena lemah.

Dan ada waktu kita berbuat baik, namun justru disalahpahami.

Dunia bertanya, “Mengapa kau tak membela diri?”

Padahal hati kita menjawab pelan,

“Karena Allah Maha Mengetahui.”


Dunia Menilai Tampilan, Allah Menilai Kedalaman

Manusia terbiasa menilai dari apa yang tampak.

Siapa yang paling lantang, dianggap paling benar.

Siapa yang paling terlihat, disangka paling ikhlas.

Padahal Allah sejak awal mengingatkan kita:

إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”

(QS. Ali ‘Imran: 119)

Apa yang tersembunyi dari manusia, tidak pernah tersembunyi dari Allah.

Niat yang tidak diucapkan, air mata yang tidak dilihat, dan kesabaran yang tidak dipuji — semuanya tercatat rapi di sisi-Nya.


Mengapa Orang Ikhlas Sering Tidak Dipahami?

Karena orang ikhlas tidak sibuk menjelaskan dirinya.

Ia lebih sibuk menjaga hatinya.

Ia tidak berlomba mencari pembenaran, karena keyakinannya tidak bergantung pada penilaian manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Niat itu tempatnya di hati.

Dan hati — hanya Allah yang benar-benar tahu.


Ketika Diam Lebih Menyelamatkan daripada Bicara

Tidak semua kesalahpahaman harus diluruskan.

Tidak semua tuduhan perlu dijawab.

Kadang, membela diri justru melukai hati sendiri.

Kadang, diam adalah bentuk tawakal tertinggi.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”

(QS. At-Talaq: 3)

Cukupkan hatimu dengan Allah,

meski manusia belum mencukupkan penilaiannya.


Tanda Ketenangan yang Bersumber dari Allah

Ketenangan sejati bukan berarti hidup tanpa ujian.

Ia hadir ketika:

Kita tidak gelisah meski tidak dipuji

Kita tetap lembut meski disalahpahami

Kita sibuk memperbaiki diri, bukan membuktikan diri

Allah berjanji:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Jika hatimu tenang saat dunia meragukanmu,

maka bisa jadi Allah sedang menjagamu dari riya dan ujub.


Penutup: Cukuplah Allah Menjadi Saksi

Wahai jiwa yang lelah,

tidak apa-apa jika tidak semua orang memahami langkahmu.

Tidak semua kebaikan harus disaksikan manusia.

Tidak semua kesabaran harus dibenarkan dunia.

Selama Allah ridha,

selama niat dijaga,

selama hati tetap bersama-Nya —

ketenangan itu nyata, meski dunia tak memahami.


Thursday, December 18, 2025

Orang Cerdas Adalah Orang yang Mengoreksi Diri






Jovitech microphone wireless mic clip on dual lavalier mikrofon peredam kebisingan vlog with charging case LM03 terbaru.




Pengantar


Di zaman ketika orang berlomba terlihat paling benar, paling pintar, dan paling didengar, kita sering lupa satu perkara yang sangat mendasar: mengoreksi diri sendiri.

Padahal, tidak sedikit orang yang lisannya fasih, ilmunya luas, bahkan nasihatnya indah, tetapi hatinya sempit dan jiwanya lelah.


Islam tidak memuliakan kecerdasan yang membesarkan ego.

Islam memuliakan kecerdasan yang menundukkan diri.

Rasulullah ﷺ tidak mendefinisikan orang cerdas sebagai mereka yang menang dalam perdebatan, tetapi sebagai mereka yang berani bercermin sebelum menghakimi.


1. Definisi Orang Cerdas Menurut Rasulullah

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ


“Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi (menghisab) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Hadis ini sangat tegas dan jujur.

Orang cerdas bukan yang selalu benar, tetapi yang selalu mau memperbaiki diri.


Ia bertanya pada dirinya:

“Apa niatku?”

“Di mana salahku?”

“Apakah ini diridhai Allah atau hanya memuaskan egoku?”

Inilah kecerdasan yang jarang, tetapi menyelamatkan.


2. Al-Qur’an Mengajarkan Muhasabah, Bukan Menyalahkan

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ


“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.”

(QS. Al-Hasyr: 18)


Perhatikan, Allah tidak berkata:


“Lihat kesalahan orang lain”

“Hitung dosa saudaramu”

Tetapi:

“Hendaklah setiap jiwa melihat apa yang ia persiapkan.”

Orang yang sibuk mengoreksi diri tidak punya waktu untuk membenci.


3. Mengoreksi Diri Melahirkan Kelapangan

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Orang yang terbiasa muhasabah:

Hatinya longgar

Tidak mudah tersinggung

Tidak reaktif

Tidak keras mempertahankan pendapat


Sebaliknya, orang yang anti koreksi:

Hidupnya tegang

Mudah marah

Mudah lelah batin

Sulit tenang


4. Kecerdasan yang Menyehatkan Jiwa


Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ

(QS. Qaf: 37)


“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang memiliki hati (yang hidup).”


Hati yang hidup adalah hati yang:

Mau dinasihati

Mau ditegur

Mau berubah

Muhasabah membuat jiwa sehat, karena beban ego dilepaskan.

Dan ketika jiwa sehat, tubuh pun lebih ringan.


5. Lawan dari Orang Cerdas

Rasulullah ﷺ melanjutkan:

وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا

“Orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya.”


Ia selalu:

Membela diri

Mencari pembenaran

Sulit mengakui kesalahan


Inilah kecerdasan palsu yang melelahkan dan menyempitkan.


Penutup

Orang yang cerdas bukanlah orang yang tidak pernah salah,

melainkan orang yang tidak keras mempertahankan kesalahan.


Ia hidup dengan hati yang longgar,

jiwa yang sehat,

dan langkah yang ringan menuju Allah.


Sebelum kita sibuk menilai orang lain,

ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri:


“Jika hari ini aku menghadap Allah,

apa yang sudah aku perbaiki dari diriku?”


Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang cerdas menurut langit,

bukan sekadar pintar menurut manusia.


Wallāhu a‘lam.

Thursday, December 11, 2025

Indonesia yang Kita Jaga Bersama: Nasihat untuk Semua Lapisan warga masuk kita.






Aroma Therapy Lavender Essential Oil 10ml



🕊️ Indonesia yang Kita Jaga Bersama: Nasihat untuk Semua warga masyarakat kita. 


Dalam suasana negeri yang sering terasa gaduh oleh perbedaan pendapat, persaingan kepentingan, dan hiruk pikuk politik, kita mudah lupa bahwa Indonesia berdiri bukan karena satu kelompok, tetapi karena kita semua.


Bangsa ini tidak dibangun oleh orang kuat saja.

Bukan pula oleh yang pintar saja.

Bukan oleh pejabat saja.

Bukan oleh rakyat kecil saja.


Indonesia berdiri karena kita saling menopang, meski berbeda jalan, profesi, pandangan, dan latar belakang.

1. Untuk Pemimpin dan Pejabat Negara

Kami tidak menuntut sempurna.

Yang kami harapkan sederhana:

Jadilah pemimpin yang mengutamakan hati nurani,

Yang berani mendengar kritik tanpa marah,

Yang memilih memadamkan api saat rakyat resah,

Yang sadar bahwa jabatan hanya sementara,

Dan kelak setiap kebijakan akan dipertanggungjawabkan—

bukan hanya di hadapan sejarah, tetapi juga di hadapan Allah.

Bangsa ini kuat ketika pemimpinnya takut berbuat zalim, bukan takut kehilangan jabatan.


2. Untuk Para Pengusaha dan Pelaku Usaha

Negeri ini membutuhkan keberanian Anda.

Usaha Anda membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi, dan memberi harapan bagi banyak keluarga.


Tapi jangan lupa:

Keuntungan yang berkah tidak datang dari tipu daya.

Hak pekerja bukan musuh usaha, ia adalah penyangga keberkahan.

Keadilan dalam bisnis lebih lama hidupnya daripada harta yang berlimpah.

Ketika dunia ekonomi naik turun, yang membuat negeri ini tetap berdiri adalah para pelaku usaha yang jujur, sabar, dan teguh.


3. Untuk Rakyat Biasa

Jangan pernah merasa diri kecil.

Justru Anda lah tulang punggung negeri ini.

Dari tangan Anda, pangan dihasilkan.

Dari keringat Anda, kota dibangun.

Dari kerja keras Anda, anak-anak Indonesia sekolah.

Dari doa Anda, negeri ini tetap dijaga Allah.

Jangan hilangkan kebaikan dalam hati hanya karena politik sedang gaduh.

Negeri besar ini tetap tegak karena rakyatnya tetap memilih sabar, tertib, dan tidak saling menyakiti.


4. Untuk Para Anak Muda

Bangsa ini menitipkan masa depannya pada Anda.

Di tengah informasi yang cepat, gosip yang liar, dan berita yang sering membingungkan, tetaplah berdiri dengan akal dan akhlak.

Gunakan teknologi untuk memajukan, bukan menghina.

Gunakan pikiran untuk membangun, bukan merusak.

Gunakan kreativitas untuk memberi solusi, bukan menambah keruh keadaan.

Generasi Anda lah yang akan menentukan apakah Indonesia tetap bersinar atau justru redup.


5. Untuk Semua Lapisan Bangsa

Kita boleh berbeda.

Kita boleh berdebat.

Kita boleh kecewa.

Itu semua manusiawi.


Tapi jangan biarkan perbedaan membuat kita bermusuhan.

Ingatlah pesan Allah:


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpeganglah kalian semua pada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.”

(QS. Ali Imran: 103)


Dan pesan Rasulullah:


المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzhalimi dan tidak membiarkannya.”

(HR. Bukhari & Muslim)


Yang dibutuhkan Indonesia sekarang bukan hanya pembangunan fisik, tapi pembangunan hati.

Bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tapi pertumbuhan akhlak.

Bukan hanya persaingan politik, tapi persatuan niat untuk menjaga negeri.


Penutup: Indonesia Akan Baik Jika Kita Tetap Baik

Keadaan politik bisa naik turun.

Ekonomi bisa menguat melemah.

Pendapat boleh berbeda.


Tapi selama hati kita tetap jernih,

lidah tidak memecah belah,

dan doa tetap kita panjatkan setiap hari…


Indonesia akan terus dijaga oleh Allah.

Sebab negeri ini milik kita semua.

Dan negeri ini hanya akan baik jika kita semua terus memilih menjadi baik.

Semoga bermanfaat, menjadi buah pikiran kita semua untuk dipertimbangkan . Allah Maha Melihat, Allah Maha Mengetahui  terhadap kita semua 


Thursday, December 4, 2025

Cahaya Penjaga Malam: Keutamaan 10 Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah”



Kebaya Ayunda Premium – Tulle Spanggrel + Brokat Premium (Full Puring)Hadir dengan desain anggun dan bahan yang mewah, Kebaya Ayunda Premium menjadi pilihan sempurna untuk acara formal, wisuda, lamaran, kondangan, hingga pesta keluarga



“Cahaya Penjaga Malam: Keutamaan 10 Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah”


Pengantar

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, seorang hamba sangat membutuhkan perlindungan, ketenangan, dan cahaya yang menjaga hatinya dari segala keburukan. Di antara hadiah besar dari Allah adalah sepuluh ayat terakhir Surah Al-Baqarah—ayat yang tidak hanya menjadi penjaga, tetapi juga doa yang pasti dikabulkan, dan pelipur lara bagi jiwa seorang Muslim.

Ayat-ayat ini adalah warisan istimewa dari Rasulullah ﷺ kepada umatnya, turun dari “khazanah di bawah Arsy”, sebagaimana disampaikan dalam hadis-hadis sahih. Membacanya bukan sekadar ibadah, tetapi perlindungan langit yang turun ke bumi.


Keutamaan ayat ini

1. Ayat Pelindung dari Gangguan Setan

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ لِلشَّيْطَانِ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ»
“Setan lari dari rumah yang dibacakan surah Al-Baqarah.”
(HR. Muslim)

Secara khusus, tentang dua ayat terakhir beliau bersabda:

«لَا يَقْرَبُهَا شَيْطَانٌ تِلْكَ اللَّيْلَةَ»
“Setan tidak mendekatinya pada malam itu.”
(HR. Ahmad, Tirmidzi)

Maka membaca 10 ayat terakhir sebelum tidur ibarat memasang benteng yang tidak terlihat, namun sangat kuat.


2. Mencukupi Sebagai Pelindung Malam Itu

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ قَرَأَ الآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ»
“Siapa yang membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah di malam hari, maka itu cukup baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama mengatakan:
“Kafatahu” artinya mencukupinya dari segala keburukan, gangguan setan, dan bahkan dianggap pahala ibadah malam.


3. Ayat yang Turun dari Khazanah di Bawah Arsy

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُعْطِيتُ مِنَ الْكَنْزِ الَّذِي تَحْتَ الْعَرْشِ خَوَاتِيمَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ»
“Aku diberi penutup Surah Al-Baqarah dari perbendaharaan di bawah Arsy.”
(HR. Ahmad dan An-Nasai)

Tidak ada ayat yang mendapatkan kemuliaan seperti ini.


4. Mengandung Doa yang Dikabulkan Allah

Di akhir Al-Baqarah ada doa-doa besar yang diucapkan oleh ribuan lidah Muslim setiap hari:

﴿رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا﴾
﴿رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا﴾
﴿رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ﴾
﴿وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا﴾

Dalam hadis Muslim, Allah langsung menjawab:

«قد فعلت»
“Aku telah mengabulkannya.”

Inilah doa yang dijamin langsung oleh Allah.


5. Memperkuat Keimanan dan Tawakal

Ayat pembuka dari 10 ayat terakhir menyatakan:

﴿آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ … وَالْمُؤْمِنُونَ﴾

Ibnu Katsir menjelaskan:
Ayat ini adalah pujian Allah kepada Rasulullah ﷺ dan seluruh orang beriman karena sempurnanya keimanan mereka.

Ini ayat penguat jiwa. Ayat yang mengingatkan bahwa seorang mukmin berjalan dengan cahaya iman dan pertolongan Allah.


6. Menghapus Beban Umat Terdahulu

Di dalam doa penutup terdapat permohonan agar umat Islam tidak diberi beban berat seperti umat-umat sebelumnya.

Dan Allah menjawab:

«قد فعلت» – “Aku kabulkan.”

Artinya:
Allah telah memudahkan syariat ini, dan memberi kita jalan yang lapang untuk menjadi hamba-Nya.


Penutup

Sepuluh ayat terakhir Al-Baqarah adalah ketenangan bagi hati, penjaga rumah, dan pengabul doa-doa besar seorang hamba. Tidak ada kerugian bagi siapa pun yang membacanya setiap malam. Bahkan, ia adalah ibadah ringan yang diganjar perlindungan berat.

Mulailah malam ini, wahai jiwa. Bacalah ayat-ayat mulia ini sebelum memejamkan mata, dan biarkan cahaya Al-Baqarah menjaga malam Anda.