Sunday, February 26, 2023

Hidayah Itu Dari Allah.




Secara Islami kita sangat perhatian masalah hidayah, karena secara dalil hidayah itu datangnya dari Allah. Allah telah memberi ketentuan bahwa barang siapa yang Allah menghendaki seseorang mendapat hidayah atau petunjuk, maka Allah akan melapangkan hati nya untuk menerima Islam. Sebaliknya Allah tidak menghendaki seseorang dapat hidayah maka hatinya akan sempit dalam menerima Islam, digambarkan orang itu seakan-akan disuruh naik kelangit.

Hidayah yang dimaksud adalah nikmat berupa keimanan yang diberikan oleh Allah kepada individu manusia.
Semua orang Islam berdoa antara lain yang sangat sering dibaca:

رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ٢٠١


“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Itu artinya apa, orang yakin kehidupan itu ada di dunia dan ada kehidupan akhirat. 

Secara etimologis, hidayah berarti ar-rasyaad ‘bimbingan’ dan ad-dalaalah ‘petunjuk’. Kata ini bahkan punya keterkaitan yang erat dengan kata hadiah. Bedanya, hidayah bersifat abstrak dan spiritual, sedangkan hadiah bersifat konkret, material. Hidayah secara etimologi (bahasa) lawan dari al-dalālah yang bermakna kesesatan. Hidayah itu sendiri adalah memberi petunjuk. Alquran adalah mukjizat Islam secara etimologi lafaẓ hidayah yaitu bermakna yaitu menunjukkan, menuntun, memberitahu jalan yang benar.

Pada umumnya, hidayah dibagi menjadi dua yakni yang pertama hidayah bayan wal irsyad (penjelasan dan petunjuk). Hidayah ini cenderung dimiliki oleh para nabi dan rasul. Hidayah turun kepada mereka dan mereka punya kewajiban menyampaikan dan menjelaskan hal tersebut kepada umat yang ada bersama mereka pada saat itu.
Kemudian ada hidayah taufiq, yang merupakan hidayah yang Allah turunkan kepada hamba-hamba Allah, siapa saja, dengan syarat punya kemauan dan kesungguhan untuk mendapatkan hidayah Allah.
Allah menjadikan ilham dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah SWT. Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya:

{فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ}

"Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya" (QS Faathir: 8).

Contoh dalam keluarga Nabi, kakeknya, pamannya.

Firman Allah:

 إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash : 56)

Ayat ini turun saat kematian Abu Thalib dalam keadaan ia musyrik kepada Allah. . Maka ucapan terakhir yang dikatakan oleh Abu Thalib adalah: bahwa ia tetap masih berada pada agamanya Abdul Muthalib, dan dia menolak untuk mengucapkan kalimat: “la ilaha illallah“, kemudian Rasulullah bersabda: “sungguh akan aku mintakan ampun untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang”, lalu Allah menurunkan firman-Nya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ

“Tidak layak bagi seorang Nabi serta orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” (QS. Al Bara’ah: 113).

Dan berkaitan dengan Abu Thalib, Allah menurunkan firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ

“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad tak bisa memberikan hidayah (petunjuk) kepada orang-orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al Qashash: 57).

 

Barang siapa yang dikehendaki Allah mendapat hidayah atau petunjuk, Allah akan melapangkan hati nya untuk menerima Islam. Akan tetapi barang siapa yang dikehendaki Allah tidak dapat hidayah maka hatinya akan sempit untuk menerima Islam, seakan-akan dia disuruh naik kelangit. QS. Al-An'am :125


Seperti dalam firman Allah SWT:

{وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ}

"Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga) kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami" (QS al-A’raaf: 43).

Hidayah tidak dapat dibeli, tapi ini adalah nikmat Allah yang hanya dianugerahkan kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Namun, ada beberapa jalan yang bisa dilakukan manusia untuk mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Firman Allah:

 إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash : 56)

Maka ucapan terakhir yang dikatakan oleh Abu Thalib adalah: bahwa ia tetap masih berada pada agamanya Abdul Muthalib, dan dia menolak untuk mengucapkan kalimat: “la ilaha illallah“, kemudian Rasulullah bersabda: “sungguh akan aku mintakan ampun untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang”, lalu Allah menurunkan firman-Nya:

 

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ

“Tidak layak bagi seorang Nabi serta orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” (QS. Al Bara’ah: 113).


Karena apabila Nabi Muhammad sebagai makhluk termulia dan yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah, tidak dapat memberi hidayah kepada siapapun yang beliau inginkan, maka tidak ada sembahan yang haq melainkan Allah, yang bisa memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah yang lebih tahu hakikatnya- peristiwa ini adalah peristiwa paling menyedihkan yang dialami Rasulullah dalam hidupnya.
Memang benar, Rasulullah banyak mengalami musibah kehilangan orang-orang yang beliau cintai. Beliau menyaksikan dua orang istrinya wafat sebelum dirinya, Khadijah dan Zainab bin Khuzaimah radhiallahu ‘anhuma. Satu per satu anak-anak beliau wafat mendahului dirinya, kecuali Fatimah. Beliau juga kehilangan sahabat-sahabat dekat semisal Hamzah bin Abdul Muthalib, Abu Salamah bin Abdul Asad, Utsman bin Mazh’un, Saad bin Mu’adz, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dll. Radhiallahu ‘anhum. Tapi, musibah kematian Abu Thalib berbeda. Kematian Abu Thalib ini lebih terasa berat. Mengapa? Karena sang paman yang sangat beliau cintai wafat dalam kekufuran. Sedangkan keluarga dan sahabat-sahabatnya tadi wafat dalam keimanan. Beliau -dengan izin Allah- tetap akan berjumpa dengan mereka di telaganya dan di surga kelak. Adapun Abu Thalib, perpisahan dengannya adalah perpisahan untuk selama-lamanya.

Peristiwa wafatnya Abu Thalib ini memberikan pesan yang dalam pada kita bahwa segala perkara itu di tangan Allah. Dia mengetahui yang tidak kita ketahui. Dia mengetahui mata-mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di sanubari. Dia tahu, mana orang yang layak mendapat hidayah.

Seseorang itu tak hanya dipandang zahirnya, tapi batinnya jauh lebih penting. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ، وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ». وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada fisik kalian, tidak juga pada tampilan kalian. Akan tetapi ia melihat kepada hati kalian.” Nabi menunjukkan tangannya ke dada.

Orang-orang kafir Quraisy tidak menaruh iba untuk menghormati wafatnya pembesar bani Hasyim ini. Bahkan mereka bergembira dan menampakkan suka cita. Mereka berkumpul mengunakan kesempatan untuk semakin menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam benak mereka, sekarang Muhammad tanpa perlindungan.

Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan,

مَا زَالَتْ قُرَيْشٌ كَاعَّةً حَتَّى تُوُفِّيَ أَبُو طَالِبٍ

“Orang-orang Quraisy senantiasa takut dan lemah hingga wafatnya Abu Thalib.” (HR. Hakim dalam Mustadrak 4243).

Mereka berusaha menumpuk-numpuk derita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wafatnya Abu Thalib adalah ujian berat yang dihadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tahun ke-10 kenabian beliau. Di tahun ini, Nabi mengalami banyak musibah berat. Di awal tahun, orang-orang Quraisy memboikot bani Hasyim. Pemboikotan dimulai dari tahun ke-7 kenabian hingga ke-10. Hingga bani Hasyim tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Baru saja bebas dari pemboikotan, paman beliau wafat. Yang berat adalah, sang paman wafat dalam kekufuran. Tiga hari kemudian, istri beliau, Khadijah, wafat. Ujian terus berdatangan. Beliau semakin ditekan. Dan berturut-turut ujian lainnya. Termasuk ditolak berdakwah di Thaif. Karena itu, wajar tahun ini disebut tahun kesedihan.

 

Nasihat dan saran mengingat hidayah yang diberikan Allah pada masing-masing sebagai manusia, maka bagaimana baiknya kita menyikapi nasehat hidayah, utamanya untuk diri kita masing-masing dan keluarga. Kita orang yakin kehidupan itu dunia dan kehidupan akhirat, itu haq, pasti terjadi. Kita pun meyakini kalau sorga itu haq pasti akan ditemui, dan neraka itu haq, pasti akan keberadaannya. Kehidupan dunia kehidupan yang fana tempatnya cobaan, untuk menentukan kehidupan akhirat kita. Sebagai orang Islam kita selalu berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Untuk mencapai itu semua di dunia bahagia dan akhirat bahagia artinya masuk sorga, cara yang ditempuh dalam mengisi hidup di dunia kita harus berusaha mendekatkan diri pada Allah. Caranya, adalah dengan Taqorrub ilallah, yaitu lewat. Kesungguhan niat mendekatkan diri pada Allah. Mengerjakan kewajiban-kewajiban ibadah dengan tertib. Memperbanyak sholat sunnah, puasa sunnah, dan shodaqoh.  Membaca Al-Quran dengan mengerti maknanya. Berdoa dan sholat pada sepertiga malam yang akhir (qiyamullail). Banyak dzikir kepada Allah. Sabar keporo ngalah , menahan hawa nafsu dan menjadikan syaitan sebagai musuh. Menjauhi dosa besar dan tidak meremehkan dosa kecil. Menjaga pergaulan,  menghindari ahli maksiat. Memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah, tobat berarti berpindah dari hal yang kurang baik menuju ke kehidupan dengan penuh keimanan Allah SWT, dan taubat dalam arti sesungguhnya.

Demikianlah, pemahaman hidayah itu dari Allah, mudah-mudahan saja bermanfaat dan barokah..



Sumber :

ganaislamika.com
bincangsyariah.com
muslim.or.id
kompasiana.com 
quran.kemenag.go.id
youtube.com/watch?v=gQ_d-jLXdLM

QS. Thaha : 50
QS. Al-Baqarah: 5
QS. Fatir :4
QS Al-An'am: 125
QS. Al-A'raf:178
QS Fushshilat: 17
QS Al-A’raaf: 43
QS. Al Qashash: 57
QS Asy-Syura : 52

Monday, February 20, 2023

Kehidupan Yang Sempit



Siapapun tak akan mau mengalami yang namanya kehidupan yang sempit, kehidupan yang terbayang sebagai kehidupan yang serba susah, dimana apapun yang ingin dicapai sangat sulit. Seumpama dalam hal  mencari uang mencari nafkah, hanya dapat sedikit diluar dari kebiasaan orang umumnya. Ingin berkeluarga, bingung siapa yang mau dengan orang pekerjaan serabutan belum mapan seperti saya. Ketika sudah bekeluarga, kepengin punya anak turun, dengan susah payah baru sepuluh tahun baru dapat turunan. Ketika anak sudah hadir, timbul persoalan dari apa susu bayi sampai urusan balita, timbul masalah anak sekolah dimana. Lebih banyak lagi urusan kemasyarakatan, disaat orang tua mencari nafkah yang serabutan, dirumah anak kita entah dengan siapa berinteraksi. Timbul lakon-lakon tidak lazim pada anak sedang tumbuh remaja, sementara ibu juga sibuk cari tambahan buat makan sehari hari. Ini semua kehidupan lumrah dan nyata dalam masyarakat.
Sementara, terjadi sebaliknya pada pihak keluarga yang soal materi tidak ada soal, semua dijalankan dari mulai urusan maisyah urusan mencari nafkah mudah dan berlebih, menurut sudut pandang ukuran manusia normal, tidak tercermin sebagi orang puas, lega, apa yang sudah dimiliki, malah mencari terus dan berusaha terus lebih banyak mengingat permintaan anak pesan istri. Merasa khawatir kurang terus gelisah terus, apa yang dicari apa yang dipikirkan. Terlihat istri aktif kemana mana anak juga sibuk berinteraksi menjaga gengsi gaul, tapi kata tetangga semua mengeluhkan kehidupannya. Ada apa itu semua, apa yang terjadi dengan kedua ilustrasi itu, yang betul ada dikalangan ummat manusia dimanapun, seperti mengalami kehidupan yang sempit. Bahkan lebih ekstrim lagi kalau kita simak berita-berita disemua media ada nyata.

Secara Islami kita melihat, apakah ini dimaksud kehidupan yang sempit, kita coba memakai pendapat para ulama yang berdasarkan kaidah Islami. Dari sana rata-rata menggunakan ayat berikut :

Barang siapa yang berpaling dari peringatan Ku (maksudnya ku nya Allah), maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Akan mengumpulkan Aku pada hari kiamat dalam keadaan buta. QS Thoha (20) : 124

Jadi karena engkau mengabaikan peringatanku ayat-ayatku, engkau diberi kehidupan sempit didunia, dan di alam kubur disiksa. Dan pada hari kiamat engkau dikumpulkan dalam keadaan buta juga tidak ada lagi hujjah,

Sebenarnya adanya kamu merasakan kehidupan yang sempit karena kamu telah kedatangan ayat2ku, tapi engkau melupakannya. Padahal sudah ada ayat ayatnya Allah, ada orang yang menyampaikan dan mengajak pada kamu, tapi kamu melupakannya maksudnya mengabaikannya bahkan tidak bisa menerima. Demikian pula hari ini engkau pun dilupakan atau ditinggal didalam siksa. Sangat mengerikan, berdasarkan ayat ini Allah tidak main-main dengan ayat-ayatnya.

Kalau di rangkum beberapa pikiran ulama, jadinya berdasarkan ayat itu, mengatakan, barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maksudnya dari petunjuk Allah, tidak menerima, dan tidak mewujudkannya, apa yang diingatkan Allah, yakni dari agama Allah,  serta berpaling dari membaca kitab-Ku dan berpaling dari beramal dengan isi kandungan Alquran, maka sesungguhnya baginya di dunia ini kehidupan sempit lagi sengsara, (walaupun tampaknya dia termasuk orang bermartabat dan berkemudahan) di dunia, dia akan mendapat kehidupan yang menderita dan penuh kesulitan meski secara zahir dia mendapat kenikmatan; kehidupan yang sengsara lagi sempit  di dunia ini dan juga di alam kubur. Dan Allah  akan menghimpunnya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta dan tidak ada hujjah. Dan Allah akan menggiringnya di padang Mahsyar  pada hari Kiamat kelak dalam keadaan buta; tidak bisa melihat dan tidak memiliki hujah. dan pada hari kiamat dia akan dibangkitkan dalam keadaan buta, sehingga dia akan bertanya:

“Ya Tuhanku, mengapa Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal ketika di dunia aku dapat melihat?”( QS 20: 125 )

َالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا ١٢٥

Oleh karena itu saudaraku yang Islami, tak tertutup kemungkinan itu terjadi dikalangan kita, tinggal kita introspeksi diri kita masing-masing seberapa jauh kita sudah menunaikan kewajiban kita sebagai hamba Allah. 

Sebab semua kita terlahir, karena sudah menjawab pertanyaan Allah sewaktu alam roh, Alastu birobbikum? Apakah Aku bukan Tuhanmu? Kita menjawab, bala, ya wahai Tuhanku.

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ ١٧

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,”

Jadi penjelasan lebih jauh, Allah perintah telah kepada Nabi Muhammad. Ceritakan Muhammad ketika itu Tuhanmu, mengambil janji kepada anak-anak Adam, ketika Allah mengeluarkan mereka dari punggung Nabi Adam, (prakteknya yang diusap punggungnya Nabi Adam), keluarlah anak-anak-turun nya semua yang masih berupa arwah. Ketika Allah mengeluarkan anak-turun Adam, dikeluarkan semua (tapi dalam bentuk arwah), oleh Allah dijanji, dan dipersaksikan pada diri mereka, (apa janjinya yang diambil Allah dari mereka?), mereka dijanji sanggup iman, tidak syirik, mereka dijanji untuk menetapi perintah Allah, menjauhi larangan Allah, Iman kepada Allah, iman kepada Rasul- Rasul Allah, termasuk iman kepada Kitab-kitab Allah, mereka berjanji seperti itu dipersaksikan kepada mereka.
Kemudian Allah menanyakan, Bukankah Aku Tuhan Kalian? (apa jawab mereka) , bala , iya, syahidna, bersaksi kami, bahwa Tuhanku hanya Engkau.
Berarti zaman arwah dulu sudah dijanji oleh Allah, sanggup iman kepada Allah, sanggup iman kepada utusan Allah, sanggup iman kepada kitab-kitab Allah.
Disebut sanggup iman pada Allah , otomatis yang berhubungan dengan Allah dipercaya semua, rasulnya, kitabnya, supaya dipercaya semua, (mereka mengakui), agar tidak berkata kalian pada hari kiamat, kami lupa.

Adanya kamu saya minta untuk mempersaksikan ini, supaya kamu nanti pada hari kiamat tidak alasan , wah saya lupa. Apalagi dalam Alquran di ulang lagi, diceritakan lagi. Oleh Nabi Muhammad diingatkan lagi, diceritakan lagi, kita belajar, membaca, mengaji saat ini dingatkan lagi, supaya kalian nanti pada hari kiamat tidak berkata, tidak alasan, bahwa saya lupa dengan janji saya.

Termasuk kalau didalam hadist Abu Daud itu diceritakan, bahwa Allah itu menciptakan Nabi Adam, Allah mengusap punggungmya Nabi Adam dengan tangan kanannya, kemudian Allah mengeluarkan dari Nabi Adam itu anak turunnya, Anak turan yang aku keluarkan dari Nabi Adam ini adalah kami persiapkan menjadi penghuni sorga, mereka itu nanti akan beramal sesuai dengan amalan ahli sorga sampai matinya, kemudian Allah mengusap lagi punggungnya Nabi Adam, kemudian nabi  akan mengeluarkan anak Adam itu, tapi waktu masih berujud arwah, nyawa, mereka itu aku jadikan untuk Neraka, untuk menjadi penghuni neraka, mereka akan beramal sesuai dengan amalan ahli neraka, 
Kemudian ada seorang sahabat setelah mendengar hadist itu, bertanya kepada Nabi, Lha terus untuk apa kita beramal Nabi, kalau sudah memang  ada qodarnya menjadi ahli sorga atau ahli neraka, lantas amalan kita itu untuk apa, 

Nabi menjawab: ketika Allah menjadikan seorang hamba ini menjadi ahli sorga, maka oleh Allah diamalkan, dibuat beramal amalan-amalan ahli sorga sampai dia mati tetap beramal amalan ahli sorga, akhirnya Allah memasukkan hamba tersebut dengan amalannya kedalam sorga.

Demikian juga ketika Allah menjadikan seorang hamba untuk menjadi penghuni neraka, maka untuk didunianya oleh Allah diberi  mengamalkan amalan ahli neraka sampai matinya tetap mengamalkan amalan ahli neraka, ga mau solat, ga mau ibadah, ga mau baca Alquran ga mengaji, sampai matinya, akhirnya Allah memasukkan hamba itu kedalam neraka, sebab amalan itu.

Jadi kalau sekarang kita mengamalkan amalan ahli sorga, supaya disyukuri, minta terus pada Allah supaya tetap beramal amalan ahli sorga sampai mati. sehingga kita mati dalam keadaan husnul khotimah, semoga semua menjadi ahli sorga, Aamiin. Mudah mudahan yang sedikit ini bisa menolong pencerahannya bagi yang memerlukannya.






Anyone would not want to experience what is called a cramped life, a life that is imagined as a difficult life, where whatever you want to achieve is very difficult. For example, in terms of making money, making a living can only be a little out of the ordinary for people in general. If you want to have a family, you are confused about who wants someone with odd jobs that are not yet established. When you have a family, you want to have children down, with great difficulty it is only ten years old that you can have children. More societal affairs when parents make a living odd jobs, at home our children don't know who we interact with. Unusual acts arise in children who are growing up, while mothers are also busy looking for extras for their daily meals. This is all normal and real life in society. On the other hand, on the family side, there are no problems with material matters. Everything is carried out, starting with the business of making a living, making an easy and extravagant living. keep trying and keep trying to remember more requests for children to order from your wife. It can be seen that the wife is active everywhere, the children are also busy interacting, but the neighbors said that everyone was complaining about their life. What is it all about, what happened to the two illustrations, which is true among mankind everywhere. It's even more extreme if we look at the news in all the media.

 

Islamically, we see whether this is meant by a narrow life. We try to use the opinion of the scholars who are based on Islamic principles. From there the average uses the following paragraph:

 

Whoever turns away from My warnings (I mean Allah), then indeed he will have a narrow life. Will gather Me on the Day of Resurrection blind. QS Thoha (20): 124

 

So because you ignored my warnings from my verses, you were given a narrow life on earth and buried in torment. And on the Day of Judgment you will be gathered in a state of blindness and there will be no evidence,

Actually you have come my verses, but you forgot them. Even though there are already verses from Allah, there are people who convey and invite you, but you forget to ignore them and cannot accept them, so today you are also forgotten or left in torment.

 

If we summarize some of the thoughts of these scholars, it will be based on that verse, saying, whoever turns away from My warning, that is, from Allah's guidance, does not accept, and does not make it happen, what Allah reminds him, namely from Allah's religion, and turns away from reading My book and turning away from doing good deeds with the contents of the Qur'an, then actually for him in this world life is narrow and miserable, (even though it seems he is one of the people with dignity and ease) in the world, he will have a life of suffering and full of difficulties even though physically he gets pleasure; a miserable and cramped life in this world and also in the grave. And Allah will collect them on the Day of Resurrection blind and without evidence. And Allah will lead him to the plains of Mahsyar on the Day of Resurrection later in a blind state; unable to see and has no argument. and on the Day of Resurrection he will be raised blind, so he will ask:

 

"O my Lord, why did you raise me blind, when in the world I could see?" (Surah 20: 125)

Therefore, my Muslim brothers and sisters, it is possible that this will happen among us. It remains for us to introspect ourselves, how far we have fulfilled our obligations as servants of Allah.

Because all of us were born, because we answered God's question during the spiritual realm, Alastu birobbikum? Am I not your God? We answer, bala, yes my Lord.



(Remember) when your Lord brought forth from the backbone of Adam's offspring, their descendants and Allah took his testimony against themselves (while saying), "Am I not your Lord?" They replied, "Yes (You are our God), we testify." (We did it) so that on the Day of Judgment you (not) say, "Indeed we were heedless of this,"

 

So a further explanation of Allah's commands has been to the Prophet Muhammad. Tell Muhammad that at that time your Lord, took a promise to the children of Adam, when Allah took them out of the back of Prophet Adam, (the practice that was rubbed on the back of Prophet Adam), all of his children who were still spirits came out. When Allah brought out Adam's children, all of them were issued but in the form of spirits, Allah promised, and witnessed to them, (what promise did Allah take from them?), They were promised to be able to faith, not shirk, they were promised to obey Allah's commands , stay away from Allah's prohibitions, Faith in Allah, faith in Allah's Messengers, including faith in Allah's Books, they promised that way was witnessed to them.

Then Allah asked, Am I not your Lord? (what did they answer) , bala , yes, shahidna, testify us, that my Lord is only You. This means that in the past, the spirit age had been promised by God, capable of faith in God, capable of faith in God's messengers, capable of faith in God's books.

It is called being able to believe in Allah, automatically everything related to Allah is trusted by all, His messengers, His books, so that all are believed, (they admit), so that you will not say on the Day of Judgment, we forgot.

 

I ask you to testify about this, so that you don't have excuses on the Day of Resurrection, wow I forgot. Moreover, in the Koran it is repeated again, it is told again. The Prophet Muhammad reminded him again, told him again, we study, read, recite the Koran at this time, remind him again, so that you will not say on the Day of Judgment, there is no reason, that I forgot my promise.

 

Including that in the hadith of Abu Daud it is narrated that Allah created Prophet Adam, Allah rubbed Prophet Adam's back with his right hand, then Allah took out from Prophet Adam his descendant, the son of Turan that I took out from Prophet Adam is that we prepared him to become the inhabitants of heaven. , they will later do good deeds according to the practices of the experts in heaven until they die, then Allah wipes again the back of Prophet Adam, then the prophet will bring out the children of Adam, but when they are still in the form of spirits, souls, I make them for Hell, to become residents of hell, they will act according to the deeds of the people of hell,

Then there was a friend after hearing the hadith, asked the Prophet, Then what are we doing for the Prophet's charity, if there is already a decision to become an expert in heaven or an expert in hell, then what is our practice for?

 

The Prophet replied: when Allah made this servant a member of heaven, then by Allah he practiced it, made him do good deeds of the experts of heaven until he died, he continued to do the deeds of the experts of heaven, finally Allah put the servant with his deeds into heaven.

 

Likewise, when Allah makes a servant to become an inhabitant of hell, then for his world by Allah he is given to practice the deeds of the experts of hell until his death, he continues to practice the deeds of the experts of hell, he does not want to pray, he does not want to worship, he does not want to read the Koran, he does not recite the Koran, until his death, finally Allah put the servant in hell, because of that practice.

 

So if now we practice the deeds of the experts in heaven, to be grateful, keep asking Allah to keep doing the deeds of the experts in heaven until we die. so that we die in a state of husnul khotimah, may all be members of heaven, Aamiin. Hopefully this little bit can help enlighten those who need it.













Friday, February 17, 2023

Lagi Tentang Qodar Allah




Untuk memahami qodar ini memang suatu kesulitan sendiri, tidak saja orang orang zaman sekarang, para sahabat Rasulullah yang mendengar langsung waktu itu sering mengambil kesimpulan yang salah, diketahui ketika para sahabat itu bertanya kepada Rasul SAW. Kita merasa penting memahamkan dalam masalah qodar Allah ini mengingat cobaan hidup yang silih berganti.

Ibarat kata orang, adakalanya kita dalam keadaan 'dibawah', dan adakalanya kita dalam kondisi 'diatas'. Maksudnya tak selamanya kita hidup kekurangan, sewaktu waktu kita akan bisa saja senang. Sama sama berpangkat jenderal tapi yang satu hidup mewah yang satu hidup pas pasan. Sama sama jualan beras dipasar bersebelahan yang dijual sama harganya sama kualitas sama tapi penghasilannya tetap beda. Jadi apa artinya itu semua. Berikut kita simak suatu hadis dari Rasulullah barangkali bisa menolong pemahaman tentang qodar Allah.

Pada suatu ketika, dari Abu Hurairah, menyampaikan bahwa Nabi SAW bercerita, bahwa saling berdebat antara Nabi Adam dan Nabi Musa, dimana perdebatan itu di menangkan oleh Nabi  Adam.  Cerita nya,  Ketika Nabi Musa bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Musa mengatakan terhadap Nabi Adam, bahwa apakah engkau Adam, yang menjerumuskan manusia dan menyebabkan manusia keluar dari sorga, bertanya Musa dengan menunjukkan kekesalan. Jadi Musa, dengan nada kesal berkata pada Adam, Engkau membuat manusia menjadi terlempar di dunia dan menjadi berlumuran dosa.

Walaupun nabi Musa berkata begitu sebagai anak turun nya, Nabi Adam tetap menghormat Nabi Musa.

Menjawab Nabi Adam, "Apakah engkau Musa, orang yang telah mendapat ilmu segala sesuatu dan memilih Allah padamu, mengalahkan manusia yang lain, dengan membawa risalahnya Allah? Dari sekian banyak orang kamu telah dipilih Allah untuk membawa risalah Allah. Musa menjawab, ya.

Maka apakah mencela engkau padaku, atas perkara yang telah diqodarkan Allah, dan perkara itu pasti terjadi,  sebelum aku diciptakan.? Setelah itu Nabi Musa terdiam. Jadi orang bisa berbuat ketaatan atau  berbuat kemaksiatan itu sudah ditakdirkan oleh Allah, sudah ada qodar Allah, garis dari Allah.Sebelum Adam diciptakan takdirnya sudah di tentukan oleh Allah, nanti Adam akan berbuat kemaksiatan.

Maka kalau kita lihat firman Allah dan Sabda Rasulullah SAW dibawah

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقْدِيْرًا

Allah menciptakan semua makhluknya kemudian Allah membuat qodar masing-masing makhluk

( QS.25 Al-Furqon :2 )

Diperkuat dalam riwayat  ( Muslim ) Rasul SAW bersabda

كَتَبَ الله مَقَادِيرَ الخَلاَءِقِ السَّمَاواتِ والا رضَ بِخَمْسِينَ ألْفَ سَنَةٍ

        Allah telah menulis semua qodar atas seluruh makhluknya lima puluh ribu tahun

        sebelum Allah menciptakan langit dan bumi

Jadi dari riwayat diatas hendaknya kita yang mengisi kehidupannya cara Islami, segera menyadari kita berjalan diatas takdir Allah yang dibuat untuk kita. Apa yang ingin kita sampaikan bahwa hidup di dunia ini bersifat fana, semua berubah, yang awalnya janin, lahir bayi, balita, remaja, dewasa, tua, wafat. Begitu juga awalnya manusia tidak apa-apa, suatu kita bisa jadi orang kaya. Suatu saat kita merasakan bahagia sukses disegala urusan tiba-tiba bisa gagal disegala masalah. Ketika orang dalam situasi keadaan dibawah dalam segala apakah kita harus marah-marah dengan kegagalan kita. Atau harus meratapinya apa yang kita sesalkan.

Oleh karena itu kita harus bijak menyikapi hidup. Pertama kita harus menyadari pada akhirnya hidup kita didunia akan batasnya dan setelah itu kita kembali kepada Allah menjalani hidup di alam akhirat

Kemudian belajar dari pengalaman hidup sendiri dan pengalaman hidup orang lain bahwa, sepanjang hidup tak selamanya orang itu nikmat bahagia, dan tidak juga orang selamanya mendapat cobaan menderita hidup susah. Dilain pihak tidak selamanya orang yang  dalam kebenaran itu benar terus, adalanya dia berbuat salah. Bukan mustahil orang yang selalu berbuat pelanggaran bisa kembali jadi orang baik.

Sampai dalam suatu riwayat mengatakan bahwa Rasul SAW pernah menyampaikan, Andaikata semua manusia sudah jadi orang baik semua, pasti Allah akan mendatangkan kaum yang kaum itu akan berbuat salah dan bertaubat. Allah senang kepada orang yang bertaubat.

Jadi arah pembicaraan kita tentang qodar Allah ini, adalah kita memahami bahwa garis hidup kita sudah ada qodarnya. Maka menghadapi nya harus dengan bijak, ketika kita mengalami musibah jangan terlarut dalam kesedihan. Tidak hina orang dapat musibah karena itu adalah cobaan hidup yang sudah ditakdirkan sudah ada qodarnya. Sebagai orang yang Islami bagaimana yang diajarkan petunjuk dari Allah dan Rasul dalam ketika mengalami musibah, harus sabar. Nabi menuntunnya dengan doa, agar kita dalam keseharian sering-sering berdoa " “Allahummaj-‘alnii syakuuran, waj-‘alnii shabuuran, waj-‘alnii fii ‘ainii shaghii-ran, wafii a’yunin-naasi kabiiran”.

Insya Allah, kalau terus di lazimkan tidak disadari doa itu akan menjadi jiwa kita, cobalah.

Begitu juga bila menghadapi hidup yang selalu sukses, bahagia, kecukupan kita juga sedang menjalani qodar kita seperti, sehingga secara Islami kita terjaga dari sikap sombong, yaitu seolah olah keberhasilan itu sebab kepintaran dan keuletan kita, itu tidak. Semua terjadi karena izin Allah. Jangan sampai kita di takdirkan jadi orang yang tidak bersyukur dan sombong. Begitu saja Insya Allah pembahasan nya kita batasi, semoga yang sedikit ini bisa mendapatkan manfaat bagi kita semua.




To understand this destiny is indeed a difficulty in itself, not only people today, the companions of the Prophet who heard directly at that time often drew the wrong conclusions, it was known when the friends asked the Prophet SAW. We feel it is important to understand in this matter of God's destiny, remembering the trials of life that go one after another.

As people say, sometimes we are 'under', and sometimes we are 'above'. It means that we don't always live in poverty, at any time we will be happy. Both have the rank of general, but one lives a luxurious life, the other lives just barely. It's the same as selling rice in adjoining markets which are sold at the same price, the same quality, but the income is still different. So what does it all mean. Here we look at a hadith from the Messenger of Allah, perhaps it can help an understanding of God's destiny.

 

At one point, from Abu Hurairah, he conveyed that the Prophet SAW told a story, that the Prophet Adam and Prophet Musa had a debate, where the debate was won by Prophet Adam. The story goes, when Prophet Musa met Prophet Adam, Prophet Musa said to Prophet Adam, that are you Adam, who plunged humans and caused humans to get out of heaven, asked Moses with annoyance. So Moses, in an annoyed tone said to Adam, You made man thrown into the world and became covered in sin.

 

Even though the prophet Musa said that as his descendant, Prophet Adam still respected Prophet Musa.

 

Prophet Adam answered, "Are you Musa, the one who has acquired knowledge of all things and chose Allah for you, defeating other human beings, by bringing Allah's message? Of all the people you have been chosen by Allah to carry Allah's message. Musa replied, yes.

 

So do you reproach me for the things that God has ordained, and these things must have happened before I was created? After that the Prophet Musa was silent. So a person can act in obedience or commit disobedience, that was predestined by God, there was a destiny from God, a line from God. Before Adam was created, his destiny was already determined by God, later Adam would commit disobedience.

 

So if we look at the word of Allah and the Word of Rasulullah SAW below

 

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقْدِيْرًا

 

Allah created all his creatures then Allah made the destiny of each creature

 

( QS. 25 Al-Furqan : 2 )

 

Strengthened in the history of (Muslim) Rasulullah SAW said

 

كَتَبَ الله مَقَادِيرَ الخَلاَءِقِ السَّمَاواتِ والا رضَ بِخَمْسِينَ ألْفَ سَنَةٍ

 

         Allah has written all the destiny of all creatures fifty thousand years before Allah created the heavens and the earth

 

So, from the history above, those of us who fill our lives in the Islamic way should immediately realize that we are walking on the destiny Allah has made for us. What we want to convey is that living in this world is temporary, everything changes, from the beginning it is a fetus, a baby is born, a toddler, a teenager, an adult, an old man, he dies. Likewise, at first it's okay for humans, one day we can become rich people. One time we feel happy, successful in all matters, suddenly we can fail in all problems. When people are in a situation where they are under everything, we have to be angry with our failures. Or have to mourn what we regret.

 

Therefore, we must be wise in dealing with life. First we must realize that in the end our life in this world will be limited and after that we return to Allah to live life in the afterlife

 

Then learn from one's own life experience and the life experiences of others that, throughout life, people are not always happy to be happy, and not people are always going to have trials and suffering in a difficult life. On the other hand, people who are in the truth are not always right, they are always wrong. It is not impossible that people who always commit violations can return to being good people.

 

In a history it was said that the Prophet SAW once said, If all humans had become good people, Allah would surely bring people who would make mistakes and repent. Allah is pleased with those who repent.

 

So the direction of our conversation about God's destiny, is that we understand that our lifeline has a destiny. So we have to deal with it wisely, when we experience a disaster, don't be dissolved in sadness. It's not despicable for people to get into a disaster because it's a trial in life that is predestined to have a destiny. As an Islamic person, what is taught by guidance from Allah and the Messenger when experiencing a disaster, one must be patient. The Prophet guided him with prayer, so that in our daily lives we often pray "Allahummaj-'alnii syakuuran, waj-'alnii shabuuran, waj-'alnii fii 'ainii shaghii-ran, wafii a'yunin-naasi kabiiran".

 

God willing, if we continue to make it a habit, we don't realize that prayer will become our soul, try it.

Likewise, when facing a life that is always successful, happy, sufficient, we are also living our destiny like this, so that Islamically we are protected from being arrogant, that is, as if success is due to our intelligence and tenacity, it is not. Everything happens because of Allah's permission. Don't let us be destined to be ungrateful and arrogant people. Just like that, God willing, we will limit the discussion, hopefully this little bit can benefit us all.

Thursday, February 2, 2023

Berbuatlah Adil Kalian Semua



Berbuat adil  dalam hal sebagai saksi dalam suatu peristiwa, dalam keadaan normal bisa berjalan dengan baik. Tapi dalam situasi dimana orang yang membutuhkan saksi kita, itu bermasalah terhadap kita, orang nya kelakuannya memang buruk pernah pula menyakiti hati kita. Atau yang bermasalah masih ada hubugan kerabat dengan kita, akan timbul konflik kepentingan.

Tapi apapun itu hukum adalah hukum yang harus ditegakkan. Beruntungnya kita orang Islam punya pegangan peraturan dari Allah Swt dan juga hadist hadist seperti kisah Rasulullah SAW dalam menegakkan keadilan harus jadi pegangan umat Islam, khususnya yang menjadi penegak hukum di negeri ini. Karena,dalam agama Islam untuk berbuat adil tidak pernah pandang bulu,

Wahai orang-orang yang beriman jadilah kalian orang yang menetapi karena Allah orang yang menjadi saksi dengan adil. Jangan mendorong dari kalian marahnya kaum kelakuan kaum atas bahwa tidak berbuat adil kamu sekalian. Adapun berbuat adil mendekatkan diri kepada ketaqwaan, dan takutlah pada Allah, Sesungguhnya Allah maha waspada dengan apa-apa mengerjakan kamu sekalian.(QS. Al-Ma'idah Ayat 8)

Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya." (HR. Bukhari )

Dari hadist tersebut kita bisa ikuti riwayatnya. Ketika itu Urwah bin az-Zubair, salah seorang sahabat Nabi, bercerita kepada Az-Zuhri tentang kejadian yang ia saksikan sewaktu Nabi hidup. Pada waktu itu, Urwah melihat bahwa seorang wanita bernama Fatimah al-Makhzumiyyah, putri dari pemimpin suku Al-Makhzumi, pada hari Fathu Mekah, itu kedapatan mencuri.

Kaumnya minta tolong kepada Usamah bin Zaid yang diketahui dekat dengan Nabi.

Ayahnya Usamah, Zaid bin Haritsah, adalah anak angkat Nabi. Karena itu mereka menemui Usamah dan memintanya agar bisa menolong putri kepala suku itu agar nantinya tidak akan dihukum oleh Nabi. Singkat cerita Usamah mau beramal solih sehingga datanglah Usamah menemui Nabi dengan menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya. Mendengar apa yang dikatakan Usamah, wajah Nabi berubah marah.

Nabi bersabda, ''Apakah engkau akan mempersoalkan ketentuan hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah?'' Usamah kemudian berkata, ''Maafkan aku ya Rasul Allah.''

Rasulullah SAW berdiri di depan para sahabatnya sambil berkhutbah dengan terlebih dahulu memuji Allah karena Dialah pemilik segala pujian: ''Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian semua adalah disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri. Ketika salah seorang yang dianggap memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi mencuri, mereka melewatkannya atau tidak menghukumnya. Namun, ketika ada seorang yang dianggap rendah, lemah dari segi materi, ataupun orang miskin yang tidak memiliki apa-apa, dan orang-orang biasa, mereka menghukumnya. Ketahuilah, demi Zat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaan-Nya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.'' (HR Bukhari, No. 4.304).

Nabi ingin mengajarkan kepada umat manusia untuk tidak membeda-bedakan satu orang dengan yang lainnya dalam hukum. Semua orang sama, tidak ada yang kebal hukum. Karena, pembedaan dalam hukum merupakan sumber kehancuran umat-umat sebelum kita. Krisis ekonomi berkepanjangan, bangsa yang selalu dirundung persoalan, gejolak sosial yang hebat, merupakan imbas dari adanya hukum yang tidak adil. Hukum harus menjadi hukum, ia harus mengenai siapa pun yang terkait dengannya. Ini yang diterap oleh Nabi Muhammad SAW dengan tujuan mencapai keadilan yang haq senantiasa sesuai petunjuk Allah.


"Sesungguhnya telah membinasakan umat sebelum kalian, ketika di antara orang-orang terpandang yang mencuri, mereka dibiarkan (tidak dikenakan hukuman). Namun ketika orang-orang lemah yang mencuri, mereka mewajibkan dikenakan hukuman hadd. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya." (HR. Bukhari no. 4304 dan Muslim no. 1688


“Sesungguhnya yang telah membinasakan umat sebelum kalian adalah jika ada orang terhormat dan mulia di antara mereka mencuri, mereka tidak menghukumnya. Sebaliknya jika orang rendahan yang mencuri, mereka tegakkan hukuman terhadapnya. Demi Allah, bahkan seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya!”.

Tidak ada yang berubah pada ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Wanita dari keluarga yang terhormat itu tetap harus menjalani hukuman potong tangan.

Aisyah RA istri Rasulullah saw menuturkan, “Wanita itu kemudian bertobat , memperbagus tobatnya, dan menikah. Ia pernah datang dan menyampaikan hajatnya kepada Rasulullah.”

Setelah itu, Nabi menyuruh untuk memotong tangan Fatimah al-Makhzumiyyah tersebut. Dan setelah pelaksanaan hukuman itu selesai, Nabi menyatakan bahwa tobatnya telah diterima oleh Allah. Dan, perempuan itu menjalani hidupnya secara normal, menikah, dan bekerja seperti biasa. Hingga suatu ketika ia datang kepada Aisyah untuk mengajukan suatu kebutuhan pada Nabi dan beliau menerimanya.

 

Kita berkeyakinan andai negeri ini punya pendekar-pendekar hukum yang didalam jiwa terpateri ilmu dari Allah dan RasulNya, tidak nanti mereka menghukumi secara hawa nafsu, Insya Allah negeri kita bisa damai dan tentram. Siapa tahu, mudah mudahan.

 

 Doing justice in terms of being a witness in an event, under normal circumstances can work well. But in situations where people need our witnesses, that's a problem for us, people whose behavior is bad have also hurt us. Or those with problems still have relatives with us, conflicts of interest will arise.


But whatever the law is a law that must be upheld. Luckily we Muslims have a handle on rules from Allah SWT and also hadiths such as the story of Rasulullah SAW in upholding justice must be a guideline for Muslims, especially those who become law enforcers in this country. Because, in Islam, to do justice is never discriminating,


O you who believe, be of you who are faithful, because Allah is a witness in justice. Don't push the anger of the people over the behavior of the people that you don't do justice to all of you. As for doing justice, draw closer to piety, and fear Allah. Indeed, Allah is aware of what you are doing. (QS. Al-Ma'idah Verse 8)


Be ye upholders of justice because of Allah, (when) bear witness fairly. And let not your hatred of a people encourage you to act unjustly. Be fair. Because (fair) is closer to piety. And fear Allah, verily, Allah is Aware of what you do.

For the sake of Muhammad's soul in His hands, if Fatimah the daughter of Muhammad steals, I will cut off her hands." (Narrated by Bukhari no. 4304 and Muslim no. 1688)


From this hadith we can follow its history. At that time Urwah bin az-Zubair, one of the Prophet's companions, told Az-Zuhri about the events he witnessed when the Prophet was alive. At that time, Urwah saw that a woman named Fatimah al-Makhzumiyyah, the daughter of the leader of the Al-Makhzumi tribe, was caught stealing on the day of Mecca's Fathu.

His people asked for help from Usama bin Zaid who was known to be close to the Prophet.

Usamah's father, Zaid bin Harithah, was the adopted son of the Prophet. Because of that they met Usama and asked him to help the daughter of the chief of the tribe so that later the Prophet would not punish him. In short, Usamah wanted to do good deeds so that Usamah came to meet the Prophet by telling him the purpose and purpose of his arrival. Hearing what Usama said, the Prophet's face turned angry.

The Prophet said,''Are you going to question the legal provisions that have been established by Allah?'' Usamah then said,''Forgive me O Messenger of Allah.''

Rasulullah SAW stood in front of his friends while preaching by first praising Allah because He is the owner of all praise: ''Indeed, the destruction of the peoples before you all was caused by their own actions. When someone who is considered to have high rank and position steals, they either skip it or don't punish them. However, when there is someone who is considered lowly, weak from a material point of view, or a poor person who has nothing, and is an ordinary person, they punish him. Know, for the sake of the Substance in whose power Muhammad's soul is in His power, if Fatimah the daughter of Muhammad steals, I will cut off her hands.''


The Prophet wanted to teach mankind not to discriminate between one person and another in law. Everyone is equal, no one is above the law. Because, differences in law are the source of the destruction of the people before us. The prolonged economic crisis, the nation which is always dogged by problems, the great social turmoil, is the result of the existence of unfair laws. Law has to be law, it has to be about whoever is related to it. This was implemented by the Prophet Muhammad SAW with the aim of achieving fair justice always according to God's instructions.

From 'Urwah bin Zubair, he said that the Prophet SAW once preached and said,

"Indeed, it has destroyed the people before you, when among the respected people who steal, they are left unpunished. But when weak people steal, they oblige to be subject to hadd punishment. By the soul of Muhammad who is in His hands, if Fatimah the daughter of Muhammad stole, I will cut off her hand." (Narrated by Bukhari no. 4304 and Muslim no. 1688

There is a woman who has stolen. He came from a respectable and respected family from Bani Makhzum.

Because of his actions, he also had to be punished according to the rules applied at that time, namely by cutting off his hands. However, the woman's people and family objected. Because of that, they made every effort to forgive the woman and cancel the punishment of cutting off her hands.

After that, the Prophet ordered to cut off Fatimah al-Makhzumiyyah's hand. And after the execution of the sentence was completed, the Prophet declared that his repentance had been accepted by Allah. And, the woman lived her life normally, married and worked as usual. Until one day he came to Aisyah to submit a need to the Prophet and he accepted it.


We believe that if this country had legal warriors whose souls were imbued with knowledge from Allah and His Messenger, they would not judge them based on lust, God willing, our country would be peaceful and peaceful. Who knows, hopefully.


 

 

 

 

 


Saturday, January 28, 2023

Dunia itu Cobaan Hidup.



Dunia itu merupakan cobaan hidup, baik itu merupakan kebaikan maupun hal-hal yang buruk. Karena hal itu sudah menjadi suatu sunnatullah, bahwa manusia akan di uji dengan segala sesuatu, baik yang menyenangkan hatinya maupun yang membencikan hatinya.

Maka jadikanlah diri kita pandai-pandai menyikapi cobaan, terhadap Allah. 

Qodar semua makhluk telah tertulis lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Semua yang terjadi, baik itu cobaan baik dimana kita dalam keadaan sehat, rezeki lancar, usaha baik, anak istri baik baik, alhamdulillah itu namanya cobaan baik, maupun sebaliknya kita menghadapi cobaan yang buruk, badan sakit sakitan, rezeki seret tidak lancar, anak anak bermasalah, istri bermasalah, itu cobaan. 

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.(QS Al-Anbiyaa(21):35)
Menurut Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, tentang ayat ini dimaksudkan,“Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan serta maksiat, petunjuk dan kesesatan.”

Dan biasanya orang mengira yang buruk-buruk itu barulah namanya cobaan. Kalau yang baik-baik bukan cobaan. Keliru. Itulah sebabnya orang suka lupa pada Tuhannya, ketika mereka mendapat cobaan baik. Persangkaan mereka bahwa Allah sedang sayang kepada mereka, dapat berkah banyak, punya kedudukan yang bagus, semua usaha sukses. Ketika pendapat itu ada pada diri manusia, mereka bisa lupa aturan Tuhan. Selagi aturan Allah dan Rasul saw tidak dipatuhi orang akan berbuat sekehendaknya tak terkecuali pada orang yang beriman apalagi yang tidak beriman.

Orang tidak menyadari bahwa dunia itu adalah cobaan, ketika dia sedang dalam kesuksesan dalam segala hal. Baru ketika menghadapi masalah , barulah dia akan menyadari dia sedang mengalami cobaan. Karena  salah paham yang namanya cobaan adalah hal-hal buruk yang menimpa dirinya itu sebagai cobaan, kalau sedang mengalami hal-hal yang baik bukan cobaan.

Namun seberapa jauh orang memahami dunia itu cobaan hidup, hubungannya dalam menjalani kehidupan. Bagaimana pula kita menyikapi hidup ketika mendapatkan cobaan. 

Keyakinan tentang kehidupan itu adalah cobaan harus dipahamkan sungguh. Masalahnya dampak cobaan dunia terhadap masing masing diri sangat besar. Ada yang berakhir dengan kebaikan yang banyak ada juga yang tragis. Semua tergantung seberapa jauh orang membina keimanannya.

Kehidupan di dunia adalah kehidupan yang fana, kehidupan yang membujuk, kehidupan fatamorgana, sedang kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat sebagus-bagusnya kehidupan dan kekal. Orang hanya bisa merasakannya bila dia menempa keimanannya menjadi lebih baik.

Kalau orang mau hidup di akhiratnya baik dia harus berbuat baik kehidupan di dunia.

Sebagian orang berlari mencari motivasi dirinya agar bersabar dengan merenungkan ayat ayat seperti "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Q.S Al-Baqarah, ayat 286). 

Atau mengambil hikmah dari ungkapan bahwa "Cobaan itu pasti akan berakhir". Ungkapan ataupun ayat itu benar semuanya.

Ada banyak hal yang dapat kamu jadikan sebagai tambahan kekuatan jiwa, saat menghadapi cobaan atau masalah yang datang menghampiri, satu di antaranya dengan membaca dan merenungkan kata-kata motivasi Islami, nasihat Islami.

Kata-kata motivasi Islami  banyak berisi nasihat baik dari tokoh terkenal atau pedoman Islam, yaitu Al-Qur'an dan Hadis.

Dalam menjalani hidup ini kita tidak dapat lepas dari percobaan dari Allah Yang Maha Kuasa. Akan tetapi, seberat apa pun cobaan yang kamu terima, pasti akan berakhir.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Q.S Al-Baqarah: 286).

Apa pun cobaan yang kamu terima, selalu kembalilah kepada Allah SWT karena kamu harus meyakini bahwa hanya Dia yang dapat membantumu di saat susah.

Selalu mengucap istighfar dan hamdallah, serta bersikap sabar dan tenang pada saat menghadapi masalah,  dapat membantumu kuat dan bertahan dari cobaan yang sedang kamu hadapi hingga berlalu dari kehidupanmu.

Perhatikan juga Surat dan ayat-ayat berikut seperti Surat QS 3:14, QS 21: 35, QS 10 :54-58, banyak lagi yang lain dan cara yang lain bisa dipraktekkan.

Apapun itu semua, mungkin saja ada orang yang membutuhkan ini siapa tahu. Semoga saja bisa menjadi bahan renungan dan penyemangat dalam mengharungi hidup yang fana ini.



The world is a trial of life, both good and bad things. Because it has become a 

sunnatullah, that man will be tested with everything, both those that please him 

and those that hate him.

So make ourselves clever in dealing with trials, towards Allah. The qadar of all creatures was written fifty thousand years before the heavens and the earth were created. Everything that happens, whether it's a good trial where we are in good health, good luck, good business, good wife and children, alhamdulillah it's a good trial, or vice versa we face bad trials, the body is sickly, the sustenance doesn't go smoothly, children problem, wife problem, it's a trial.

Every soul shall taste death. We will test you with bad and good as a trial. And you will be returned only to Us. (QS Al-Anbiyaa (21): 35)
According to Ibn 'Abbas Radhiyallahu anhuma said, regarding this verse it is meant, "We will test you with difficulties and pleasures, health and disease, wealth and poverty, lawful and unlawful, obedience and immorality, guidance and misguidance."

And usually people think that the bad ones are called trials. If something is good, it's not a trial. Wrong. That's why people tend to forget their God, when they get a good trial. Their assumption is that Allah loves them, gets many blessings, has a good position, all efforts are successful. When that opinion exists in human beings, they can forget God's rules. As long as the rules of Allah and the Messenger of Allah are not obeyed, people will do whatever they want, including those who believe, let alone those who do not believe.

People do not realize that the world is a trial, when he is in success in all things. Only when facing a problem, will he realize he is going through a trial. Because of the misunderstanding that the name of a trial is that the bad things that happen to him are a trial, if you are experiencing good things it is not a trial.

But how far do people understand the world is the trials of life, the relationship in living life. How do we respond to life when we get trials.

The belief about life is that trials must be understood truly. The problem is that the impact of the world's trials on each is very large. There are those that end with good, there are many that are tragic. It all depends on how far people build their faith.

Life in this world is a mortal life, a seducing life, a mirage life, while the real life is the life in the afterlife as good as possible and eternal. People can only feel it when he forges his faith to be better.

If a person wants to live in a good afterlife, he must do good in this world.

Some people run to find their motivation to be patient by contemplating verses like "God does not burden a person but according to his ability." (Q.S Al-Baqarah, verse 286).

Or take the lesson from the saying that "The ordeal will definitely end". That saying or verse is all true.

There are many things that you can use as additional strength for your soul, when facing trials or problems that come your way, one of which is by reading and meditating on Islamic motivational words, Islamic advice.

Many Islamic motivational words contain good advice from well-known figures or Islamic guidelines, namely the Qur'an and Hadith.

In living this life we cannot be separated from trials from Allah Almighty. However, no matter how hard the ordeal you receive, it will definitely end.

 "Allah does not burden a person but according to his ability." (Q.S Al-Baqarah: 286).

Whatever trials you receive, always return to Allah SWT because you have to believe that only He can help you in difficult times.

 Always saying the phrase "thayyibah", what we call "istighfar" and "hamdallah", as well as being patient and calm when facing problems, can help you become strong and survive the trials you face until they pass from your life.

Also pay attention to the following Surahs and verses such as Surah 3:14, QS 21: 35, QS 10:54-58, many others and other ways that can be practiced.

Whatever it all, maybe there are people who need this who knows. Hopefully it can be material for reflection and encouragement in living this mortal life.





Wednesday, January 25, 2023

Jangan Tanya Kapan Kiamat




Sama bertanya mereka kepadamu Muhammad, kapan kiamat, kalau engkau benar. Pertanyaan yang sengaja disampaikan oleh kaum kafir Quraisy pada saat itu dengan sikap mendustakan dan nada tidak percaya sama sekali datangnya kiamat. Katakan saja Muhammad, Ilmu nya Kiamat ada disisi Allah. Allah Swt Yang Maha Mengetahui.Tak seorang pun diberi tahu tentang kapan hari kiamat terjadi, tidak juga aku.

Tapi aku diberi tahu tanda tandanya kiamat. Aku diberi tahu yang terpenting adalah agar mengingatkan kalian semua, akan hari yang amat besar itu akan menyentuh kepada semua makhluk utamanya manusia.

Hari yang penuh gunjang ganjing, semua mata melotot ketakutan, semua bayi dalam kandungan keluar tanpa terasa dengan sendirinya, mereka seperti orang mabok, mereka tidak mabok tapi siksa Allah sangat berat. Manusia berlarian seperti belalang, gunung akan meletus semua berterbangan seperti kapas, bintang bintang rontok , langit pecah semua mati. Kemudian dibangkitkan lagi, dimulailah hari pembalasan. Semua dibangunkan dalam keadaan ketakutan kecuali orang orang yang waktu di dunianya beriman akan ada Malaikat yang membisikkannya, jangan takut jangan susah engkau orang yang luhur orang yang beriman.

Karena itu apa persiapanmu pada hari yang amat besar itu. Hari ini dimana semua amal dibalas. Tak ada yang kuasa pada hari itu kecuali Allah Yang Maha Kuasa.

Padahal ajal pati datang sewaktu waktu, ketika itu datang putuslah semua tak ada yang bisa dibawa untuk mempertanggung jawabkan amalanmu selama di dunia kecuali cuma tiga, amal jariah, ilmu yang manfaat dan anak yang solih yang mendoakan orang tuanya.

Karena itu saudaraku, semoga kita menjadi orang yang diberikan Allah hidayah, agar bisa menjalani hidup ini dengan cara yang benar. Jalan yang di ridhoi , jalan yang penuh berkah yang bisa mendampingi kita ketika kembali kesisiNya

Wahai ingatlah manusia, jangan terpengaruh kehidupan dunia, sehingga engkau mengabaikan kehidupan akhirat. Akhirat itu lebih baik dan kekal kamu selamanya( QS 87 :17 )

Pada hari pembalasan itu, tak ada setapak kaki bisa bergerak tanpa izin Allah, bahkan pada hari ini, mulut yang suka mencari alasan alasan keadaan terkunci, tangan yang berbicara, kaki menjadi saksi dengan apa saja yang kamu amalkan.( QS 36 : 65)

Sehingga ada diri yang bicara pada kulitnya, hai kulit mengapa kau ceritakan tentangku, apa yang kau kerjakan sendiri, sedang aku saja tidak menceritakannya. Kulit berkata, bukan kuasaku bukan kehendakku, tapi Allah lah yang telah menyebabkan aku bisa bicara untuk menjadi saksi kita.(QS 41:21)

Oleh karena itu berkaca dengan kesombongan orang-orang kafir Quraisy zaman dulu, kejadian-kejadian yang dialami ummat dulu yang meremehkan Nabinya. Kita, orang-orang sekarang yang lebih lemah dibanding orang dulu, hendaklah mau tunduk dan patuh pada Allah dan Rasul Nya gar selamat dunia dan akhirat. Jangan lagi seperti kafir Quraisy yang sombong, kapan hari kiamat kalau kau benar, Allah perintah kepada Nabi SAW agar mengatakan ilmunya hari kiamat tentang kapan datangnya, itu hanya Allah lah Yang Maha tahu. (QS 67: 24-25).

Mudah mudahan kita dijadikan Allah tetap jadi orang yang beriman, berbekal buat hari yang amat agung, sebaik baik nya bekal adalah taqwa. Allah Maha Mengetahui.

 

 

Both of them asked you Muhammad, when will the end of the world be, if you are right. The question that was deliberately asked by the infidels of Quraysh at that time with a believable attitude and a tone of complete disbelief about the coming of the end of the world. Just say Muhammad, the Knowledge of Doomsday is with Allah. Allah SWT is the All-Knowing. Nobody was told when the Day of Judgment would occur, not even me.

But I was told the signs of the apocalypse. I am told the most important thing is to remind all of you that this very great day will touch all creatures especially humans.

The day was full of ups and downs, all eyes bulged with fear, all the babies in the womb came out without being felt by themselves, they were like drunken people, they were not drunk but God's punishment was very heavy. Humans run like locusts, mountains will erupt, all fly like cotton, the stars fall, the sky breaks, all die. Then resurrected again, begins the day of vengeance. All are awakened in a state of fear except for those who in their world believe that there will be an Angel who whispers them, don't be afraid, don't be difficult, you are a noble person, a believer.

So what are your preparations for that great day. Today is where all charity is rewarded. No one has power on that day except Allah Almighty.

Even though the death of starch comes at any time, when it comes it breaks up, nothing can be brought to account for your deeds while in the world except for only three, charity, beneficial knowledge and pious children who pray for their parents.

Because of that my brother, may we become people who are given guidance by Allah, so that we can live this life in the right way. The path that is blessed, the path that is full of blessings that can accompany us when we return to His side

O remember people, do not be influenced by the life of this world, so that you ignore the afterlife. The hereafter is better and you will last forever (Surah 87:17)

On the Day of Judgment, no foot can move without Allah's permission, even today, mouths that like to find reasons are locked, hands that speak, feet bear witness to whatever you practice. (QS 36: 65)

So that there is a self that talks to the skin, O skin, why do you tell about me, what you do yourself, while I just don't tell it. The skin says, not my power not my will, but it is Allah who has caused me to be able to speak to be our witness. (QS 41:21)

Therefore, looking in the mirror with the pride of the Quraysh infidels in the past, the incidents experienced by the ummah in the past underestimated their Prophet. We, today's people who are weaker than before, should be willing to submit and obey Allah and His Messenger in order to be safe in this world and the hereafter. Don't be like the arrogant Quraish infidels, when is the Day of Judgment if you are right, Allah ordered the Prophet SAW to tell his knowledge about when the Day of Judgment will come, that only Allah is the All-Knowing. (QS 67: 24-25).

Hopefully we are made by Allah to remain faithful people, equipped for a very great day, the best provision is taqwa. Allah is All-Knowing.

 

 



Sunday, January 22, 2023

Sabarlah, Berlatih Untuk Sabar, Dapatkan Hasilnya.






Sabarlah, berlatihlah untuk sabar, dapatkan hasilnya. Sabar secara Islami memiliki keutamaan dan manfaat yang sangat besar.  Dengan sabar masalah yang kita hadapi jadi terasa lebih ringan, dengan sabar masalah yang kita hadapi bisa diselesaikan dengan lebih efektif, dengan sabar masalah yang kita hadapi dapat diselesaikan tanpa menyisakan rasa sakit hati atau menimbulkan rasa sakit hati lainnya, dengan sabar pula kita akan senantiasa menjalani kehidupan dengan akan lebih tenang dan tenteram tanpa merasa gelisah apalagi ber-muram hati atau hal-hal menimulkan syakwasangka yang merusak amalan itu sendiri.

Karena sabar adalah termasuk perilaku mulia yang sangat perlu untuk di lakukan oleh seluruh ummat manusia. Kemuliaan orang yang sabar, dia punya pengaruh secara magneted kepada orang sekitarnya, orang menjadi rukun saling harga menghargai. Dia menyadari orang berbuat baik atau orang ingin berbuat baik bisa terjadi karena kehendak Tuhan Allah yang Maha Mengetahui.

Orang yang sabar sadar sepenuhnya, bahwa ia tidak memiliki kendali atas perilaku, perkataan maupun presepsi orang lain, begitu juga dengan kesalahan orang lain. Dia biasanya tidak memiliki niat buruk maupun niat untuk membalas dendam. Sebaliknya, mereka akan selalu menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.

 

Memang kata sabar mudah diucapkan tapi aplikasinya dalam kehidupan butuh kesungguhan, namun bukan tidak mungkin dilakukan. Karena ada unsur illahiah disitu, ada perintah dari Tuhan yang punya syariat yang wajib dilaksanakan. Dan disitu ada rakhmat pertolongan dari Allah Maha Pencipta makhluknya, yang melaksanakan perintahNya, sehingga melaksanakan sesuatu yang butuh kesabaran, itu dapat dilakukan. Disisi lain Sabar adalah salah satu terapi penyakit hati. Sunnatullah. 

Ketika seseorang yang mendapat musibah dapat  menghadapinya dengan ikhlas dan sabar, maka Allah akan menaikkan  derajat keimanannya dan menyediakan pahala baginya menjadi salah satu keutamaan sabar. Allah SWT tidak akan pernah memberikan cobaan atau ujian yang berat di luar batas kemampuan umatNya. Maka dari itu, kita harus bersyukur ketika Allah memberikan ujian yang bertanda bahwa Allah masih menyayangi umatNya.

“…Dan bersabarlah kalian, karena Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfal : 46)

 

Allah memutar hari antara manusia ( QS 3: 140 ) , terkadang manusia ada pada suatu keadaan dibawah dan terkadang manusia itu dalam suatu keadaan diatas. Manfaatkan sebaik baiknya ketika anda diatas itu masa peak anda masa puncak anda  yang tak mungkin kembali. Mintalah jadi orang yang ahli sabar dan jadi orang yang ahli syukur ketika ada dimasa puncak, sehingga kenikmatan itu terus bertambah dan bertambah (QS 14:7      )

Demikian ketika ujian itu bisa dilewati ( sunnatullah) tak bisa dihindari, kita lalui dengan baik bisa mengatasi diri untuk tidak sampai mengeluh, berjuang berbuat sabar, dan menikmati apa yang Allah turunkan yang sekedar mencoba keimanan hambanya,  ini membuat kita menjadi lebih mendewasakan diri, baik buat kita. Insya Allah, semoga Allah memberi kekuatan. Penjabaran diri kalau Sabar itu bentuk kemampuan pengendalian diri sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan yang putaran akhirnya mencerminkan kekokohan jiwa orang yang dimilikinya. Semakin tinggi kesabaran yang seseorang miliki maka semakin kokoh juga ia dalam menghadapi segala macam masalah yang terjadi dalam kehidupan. Semoga Allah mendengarkan dan mengabulkan doa hambaNya. Allah mengabulkan orang yang minta diampuni dosanya betapapun besar dosanya. ( Muslim juz 4 hal 39)
Demikian semoga nasihat Islami ini bermanfaat.

 


Be patient, and practice to be patient, and get the results. Patience in Islam, it has enormous virtues and benefits. With patience the problems we are facing become lighter, with patience the problems we face can be solved more effectively, with patience the problems we are facing can be solved without leaving hurt feelings or causing other heartache, with patience too we will always live life with a calmer and more serene will without feeling anxious let alone gloomy or things that cause doubts that undermine the practice itself.


Because patience is one of the noble behaviors that all human beings really need to do. The glory of a patient person, he has a magnetic influence on the people around him, people become harmonious with mutual respect. He realized that people do good or people want to do good, it can only happen because of the will of God, Allah, the All-Knowing.


A patient person is fully aware that he has no control over the behavior, words or perceptions of others, as well as the mistakes of others. He usually has neither ill will nor intent for revenge. On the contrary, they will always establish good relations with other people.


 


Indeed, the word patience is easy to say but its application in life requires sincerity, but it is not impossible to do. Because there is a divine element there, there are orders from God who has a shari'a that must be implemented. And there is the grace of help from Allah, the Creator of his creatures, who carries out His commands, so that doing something that requires patience can be done. On the other hand Patience is one of the therapies for liver disease. Sunnatullah.


When someone who gets a disaster can face it sincerely and patiently, then Allah will raise the degree of his faith and provide a reward for him to be one of the virtues of being patient. Allah SWT will never give a trial or test that is beyond the limits of the ability of His people. Therefore, we must be grateful when Allah gives a test that is marked that Allah still loves His people.


“…And be patient, for Allah is with those who are patient.” (QS. Al-Anfal: 46)


 


Allah rotates the day between humans (QS 3: 140), sometimes humans are in a state below and sometimes humans are in a state above. Make the best use of it when you are above your peak, a state at your highest, which is impossible to return. Ask to be a patient expert and be a grateful person when there are peak times, so that the pleasure continues to increase and increase (QS 14:7)


Thus when the test can be passed (sunnatullah) it cannot be avoided, we can go through it well and be able to overcome ourselves so as not to complain, struggle to be patient, and enjoy what Allah sends down which is just to try the faith of his servant, this makes us more mature ourselves, good for us. God willing, may God give strength. Self-explanation if Patience is a form of self-control ability as an attitude that has high value and which ultimately reflects the strength of the person's soul. The higher the patience that a person has, the stronger he is in dealing with all kinds of problems that occur in life. May Allah hear and grant the prayers of His servant. Allah grants those who ask to be forgiven for their sins, no matter how great their sins. (Muslim chapter 4 page 39)

So hopefully this Islamic advice is useful.

Wednesday, January 18, 2023

Ibadah lah dengan cara ihsan, engkau akan khusyuk solatnya, tenang jiwanya.

 



Ibadah lah cara ihsan, engkau akan khusyuk beribadah khususnya solat dan merasakan ketenangan dalam menjalani hidup. Begitu juga ibadah lainnya, karena yang dimaksud ibadah disini bukan saja solat seperti diterangkan dibawah.

Tiba-tiba saja seorang laki-laki muncul menghadap Rasul. Tak seorang sahabat pun yang mengenalnya. Dia tidak ada tanda-tanda datang dari jauh, pakaiannya putih bersih, rambutnya hitam rapih. Dia berkata, " wahai Muhammad  beritahu aku tentang Islam". Nabi menjawab begitu saja, dan setelah dijawab Nabi, tamu itu menjawab," bener engkau". Dia bertanya lagi tentang iman. "Wahai Muhammad kabari aku tentang Iman." Nabi menjawab masalah iman itu apa. Tamu asing itu lagi membenarkan apa yang disampaikan Nabi. Dia bertanya lagi,

"Ya Muhammad beritahu saya tentang Ihsan". Rasul SAW menjawab;

"Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Muslim, no.8)


Jadi ibadah apapun yang engkau lakukan bersikaplah engkau bahwa perbuatanmu sedang dilihat Allah.

Perbuatanmu ada yang kontrol, walaupun dalam kasat mata engkau tidak bisa melihat pada yang mengawasimu.

Orang yang minta dikasi tahu, malah membenarkan, para sahabat nabi penasaran. 

Orang itu pergi begitu saja, setelah menanyakan tentang hari kiamat. 


Hai Umar, coba panggil orang itu tadi, para sahabat Rasulullah SAW mencari, tapi orang itu sudah lenyap. 


Sahabatku baru saja Malaikat itu datang mengajari kita tentang beragama Islam. 


Apa yang kita ambil dari pelajaran ini. Utamanya tentang ibadah dan ihsan. 


Ibadah itu bukan hanya solat dan mengaji. 

Ibadah berarti merendahkan diri dan tunduk

pada Allah SWT, dalam segala amalan baik, secara Alquran dan Al-Hadist. 

Ulama fikih, ibadah adalah bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh ridha Allah SWT dan mendambakan pahala di akhirat. 

Secara etimologi, ibadah berarti merendahkan diri dan tunduk


Sedangkan, secara bahasa, ibadah berasal dari kata 'abd yang berarti hamba.


Perintah untuk beribadah tercantum dan dijelaskan dalam Al-Quran. Salah satunya sebagaimana yang tertulis dalam QS. Al-Anbiya: 25 yang artinya,


"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku." (QS. Al Anbiya: 25)


Ibadah dalam syariah Islam adalah ketaatan atau ketundukan seorang hamba secara khusus kepada Allah SWT yang diklasifikasikan menjadi beberapa mcam ibadah. Mulai dari berdasarkan hukum syariah, kualitas, keberadaan 'illah di dalamnya, ruang lingkup hingga jenis perbuatan hamba.


Ibadah dalam bentuk perkataan atau lisan. Misalnya seperti zikir, doa, dan baca Al-Quran.

Ibadah dalam bentuk perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya. Seperti misalnya membantu atau menolong orang lain.

Ibadah dalam bentuk pekerjaan yang sudah ditentukan bentuknya. Misalnya sholat, puasa, zakat dan ibadah haji.

Ibadah yang tata cara dan pelaksanaannya berbentuk menahan diri. Sebagai contoh puasa, iktikaf dan ihram.

Ibadah yang berbentuk menggugurkan hak. Contohnya: memaafkan kesalahan orang lain dan membebaskan hutang seseorang.


Kita tidak terlalu jauh membahasnya, sekadar memahami, bahwa dalam ibadah ujud apapun haruslah di upayakan dengan cara ihsan, sehingga kita tersambung pada Allah SWT dalam penjelasan dari nabi. Bahwa, Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu. 

Kita mengharap ridho Allah, bukan supaya dilihat orang. Amalan akan sia sia saja pahala tidak ada. Dan akan sangat menyakitkan bila orang tidak memperdulikanya. Didunia tidak akan nyaman, hati selalu tidak nyaman akibatnya akan timbul penyakit baik lahiriah maupun batiniah. Cobalah berlatih seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW. Insya Allah akan bahagia dunia dan akhirat.





Sunday, January 15, 2023

Allah Swt menjamin rezki makhluk Nya.



Allah Swt menjamin rezki makhluk Nya seperti dalam Al-Quran pada surat Hud ayat 6, Allah Swt telah menyampaikan firmannya, kalau Allah menjamin rezki semua makhluknya, khususnya manusia. Jangankan manusia ulat yang kecil tinggal di dasar laut dan buta lagi Allah menjamin rezkinya. 


 وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

( Surat Hud ayat 6 )

Seperti kisah pada Nabi Sulaiman. Pada suatu hari, Nabi Sulaiman Alaihi Salam duduk di suatu tepian pantai. Beliau melihat ada seekor semut yang berjalan menuju laut dengan membawa butir makanan. Dan terus mengawasi semut kecil itu semakin mendekati lautan.


Segera ketika semut itu sudah tiba di laut luas, tiba-tiba muncullah seekor katak mengeluarkan kepalanya dari air. Ia membuka mulutnya dan masuklah semut itu ke dalam mulut katak. Lalu mereka masuk kembali ke dalam air. Nabi Sulaiman luar biasa takjub dengan kejadian ini. Dia berpikir sejenak lalu dikagetkan ketika katak yang muncul kembali ke daratan. Katak itu membuka mulutnya dan keluarlah semut itu tanpa membawa butir makanan yang sebelumnya semut itu bawa. Karena keingin tahuan yang sangat penasaran, Nabi Sulaiman memanggil si semut dan bertanya darimana dia dan apa yang dia telah lakukan?


Dia menjawab, “Wahai nabi Allah, sungguh di dasar lautan yang kau lihat ini ada batu karang yang berlubang. Di dalam lubang itu ada seekor ulat kecil yang buta. Dan Allah menciptakannya dalam keadaan demikian. Dia pun tidak mampu keluar dari tempat itu untuk mencari makan. Kemudian Allah menugaskanku untuk mengantarkan rezeki pada ulat itu. Aku membawa makanan untuknya sementara Allah telah menyediakan katak sebagai kenderaanku untuk mengantarku ke dalam mencapai ulat yang malang itu. Dengan katak itu aku menjadi aman dari air laut. Dia meletakkanku di lubang karang dan aku memasukinya. Setelah aku memberi makanan itu kepada ulat kecil dan buta, aku kembali masuk ke dalam mulut katak dan dia mengantarkanku keluar dari lautan.”


Kemudian Nabi bertanya, “Apakah kamu mendengar ada ucapan, tasbih dari ulat itu?” Semut menjawab, “Iya, dia berkata, Wahai yang tidak Melupakanku dengan rezeki-Nya di lubang lautan ini. Janganlah Engkau lupakan hamba-hamba-Mu yang mukmin dengan rahmat-Mu,” Sahabat Ali bin Abi tholib pernah ditanya, “jika pintu pencarian rezeki seseorang telah ditutup, darimana ia akan memperoleh rezekinya?”

Beliau menjawab, “Sebagaimana ajalnya akan datang, begitupula rezekinya akan sampai kepadanya.” Jika tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi datangnya ajal, begitupula tidak ada yang mampu menghalangi datangnya rezeki dari Allah.

Kisah menginspirasi kita ketika seorang Ayah gelisah melihat prilaku anak kesayangannya.

"Nak, kalau engkau tidak bersungguh sungguh belajar bersekolah, nanti bila ayah sudah tidak ada engkau makan apa? Ayah sudah tua nak!". Padahal Allah berfirman,

Tidak suatu makhlukpun (termasuk manusia)  di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya.( Surat Hud ayat:6 )

Wahai para ayah lihat pesan Allah itu. Didiklah anak kita sejak dini ibadah, sehingga jadi alim, faqih, akhlaqul karimah, akhirnya bisa mandiri. Insya Allah rezeki akan menyertainya. Allah Maha Kuasa!