Thursday, November 6, 2025

“Ketika Orang Zalim Menyesal di Hari Kiamat — Renungan QS Asy-Syura:22”

 





Cek [ready stock] Gamis set French Khimar  ELIZA | ABAYA Set Wolpeach exclusive RANIKO dengan harga Rp269.000. Dapatkan di Shopee sekarang


Ketika Orang Zalim Menyesal di Hari Kiamat — Renungan QS Asy-Syura:22

Ayat Al-Qur'an: Surah Asy-Syura Ayat 22

اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ berfirman:

﴿تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌۢ بِهِمْ ۖ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ فِى رَوْضَاتِ ٱلْجَنَّـٰتِ ۖ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ﴾

Artinya: "Kamu akan melihat orang-orang yang zalim itu ketakutan karena (akibat) dari apa yang telah mereka kerjakan, dan (azab itu) pasti menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh (berada) di taman-taman surga. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Itulah karunia yang besar."
(QS. Asy-Syura: 22)


Penjelasan Ayat

Pada hari kiamat, segala kedustaan manusia akan dibongkar. Orang-orang zalim—yakni mereka yang berbuat kejahatan, kesyirikan, penindasan, fitnah, dan pengingkaran terhadap kebenaran—akan terlihat ketakutan luar biasa. Mereka menyadari bahwa amal jahat mereka tidak akan bisa ditolak, dan azab yang mereka remehkan selama hidup akan benar-benar menimpa mereka.

Bayangkan, di dunia mereka menyebut Rasulullah ﷺ sebagai tukang sihir, orang gila, bahkan berusaha membunuhnya. Padahal Rasulullah telah memberi peringatan akan kedahsyatan hari kiamat. Namun mereka tertipu oleh kesenangan dunia yang fana.

Hari itu, manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar. Tidak ada naungan selain dari Allah. Matahari didekatkan, peluh membanjiri tubuh, dan hari itu berlangsung selama lima puluh ribu tahun lamanya. Semua orang dalam keadaan panik, menyesal, dan terdiam, tak mampu berkata-kata, menunggu keputusan Allah.

Sedangkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka ditempatkan di taman-taman surga. Mereka mendapatkan apa pun yang mereka kehendaki, dengan penuh kemuliaan dan ketenangan. Itulah karunia yang besar yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang taat.


Hadis-Hadis Pendukung

1. Panjang dan Dahsyatnya Hari Kiamat

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ، كَقُرْصَةِ النَّقِيِّ، لَيْسَ فِيهَا عَلَمٌ لِأَحَدٍ

"Manusia dikumpulkan pada hari kiamat di atas tanah putih bersih seperti roti, tidak ada tanda-tanda pengenal di sana untuk seorang pun."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Semua manusia sama, tak ada pangkat, jabatan, atau harta yang dibanggakan. Semua hanya menunggu hasil amalnya.

2. Hari Itu Sepanjang 50.000 Tahun

Allah berfirman:

﴿تَعْرُجُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ﴾

"Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun."
(QS. Al-Ma’arij: 4)

Ini menggambarkan betapa panjang, berat, dan penuh penantian hari itu. Hanya orang yang beriman yang mendapatkan ketenangan.


Zalim Itu Tidak Harus Membunuh – Tapi Mengabaikan Kebenaran

Banyak yang merasa aman karena tak membunuh, tak mencuri. Tapi berapa banyak dari kita yang zalim kepada diri sendiri dan orang lain dengan menolak kebenaran, meninggalkan salat, menghina perintah Allah, atau bahkan mengolok dakwah Nabi Muhammad ﷺ?

Allah berfirman:

﴿وَمَا ظَلَمْنَـٰهُمْ وَلَـٰكِن كَانُوٓا۟ هُمُ ٱلظَّـٰلِمِينَ﴾
"Dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri."
(QS. Az-Zukhruf: 76)


Kemenangan Besar Bagi Orang Beriman

Dalam QS. Asy-Syura:22, Allah menegaskan bahwa "mereka mendapatkan apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka."

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

"Sesungguhnya di surga terdapat apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka mendapatkan keridhaan Allah, tempat kembali yang indah, dan terhindar dari siksa yang mengerikan.


Apakah Kita Tidak Mau Mengambil Pelajaran?

Kita hidup di zaman di mana banyak orang mengulang kesalahan kaum dahulu: menolak peringatan, mengejek dakwah, sibuk dengan dunia, dan menunda taubat.

Padahal Allah telah memberi peringatan dengan begitu jelas. Rasulullah ﷺ sudah mengorbankan segalanya demi menyampaikan kebenaran. Namun sebagaimana di masa lalu, hari ini pun masih ada yang berkata:

“Itu hanya dongeng orang dahulu!”
“Ah, kiamat masih lama!”
“Kami belum siap taat!”

Apakah hati kita sudah terkunci?

Allah berfirman:

﴿فَوَيْلٌۭ لِّلْقَـٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ فِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِينٍۢ﴾
"Maka celakalah mereka yang hatinya keras untuk menerima peringatan Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."
(QS. Az-Zumar: 22)


Penutup: Waktunya Kembali Sebelum Terlambat

Wahai jiwa yang lupa, jangan tunggu kematian menghampiri baru ingin berubah. Jangan tunggu penyesalan, karena penyesalan di akhirat tidak bisa mengubah apa-apa.

Ambillah pelajaran dari kisah orang-orang zalim yang ketakutan pada hari kiamat, dan jadikan dirimu termasuk orang-orang yang beriman dan beramal saleh, agar kelak kita berada di taman-taman surga dan mendapatkan segala yang kita kehendaki dari sisi Allah.

Sebagaimana firman-Nya dalam ayat penutup ini:

﴿ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ﴾
"Itulah karunia yang besar."

Mari kita perbanyak istighfar, dzikir, salat tepat waktu, dan amal kebaikan. Jangan tunda taubat. Dunia wajar dicari tapi bersikap bijaklah, dengan banyak ilmu agama orang akan menjadi bijak. Dunia hanya sebentar, akhirat selamanya, hari yang tak ada ujungnya, jangan sampai menjadi orang tergolong orang penghuni Neraka selamanya.


Monday, October 27, 2025

Memuliakan dan Meramaikan Masjid: Tanda Hidupnya Iman di Hati



Cek Mukena Travel Jumbo Premium Armania Silk 2in1 Set Sejadah Terbaru Alea Series dengan harga Rp269.000. Dapatkan di Shopee sekarang! 



🌿 Memuliakan dan Meramaikan Masjid: Tanda Hidupnya Iman di Hati

Di antara tanda keimanan yang sejati adalah cinta terhadap rumah Allah.
Hati seorang mukmin tidak akan pernah merasa tenang kecuali ketika ia dekat dengan masjid — tempat di mana ruhnya beristirahat, air matanya menetes, dan doanya terangkat ke langit.

Masjid bukan hanya tempat sujud, tapi pusat kehidupan iman, tempat umat ini menegakkan hubungan dengan Allah dan mempersatukan hati di bawah cahaya tauhid.


🌸 Ciri Orang Beriman: Memakmurkan Masjid

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Taubah: 18)

Ayat ini menjelaskan bahwa memakmurkan masjid adalah bukti nyata keimanan.
Tidak setiap orang mau melangkahkan kakinya ke masjid, kecuali mereka yang hatinya hidup dan rindu kepada Allah.
Sementara yang lalai, mereka lebih mencintai dunia daripada rumah Allah yang penuh rahmat.


🌷 Masjid: Rumah Allah yang Dimuliakan

Allah ﷻ juga berfirman:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
“(Cahaya Allah itu) terdapat di rumah-rumah (masjid) yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya; bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. An-Nur: 36)

Memuliakan masjid berarti menjaga kebersihannya, menegakkan salat berjamaah, dan menjadikannya tempat ilmu serta dzikir.
Mereka yang hatinya selalu terpaut dengan masjid akan mendapatkan tempat mulia di sisi Allah.


💧 Hati yang Terikat dengan Masjid

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ
“Dan seorang laki-laki yang hatinya selalu terikat dengan masjid (akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya).”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Betapa mulianya mereka yang hatinya selalu rindu ke masjid.
Di saat banyak orang tertidur lelap, ia berwudhu di tengah dinginnya malam demi salat Subuh berjamaah.
Di saat orang lain sibuk dengan urusan dunia, ia bersegera menuju panggilan adzan — Hayya ‘alash shalah… Hayya ‘alal falah…

Hati mereka tidak bisa jauh dari masjid, karena di situlah mereka merasa paling dekat dengan Rabb mereka.


🌙 Langkah Menuju Masjid: Langkah Menuju Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan beliau juga bersabda:

بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid dalam kegelapan (waktu Subuh dan Isya) dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Setiap langkah menuju masjid bukan sekadar gerakan kaki, tapi tanda cinta kepada Allah yang akan dibalas dengan cahaya dan ampunan di hari kiamat.


🌺 Kesaksian Iman bagi Ahli Masjid

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ
“Apabila kalian melihat seseorang yang terbiasa datang ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia adalah orang beriman.”
(HR. At-Tirmidzi)

Masjid adalah cermin hati.
Mereka yang hidupnya dekat dengan masjid, hidupnya akan penuh berkah.
Sedangkan mereka yang jauh dari masjid, hatinya akan gersang dan gelap dari cahaya iman.


🌾 Menutup dengan Renungan

Masjid adalah tempat yang disucikan oleh Allah.
Di sanalah air mata taubat menetes, di sanalah hati-hati bertemu dalam cinta karena Allah.
Barang siapa memuliakan rumah Allah di dunia, niscaya Allah akan memuliakannya di akhirat.

Maka, wahai saudaraku…
Jangan biarkan masjid sepi dari langkah kita, jangan biarkan sajadahnya berdebu tanpa sujud kita.
Karena di antara penghuni surga nanti, akan ada wajah-wajah yang dahulu senantiasa hadir ke masjid — dengan hati yang rindu kepada Allah setiap waktu.


🌟 Doa Penutup

اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا مُتَعَلِّقَةً بِمَسَاجِدِكَ، وَنَوِّرْ وُجُوهَنَا بِنُورِ الصَّلَاةِ وَالْإِيمَانِ
“Ya Allah, jadikan hati kami selalu terikat dengan masjid-masjid-Mu, dan sinarilah wajah kami dengan cahaya salat dan iman.”

Saturday, October 25, 2025

Kisah Orang Beriman yang Masih Terjerumus ke Neraka

 



Cek Mukena Travel Jumbo Premium
Armania Silk 2in1 Set Sejadah Terbaru Alea Series
dengan harga Rp269.000. Dapatkan di Shopee sekarang! 

Jeritan zhalimun linafsih

Saudaraku yang dirahmati Allah,Tidak ada penderitaan yang lebih mengerikan dari siksa api neraka. Panasnya tidak bisa dibandingkan dengan api dunia, bahkan api dunia hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka. Orang-orang yang masuk ke dalamnya tidak sekadar dibakar, tetapi kehilangan bentuk, kehilangan harapan, kehilangan arah.

Walaupun entah berapa ahkob baru dikeluarkan dari Neraka, untuk mereka ingin berpaling dari neraka, tidak akan bisa tanpa kehendak Allah  — hingga Allah-lah yang memalingkan wajah mereka. Mereka memohon dengan tangis yang tak pernah berhenti. Inilah kisah mereka, orang-orang beriman yang dahulu berbuat zalim kepada diri sendiri, padahal sudah beriman. Mereka disebut dalam Al-Qur’an sebagai golongan ketiga dari umat beriman — “zhalimun linafsih” — orang yang menganiaya diri sendiri.


Hidup di dunia bukan untuk bermain-main. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
(QS. الذاريات: 56)
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Namun, betapa banyak orang beriman yang lalai. Mereka tetap shalat, tetap puasa, tetapi juga menganiaya diri sendiri dengan maksiat, menzalimi orang lain, dan tidak bertaubat. Mereka termasuk yang dimaksud Allah:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
(QS. فاطر: 32)

Golongan “ظالم لنفسه” adalah mereka yang beriman tapi masih bermaksiat. Jika Allah tidak mengampuni, mereka disiksa dahulu di neraka untuk dibersihkan yang lamanya ahkob, nauzubillah men dzalik.



Tiga Golongan Umat Beriman (Surah Fathir: 32)

Allah ﷻ berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ
“Kemudian Kami wariskan Kitab (Al-Qur’an) kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami; maka di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”
(QS. Fathir: 32)

Golongan pertama adalah yang bersegera dalam kebaikan.
Golongan kedua, mereka yang pertengahan: kebaikan dan keburukannya seimbang.
Golongan ketiga — zhalimun linafsih, yakni orang beriman yang melakukan dosa besar, yang melalaikan perintah Allah, yang shalatnya lalai, lisannya tajam, hatinya keras, dan amalnya sering dicampur kezaliman.


Mengapa Mereka Sampai ke Neraka?

Mereka tidak kufur kepada Allah, tetapi lalai dan sombong dalam ketaatan. Mereka tahu kebenaran, tapi menunda taubat. Mereka mengaku cinta Rasulullah ﷺ, tapi membiarkan lidahnya menyakiti sesama.

Nabi ﷺ bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ، فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ، أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka berbuat seperti orang beriman, tapi hatinya kotor. Maka Allah menimpakan hukuman, agar hati mereka disucikan di sana, sebelum akhirnya dikeluarkan oleh rahmat-Nya.

Orang beriman yang “menganiaya diri” ini adalah mereka yang tahu kebenaran, namun tetap mengerjakan dosa besar tanpa taubat. Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ أَحَدُكُمُ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ
(HR. Bukhari-Muslim)
“Tidak seorang pun dari kalian akan masuk surga hanya karena amalnya (saja).”

Jika amal tak sebanding dengan dosa, mereka ditahan di neraka sampai dibersihkan.

Apakah mereka tidak sadar, kalau lamanya hari di akhirat itu berbeda dengan lamanya hari di dunia?  Kebanyakan mereka tidak yakin kalau lamanya sehari di akhirat sebagai seribu tahun bilangan hari di dunia. Ingat ingat lah itu. 

Pedihnya azab dan lamanya masa tinggal

Bayangkan panasnya api neraka. Nabi ﷺ bersabda:

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ
(HR. Muslim)
“Api kalian di dunia ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka Jahanam.”

Andai orang kafir di neraka selama bilangan pasir bumi, itu masih terukur. Tapi bagi yang kafir, musyrik, dan munafik – Allah tegaskan:

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا * خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
(QS. الأحزاب: 64-65)
“Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”



Ketika Neraka Menelan Wujud

Mereka tinggal di dalam neraka dengan lamanya yang tak bisa dibayangkan. Dalam Al-Qur’an disebutkan kata “ahqābā”, yang berarti masa yang amat panjang — bukan 100 atau 1000 tahun, tetapi berulang-ulang masa tanpa hitungan dunia.

لَٰبِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا
“Mereka tinggal di dalamnya selama masa yang panjang (ahqābā).”
(QS. An-Naba’: 23)

Tubuh mereka hancur, wajah hitam legam, daging mengelupas, lalu terbentuk kembali untuk merasakan azab lagi. Tidak ada yang bisa berpaling dari api itu kecuali Allah sendiri yang memalingkannya.


Dialog Haru dengan Allah

Ketika Allah memerintahkan agar mereka dikeluarkan — wajah mereka sudah tidak dikenali lagi. Mereka merangkak keluar dari neraka, dengan tubuh gosong, tanpa bentuk. 

Lalu Allah memberi izin, mereka dimasukkan ke sungai kehidupan (Nahrul Hayah), tubuh mereka tumbuh seperti biji yang tumbuh di tepi aliran air, indah dan segar kembali. 

Mereka berkata dengan suara serak penuh air mata:

“Ya Rabb, Engkau telah menyelamatkan kami dari neraka, maka palingkanlah wajah kami darinya…”

Namun mereka tidak mampu memalingkan wajah sendiri, hingga Allah memalingkannya dengan tangan-Nya — sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih bahwa Allah berfirman dan tertawa kepada mereka karena kasih sayang-Nya.


Dialog orang terakhir keluar dari neraka didalam (HR. Muslim, hadits panjang)

– Orang terakhir keluar dari neraka tidak mampu memalingkan wajahnya dari api, kecuali Allah yang memalingkannya.
– Ia berkata, “Ya Rabb, palingkanlah wajahku dari neraka, jangan jadikan aku makhluk-Mu yang paling celaka.”
– Allah berfirman, “Jika Aku kabulkan, apakah engkau akan meminta lagi?”
– Ia berjanji tidak akan meminta lagi. Allah pun palingkan wajahnya.

Kemudian ia berkata lagi, “Ya Rabb, dekatkanlah aku ke pintu surga.” Allah bertanya lagi. Ia berjanji lagi. Allah pun dekatkan.

Setelah dekat, ia melihat keindahan surga. Ia pun berkata, “Ya Rabb, masukkanlah aku ke surga.” Allah tersenyum dan berfirman:
“Wahai anak Adam, betapa khianatnya engkau!”
Lalu Allah tertawa, dan dengan rahmat-Nya Allah masukkan ia ke surga.

Mereka berkata:

“Ya Rabb, izinkan kami masuk surga.”
Allah berfirman:
“Apakah engkau masih meminta lagi setelah Aku selamatkan dari neraka?”
Mereka menjawab:
“Ya Rabb, Engkau telah memberi kami nikmat yang besar, namun kami ingin ridha-Mu.”

Syukur setelah masuk surga

Orang beriman yang diselamatkan ini berkata seperti dalam QS Fāṭir 


قَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

(QS. فاطر: 34)

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Setelah dibersihkan dan dibangkitkan kembali di sungai kehidupan, mereka masuk surga. Para malaikat berkata kepada mereka:

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

(QS. Az-Zumar: 73)

“Selamat sejahtera atasmu, kamu telah bersih, maka masuklah ke dalamnya (surga), kamu kekal di dalamnya.”

Ketika mereka masuk surga, terdengarlah ucapan yang begitu indah:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَذْهَبَ عَنَّا ٱلْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌۭ شَكُورٌۭ (٣٤)
ٱلَّذِىٓ أَحَلَّنَا دَارَ ٱلْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِۦ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌۭ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌۭ (٣٥)
“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
Yang menempatkan kami di tempat yang kekal karena karunia-Nya; di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula lesu.”

(QS. Fāthir: 34–35)


Pelajaran untuk Kita

Dari kisah ini, kita memahami bahwa Allah tidak menzalimi siapa pun. Setiap dosa, sekecil apa pun, jika tidak diampuni, akan dimintai pertanggungjawaban.
Namun rahmat Allah lebih luas dari murka-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُخْرِجُ قَوْمًا مِنَ النَّارِ بَعْدَ مَا مَسُّهُمُ النَّارُ، فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، فَيُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيِّينَ
“Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan suatu kaum dari neraka setelah mereka disentuh oleh api, lalu mereka masuk surga. Maka mereka disebut ‘al-jahannamiyyūn’.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka adalah orang-orang beriman yang zalim terhadap diri sendiri — namun masih memiliki kalimat Lā ilāha illallāh di hatinya.


Penutup: Hidup Ini Bukan Main-main

Saudaraku, hidup di dunia ini bukan permainan. Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya, bukan untuk menumpuk dosa lalu berharap ampunan tanpa taubat.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)

Rezeki, ujian, dan nikmat sudah ditentukan oleh Allah sesuai kadar masing-masing. Maka jangan berputus asa dari rahmat-Nya, tetapi jangan pula bermain-main dengan dosa.

Juga hidup ini bukan permainan. Allah sudah menjamin rezeki setiap hamba sesuai takdirnya.

Jadi jangan ngoyo mencari rezeki yang halal dan jaga niat dalam mencari rezeki, kebahagiaan hakiki itu di Surga. 

Kebahagiaan dunia itu kalau dijalani paling lama seratus tahun atau seumur kodar masing-masing, setelah itu pasti mati dan ada pertanggungjawaban yang menunggu, hisaban Allah. Kita tidak boleh bodoh. 

 Tugas utama kita hanya beribadah dan menjaga diri dari dosa. Jangan sampai kita termasuk “ظالم لنفسه” yang harus dibersihkan di neraka dulu. Perbanyaklah taubat, amal saleh, dan ikhlaskan niat.

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
(QS. آل عمران: 185)
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh ia telah beruntung.”


Cek Mukena Travel Jumbo Premium
Armania Silk 2in1 Set Sejadah Terbaru Alea Series
dengan harga Rp269.000. Dapatkan di Shopee sekarang!  

Semoga Allah menjauhkan kita dari azab-Nya dan mengaruniakan kita masuk surga-Nya tanpa hisab. Āmīn.










Sunday, October 19, 2025

Menjaga Generasi dari Jalan yang Dimurkai dan Sesat: Nasihat Islami untuk Kesehatan Jiwa dan Raga





Alcavella Zaura Koko Series 


Pengantar

Di dalam setiap rakaat salat kita, minimal 17 kali sehari, kita membaca doa besar dalam Surah Al-Fatihah. Kita memohon kepada Allah agar diberi hidayah menuju jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat, dan dijauhkan dari jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat. Ini bukan hanya doa pribadi, tetapi juga doa untuk keluarga dan generasi kita.
Kesehatan jiwa dan raga bukan hanya soal fisik dan psikologis, tetapi juga tentang arah hidup yang benar. Jika arah hidup salah, jiwa sakit dan raga pun mudah terjerumus pada kebiasaan buruk.



1️⃣ Makna Ayat Terakhir Al-Fatihah

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“(Yaitu) jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7)

Jalan orang-orang yang diberi nikmat: para nabi, shiddiqin, syuhada, shalihin (QS. An-Nisā’: 69).
Yang dimurkai: orang yang tahu kebenaran tapi enggan mengamalkan (contoh: Yahudi).
Yang sesat: orang yang bersemangat beribadah tapi tanpa ilmu sehingga menyimpang (contoh: Nasrani).

2️⃣ Kesehatan Jiwa dalam Ayat Ini

  • Ilmu + Amal adalah resep kesehatan jiwa: mengetahui kebenaran (ilmu) lalu mengamalkannya (amal).
  • Jiwa yang tahu kebenaran tapi melawan akan menjadi keras (dimurkai).
  • Jiwa yang semangat tanpa ilmu mudah terombang-ambing (sesat).
  • Keduanya merusak ketenangan batin dan membawa dampak buruk pada fisik.

3️⃣ Peran Kita untuk Generasi

  • Doakan anak-anak muda: supaya diberi hidayah ke jalan lurus.
  • Ajarkan ilmu agama yang benar dengan bahasa yang mudah.
  • Jadilah teladan: anak muda lebih melihat contoh ketimbang mendengar kata-kata.
  • Lingkungan positif: bantu mereka punya teman dan aktivitas baik agar terjaga.
  • Tegas tapi lembut: luruskan kesalahan tanpa menghakimi pribadi.

4️⃣ Dampak bagi Kesehatan Raga

  • Jiwa yang tenang karena berada di jalan lurus lebih mudah menjaga kesehatan tubuh.
  • Allah berfirman:

    أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
    “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28).

  • Hati yang tenteram membantu tekanan darah stabil, mengurangi stres, dan meningkatkan imun tubuh.

Penutup

Membaca Al-Fatihah bukan sekadar rutinitas salat, tapi doa yang mendalam agar kita dan generasi kita selamat. Kesehatan jiwa dan raga berawal dari hati yang lurus dan pikiran yang benar. Dengan mengamalkan ilmu, mendidik generasi dengan kasih sayang, dan senantiasa memohon hidayah, kita berharap anak-anak muda terjaga dari jalan yang dimurkai dan sesat. Semoga Allah menjadikan kita semua istiqamah di jalan-Nya. Āmīn.




Saturday, October 11, 2025

Rahasia di Balik Kesabaran atas Cobaan


🌿 Rahasia di Balik Kesabaran atas Cobaan

✨ Pengantar

Setiap manusia pasti diuji. Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa cobaan — entah berupa kesulitan yang menyesakkan dada, atau keberhasilan yang menguji kesyukuran.
Namun di balik setiap ujian, tersembunyi kasih sayang Allah yang sangat dalam.
Karena Allah tidak pernah menimpakan musibah untuk menyakiti, melainkan untuk menyucikan dan meninggikan derajat hamba-Nya.


🌸 1. Cobaan adalah Tanda Cinta Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ."
(رواه البخاري)

Artinya:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.”
(HR. Bukhari)

Cobaan adalah tanda perhatian dan kasih sayang Allah, karena hanya hamba pilihan yang diberi kesempatan untuk membersihkan diri melalui ujian.


🌸 2. Dalam Kesulitan Ada Kemudahan

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh, bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Setiap kesulitan membawa serta kemudahan, meski kadang tak langsung tampak.
Allah menegaskan dua kali agar kita tidak putus asa — karena tidak ada ujian tanpa hikmah, dan tidak ada penderitaan tanpa akhir yang indah.


🌸 3. Ujian Datang dari Dua Arah: Nikmat dan Musibah

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)

Kekayaan, jabatan, kesehatan, dan keberhasilan juga ujian — apakah kita bersyukur dan tunduk, atau justru lalai dan sombong.
Begitu pula kesulitan, menjadi ujian apakah kita sabar dan tetap berprasangka baik kepada Allah.


🌸 4. Pahala Sabar Tanpa Batas

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)

Hanya sabar yang dijanjikan pahala tanpa batas.
Karena sabar bukan sekadar menahan diri, tapi menyerahkan seluruh jiwa kepada Allah dengan penuh keyakinan dan ketenangan.


🌸 5. Kesabaran Adalah Cahaya

Rasulullah ﷺ bersabda:

"وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ."
(رواه مسلم)

Artinya:
“Kesabaran adalah cahaya.”
(HR. Muslim)

Cahaya inilah yang menerangi hati di tengah gelapnya ujian.
Orang sabar tidak buta arah, sebab ia yakin setiap langkah hidupnya dalam genggaman Allah.


🌸 6. Ujian Adalah Jalan Para Nabi

عَنْ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟
قَالَ: "الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ..."
(رواه الترمذي)

Artinya:
Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?”
Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian yang semisalnya, lalu yang setelahnya.”
(HR. Tirmidzi)

Semakin tinggi derajat iman seseorang, semakin berat pula ujiannya.
Karena Allah ingin mengangkatnya lebih tinggi di sisi-Nya.


🌸 7. Pahala Besar di Balik Musibah

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
"مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ."
(رواه البخاري ومسلم)

Artinya:
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, atau kegundahan — bahkan duri yang menusuknya — melainkan Allah akan menghapus sebagian dari kesalahannya karenanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam hadis lain:

"لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا لَهُ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْأَجْرِ فِي الْمَصَائِبِ، لَتَمَنَّى أَنْ يُقَرَّضَ بِالْمَقَارِيضِ."
(رواه الترمذي وقال حديث حسن غريب)

Artinya:
“Seandainya seorang mukmin mengetahui pahala yang disediakan Allah baginya atas musibah, niscaya ia akan berharap agar tubuhnya digunting (karena musibah)!”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menggambarkan betapa luasnya rahmat dan pahala di balik ujian, sampai-sampai manusia yang diuji di dunia akan berharap di akhirat agar bisa diuji lagi jika ia tahu betapa besarnya ganjaran itu.


🌸 8. Allah Bersama Orang yang Sabar

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Bersama — bukan hanya berarti menolong, tetapi menyertai dengan rahmat, kasih, dan perlindungan.
Orang sabar tidak pernah benar-benar sendiri, sebab Allah selalu bersamanya.


🌷 Penutup

Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, melainkan teguh dalam iman, tenang dalam ujian, dan yakin pada janji Allah.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ۝
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”
(QS. Al-Baqarah: 155–156)

Siapa pun yang sabar, sesungguhnya ia sedang berjalan menuju kedekatan dengan Allah, menuju ketenangan yang abadi di sisi-Nya.


🕊️ 

Tuesday, September 23, 2025

Para Syuhada Uhud: Hidup Bahagia di Surga


 




🌿

Di tengah derasnya arus dunia, kita sering lupa bahwa kemuliaan sejati bukanlah pada panjangnya usia, melainkan pada bagaimana kita mengisinya. Kisah para syuhada Perang Uhud yang diabadikan Allah dalam QS. Âli ‘Imrân ayat 170 adalah pengingat yang menggugah: mereka yang gugur di jalan Allah bukanlah mati, melainkan hidup di sisi-Nya, diberi rezeki dan kenikmatan yang tidak pernah kita bayangkan.

Rasulullah ﷺ menggambarkan keadaan ruh mereka berada dalam burung-burung hijau yang bebas menikmati sungai-sungai surga, buah-buahannya, dan bernaung di bawah ‘Arsy. Mereka berharap kita yang masih di dunia tahu kemuliaan ini, agar tidak ragu berjuang menegakkan kebenaran.

Pengantar ini mengajak kita berhenti sejenak, merenungi perjalanan hidup: adakah kita siap mengorbankan diri demi iman, ataukah kita masih berat melangkah? Kisah para syuhada ini bukan sekadar sejarah, tetapi cermin bagi setiap hati yang rindu pada ridha-Nya.


Temukan Alcavella - Zaura Koko Series | Baju Pria Dewasa Muslim Premium Lengan Panjang Ied Lebaran seharga Rp584.550. Dapatkan sekarang juga di Shopee! ) 






(Renungan QS. Âli ‘Imrân:170)

Allah ﷻ berfirman:

فَرِحِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا۟ بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Mereka (para syuhadâ’) bergembira dengan karunia yang Allah berikan kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (yang belum menyusul mereka) bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Âli ‘Imrân:170)

Ayat ini turun berkenaan dengan para syuhada Perang Uhud. Dalam sebuah hadits 


Sahih Muslim no. 1887 tentang ruh para syuhada yang berada dalam burung hijau dan keistimewaan mereka. :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
أَرْوَاحُهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ تَأْوِي إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ فَاطَّلَعَ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ اطِّلاَعَةً فَقَالَ هَلْ تَشْتَهُونَ شَيْئًا قَالُوا أَيَّ شَيْءٍ نَشْتَهِي وَنَحْنُ نَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شِئْنَا فَفَعَلَ ذَلِكَ بِهِمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَلَمَّا رَأَوْا أَنَّهُمْ لَنْ يُتْرَكُوا مِنْ أَنْ يُسْأَلُوا قَالُوا يَا رَبِّ نُرِيدُ أَنْ تَرُدَّ أَرْوَاحَنَا فِي أَجْسَادِنَا حَتَّى نُقْتَلَ فِي سَبِيلِكَ مَرَّةً أُخْرَى بِاللهِ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(Sahih Muslim 1887)

Terjemahan ringkasnya:

“Ruh mereka berada dalam perut-perut burung hijau yang memiliki lampu-lampu gantung di bawah ‘Arsy, mereka bebas berkeliaran dari surga di mana saja mereka suka, kemudian mereka kembali ke lampu-lampu tersebut. Tuhannya memandang mereka dan bertanya: Apakah kalian menginginkan sesuatu? Mereka menjawab: ‘Apa yang kami inginkan—kami bebas berkeliaran dari surga ke mana kami mau.’ Allah bertanya tiga kali. Setelah mereka menyadari bahwa mereka tidak akan dibiarkan tanpa diberi pertanyaan, mereka berkata: ‘Ya Rabb, kami ingin agar Engkau kembalikan ruh kami ke badan kami supaya kami bisa terbunuh di jalan-Mu sekali lagi.’ Maka Allah melihat bahwa mereka tidak butuh apa pun lagi, lalu dibiarkan dalam kegembiraan mereka.”


Hadits ini memberi gambaran indah: para syuhada hidup dalam kebahagiaan, ruh mereka berada dalam burung-burung hijau yang bebas menjelajahi sungai-sungai dan buah-buahan surga, lalu kembali ke lentera emas di bawah naungan ‘Arsy. Mereka berharap kaum mukminin yang masih di dunia mengetahui kemuliaan mereka agar tidak berat membela agama Allah.

Renungan ini menjadi pengingat bahwa mati syahid bukanlah akhir, melainkan kehidupan yang penuh kemuliaan. Ayat ini juga menjadi motivasi bagi orang beriman untuk tetap teguh membela kebenaran, tidak takut dan tidak bersedih hati, sebab balasan Allah jauh lebih agung dari pengorbanan kita.


Pesan yang Bisa Diambil

  1. Orang yang gugur di jalan Allah bukanlah mati dalam pengertian kita; mereka hidup di sisi Allah.
  2. Para syuhada merasakan kenikmatan surga bahkan sebelum kiamat tiba.
  3. Keinginan para syuhada agar kita tidak takut berjuang membela agama menjadi motivasi bagi kita untuk tetap teguh di atas iman.






Friday, September 5, 2025

Kematian: Peringatan Abadi bagi Setiap Jiwa

 









Kematian: Peringatan Abadi bagi Setiap Jiwa

Pengantar

Kematian adalah sebuah kepastian. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindarinya, baik ia raja maupun rakyat, kaya maupun miskin, muda maupun tua. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara, tempat kita diuji apakah kita benar-benar tunduk kepada Allah atau justru terpedaya oleh gemerlap dunia.

Allah ﷻ telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa kematian adalah keniscayaan yang tidak bisa ditunda barang sedetik pun. Kesadaran akan hal ini seharusnya menjadi pengingat agar kita tidak terlena oleh harta, kedudukan, atau kesenangan dunia yang fana.


Kepastian Kematian

Allah ﷻ berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa kemenangan sejati bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau panjangnya usia, melainkan selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga Allah.


Harta Bukan Jaminan

Sering kali manusia terjebak dalam ilusi harta. Mereka mengira bahwa dengan harta yang bertumpuk, hidup akan selamat. Padahal Allah ﷻ mengingatkan:

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Dan harta-hartamu serta anak-anakmu itu, sekali-kali tidaklah mendekatkan kamu kepada Kami, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih.” (QS. Saba’: 37)

Harta hanyalah ujian. Bagi yang kaya, apakah ia bersyukur, berzakat, dan berinfak? Bagi yang miskin, apakah ia tetap bersabar, tidak berputus asa, dan menjaga kehormatan dirinya?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim no. 2742)


Hidayah Lebih Berharga dari Harta

Apa arti harta jika tanpa hidayah? Berapa banyak orang kaya yang tersiksa batinnya, kehilangan arah hidup, dan mati dalam keadaan lalai dari Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad kepada Ummat mu yang sudah beriman ), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu ( hidayah Allah), hendaklah mereka bergembira. Itu ( hidayah Allah) lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

(Yūnus ayat:58)



Allah ﷻ berfirman:

وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ
“Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Petunjuk Allah adalah cahaya yang lebih berharga dari segala harta. Tanpa hidayah, harta hanya menjadi beban yang menyeret pemiliknya ke dalam siksa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71, Muslim no. 1037)


Penutup 

Saudaraku, hidup ini hanyalah perjalanan singkat menuju akhirat. Harta, jabatan, dan dunia yang kita kejar mati-matian hanyalah titipan. Sementara itu, amal shalih, dzikir, doa, dan ketundukan hati kepada Allah lah yang akan menemani kita di alam kubur.

Ingatlah, kematian tidak pernah mengetuk pintu. Ia bisa datang kapan saja, tanpa peringatan. Maka berbekallah dengan hidayah, amal shalih, dan hati yang selalu rindu bertemu Allah.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang selalu sadar bahwa dunia hanyalah ujian, dan kemenangan sejati adalah ketika kelak kita dipanggil dengan kalimat penuh kemuliaan:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam (golongan) hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)






Monday, September 1, 2025

Pelajaran Syukur dari Jin dalam Surah Ar-Rahman, sebagai Makhluk Allah

 




Temukan Aghnisan Long Lite Classy Baju Olahraga Muslimah Syari seharga Rp378.000. Dapatkan sekarang juga di Shopee


Temukan kisah unik tentang jawaban jin saat Rasulullah ﷺ membacakan Surah Ar-Rahman. Dalil lengkap dalam bahasa Arab, tafsir ulama, serta pelajaran syukur yang mendalam dari ayat ‘Fabi ayyi alaa rabbikuma tukadzdziban’.”



Pelajaran Syukur dari Jin dalam Surah Ar-Rahman, sebagai Makhluk Allah

Pendahuluan

Surah Ar-Rahman adalah salah satu surah Al-Qur’an yang paling indah dan penuh dengan pengulangan ayat “فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua ( jin dan manusia) yang kamu berdua dustakan ( kamu tidak percaya itu dariku ( Allah) ?”. Ayat ini diulang sebanyak 31 kali, sebagai pengingat bagi manusia dan jin agar selalu menyadari betapa banyak nikmat Allah yang diberikan.

Namun, ada sebuah kisah menarik ketika Rasulullah ﷺ membacakan Surah Ar-Rahman kepada para sahabat. Beliau mengungkapkan bahwa jin justru lebih baik dalam memberikan jawaban dibanding manusia. Mari kita simak dalil dan pelajarannya.


Hadits tentang Jawaban Jin

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata:

«قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ سُورَةَ الرَّحْمَنِ عَلَى أَصْحَابِهِ فَسَكَتُوا، فَقَالَ: لَقَدْ قَرَأْتُهَا عَلَى الْجِنِّ لَيْلَةَ الْجِنِّ فَكَانُوا أَحْسَنَ مَرْدُودًا مِنْكُمْ، كُنْتُ كُلَّمَا أَتَيْتُ عَلَى قَوْلِهِ: ﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾ قَالُوا: لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ، فَلَكَ الْحَمْدُ»
(HR. at-Tirmidzi no. 3291, al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman)

Artinya:
“Rasulullah ﷺ membacakan Surah Ar-Rahman kepada para sahabat, lalu mereka terdiam. Beliau bersabda: ‘Sungguh aku telah membacakannya kepada para jin pada malam jin, maka mereka lebih baik jawabannya daripada kalian. Setiap kali aku sampai pada firman Allah: ﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾, mereka menjawab: ‘Tidak ada sedikit pun dari nikmat-Mu, wahai Rabb kami, yang kami dustakan; bagi-Mu segala puji.’


Tafsir Ulama tentang Hadits Ini

  1. Tafsir Al-Qurṭubī
    Menukil hadits di atas dan menekankan bahwa jin menjawab dengan penuh syukur, berbeda dengan manusia yang sering diam dan lalai.

  2. Tafsir Jalalayn
    Menyebutkan bahwa jin memberi respon yang benar: mengakui nikmat Allah dan memuji-Nya.

  3. Ad-Durr al-Manthūr (As-Suyūṭī)
    Menghimpun riwayat dari banyak sanad yang menegaskan respons jin setiap kali mendengar ayat tersebut.


Pelajaran yang Bisa Diambil

  1. Syukur adalah jawaban terbaik
    Ketika Allah mengingatkan tentang nikmat-Nya, seharusnya manusia menjawab dengan pengakuan dan rasa syukur, bukan diam.

  2. Jin bisa lebih taat dibanding manusia
    Kisah ini menunjukkan bahwa sebagian jin beriman dan tunduk kepada Allah. Bahkan mereka langsung menjawab dengan kalimat penuh pengakuan:

لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ

  1. Peringatan bagi manusia yang lalai
    Jika jin bisa mengakui nikmat Allah, bagaimana mungkin manusia yang melihat dan merasakan nikmat itu setiap hari justru mendustakannya?

Penutup

Surah Ar-Rahman bukan hanya bacaan yang indah, tetapi juga dialog terbuka antara Allah dengan manusia dan jin. Respons jin yang penuh syukur menjadi teladan bagi kita: setiap kali mendengar atau membaca ayat “فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ”, hendaknya hati kita menjawab dengan ikhlas:

“Tidak ada sedikit pun nikmat-Mu, ya Allah, yang kami dustakan; segala puji hanya untuk-Mu.”

Semoga kita menjadi hamba yang lebih peka dalam mensyukuri nikmat Allah, dan tidak kalah dengan jin dalam merespons ayat-ayat-Nya.






Menemukan Ketenangan Jiwa Lewat Shalat Lima Waktu

 




(   Temukan Jubah Gamis Pria slimfit ALIF jubah gamis pria muslim jubbah thobe busana muslim kurta jubah alfaan gamis alzan gamis jubah hitam jubah putih lengan panjang seharga Rp145.425. Dapatkan sekarang juga di Shopee!  ) 


🕌 Menemukan Ketenangan Jiwa Lewat Shalat Lima Waktu

Pendahuluan

Di era modern ini, banyak orang merasa hidup penuh tekanan, gelisah, dan kehilangan arah. Hati manusia mendambakan ketenangan, namun rutinitas dunia seringkali membuatnya jauh dari kedamaian. Dalam Islam, Allah telah memberikan jawaban sederhana namun agung: shalat lima waktu.

Shalat bukan hanya kewajiban, melainkan hadiah spiritual yang menenangkan pikiran, menyejukkan hati, dan menguatkan jiwa. Setiap kali seorang Muslim mendirikan shalat, ia sedang memperbarui hubungan dengan Allah sekaligus menata ulang ketenangan batinnya.


Shalat sebagai Sumber Kedamaian Batin

Shalat adalah momen percakapan hamba dengan Rabb-nya. Setiap takbir merupakan jeda dari hiruk-pikuk dunia, dan setiap sujud adalah pelepasan beban. Pada posisi paling rendah itulah seorang Muslim justru merasakan kekuatan terbesar—yaitu dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah.

Para pakar psikologi saat ini mendorong praktik mindfulness untuk mengurangi stres. Menariknya, Islam sudah mengajarkan bentuk mindfulness ini sejak lebih dari 14 abad yang lalu melalui shalat. Dengan khusyuk dalam shalat, seorang Muslim melatih fokus, kesadaran diri, dan sekaligus menenangkan jiwanya.


Landasan Qur’ani: Shalat Membawa Ketenangan

Al-Qur’an berulang kali menegaskan fungsi shalat sebagai penuntun dan penenang hati:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya).”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan semata ritual, melainkan juga terapi ruhani yang menenangkan jiwa.


Manfaat Shalat dalam Pandangan Ilmiah

Selain dimensi spiritual, shalat juga terbukti bermanfaat secara ilmiah. Penelitian modern menunjukkan bahwa ibadah rutin seperti shalat mampu:

  • Menurunkan tingkat stres.
  • Menyeimbangkan emosi.
  • Memperbaiki kualitas tidur.
  • Menguatkan daya tahan tubuh.

Gerakan shalat—berdiri, rukuk, sujud—mendorong sirkulasi darah lebih baik, melatih fleksibilitas, sekaligus memberikan relaksasi alami. Tidak heran bila banyak Muslim merasakan keseimbangan jiwa-raga setelah menjaga shalat dengan disiplin.


Tips Agar Shalat Lebih Menenangkan

Agar shalat benar-benar menghadirkan kedamaian, kita perlu menjaganya dengan penuh kesadaran. Beberapa langkah sederhana berikut bisa membantu:

  1. Hadirkan niat sebelum shalat – tarik napas dalam, ingat bahwa Anda sedang berdiri di hadapan Allah.
  2. Baca dengan perlahan – biarkan setiap ayat menyentuh hati.
  3. Gunakan sujud sebagai curhat kepada Allah – ceritakan keluh kesah, doa, dan harapan.
  4. Shalat tepat waktu – menjaga waktu shalat membantu hati lebih tenteram sepanjang hari.
  5. Lanjutkan dengan dzikir dan doa – panjangkan ibadah setelah salam, agar hati tetap lembut.

Renungan Sehari-hari

Cobalah perhatikan perbedaan hari ketika shalat dijaga tepat waktu dengan hari ketika ditunda. Banyak Muslim merasakan hidup lebih ringan, hati lebih tenang, dan pikiran lebih teratur saat shalat ditegakkan dengan baik.

Seorang sahabat pernah berkata:

“Ketika aku menjaga shalatku, hatiku terasa aman. Tapi saat aku menunda atau melalaikannya, hidupku terasa kacau.”

Itulah bukti nyata janji Allah: shalat menghadirkan perlindungan dan ketenangan.


Penutup

Kedamaian sejati bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan hati yang senantiasa merasa ditemani Allah. Shalat lima waktu adalah kunci untuk memperoleh ketenangan itu—bukan beban, melainkan rahmat.

Setiap adzan yang berkumandang adalah undangan untuk kembali kepada Allah. Sambutlah dengan hati yang hadir, dan rasakan kedamaian yang mengalir dalam jiwa.



Thursday, August 28, 2025

Saat Dosa Membuatmu Terluka, Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah"


Saat Dosa Membuatmu Terluka, Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah"



(Lanjutan dari: "Hidup Itu Pasti Diuji")


🌫️ Pengantar: Saat Dosa Membuat Jiwa Guncang

Dalam kenyataan hidup, banyak manusia yang akhirnya terjerumus dalam dosa—baik disengaja maupun tidak disengaja.

Ada yang tergelincir karena hawa nafsu…
Ada yang jatuh karena tekanan dan keputusasaan…
Ada pula yang terlahir dalam lingkungan jauh dari agama, lalu tidak tahu arah pulang.

Dan yang paling menyakitkan adalah, ketika seseorang sudah beriman, tetapi masih terjebak dalam dosa besar…
Mereka tahu itu salah…
Mereka sadar, dan di situlah syaitan mulai memainkan peran keji:
mendramatisir dosa, membisikkan rasa malu, menyulut rasa takut berlebihan kepada Allah.


🔥 Saat Syaitan Menjadikan Dosa Sebagai Jerat Putus Asa

Setan tidak hanya menjerumuskan orang ke dalam maksiat,
tetapi juga berusaha menutup jalan taubat setelahnya.

Ia berbisik:

“Engkau sudah terlalu kotor… tak akan diterima taubatmu.”
“Engkau sudah tahu itu haram, kenapa masih dilakukan? Sudah… percuma bertobat.”
“Allah pasti murka padamu. Kau lebih baik mati saja…”

⚠️ Inilah mengapa banyak orang yang merasa hancur oleh dosanya sendiri:

  • Ada yang sampai ingin mengakhiri hidup, karena merasa telah menodai dirinya di hadapan Allah.
  • Ada yang melanjutkan dosanya lebih jauh, karena merasa dirinya tidak bisa lagi kembali.
  • Ada yang memilih menyendiri, menangis tiap malam, tapi tak berani berdoa, merasa tak layak.

Dan di sinilah peranan ayat agung itu muncul, seperti pelita di tengah malam yang gelap:

قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ
"Katakanlah (wahai Nabi): Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah..."
إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
(QS Az-Zumar: 53)


💔 Mengapa Ayat Ini Turun?

Ibnu Abbas berkata bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang musyrik di Makkah.
Mereka telah membunuh, berzina, dan mencuri.
Lalu mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

“Apa yang kamu serukan ini sungguh baik… Tapi apakah ada harapan bagi kami yang telah berbuat begitu banyak dosa?”
Mereka sungguh ingin kembali kepada Allah, tetapi takut dosa mereka terlalu besar.

Lalu Allah turunkan ayat ini untuk membuka pintu:

"Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."

Itu bukan hanya bagi mereka…
Itu juga untuk kita semua.


🌧️ Kesalahan Bukan Akhir Segalanya

Sahabatku, tidak ada seorang pun dari kita yang suci.
Semua orang pasti pernah berdosa.
Tapi dosa tidak seharusnya menjadi akhir kisah, melainkan awal perubahan.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setiap anak Adam pasti pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat."
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
(HR. Tirmidzi, no. 2499)


⚖️ Takut kepada Allah Itu Baik, Tapi Jangan Lupakan Harap

Sebagian orang merasa malu dan takut kepada Allah secara berlebihan, sampai merasa tidak pantas mendekat.

Padahal agama ini dibangun atas dua sayap: takut (khouf) dan harap (raja’).
Jika hanya takut, maka seseorang bisa putus asa.
Jika hanya berharap, maka seseorang bisa sembrono.

🔑 Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan:

“Seorang mukmin itu berjalan menuju Allah dengan dua sayap: rasa takut dan harapan. Dan cinta adalah penggerak utama yang mendorong ia terus melangkah.”


💡 Maka, Apa yang Harus Dilakukan?

  1. Jangan biarkan bisikan putus asa itu tumbuh.
    Ingatkan diri dengan ayat dan hadis yang memberi harapan.
  2. Mulailah dari langkah kecil: istighfar setiap hari, salat tepat waktu, bangun malam meski satu rakaat.
  3. Datangi majelis ilmu dan berteman dengan orang-orang yang salih.
  4. Percaya bahwa Allah tidak pernah jenuh menerima taubat.

"Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan."
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
(HR. Tirmidzi, no. 3537, sahih)


🌺 Penutup: Jalan Pulang Selalu Terbuka

Jika hari ini kamu masih hidup, itu bukan karena kebetulan.
Itu adalah undangan dari Allah, bahwa masih ada waktu untuk kembali.

Rahmat-Nya lebih luas dari langit dan bumi.
Bahkan jika dosamu setinggi langit, dan sedalam samudra…

“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.”
إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan putus asa. Kembalilah. Allah masih menunggumu.

Thursday, August 21, 2025

Tangisan yang Menggetarkan: Saat Nabi Muhammad ﷺ Wafat



Tangisan yang Menggetarkan: Saat Nabi Muhammad ﷺ Wafat

Kehidupan Rasulullah ﷺ adalah cahaya bagi umat manusia. Beliau bukan hanya seorang nabi dan rasul, tetapi juga teladan yang membawa kasih sayang, pengorbanan, dan kebenaran. Tidak ada manusia yang lebih dicintai oleh para sahabat dibandingkan beliau. Maka, ketika kabar wafatnya Rasulullah ﷺ tersiar, seluruh Madinah diliputi kesedihan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kesedihan yang Menggetarkan Hati

Hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun ke-11 Hijriah menjadi hari yang paling kelam bagi umat Islam. Rasulullah ﷺ menghembuskan napas terakhir di pangkuan istrinya, ‘Aisyah r.a. Saat itu, beliau mengucapkan kalimat:

"اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الأَعْلَى"
"Ya Allah, (pertemukan aku dengan) Ar-Rafiq Al-A‘la (teman yang Maha Tinggi)."

Tangisan pun pecah di rumah Rasulullah ﷺ. Para sahabat terdiam, sulit menerima kenyataan bahwa utusan Allah yang mereka cintai kini telah tiada.

Umar bin Khattab yang Tak Percaya

Umar bin Khattab r.a. yang dikenal tegas dan pemberani bahkan sempat tak percaya dengan kabar wafatnya Rasulullah ﷺ. Ia berkata dengan suara lantang:

"Barang siapa berkata Muhammad telah wafat, akan kupenggal dengan pedangku! Sesungguhnya beliau hanya pergi menemui Tuhannya, sebagaimana Musa bin Imran yang pergi dan kembali setelah empat puluh malam."

Begitu besar cinta dan rasa kehilangan hingga Umar tak sanggup menerima kenyataan tersebut.

Abu Bakar Menenangkan Umat

Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ, segera menenangkan umat. Ia masuk ke kamar ‘Aisyah r.a., membuka kain penutup wajah Rasulullah ﷺ, lalu menciumnya seraya berkata:

"Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, engkau indah saat hidup dan indah pula saat wafat."

Kemudian Abu Bakar keluar menemui kaum Muslimin yang diliputi kebingungan, lalu berkata dengan suara yang tegar namun penuh air mata:

"Barang siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Tetapi barang siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati."

Lalu beliau membaca firman Allah ﷻ:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ ۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلٰى أَعْقَابِكُمْ ۗ وَمَن يَنقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْـًٔا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
(Ali ‘Imran: 144)

Artinya:
"Muhammad itu hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kalian akan berbalik ke belakang? Barang siapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

Ayat ini meneguhkan hati para sahabat. Mereka tersadar bahwa perjuangan Islam tidak berhenti dengan wafatnya Rasulullah ﷺ.

Hikmah di Balik Tangisan

Tangisan pada hari wafatnya Rasulullah ﷺ adalah tangisan cinta, kehilangan, dan kerinduan. Namun sekaligus menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia ini sementara, sedangkan Allah ﷻ adalah Zat yang kekal.

Wafatnya Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa agama ini tidak bergantung pada sosok, tetapi mo pada ajaran yang beliau bawa. Islam   terjaga hingga akhir zaman.

Penutup

Setiap kali kita mengenang wafatnya Rasulullah ﷺ, hati ini bergetar. Kita seakan mendengar tangisan para sahabat yang ditinggalkan. Namun, dari peristiwa itu kita belajar untuk meneguhkan iman: bahwa hanya Allah ﷻ yang kekal, dan tugas kita adalah melanjutkan risalah Nabi dengan amal saleh.

Semoga Allah ﷻ mengaruniakan kita hati yang selalu rindu kepada Rasulullah ﷺ, hingga kelak bisa berkumpul bersama beliau di surga-Nya.

اللَّهُمَّ اجْمَعْنَا بِرَسُولِكَ فِي الْجَنَّةِ
"Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama Rasul-Mu di surga."


Saturday, August 16, 2025

Pahami mengapa Solat harus dengan benar



Bismillahirrahmanirrahim


Saudara,.. Sudah berapa tahun kita menunaikan salat? Lima kali sehari, paling sedikit. Berulang-ulang. Tapi pernahkah kita merenung: Apakah salat kita diterima oleh Allah?

Apakah kita yakin, benar-benar yakin, bahwa salat yang kita lakukan selama ini sesuai dengan yang dikehendaki-Nya?


Salat bukan sekadar gerakan. Bukan rutinitas tanpa rasa. Salat adalah pengakuan bahwa kita hamba dan Allah adalah Tuhan yang Maha Mulia. Maka, bila salat dikerjakan tanpa hati, tanpa ketenangan, tanpa mengikuti petunjuk Nabi, mungkinkah ia diterima?


Rasulullah ﷺ bersabda, bahwa amalan yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah salat.

Kalau hisaban salatnya dihukumi benar, amalan lain akan menyusul dengan hisaban yang mudah, itu artinya kecenderungan masuk surga tanpa mampir ke neraka itu besar. 


Tapi jika salatnya hisaban nya dihukumi salah, maka seluruh amal lainnya pun hisaban nya akan berat, itu artinya potensi mampir neraka besar.

Bayangkan, seumur hidup kita salat… tetapi ternyata tidak diterima!


Pernah kah Anda berpikir tentang kelanjutan nya. Mengapa begitu penting. 

Celakalah orang yang mencuri dari salatnya—kata Nabi ﷺ. Siapa mereka? Mereka yang rukuk dan sujudnya tidak sempurna, tergesa-gesa, tidak tumakninah.

Berapa banyak di antara kita yang seperti itu?


Salat adalah tiang agama. Jika tiang ini patah, bagaimana kita berharap bangunan Islam dalam diri kita tetap berdiri?


Inilah mengapa kita harus belajar kembali bagaimana salat yang benar.

Salat yang sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Salat yang tenang.

Salat yang khusyuk.

Salat yang dimengerti maknanya.

Salat yang bukan hanya dikerjakan oleh badan, tapi juga oleh hati yang hadir.


Karena jika hisaban salat diterima, semua urusan hisaban yang lain kita akan dipermudah oleh Allah. Tapi bila salat ditolak, maka apa lagi yang bisa kita andalkan?


Mari perbaiki salat, sebelum ajal menjemput.


Masalah nya Saudara, potensi masuk neraka atau masuk surga, adalah kebenaran yang hakiki sama sekali, yang harus jadi pikiran utama satu satu nya ummat. 


Maka itu pahami solat mengapa harus dilakukan dengan benar. 

Kalau boleh saya saran, biarlah kita meributkan diri kita sendiri dalam rangka mencari kebenaran ilmu ibadah solat sekarang, selagi masih hidup, selagi masih di dunia. 

Kalau ternyata salah masih bisa diperbaiki, kita bertaubat, kemudian kita perbaiki kita jaga sampai ajal kita masing-masing. 

Tapi kalau kita tunda, sementara ajal datang tiba-tiba, tak seorang pun tau kapan ajal dan dimana, tak ada yang tau, resiko tinggi, karena musuh abadi orang orang yang beriman adalah syaiton,

yang mengangan angan manusia urusan dunia lebih utama untuk dipikirkan ketimbang akhirat. 

 Sementara orang tidak bisa melihat syaiton dan bagaimana dia mempengaruhi manusia, bahkan masuk melalui aliran darah manusia. Jangan jangan anda tak tahu tentang ini. 


Salat adalah tiang agama. Itu maksudnya, kalau solat nya saja tidak di urus dengan baik, maka amalan lainnya akan juga diremehkan  manusia, alamat keimanannya akan tidak terjaga

Dia tidak akan merasa sudah keluar dari agama nya. Ketika ajal yang tiba-tiba menghampiri nya, dia tidak tertolong. Orang seperti ini, bukan saja mampir tapi bahkan kekal di neraka dalam keadaan hina. 


Jadi solat, Ia, bukan sekadar kewajiban lima waktu yang dikerjakan karena kebiasaan atau dikerjakan asal asalan. Padahal Salat adalah penghubung langsung antara hamba dan Tuhannya. Tapi salat hanya akan diterima bila dilakukan dengan benar — sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.


Rasulullah ﷺ bersabda:


«رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ»

“Pokok segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah salat.”

(HR. Tirmidzi)


Bila tiangnya roboh, maka bangunan agama pun tidak akan berdiri tegak. Agama sudah tidak ada pada orang itu, tanpa sadar. 

 Inilah sebabnya, mengapa hisab pertama di hari kiamat adalah salat. Rasulullah ﷺ bersabda:


«إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ»

“Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya.”

(HR. Abu Dawud)


Jika salatnya hisaban baik, maka seluruh amal yang lain di hisab dengan mudah akan baik. Jika dihukumi rusak, maka semua amal lainnya akan dihisab dengan teliti, potensi mampir neraka besar sekali. Secara dalil sangat mengerikan. Kalau kita melupakan pada Allah, Allah pun akan membiarkan kita nanti disana tidak akan ditolong. Berbekallah dengan taqwa. 


Salat Harus Sesuai Tuntunan Rasulullah ﷺ

Banyak orang mengira sudah cukup dengan sekadar "niat baik" dan gerakan salat. Padahal, yang menentukan diterima tidaknya ibadah adalah ketaatan pada perintah, bukan sekadar niat.


Rasulullah ﷺ bersabda:


«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.”

(HR. Bukhari)


Artinya, salat yang sah adalah yang mengikuti tuntunan Rasulullah, mulai dari takbiratul ihram, bacaan, rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, sampai salam. Semua harus sesuai sunnah.


Dimana anda dapat kan hanya di kitab kitab al hadis, seperti yang terkenal Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa'i, Ibnu Majah, ya kitabussitta, yang sebenarnya masih ada lagi beberapa yang lain. 


Disitu lah sumber ilmu disamping Alquran , untuk ibadah pada Allah, dalam hal ini yang kita bicarakan bab urusan solat. 


Bagaimana anda mendapatkan nya, Anda harus berguru, tidak boleh anda baca sendiri umpama anda bisa berbahasa Arab. 

Cari Guru yang bersanad. Kalau ingin keterangan lebih jauh lebih dalam bisa ikuti pada "Nasihat Islami untuk kesehatan jiwa dan raga" disini, atau bisa mengisi di kolom komentar tempat kita dengan niat berbagi pikiran untuk kemashlahatan ummat. 


Bahaya, bila dihukumi, Mencuri Dalam Salat

Rasulullah ﷺ memperingatkan kita:


«أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ»

“Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dari salatnya.”

(HR. Ahmad)


Sahabat bertanya, “Bagaimana ia mencuri dari salatnya?” Rasul menjawab:


«لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا»

“Dia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.”


Sering kita lihat orang salat seperti dikejar waktu. Belum sempurna sujud, sudah bangkit. Belum tenang dalam duduk, sudah berdiri. Ini bukan salat, tapi gerakan yang kosong dari ruh ibadah. Salat Harus Khusyuk dan Tumakninah

Allah berfirman:


قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu yang khusyuk dalam salatnya.”

(QS. Al-Mu’minun: 1–2)


Dan firman-Nya pula:


وَيِلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Celakalah orang-orang yang salat, yaitu yang lalai dari salatnya.”

(QS. Al-Ma’un: 4–5)


Khusyuk adalah hadirnya hati, bukan sekadar lambat gerakan. Tumakninah adalah tenangnya anggota tubuh saat rukuk, sujud, dan duduk. Dua hal inilah yang sering dilupakan orang zaman sekarang.


Padahal, Nabi ﷺ bersabda kepada orang yang salat terburu-buru:


«ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ»

“Kembalilah dan ulangi salatmu, karena engkau belum salat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Berulang kali diucapkan oleh Rasulullah ﷺ, karena salat orang tersebut tidak memenuhi syarat sah secara syariat.


Salat yang Benar Akan Mencegah Dosa

Allah berfirman:


إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

(QS. Al-‘Ankabut: 45)


Jika seseorang masih melakukan dosa padahal rajin salat, maka perlu muhasabah (introspeksi): apakah salatnya benar-benar sesuai tuntunan? Apakah hatinya hadir ketika ia berdiri di hadapan Allah?


Mari Kita Menjaga dan men cek Salat Kita

Saudara... Salat bukan main-main. Ia bukan formalitas. Ia adalah penghubung antara kita dan Allah. Maka itu manfaatkan waktu itu. 

Disitu juga Salah satu jalan untuk sampai ke surga dan selamat dari Siksa neraka. 


 Jika penghubung itu rusak, bagaimana kita bisa berharap ridha dan pertolongan dari-Nya?


Mari belajar kembali cara salat Rasulullah ﷺ.

Mari khusyuk, tumakninah, pahami makna bacaan, hadirkan hati.

Karena bila salat diterima, seluruh amal akan lebih mudah diterima.

“Jadikan salatmu perjumpaan dengan Allah, bukan sekadar rutinitas.”

Solat adalah waktu yang senantiasa dinantikan oleh Ummat yang beriman pada Allah SWT. 

Barakallahu fiikum. 

Friday, August 15, 2025

Tiga Ilmu di Sisi Allah dan Hikmah Allah Tidak Mewajibkan Semua Ilmu Dunia

 





Tiga Ilmu di Sisi Allah dan Hikmah Allah Tidak Mewajibkan Semua Ilmu Dunia

Pengantar

Di antara sekian banyak bidang ilmu yang tersebar di muka bumi, Allah ﷻ dengan rahmat dan hikmah-Nya hanya menjadikan tiga jenis ilmu sebagai inti yang wajib dipelajari setiap Muslim. Rasulullah ﷺ menegaskan dalam sabdanya bahwa selain tiga ilmu itu, semua hanyalah tambahan keutamaan.

Makna dari sabda ini sangat dalam: Allah hanya akan menanyakan tiga ilmu itu saja di akhirat. Ilmu-ilmu lain, meskipun bermanfaat, tidak akan menjadi pertanyaan wajib di hadapan-Nya.

Ini adalah karunia yang sangat besar. Mengapa?
Karena seandainya Allah mewajibkan semua ilmu dunia untuk dikuasai setiap orang — ilmu kedokteran, teknik, astronomi, hukum, ekonomi, seni, pertanian, dan ratusan bidang lainnya — maka tidak ada satu pun manusia yang akan mampu memenuhinya.
Jika semua itu diwajibkan dan akan ditanya di akhirat, dapat dipastikan seluruh manusia akan gagal dan masuk neraka, karena keterbatasan akal dan waktu kita untuk mempelajari segalanya.

Allah ﷻ berfirman:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini menegaskan bahwa kewajiban mempelajari ilmu dibatasi pada hal-hal yang manusia sanggup memikulnya. Dan tiga ilmu yang disebutkan Rasulullah ﷺ adalah kewajiban yang pasti mampu dipelajari oleh setiap Muslim, dengan kadar yang dibutuhkan untuk menjalankan agamanya.


Realita yang Memprihatinkan

Namun kenyataan di kehidupan kita saat ini begitu memprihatinkan. Banyak orang yang mengejar ilmu dunia mati-matian, hingga di rumahnya terdapat perpustakaan besar, rak-rak penuh buku filsafat, ekonomi, teknologi, sejarah, bahkan novel tebal berjilid-jilid. Tetapi Al-Qur’an yang hanya satu mushaf, 30 juz itu nyaris tidak dibaca dan tidak dipahami.

Kitab-kitab hadis yang menjadi sumber hukum Islam, seperti Kutubus Sittah (enam kitab hadis utama), untuk ukuran Indonesia yang mayoritas Muslim, hampir tidak disentuh, apalagi dipahami secara mendalam.

Mengapa bisa demikian?
Apakah mereka tidak takut akan datangnya hari ketika Allah bertanya:

“Apa yang kamu ketahui tentang kitab-Ku? Apa yang kamu ketahui dari sabda Nabi-Ku?”

Apakah mereka tidak yakin bahwa hari hisaban itu pasti datang dan tidak seorang pun akan bisa mengelak?

Allah ﷻ berfirman:

وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْـُٔولُونَ
"Tahanlah mereka (di Mahsyar), sesungguhnya mereka akan ditanya."
(QS. As-Saffat: 24)


Tiga Ilmu Utama yang Wajib Dipelajari

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعِلْمَ ثَلَاثَةٌ، وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ: آيَةٌ مُحْكَمَةٌ، أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ، أَوْ فَرِيضَةٌ عَادِلَةٌ
"Sesungguhnya ilmu itu ada tiga, selain itu hanyalah keutamaan: Ayat yang muhkam (Al-Qur'an), Sunnah yang tegak, atau faraidh yang adil."
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Tiga ilmu itu dapat dirinci sebagai:

  1. Ilmu Al-Qur’an — mempelajari, memahami, dan mengamalkan isi kitab Allah.
  2. Ilmu Sunnah Nabi ﷺ — memahami hadis-hadis shahih yang menjadi penjelas Al-Qur’an.
  3. Ilmu Faraidh — hukum-hukum syariat yang mengatur hak dan kewajiban, terutama dalam pembagian waris, dan hukum-hukum praktis lainnya yang dibutuhkan dalam kehidupan.


Gunakan Sisa Waktu untuk Ilmu yang Ditanya Allah

Ilmu-ilmu dunia tetap penting dan dianjurkan bagi sebagian umat (fardhu kifayah) demi kemaslahatan bersama. Tetapi jangan sampai kita mengorbankan ilmu yang akan ditanya Allah di akhirat demi mengejar ilmu yang tidak akan ditanya sama sekali.

Orang beriman yang cerdas adalah yang mempersiapkan jawaban sebelum ditanya, dan mempelajari ilmu yang pasti akan menjadi bahan hisab, sebelum waktunya habis.