Saturday, August 16, 2025

Pahami mengapa Solat harus dengan benar



Bismillahirrahmanirrahim


Saudara,.. Sudah berapa tahun kita menunaikan salat? Lima kali sehari, paling sedikit. Berulang-ulang. Tapi pernahkah kita merenung: Apakah salat kita diterima oleh Allah?

Apakah kita yakin, benar-benar yakin, bahwa salat yang kita lakukan selama ini sesuai dengan yang dikehendaki-Nya?


Salat bukan sekadar gerakan. Bukan rutinitas tanpa rasa. Salat adalah pengakuan bahwa kita hamba dan Allah adalah Tuhan yang Maha Mulia. Maka, bila salat dikerjakan tanpa hati, tanpa ketenangan, tanpa mengikuti petunjuk Nabi, mungkinkah ia diterima?


Rasulullah ﷺ bersabda, bahwa amalan yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah salat.

Kalau hisaban salatnya dihukumi benar, amalan lain akan menyusul dengan hisaban yang mudah, itu artinya kecenderungan masuk surga tanpa mampir ke neraka itu besar. 


Tapi jika salatnya hisaban nya dihukumi salah, maka seluruh amal lainnya pun hisaban nya akan berat, itu artinya potensi mampir neraka besar.

Bayangkan, seumur hidup kita salat… tetapi ternyata tidak diterima!


Pernah kah Anda berpikir tentang kelanjutan nya. Mengapa begitu penting. 

Celakalah orang yang mencuri dari salatnya—kata Nabi ﷺ. Siapa mereka? Mereka yang rukuk dan sujudnya tidak sempurna, tergesa-gesa, tidak tumakninah.

Berapa banyak di antara kita yang seperti itu?


Salat adalah tiang agama. Jika tiang ini patah, bagaimana kita berharap bangunan Islam dalam diri kita tetap berdiri?


Inilah mengapa kita harus belajar kembali bagaimana salat yang benar.

Salat yang sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Salat yang tenang.

Salat yang khusyuk.

Salat yang dimengerti maknanya.

Salat yang bukan hanya dikerjakan oleh badan, tapi juga oleh hati yang hadir.


Karena jika hisaban salat diterima, semua urusan hisaban yang lain kita akan dipermudah oleh Allah. Tapi bila salat ditolak, maka apa lagi yang bisa kita andalkan?


Mari perbaiki salat, sebelum ajal menjemput.


Masalah nya Saudara, potensi masuk neraka atau masuk surga, adalah kebenaran yang hakiki sama sekali, yang harus jadi pikiran utama satu satu nya ummat. 


Maka itu pahami solat mengapa harus dilakukan dengan benar. 

Kalau boleh saya saran, biarlah kita meributkan diri kita sendiri dalam rangka mencari kebenaran ilmu ibadah solat sekarang, selagi masih hidup, selagi masih di dunia. 

Kalau ternyata salah masih bisa diperbaiki, kita bertaubat, kemudian kita perbaiki kita jaga sampai ajal kita masing-masing. 

Tapi kalau kita tunda, sementara ajal datang tiba-tiba, tak seorang pun tau kapan ajal dan dimana, tak ada yang tau, resiko tinggi, karena musuh abadi orang orang yang beriman adalah syaiton,

yang mengangan angan manusia urusan dunia lebih utama untuk dipikirkan ketimbang akhirat. 

 Sementara orang tidak bisa melihat syaiton dan bagaimana dia mempengaruhi manusia, bahkan masuk melalui aliran darah manusia. Jangan jangan anda tak tahu tentang ini. 


Salat adalah tiang agama. Itu maksudnya, kalau solat nya saja tidak di urus dengan baik, maka amalan lainnya akan juga diremehkan  manusia, alamat keimanannya akan tidak terjaga

Dia tidak akan merasa sudah keluar dari agama nya. Ketika ajal yang tiba-tiba menghampiri nya, dia tidak tertolong. Orang seperti ini, bukan saja mampir tapi bahkan kekal di neraka dalam keadaan hina. 


Jadi solat, Ia, bukan sekadar kewajiban lima waktu yang dikerjakan karena kebiasaan atau dikerjakan asal asalan. Padahal Salat adalah penghubung langsung antara hamba dan Tuhannya. Tapi salat hanya akan diterima bila dilakukan dengan benar — sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.


Rasulullah ﷺ bersabda:


«رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ»

“Pokok segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah salat.”

(HR. Tirmidzi)


Bila tiangnya roboh, maka bangunan agama pun tidak akan berdiri tegak. Agama sudah tidak ada pada orang itu, tanpa sadar. 

 Inilah sebabnya, mengapa hisab pertama di hari kiamat adalah salat. Rasulullah ﷺ bersabda:


«إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ»

“Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya.”

(HR. Abu Dawud)


Jika salatnya hisaban baik, maka seluruh amal yang lain di hisab dengan mudah akan baik. Jika dihukumi rusak, maka semua amal lainnya akan dihisab dengan teliti, potensi mampir neraka besar sekali. Secara dalil sangat mengerikan. Kalau kita melupakan pada Allah, Allah pun akan membiarkan kita nanti disana tidak akan ditolong. Berbekallah dengan taqwa. 


Salat Harus Sesuai Tuntunan Rasulullah ﷺ

Banyak orang mengira sudah cukup dengan sekadar "niat baik" dan gerakan salat. Padahal, yang menentukan diterima tidaknya ibadah adalah ketaatan pada perintah, bukan sekadar niat.


Rasulullah ﷺ bersabda:


«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.”

(HR. Bukhari)


Artinya, salat yang sah adalah yang mengikuti tuntunan Rasulullah, mulai dari takbiratul ihram, bacaan, rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, sampai salam. Semua harus sesuai sunnah.


Dimana anda dapat kan hanya di kitab kitab al hadis, seperti yang terkenal Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa'i, Ibnu Majah, ya kitabussitta, yang sebenarnya masih ada lagi beberapa yang lain. 


Disitu lah sumber ilmu disamping Alquran , untuk ibadah pada Allah, dalam hal ini yang kita bicarakan bab urusan solat. 


Bagaimana anda mendapatkan nya, Anda harus berguru, tidak boleh anda baca sendiri umpama anda bisa berbahasa Arab. 

Cari Guru yang bersanad. Kalau ingin keterangan lebih jauh lebih dalam bisa ikuti pada "Nasihat Islami untuk kesehatan jiwa dan raga" disini, atau bisa mengisi di kolom komentar tempat kita dengan niat berbagi pikiran untuk kemashlahatan ummat. 


Bahaya, bila dihukumi, Mencuri Dalam Salat

Rasulullah ﷺ memperingatkan kita:


«أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ»

“Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dari salatnya.”

(HR. Ahmad)


Sahabat bertanya, “Bagaimana ia mencuri dari salatnya?” Rasul menjawab:


«لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا»

“Dia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.”


Sering kita lihat orang salat seperti dikejar waktu. Belum sempurna sujud, sudah bangkit. Belum tenang dalam duduk, sudah berdiri. Ini bukan salat, tapi gerakan yang kosong dari ruh ibadah. Salat Harus Khusyuk dan Tumakninah

Allah berfirman:


قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu yang khusyuk dalam salatnya.”

(QS. Al-Mu’minun: 1–2)


Dan firman-Nya pula:


وَيِلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Celakalah orang-orang yang salat, yaitu yang lalai dari salatnya.”

(QS. Al-Ma’un: 4–5)


Khusyuk adalah hadirnya hati, bukan sekadar lambat gerakan. Tumakninah adalah tenangnya anggota tubuh saat rukuk, sujud, dan duduk. Dua hal inilah yang sering dilupakan orang zaman sekarang.


Padahal, Nabi ﷺ bersabda kepada orang yang salat terburu-buru:


«ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ»

“Kembalilah dan ulangi salatmu, karena engkau belum salat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Berulang kali diucapkan oleh Rasulullah ﷺ, karena salat orang tersebut tidak memenuhi syarat sah secara syariat.


Salat yang Benar Akan Mencegah Dosa

Allah berfirman:


إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

(QS. Al-‘Ankabut: 45)


Jika seseorang masih melakukan dosa padahal rajin salat, maka perlu muhasabah (introspeksi): apakah salatnya benar-benar sesuai tuntunan? Apakah hatinya hadir ketika ia berdiri di hadapan Allah?


Mari Kita Menjaga dan men cek Salat Kita

Saudara... Salat bukan main-main. Ia bukan formalitas. Ia adalah penghubung antara kita dan Allah. Maka itu manfaatkan waktu itu. 

Disitu juga Salah satu jalan untuk sampai ke surga dan selamat dari Siksa neraka. 


 Jika penghubung itu rusak, bagaimana kita bisa berharap ridha dan pertolongan dari-Nya?


Mari belajar kembali cara salat Rasulullah ﷺ.

Mari khusyuk, tumakninah, pahami makna bacaan, hadirkan hati.

Karena bila salat diterima, seluruh amal akan lebih mudah diterima.

“Jadikan salatmu perjumpaan dengan Allah, bukan sekadar rutinitas.”

Solat adalah waktu yang senantiasa dinantikan oleh Ummat yang beriman pada Allah SWT. 

Barakallahu fiikum. 

Friday, August 15, 2025

Tiga Ilmu di Sisi Allah dan Hikmah Allah Tidak Mewajibkan Semua Ilmu Dunia

 





Tiga Ilmu di Sisi Allah dan Hikmah Allah Tidak Mewajibkan Semua Ilmu Dunia

Pengantar

Di antara sekian banyak bidang ilmu yang tersebar di muka bumi, Allah ﷻ dengan rahmat dan hikmah-Nya hanya menjadikan tiga jenis ilmu sebagai inti yang wajib dipelajari setiap Muslim. Rasulullah ﷺ menegaskan dalam sabdanya bahwa selain tiga ilmu itu, semua hanyalah tambahan keutamaan.

Makna dari sabda ini sangat dalam: Allah hanya akan menanyakan tiga ilmu itu saja di akhirat. Ilmu-ilmu lain, meskipun bermanfaat, tidak akan menjadi pertanyaan wajib di hadapan-Nya.

Ini adalah karunia yang sangat besar. Mengapa?
Karena seandainya Allah mewajibkan semua ilmu dunia untuk dikuasai setiap orang — ilmu kedokteran, teknik, astronomi, hukum, ekonomi, seni, pertanian, dan ratusan bidang lainnya — maka tidak ada satu pun manusia yang akan mampu memenuhinya.
Jika semua itu diwajibkan dan akan ditanya di akhirat, dapat dipastikan seluruh manusia akan gagal dan masuk neraka, karena keterbatasan akal dan waktu kita untuk mempelajari segalanya.

Allah ﷻ berfirman:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini menegaskan bahwa kewajiban mempelajari ilmu dibatasi pada hal-hal yang manusia sanggup memikulnya. Dan tiga ilmu yang disebutkan Rasulullah ﷺ adalah kewajiban yang pasti mampu dipelajari oleh setiap Muslim, dengan kadar yang dibutuhkan untuk menjalankan agamanya.


Realita yang Memprihatinkan

Namun kenyataan di kehidupan kita saat ini begitu memprihatinkan. Banyak orang yang mengejar ilmu dunia mati-matian, hingga di rumahnya terdapat perpustakaan besar, rak-rak penuh buku filsafat, ekonomi, teknologi, sejarah, bahkan novel tebal berjilid-jilid. Tetapi Al-Qur’an yang hanya satu mushaf, 30 juz itu nyaris tidak dibaca dan tidak dipahami.

Kitab-kitab hadis yang menjadi sumber hukum Islam, seperti Kutubus Sittah (enam kitab hadis utama), untuk ukuran Indonesia yang mayoritas Muslim, hampir tidak disentuh, apalagi dipahami secara mendalam.

Mengapa bisa demikian?
Apakah mereka tidak takut akan datangnya hari ketika Allah bertanya:

“Apa yang kamu ketahui tentang kitab-Ku? Apa yang kamu ketahui dari sabda Nabi-Ku?”

Apakah mereka tidak yakin bahwa hari hisaban itu pasti datang dan tidak seorang pun akan bisa mengelak?

Allah ﷻ berfirman:

وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْـُٔولُونَ
"Tahanlah mereka (di Mahsyar), sesungguhnya mereka akan ditanya."
(QS. As-Saffat: 24)


Tiga Ilmu Utama yang Wajib Dipelajari

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعِلْمَ ثَلَاثَةٌ، وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ: آيَةٌ مُحْكَمَةٌ، أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ، أَوْ فَرِيضَةٌ عَادِلَةٌ
"Sesungguhnya ilmu itu ada tiga, selain itu hanyalah keutamaan: Ayat yang muhkam (Al-Qur'an), Sunnah yang tegak, atau faraidh yang adil."
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Tiga ilmu itu dapat dirinci sebagai:

  1. Ilmu Al-Qur’an — mempelajari, memahami, dan mengamalkan isi kitab Allah.
  2. Ilmu Sunnah Nabi ﷺ — memahami hadis-hadis shahih yang menjadi penjelas Al-Qur’an.
  3. Ilmu Faraidh — hukum-hukum syariat yang mengatur hak dan kewajiban, terutama dalam pembagian waris, dan hukum-hukum praktis lainnya yang dibutuhkan dalam kehidupan.


Gunakan Sisa Waktu untuk Ilmu yang Ditanya Allah

Ilmu-ilmu dunia tetap penting dan dianjurkan bagi sebagian umat (fardhu kifayah) demi kemaslahatan bersama. Tetapi jangan sampai kita mengorbankan ilmu yang akan ditanya Allah di akhirat demi mengejar ilmu yang tidak akan ditanya sama sekali.

Orang beriman yang cerdas adalah yang mempersiapkan jawaban sebelum ditanya, dan mempelajari ilmu yang pasti akan menjadi bahan hisab, sebelum waktunya habis.

Tuesday, August 12, 2025

Perjanjian Hudaibiyah: Jalan Damai Menuju Kemenangan

 




Dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad ﷺ, Perjanjian Hudaibiyah merupakan salah satu titik balik yang sangat penting. Ia bukan hanya kesepakatan damai antara kaum Muslimin dan Quraisy, tetapi juga menjadi siasat jangka panjang Rasulullah ﷺ untuk memperkuat posisi Islam tanpa pertumpahan darah. Namun untuk memahami pentingnya perjanjian ini, kita perlu melihatnya dalam rangkaian peristiwa besar sebelumnya: Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khaibar.



1. Latar Belakang Terjadinya Perjanjian Hudaibiyah

Tahun ke-6 Hijriah, Nabi Muhammad ﷺ dan sekitar 1.400 sahabat berniat menunaikan umrah ke Makkah. Mereka tak membawa senjata perang, hanya perlengkapan musafir dan hewan sembelihan, sebagai bukti niat damai.

Namun, kaum Quraisy melarang masuknya kaum Muslimin ke Makkah dan mengirim pasukan untuk menghadang. Maka Rasulullah ﷺ dan para sahabat berhenti di sebuah tempat bernama Hudaibiyah, sekitar 20 km dari Makkah. Setelah proses diplomasi panjang, akhirnya kaum Quraisy mengirim Suhail bin Amr untuk berunding.

           Reaksi Para Sahabat: Emosi Membara

Umar bin Khattab bahkan berkata:

"Bukankah kita di atas kebenaran? Bukankah mereka orang-orang musyrik? Mengapa kita harus merendah kepada mereka?!"

Sahabat lainnya juga resah, seakan ingin berontak…

Namun…      Sikap Rasulullah ﷺ yang Luar Biasa

Nabi Muhammad ﷺ tetap tenang. Beliau melihat jauh ke depan.

Beliau bersabda:

"Aku adalah utusan Allah, dan Dia ( Allah)  tidak akan menyia-nyiakan aku."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan kelembutan dan kesabaran, Nabi ﷺ meminta Ali r.a. untuk menghapus tulisan "Rasulullah" dan menggantinya dengan "bin Abdullah".

Ketika Ali enggan, Rasulullah ﷺ sendiri yang menunjuk tulisan itu dan memintanya dihapus.

Inilah wujud pengendalian diri tertinggi. Tidak membalas dengan emosi, tapi dengan visi dan hikmah dari Allah.


Benar saja, turunlah Wahyu Allah SWT, sebagai Penyejuk Jiwa (QS Al-Fath: 26)

﴿ إِذْ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ ٱلتَّقْوَىٰ وَكَانُوٓا۟ أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًۭا ﴾

“(Yaitu) ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, yaitu kesombongan Jahiliah, maka Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin...(QS Al-Fath: 26)

Keadaan berbalik suasana yang tadinya hampir tidak bisa dikendalikan,  dengan kuasa Allah, Allah  menurunkan ketenangan dalam jiwa Rasulullah SAW beserta para Sahabat.


2. Isi Perjanjian Hudaibiyah

Meskipun tampak merugikan kaum Muslimin, Nabi ﷺ menerima perjanjian itu karena melihat hikmah besar di baliknya. Beberapa isi pokok perjanjian:


1. Gencatan senjata antara Quraisy dan kaum Muslimin selama 10 tahun.



2. Siapa pun yang datang dari Quraisy ke Madinah tanpa izin walinya, harus dikembalikan ke Makkah.

3. Sebaliknya, siapa pun dari Madinah yang lari ke kafir Quraisy  di Mekah, tidak dikembalikan.

4. Kaum Muslimin harus pulang ke Madinah dan baru boleh menunaikan umrah tahun depan selama 3 hari saja.

5. Suku-suku Arab bebas memilih bergabung ke pihak Quraisy atau Muslimin.

6. Makkah tak lagi mengganggu. Umat Islam bebas berdakwah ke seluruh jazirah. 

(Sehingga kesempatan ini dipergunakan untuk amar makruf. Islam pun tumbuh pesat, bahkan di luar dugaan. Memicu rasa ingin tahu bangsa Arab akan Islam, yang akhirnya membawa banyak orang masuk Islam).

 



3. Strategi dan Siasat Rasulullah ﷺ

  • Sikap Rasulullah ﷺ menerima isi perjanjian yang tampaknya berat itu membuat para sahabat gelisah. Namun, beliau memahami bahwa perjanjian ini membuka ruang strategis yang luar biasa:
  • Menunjukkan kepada bangsa Arab bahwa Islam adalah agama damai.
  • Memberi kesempatan untuk berdakwah tanpa tekanan perang.
  • Membebaskan umat Islam dari tekanan Quraisy agar bisa fokus menghadapi musuh lain, seperti Yahudi Khaibar.
  • Makkah tak lagi mengganggu. Umat Islam bebas berdakwah ke seluruh jazirah. (Sehingga kesempatan ini dipergunakan untuk amar makruf. Islam pun tumbuh pesat, bahkan di luar dugaan. Memicu rasa ingin tahu bangsa Arab akan Islam, yang akhirnya membawa banyak orang masuk Islam).

Allah SWT pun menyebut perjanjian ini sebagai “kemenangan yang nyata” (fath mubīn):

> إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata."

(QS. Al-Fath: 1)



4. Hubungan dengan Perang Badar, Uhud, dan Khaibar


🔸 Perang Badar (Tahun 2 H)

Perang besar pertama antara Islam dan Quraisy. Walau pasukan Muslimin jauh lebih kecil (313 orang), mereka menang besar. Hal ini mengangkat wibawa Rasulullah ﷺ dan membuat Quraisy merasa terhina.

📌 Perang Badar adalah fondasi kekuatan Islam yang membuat Quraisy mulai merasa gentar.

🔸 Perang Uhud (Tahun 3 H)

Kafir Quraisy menyerang balik dan kaum Muslimin menderita kekalahan karena ketidakdisiplinan pasukan pemanah. Namun kekalahan ini tidak menghancurkan semangat Islam.


📌 Uhud menjadi pelajaran penting bahwa kemenangan butuh kedisiplinan dan ketaatan penuh.

🔸 Perjanjian Hudaibiyah (Tahun 6 H)

Setelah Badar dan Uhud, hubungan dua pihak sangat tegang. Hudaibiyah adalah momen menurunkan ketegangan itu. Quraisy memilih jalan damai karena melihat kekuatan Islam tak bisa diremehkan.

📌 Hudaibiyah bukan akhir konflik, tapi jembatan menuju kemenangan besar.

🔸 Perang Khaibar (Tahun 7 H)

Dengan adanya perjanjian damai dengan Kafir Quraisy, Rasulullah ﷺ bebas menghadapi suku Yahudi di Khaibar yang sering berkhianat. Perang ini berakhir dengan kemenangan Islam.

📌 Perjanjian Hudaibiyah membuka ruang strategis untuk membersihkan ancaman lain.


5. Perjanjian Hudaibiyah dan Fathu Makkah

Perjanjian Hudaibiyah dilanggar oleh Quraisy ketika sekutu mereka (Bani Bakr) menyerang Bani Khuza’ah (sekutu kaum Muslimin). Maka Nabi ﷺ menyiapkan pasukan besar dan menaklukkan Makkah secara damai (Fathu Makkah) pada tahun ke-8 H.

Tanpa perjanjian Hudaibiyah, kemenangan seperti ini tidak akan mungkin terjadi dengan cara damai.


6. Pelajaran Besar dari Perjanjian Hudaibiyah

Jangan terburu-buru menilai kekalahan atau kerugian. Di baliknya bisa jadi tersimpan kemenangan yang besar.

Kemenangan sejati adalah ketika kita bisa menahan diri demi tujuan yang lebih besar.

Strategi, kesabaran, dan visi jangka panjang adalah senjata utama perjuangan.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa tidak semua kemenangan diraih dengan pedang; sebagian diraih dengan akal dan kesabaran.


Penutup

Perjanjian Hudaibiyah mengajarkan kepada kita bahwa dalam perjuangan dakwah dan hidup, ada kalanya kita harus berhenti sejenak bukan untuk menyerah, tetapi untuk menang lebih besar. Apa yang tampak sebagai “kemunduran” bisa jadi adalah langkah awal menuju pembebasan yang hakiki — seperti yang terjadi pada Fathu Makkah.

> "Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari kalian, dan tangan kalian dari mereka di tengah Kota Makkah, setelah Dia memberi kemenangan kepada kalian atas mereka…”

                                        (QS. Al-Fath: 24)


Thursday, July 31, 2025

Pelajaran dari Pangeran Kecil: Menyambut Hari Anak Nasional dengan Hati yang Tulus




🌟 Pelajaran dari Pangeran Kecil: Menyambut Hari Anak Nasional dengan Hati yang Tulus

Tanggal: 23 Juli – Hari Anak Nasional


“Semua orang dewasa dulu pernah menjadi anak-anak. Tapi hanya sedikit yang mengingatnya.”
Antoine de Saint-Exupéry, The Little Prince

Setiap tanggal 23 Juli, bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Sebuah momen untuk mengingat bahwa anak-anak bukan sekadar penonton dunia, tetapi bagian penting dari masa depan dan guru kehidupan hari ini. Dalam rangka hari istimewa ini, mari kita renungkan pesan-pesan abadi dari sebuah buku klasik yang sederhana tapi menyentuh hati: The Little Prince, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Pangeran Kecil.


📖 Sekilas tentang The Little Prince

Buku ini ditulis oleh Antoine de Saint-Exupéry, seorang penulis dan pilot asal Prancis. Meskipun terlihat seperti cerita anak-anak, sesungguhnya buku ini lebih banyak ditujukan untuk orang dewasa—sebagai cermin tentang bagaimana kita telah berubah, dan apa yang telah hilang dari hati kita.

The Little Prince bercerita tentang seorang anak dari planet kecil bernama B-612. Ia meninggalkan planetnya dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat, bertemu dengan tokoh-tokoh yang menggambarkan dunia orang dewasa yang aneh: raja yang ingin berkuasa atas segalanya, pebisnis yang sibuk menghitung bintang, dan seorang pemabuk yang minum karena malu.

Namun, pelajaran paling menyentuh datang dari pertemuannya dengan seekor rubah yang mengajarinya tentang cinta dan tanggung jawab:

“Kau akan bertanggung jawab selamanya atas apa yang telah kau jinakkan.”


💡 Anak-anak Mengajarkan Kita Arti Kehidupan

Salah satu kutipan paling terkenal dari buku ini adalah:

“Hanya dengan hati kita bisa melihat dengan benar. Yang esensial tidak terlihat oleh mata.”

Dalam dunia yang semakin sibuk dan penuh tekanan, banyak dari kita sebagai orang dewasa lupa bagaimana rasanya menjadi anak-anak. Kita mengejar prestasi, uang, popularitas—tapi sering lupa bagaimana caranya mencintai tanpa pamrih, memercayai tanpa curiga, dan bertanya tanpa takut dihakimi.

Sementara itu, anak-anak mengajarkan kita kejujuran yang polos, rasa ingin tahu yang tulus, dan semangat hidup yang sederhana namun bermakna.


🌍 Relevansi dengan Hari Anak Nasional

Hari Anak Nasional bukan hanya perayaan, tapi juga pengingat.
Pengingat bahwa anak-anak adalah amanah yang harus dijaga—bukan hanya secara fisik, tapi juga jiwanya, harga dirinya, dan masa depannya.

Anak-anak bukan benda mati yang bisa diatur sesuka hati.
Mereka adalah makhluk yang hidup, berpikir, merasa, dan menyerap apa yang mereka lihat dan dengar.
Apa yang mereka alami hari ini, akan membentuk siapa mereka nanti.

Karena itu, tugas kita bukan hanya memberi makan dan pakaian, tapi juga memberi teladan, memberi ruang untuk tumbuh, dan mendengarkan mereka dengan hati.


🌱 Penutup: Kembali Menjadi Anak

Pangeran Kecil mengajarkan kepada kita, bahwa menjadi dewasa tak harus kehilangan kehangatan seorang anak.

Mari di Hari Anak Nasional ini, kita renungkan:

  • Sudahkah kita memahami dunia dari sudut pandang mereka?
  • Sudahkah kita menjadi orang dewasa yang layak diteladani?
  • Sudahkah kita menjaga “anak kecil” yang masih ada di dalam hati kita sendiri?

“Semua orang dewasa dulu pernah menjadi anak-anak. Tapi hanya sedikit yang mengingatnya.”

Semoga kita menjadi bagian dari yang sedikit itu—yang masih mampu mengingat, merasakan, dan hidup dengan hati yang tulus.

Selamat Hari Anak Nasional.
Semoga anak-anak Indonesia tumbuh bahagia, cerdas, dan penuh kasih sayang.

Tuesday, July 29, 2025

United for the Nation: A Hope Behind the Names Prabowo and Anies




United for the Nation: A Hope Behind the Names Prabowo and Anies

“It's not about who wins, but about who is willing to embrace the nation with sincerity.”

Indonesia is a great country with immense potential. But behind its richness and the spirit of its people, we are often caught in divisions — especially in politics.

Just imagine for a moment...
What if two of the most prominent figures, Prabowo Subianto and Anies Baswedan, chose not to compete — but to collaborate?

Not to defeat one another, but to reinforce.
Not to claim victory, but to unite visions and work together for a stronger and fairer Indonesia.


🧭 A Vision That Can Be Combined

Prabowo is known for his strong nationalism, discipline, and emphasis on sovereignty.
Anies is recognized for his intellect, eloquence, and sense of justice.

They are not rivals by nature. They are complementary leaders:

  • Strength and empathy,
  • Patriotism and diplomacy,
  • Sovereignty and fairness.

Together, they could create a leadership that is respected and loved, both at home and abroad.


📚 Education and Future Generations

Anies has proven capability in education reform and empowering future thinkers.
Prabowo emphasizes character-building and love for the homeland.

If combined:

Indonesia would raise not just smart people, but moral and patriotic citizens.


⚖️ Social Justice and Equal Growth

Anies advocates for social equity and inclusion.
Prabowo pushes for self-sufficiency in food, energy, and water.

Together:

Policies could be executed powerfully while ensuring no one is left behind.


🛡️ Defense and Global Standing

Prabowo has a strong military background and wants Indonesia to be respected and sovereign.
Anies has the diplomatic skills to represent Indonesia with moderation and dignity.

Combined:

Indonesia could be strong within, and diplomatically influential globally.


🕌 Religious Harmony and Unity

Anies communicates well with religious scholars and communities.
Prabowo respects religious values across the board.

Together:

They can foster a climate of peaceful religious life and eliminate polarization.


🌟 A Hope, Not Just a Dream

Of course, such unity is difficult.
Political egos, party interests, and public pressure are real challenges.

But as ordinary citizens, we can hope. We can voice ideas that invite reflection.

“Indeed, Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves.”
(Qur’an, Ar-Ra’d: 11)

Let’s plant the seed of hope.
Who knows? One day, Prabowo and Anies may actually join hands — not for power, but for the people.


📌 Closing Thought

This article is not about taking sides. It’s about inviting both leaders — and their supporters — to dream of something greater than victory:

The unity of Indonesia through the unity of its leaders

Bukan Sekadar Mimpi: Andai Prabowo dan Anies Bersatu untuk Indonesia




Bu
kan Sekadar Mimpi: Andai Prabowo dan Anies Bersatu untuk Indonesia

“Bukan soal siapa yang menang, tapi siapa yang bersedia memeluk negeri ini dengan keikhlasan.”

Indonesia adalah negeri besar dengan potensi luar biasa. Namun, di balik kekayaan dan semangat rakyatnya, sering kali kita terjebak dalam konflik yang sebenarnya bisa dihindari—terutama konflik politik yang memecah belah.

Bayangkan sejenak.
Bagaimana jika dua tokoh besar yang sama-sama punya cinta untuk negeri ini—Prabowo Subianto dan Anies Baswedan—memutuskan untuk bersatu?

Bukan untuk saling mengalahkan, tapi menguatkan.
Bukan untuk mengklaim siapa paling benar, tapi merangkul kebaikan satu sama lain demi Indonesia yang lebih adil, kuat, dan makmur.

🌱 Visi Besar yang Bisa Disatukan

Prabowo dikenal sebagai sosok dengan semangat nasionalisme tinggi, kedisiplinan, dan orientasi pada kedaulatan bangsa.
Anies tampil sebagai pemimpin cerdas, komunikatif, dan berpihak pada keadilan sosial.

Keduanya bukan lawan. Mereka adalah dua sisi dari kekuatan yang saling melengkapi:

  • Ketegasan dan empati,
  • Nasionalisme dan diplomasi,
  • Kedaulatan dan keadilan.

🧭 Dari Sudut Pandang Kepemimpinan

  • Prabowo memberikan teladan tentang pentingnya kemandirian bangsa dan kekuatan pertahanan nasional.
  • Anies mengangkat pentingnya partisipasi rakyat, akhlak pemimpin, dan nilai-nilai keadilan dalam pemerintahan.

Jika dua pendekatan ini bersatu:

Muncul kepemimpinan yang kuat secara visi dan luas secara pandangan, tegas namun tetap manusiawi.

📚 Dari Perspektif Pendidikan dan Generasi Muda

  • Anies punya rekam jejak dalam reformasi pendidikan dan mencetak generasi literat.
  • Prabowo menekankan pentingnya pembentukan karakter dan bela negara.

Bersatunya keduanya berarti:

Pendidikan Indonesia tidak hanya mencetak orang pintar, tetapi juga orang yang bermoral dan siap membela tanah air.

⚖️ Dari Sisi Sosial dan Pemerataan

  • Anies membawa semangat keadilan sosial dan akses yang merata bagi seluruh rakyat.
  • Prabowo ingin Indonesia kuat dari desa dan mandiri secara pangan dan energi.

Gabungan keduanya bisa:

Menghapus ketimpangan dan menghadirkan negara di tengah rakyat kecil secara nyata.

🛡️ Dari Kacamata Pertahanan dan Dunia Internasional

  • Prabowo, dengan pengalaman militernya, ingin Indonesia disiplin, tangguh, dan disegani.
  • Anies, dengan kecakapannya, bisa membawa wajah Indonesia yang moderat, intelektual, dan bermartabat di dunia internasional.

Kombinasi ini:

Menjadikan Indonesia kuat di dalam, dan berwibawa di luar.

🕌 Dari Perspektif Umat dan Agama

  • Anies mampu membangun komunikasi yang harmonis dengan ulama dan umat.
  • Prabowo memiliki penghormatan terhadap nilai-nilai agama dan tokoh agama dari berbagai kalangan.

Bila bersatu:

Muncul kehidupan beragama yang damai, saling menghormati, dan tidak lagi dipolitisasi.

💬 Sebuah Harapan, Bukan Sekadar Imajinasi

Tentu, ini bukan hal mudah. Ego politik, tekanan partai, dan kepentingan kelompok sering menjadi penghalang.

Namun sebagai rakyat, kita punya hak untuk berharap dan menyuarakan gagasan baik, agar para pemimpin membuka hati.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Mungkin kita tidak bisa memaksa, tapi kita bisa menanam benih harapan.
Siapa tahu, suatu hari nanti, Prabowo dan Anies benar-benar bersatu, memimpin negeri ini bukan dengan ambisi, tapi dengan cinta dan kesadaran bahwa Indonesia jauh lebih penting daripada kemenangan siapa pun.


📌 Catatan Penutup

Jika Anda pun merasakan harapan ini, sebarkanlah. Bukan untuk memihak kubu mana pun, tapi untuk mempersatukan kekuatan.
Karena kita percaya, masa depan Indonesia terletak pada persatuan para pemimpinnya dan keikhlasan rakyatnya.



Sunday, June 22, 2025

Menjaga Kekuatan di Usia Senja




🕌 Menjaga Kekuatan di Usia Senja: Cengkeh dan Sunnah Menjaga Vitalitas

بسم الله الرحمن الرحيم

“Al-mu’minul qawiyy khayrun wa ahabbu ilallāhi minal mu’minidh-dha‘īf, wa fī kullin khayr.”
Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing ada kebaikan.”
(HR. Muslim)


🌿 Usia Boleh Tua, Tapi Semangat Jangan Pudar

Ketika usia mulai menua, seringkali tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Sendi terasa kaku, perut tak lagi sekuat dulu, dan rasa lelah lebih cepat datang. Namun dalam Islam, usia tua bukan alasan untuk menyerah. Justru di usia senja, seorang mukmin seharusnya lebih bersungguh-sungguh menjaga raga, agar mampu melanjutkan ibadah dengan khusyuk dan istiqamah.

Rasulullah ﷺ dan para sahabat adalah contoh bahwa usia bukan penghalang untuk beramal. Mereka tetap berjuang dan berdakwah hingga akhir hayat.


🌱 Cengkeh: Karunia Kecil yang Penuh Khasiat

Dalam dunia pengobatan herbal, cengkeh (Syzygium aromaticum) dikenal sebagai rempah yang kuat, beraroma khas, dan kaya manfaat. Tidak hanya digunakan sebagai bumbu masak, cengkeh juga telah terbukti bermanfaat untuk:

  • Meredakan nyeri sendi dan otot.
  • Menjaga kesehatan pencernaan.
  • Meningkatkan kekebalan tubuh.
  • Menyegarkan napas dan menjaga kesehatan mulut.
  • Dan bahkan… membantu memperbaiki kekuatan vitalitas pria.

🧠 Vitalitas Pria dalam Pandangan Islam

Sebagian orang merasa risih membicarakan vitalitas di usia tua. Padahal, Islam tidak melarang kekuatan fisik dan hubungan suami istri selama dilakukan dalam koridor syariat. Bahkan, dalam banyak hadis, Rasulullah ﷺ mendoakan keberkahan bagi orang yang masih mampu menikah dan memenuhi hak-hak pasangannya di usia tua.

Maka menjaga vitalitas bukanlah semata demi urusan duniawi, tapi agar jiwa tetap tenang, rumah tangga tetap harmonis, dan ibadah tetap kuat.


🧪 Mengapa Cengkeh Bisa Membantu?

Menurut para ahli, cengkeh mengandung zat bernama eugenol yang berfungsi:

  • Melancarkan aliran darah, termasuk ke organ vital.
  • Meningkatkan hormon testosteron secara alami.
  • Mengurangi stres oksidatif, penyebab utama lemahnya fungsi seksual pada lansia.

Seorang dokter dalam channel YouTube KuatnSehat menyarankan agar lansia mengunyah cengkeh secara perlahan, karena zat aktifnya akan terserap lebih sempurna melalui air liur dan mukosa mulut.


Cara Konsumsi yang Disarankan

  • Ambil 1 butir cengkeh per hari, dikunyah perlahan setelah makan malam.
  • Rasakan sensasi hangat yang menyebar ke tubuh.
  • Bila sulit dikunyah, cengkeh bisa direndam dalam air hangat dan diminum airnya.

Hindari konsumsi berlebihan agar tidak menyebabkan panas dalam atau iritasi lambung.


📿 Kesehatan untuk Ibadah, Bukan Sekadar Dunia

Segala ikhtiar menjaga tubuh bukanlah karena takut tua. Tapi karena kita ingin menua dalam keadaan kuat, agar sujud tetap tegak, dzikir tetap panjang, dan amal tetap mengalir.

Menjaga kekuatan bukanlah kesombongan, tapi tanda syukur atas tubuh yang Allah titipkan. Maka dari itu, mari rawat tubuh ini dengan penuh niat lillah.

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…”
(QS. Al-Baqarah: 195)


🔚 Penutup

Mari kita jadikan usia tua sebagai ladang amal, bukan keluh kesah. Dan salah satu bentuk ikhtiar kita adalah dengan menjaga kekuatan tubuh melalui cara yang halal, alami, dan berpahala — seperti memanfaatkan karunia Allah berupa cengkeh.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat, bahwa kesehatan raga adalah wasilah menuju kesehatan jiwa, dan keduanya mengantar kita pulang kepada Allah dalam keadaan terbaik. 

Thursday, May 22, 2025

Hari Jumat: Kesempatan Bertaubat dan Memulai Hal Baru

 



Hari Jumat: Kesempatan Bertaubat dan Memulai Hal Baru

 – Cara menjadikan hari ini sebagai awal perubahan hidup.

Hari Jumat bukan sekadar hari terakhir dalam pekan, tetapi hari di mana langit dibuka, rahmat Allah melimpah, dan doa tak ditolak. Bagi jiwa-jiwa yang merasa jauh, lelah, dan ingin pulang kepada Rabb-nya, Jumat adalah panggilan lembut dari langit untuk memulai kembali.

 Bukankah kita semua pernah tersesat dalam dosa dan kelalaian? Namun Allah tidak pernah menutup pintu taubat-Nya.

Mari kita renungkan kembali hari ini: apakah sudah menjadi pintu perubahan atau hanya rutinitas kosong yang berlalu?


Jumat: Hari yang Diberkahi dan Mulia

Hari Jumat bukan hanya "hari libur" atau hari bersantai, melainkan hari yang Allah pilih sendiri sebagai hari terbaik bagi umat ini. Dalam hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ..."

 "Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat..."

 (HR. Muslim)

Pernahkah kita merenung: mengapa Allah memilih hari Jumat sebagai hari terbaik? Karena pada hari inilah Adam diciptakan, diturunkan ke bumi, diterima taubatnya, bahkan hari Kiamat pun akan terjadi pada hari ini. Maka, bagaimana mungkin kita menganggap remeh hari sebesar ini?

Jumat adalah momen untuk menata kembali hati yang kacau, untuk mengambil jeda dari hiruk-pikuk dunia, dan kembali menegakkan tujuan hidup: mengabdi kepada Allah.


2. Pintu Taubat Terbuka Lebar di Hari Ini

Allah tidak hanya menyuruh kita kembali, tapi juga menjanjikan ampunan. Dalam Al-Qur’an:

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ

 "Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan..."

 (QS. Asy-Syura: 25)

Namun banyak dari kita merasa terlalu kotor untuk kembali, merasa terlalu terlambat. Padahal, Allah tidak peduli seberapa besar dosa kita, selama kita benar-benar ingin kembali.

Hari Jumat mengajarkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali. Ambil waktu hari ini untuk berwudu dengan hati yang tunduk, bersujud dengan dada yang hancur, dan ucapkan:

 "Ya Allah, aku kembali. Aku lelah menjauh."

 Itu sudah cukup untuk membuat malaikat menuliskan awal baru.


3. Waktu Mustajab untuk Doa: Jangan Sia-siakan!

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"فِيهِ سَاعَةٌ لا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ"

 "Pada hari Jumat terdapat suatu waktu, bila seorang Muslim berdoa saat itu, maka Allah pasti mengabulkannya..."

 (HR. Bukhari dan Muslim)

Bayangkan: satu waktu, satu doa, satu permintaan—dan Allah menjanjikan 'pasti dikabulkan'. Tapi banyak dari kita tidak tahu kapan waktu itu, atau bahkan lupa berdoa sama sekali.

Ulama menyebut waktu tersebut ada kemungkinan antara duduknya imam sampai selesainya salat Jumat, atau menjelang magrib saat menjelang berakhirnya hari. Maka, mengapa tidak kita sempatkan sejenak untuk memanjatkan doa terbaik?

Cobalah hari ini. Ambil wudu, temukan tempat yang tenang, dan bisikkan doa yang selama ini hanya tersimpan di dada. Minta ampun, minta hidayah, minta kemudahan… karena tidak ada yang bisa memberi selain Dia.


4. Awali Perubahan dengan Langkah Sederhana

Perubahan tidak harus dimulai dengan langkah besar. Islam mengajarkan perubahan dengan langkah yang konsisten dan tulus. Hari Jumat adalah tempat terbaik memulainya.

Berikut beberapa amalan ringan tapi penuh makna:

Mandi Jumat, mengenakan pakaian terbaik, dan memakai wangi-wangian. Ini bukan hanya sunnah, tapi cara menyiapkan diri lahir dan batin untuk bertemu Allah dalam shalat Jumat.

Shalat Jumat tepat waktu dan dengarkan khutbah dengan hati hadir. Jangan sibuk dengan HP. Duduklah seolah itu khutbah terakhir yang akan kau dengar.

Membaca Surat Al-Kahfi.

 Rasulullah bersabda:

 "مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الجُمُعَتَيْنِ"

 "Barangsiapa membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jumat, akan diberikan cahaya antara dua Jumat."

 (HR. Al-Hakim)

 Jika belum bisa membaca seluruh surat, bacalah 10 ayat pertama dan terakhirnya—itu pun sudah menjadi cahaya.

Bershalawat sebanyak-banyaknya.

 Ini adalah cara kita menyambut kasih sayang Allah. Rasulullah bersabda:

 "أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الجُمُعَةِ"

 "Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat."

 (HR. Abu Dawud)

Konsistenlah, walau satu langkah kecil. Karena Allah melihat keikhlasan, bukan hanya jumlah.


Penutup:

Wahai jiwa yang merasa letih dan terluka, Jumat ini bukan hanya hari biasa. Ini adalah panggilan dari langit untuk pulang.

 Pintu-pintu rahmat terbuka lebar. Doamu sedang dinanti. Taubatmu sedang ditunggu. Perubahanmu sedang dituliskan.

 Jadikan Jumat sebagai momentum untuk memulai kembali, dengan iman yang lebih dalam, amal yang lebih tulus, dan hati yang lebih lapang.


Sunday, May 18, 2025

Tidak Ada yang Abadi di Dunia Ini.




Tidak Ada yang Abadi di Dunia Ini: Sebuah Renungan untuk Hati yang Lupa, Apa yang Kau Cari"


Pernahkah kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, lalu bertanya: “Apa yang sebenarnya aku kejar selama ini, ( Diri) apa yang kau cari?”
Ada orang yang setiap hari lelah mengejar angka di rekeningnya, tapi tak sempat mengeja satu ayat pun dari Kitab-Nya.
Ada pula yang begitu sibuk menghitung keuntungan, hingga tak sadar bahwa waktu shalat pun terus dikorbankan.

Dunia ini memang memukau, tapi tak ada yang abadi darinya.
Lalu… mengapa kita berpegangan begitu erat pada sesuatu yang pasti akan pergi?

Dalil dan Kehidupan yang Menyadarkan

1. Dunia Ini Hanya Sementara, Tapi Banyak yang Lupa


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ"


"Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."

(QS. Al-Hadid: 20)

Tak sedikit yang terbuai oleh sorot lampu dunia. Gelar ditumpuk, pujian diburu, dan jabatan diperjuangkan mati-matian. Tapi di saat sendirian dalam gelapnya malam, hati tetap terasa kosong. Karena jiwa bukan butuh pujian manusia, tapi sentuhan kasih Tuhan.

Kadang kita rela menunda kebaikan demi ambisi pribadi. Bahkan ada yang sanggup menyingkirkan orang lain demi posisi. Tapi mereka lupa, bahwa yang dicari hanya akan menjadi debu saat ajal datang tanpa izin.

2. Semua Akan Mati – Kita Akan Ditinggal dan Melupakan
Allah berfirman:
"كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ"
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Saat seseorang wafat, hanya beberapa hari namanya disebut dalam obrolan. Setelah itu, semuanya kembali pada urusan masing-masing. Rumah yang dulu dibanggakan jadi sunyi. Pakaian mewah tinggal lipatan tak bernyawa. Dan orang yang paling mencintaimu pun, akan meninggalkanmu di tanah, lalu menutup liang itu dengan pasir.

Namun, mereka yang pernah memberi seteguk air karena Allah, yang pernah menyeka air mata orang lain, yang pernah bersujud dalam gelap malam, akan tersenyum di alam yang kekal.

3. Yang Dibawa Hanya Amal—Itu Pun Jika Kita Punya
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


"يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ، وَمَالُهُ، وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ"

"Yang mengiringi jenazah ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali, satu akan tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya akan pergi, sedangkan amalnya yang tetap bersamanya."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak orang mengira bekalnya cukup karena rumahnya besar dan rekeningnya penuh. Tapi Allah tidak menimbang dengan saldo atau sertifikat. Dia menimbang dengan kejujuran, sabar, shalat yang khusyuk, dan sedekah yang ikhlas.

Ada yang hidup sederhana, bahkan dipandang sebelah mata oleh manusia, tapi amalnya harum di langit karena ia selalu ingat pada Tuhan di setiap langkahnya.

4. Dunia Bukan Rumah Kita. Jangan Terlalu Nyaman.
Nabi bersabda:


"كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ"


"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir."

(HR. Bukhari)

Bayangkan seorang musafir, ia hanya singgah sebentar, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Ia tak repot menghias tempat singgahnya, karena ia tahu itu bukan tempat tinggalnya. Begitulah dunia seharusnya kita pandang.

Orang yang mengerti bahwa dunia hanyalah tempat menanam, maka ia tidak akan berhenti menabur amal. Ia menjaga lidahnya agar tak melukai. Ia menjaga matanya agar tak berkhianat. Ia tak mudah marah karena tahu, amarah itu mengikis pahala.

Hidupnya menjadi ringan. Bukan karena tak punya beban, tapi karena ia tahu bahwa segala luka, segala kehilangan, dan segala ujian… hanyalah bagian dari perjalanan pulang menuju Rabb-nya.

5. Apakah kita mau seperti firman Allah dalam Surat ... 

Surah Al-A'raf ayat 179

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌۭ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ أَعْيُنٌۭ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ ءَاذَانٌۭ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَـٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَـٰفِلُونَ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan untuk (isi) neraka Jahanam banyak dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

 (QS. Al-A'raf: 179)


Membaca Relung Hati kita

Saudaraku…
Dunia ini akan meninggalkanmu. Bahkan tubuhmu pun akan meninggalkanmu, hancur bersama tanah yang tak peduli siapa kamu dulu. Maka jangan biarkan jiwamu ikut mati bersama jasad.

Mari kita perbanyak amalan yang tidak akan lapuk oleh waktu:

  • Doa-doa yang lirih di sepertiga malam
  • Istighfar yang tulus dari dosa yang terus berulang
  • Senyum yang membangkitkan semangat saudara kita
  • Ucapan lembut yang membuat hati kembali pada Allah

Tangislah jika hati ini terlalu lama jauh dari Allah.
Tangislah bukan karena kita akan mati, tapi karena kita belum cukup siap untuk hidup yang sesungguhnya—di akhirat kelak.

Tidak ada yang abadi di dunia ini… kecuali amal yang dilakukan karena cinta kepada Allah



Saturday, May 10, 2025

Kisah Keteguhan Iman yang Abadi


Di usia yang sangat tua, Nabi Ibrahim AS masih menyimpan harapan besar yang belum tercapai: memiliki seorang anak. Doanya yang panjang, tangisnya di malam hari, dan harapannya yang tak pernah padam akhirnya dikabulkan. Allah mengaruniakan kepadanya seorang anak yang shalih dan sabar, yakni Ismail AS.

Namun kebahagiaan itu belum lama dirasakan. Justru ketika Ismail mulai tumbuh menjadi anak yang mulai menemani dan menyejukkan hati, turunlah perintah yang paling mengguncang jiwa: menyembelih anaknya sendiri sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Sungguh ujian yang luar biasa. Dari seorang ayah yang telah lama merindukan anak, kini harus menyerahkan sang buah hati kepada perintah Tuhan tanpa ragu. Dan Ismail AS, yang sejak kecil tumbuh tanpa banyak waktu bersama sang ayah karena perintah Allah juga, kini diminta untuk berserah diri sepenuhnya—bahkan dengan nyawanya. Tetapi keduanya membuktikan: ketaatan kepada Allah lebih utama dari segalanya. Mereka lulus dari ujian itu dengan kemuliaan, dan menjadi simbol pengorbanan dan ketundukan sejati kepada Allah sepanjang zaman.

Kisah ini bukan sekadar sejarah. Ia adalah cermin keimanan. Dalam kehidupan modern, ujian serupa hadir dalam bentuk yang berbeda—mungkin berupa keikhlasan melepaskan harta, waktu, atau kepentingan pribadi demi menaati Allah. Mungkin berupa keputusan sulit untuk tetap jujur saat semua tergoda korupsi, atau tetap sabar saat diuji dengan penyakit dan musibah. Semua itu bisa menjadi bentuk qurban kita.

Dan kini tibalah waktu untuk mengikuti jejak pengorbanan itu dengan menjalankan ibadah qurban di hari yang agung. Karena sejatinya qurban bukan sekadar menyembelih hewan—tetapi menyembelih sifat egois, cinta dunia, dan keengganan untuk patuh kepada Allah.



Qurban, Amalan yang Paling Dicintai di Hari Idul Adha

Sabda Nabi Muhammad SAW:

 “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah melebihi mengalirkan darah hewan kurban. Ia akan datang di hari kiamat dengan tanduk, kuku, dan rambutnya. Darah itu akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka ikhlaskanlah niat dan senanglah melakukannya.”

 (HR. Al-Hakim, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

Sabda lainnya:

 “Ini adalah sunnah ayah kalian, Ibrahim AS.”

 Para sahabat bertanya: “Apa yang akan kami dapatkan?”

 Rasulullah menjawab: “Setiap helai rambut ada satu kebaikan.”

 Mereka bertanya lagi: “Bagaimana dengan bulu domba?”

 Rasulullah menjawab: “Setiap helai bulunya juga ada satu kebaikan.”

 (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)


6. Ancaman Bagi yang Mampu Tapi Tidak Berqurban

Sabda Nabi Muhammad SAW:

 “Barang siapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”

 (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Penjelasan:

 Hadis ini menunjukkan ancaman keras bagi orang yang mampu berqurban namun sengaja meninggalkannya. Hal ini menunjukkan bahwa qurban adalah ibadah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang tidak semestinya ditinggalkan oleh orang yang memiliki kemampuan.

DALIL-DALIL PERINTAH BERQURBAN

Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

 Artinya: "Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)."

 (QS. Al-Kautsar: 2)

Berqurban adalah bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah dan ekspresi kepatuhan kepada-Nya. Allah menegaskan bahwa penyembelihan hewan qurban telah disyariatkan untuk setiap umat:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ...

                                                                                                         (QS. Al-Hajj: 34)

 

Bersegeralah, Wahai Jiwa yang Beriman

Ibadah qurban adalah panggilan bagi hati yang sadar, bagi jiwa yang ingin dekat dengan Rabb-nya. Bukan sekadar menyembelih hewan, tapi menyembelih keengganan untuk taat, cinta berlebihan pada dunia, dan kekikiran dalam memberi.

Bayangkan, di Hari Kiamat nanti, hewan yang kita qurbankan datang lengkap dengan tanduk, bulu, dan kuku—semuanya menjadi saksi cinta kita kepada Allah.
Dan kini, saatnya kita berlomba-lomba dalam kebaikan.

Jangan tunggu tua. Jangan tunggu kaya. Jangan tunggu waktu yang 'sempurna'.

Berqurban adalah amalan yang:

  • Berdasarkan perintah langsung dari Al-Qur’an dan hadis Nabi.

  • Mengandung nilai spiritual, sosial, dan ekonomi.


  • Menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS dan Rasulullah SAW.


Semoga Allah memberi kita kekuatan dan kelapangan rezeki untuk bisa berqurban tahun ini, di tanggal 10 Dzulhijjah 1446 H nanti.

 Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.


Mohon agar sudilah kiranya memberi komentar apa yang ada di hati setelah membaca tulisan ini. Semoga Anda semua setelah memberikan partisipasinya mendapat limpahan berkah yang banyak dari  Allah SWT, Aamiin.

Monday, May 5, 2025

Kala Rasulullah Menangis di Tengah Malam





Di saat malam menutup bumi, dan manusia tenggelam dalam lelapnya dunia, seorang manusia paling mulia justru berdiri tegak — sendirian — di hadapan Tuhannya. Tubuhnya bergetar, suaranya lirih, matanya basah oleh tangis yang tulus.

Itulah Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusia pilihan yang dosanya telah diampuni — yang seandainya ia tidur sepanjang malam pun, tak seorang pun berani menegurnya. Tapi justru malam baginya adalah saat paling sakral untuk kembali kepada Allah, bukan untuk meminta dunia, melainkan menangis karena takut akan murka-Nya dan rindu pada rahmat-Nya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri tercintanya, menyaksikan malam-malam seperti itu.

كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي ... فَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا رَحْمَةٌ سَأَلَ،

 وَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا عَذَابٌ تَعَوَّذَ

"Jika beliau berdiri shalat malam, dan membaca ayat yang berisi rahmat, maka beliau memohon kepada Allah; dan jika melewati ayat tentang azab, beliau memohon perlindungan."

 (HR. Abu Dawud no. 873 – Hasan)

Bayangkan seorang Nabi, membaca firman Tuhannya, lalu berhenti lama…

 Bukan karena lupa, bukan karena lelah, tapi karena hatinya tergores oleh firman-firman azab, lalu ia berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَنِقْمَتِكَ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan pembalasan-Mu.”

Tangis itu bukan tangis biasa. Tangis itu adalah getaran jiwa yang benar-benar menyaksikan keagungan dan keadilan Allah, sambil tetap berharap pada rahmat-Nya yang luas. Bahkan Hudzaifah bin Al-Yaman pernah berkata:

"Rasulullah membaca satu ayat… diulang-ulang… sampai aku merasa kasihan padanya."

 (HR. Abu Dawud)

Apa yang membuat Nabi menangis?

 Padahal ia adalah kekasih Allah…

 Padahal ia dijamin surga…

 Padahal ia suci dari dosa…

Namun beliau tetap takut pada ayat-ayat siksa, gemetar karena murka Allah, dan berharap pada rahmat-Nya seolah beliau adalah hamba paling berdosa. Hati beliau begitu hidup, lembut, dan penuh kesadaran.


Mengapa Kita Tak Menangis?

Kita membaca ayat yang sama. Tentang neraka. Tentang siksaan. Tentang murka Allah. Tapi kenapa mata kita tetap kering?

 Apa karena kita sudah yakin selamat…?

 Atau karena hati kita sudah terlalu beku…?

Jika Rasulullah — yang paling dicintai Allah — pun tidak merasa aman dari siksa-Nya, bagaimana dengan kita yang penuh dosa?

Jika beliau saja berdiri lama di malam hari, menangis memohon rahmat dan perlindungan, tidakkah kita malu saat justru memilih tidur dan tak sempat bermunajat?


Salat Malam: Cermin Kelembutan Hati

Shalat malam bukan hanya ibadah, tapi cermin kejujuran jiwa. Di sana, tak ada riya. Tak ada pujian manusia. Hanya ada satu hubungan: hamba dan Tuhannya. Rasulullah SAW bersabda:

"أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ"

 "Sebaik-baik shalat setelah yang wajib adalah shalat malam."

 (HR. Muslim)

Karena itu, para sahabat meneladani beliau. Mereka menangis dalam qiyam. Mereka berhenti di satu ayat lama sekali. Bahkan Umar bin Khattab pernah terdengar menangis keras saat membaca ayat:

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ

 "Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi."

 (QS. Ath-Thur: 7)


Mari Belajar Menangis dalam Doa

Meneladani Nabi bukan hanya dalam bentuk gerakan salat, tapi juga suasana hatinya saat bermunajat.

 Mari kita mulai walau hanya dua rakaat. Mari hadirkan hati. Mari rasakan setiap ayat. Bila sampai pada ayat tentang azab, ucapkan:

اللَّهُمَّ نَجِّنَا مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, selamatkan kami dari neraka.”

Dan bila membaca ayat tentang surga dan rahmat, ucapkan:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِهَا

“Ya Allah, jadikan kami termasuk penghuni surga-Mu.”


Penutup: Hati yang Hidup Akan Menangis


Bila artikel ini dirasa manfaat, maka janganlah berhenti di hati.

 Bangkitlah, lalu amalkan walau hanya dua rakaat dalam sepertiga malam terakhir.

 Jangan tunggu sempurna, jangan tunggu sempat — cukup hadirkan niat dan mulai dari sekarang.

Kami tidak menginginkan pujian atau sanjungan.

 Yang kami harapkan adalah:

 Agar hati-hati yang telah lama kering, kembali lembut oleh dzikir.

 Agar malam-malam yang selama ini sepi, kembali terang oleh munajat.

 Agar kita semua — Anda dan kami — dipertemukan kelak di surga bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Karena bukan banyaknya ilmu yang mengangkat derajat,

 Tapi air mata di malam hari, dan bisikan lirih kepada Ilahi,

 Itulah yang menumbuhkan cahaya dalam hati.

Mari, mulai malam ini, kita kembali menjadi hamba.

 Dan semoga setiap ayat yang kita baca, bukan hanya lewat di lidah…

 Tapi menggetarkan jiwa, dan menyelamatkan kita di akhirat.

Dan jika setelah membaca ini, hati Anda tergerak…

 Jika ada air mata yang jatuh, atau sekadar rasa ingin berubah walau sedikit…

 Tulis dan sampaikan isi hatimu.

Tak perlu panjang. Tak perlu sempurna. Cukup jujur.

 Tulislah di kolom komentar, atau di catatan pribadimu…

 Tentang apa yang kamu rasakan,

 Apa yang kamu rindukan,

 Atau doa apa yang ingin kau bisikkan malam ini.

Karena barangkali… saat kamu menuliskan itu,

 Ada orang lain yang juga tergerak dan kembali kepada Allah bersamamu.

Kami membaca dengan hati.

 Dan kami berdoa, semoga setiap kalimat yang ditulis dari hati…

 Akan mengetuk pintu langit dan menjadi cahaya bagi sesama.



Tuesday, April 15, 2025

Wahai Hati yang Tenang



(Renungan untuk Jiwa yang Gelisah dan Pencari Ketenangan)

Di tengah dunia yang penuh kecemasan ini, banyak hati yang gelisah. Ada yang gelisah karena takut akan murka Tuhannya. Ada pula yang gelisah karena kemiskinan, karena perut anak-anak yang belum terisi. Ada yang gelisah karena tamak tak bertepi, dan ada yang terjerembab dalam rasa bersalah yang berlebihan, merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni.

Namun wahai jiwa, tidakkah engkau dengar panggilan Allah untukmu?

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي

(QS. Al-Fajr: 27-30)

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."

Inilah seruan bagi setiap jiwa yang kembali. Allah menyebutnya "nafsun mutmainnah" — jiwa yang tenang. Jiwa yang tak lagi gelisah karena dunia, tak lagi takut karena dosa, sebab ia tahu ke mana ia harus kembali: kepada Rabb yang Maha Pengampun dan Maha Mengasihi.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan doa yang indah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang beriman kepada pertemuan dengan-Mu, yang ridha dengan pemberian-Mu, dan pasrah terhadap takdir-Mu."
(HR. Ahmad, no. 17815)

Betapa mulianya permintaan ini: bukan minta harta, bukan minta kekuasaan, tapi minta ketenangan jiwa.

Sementara itu, ada yang gelisah karena dosa-dosanya. Ia menangis setiap malam, merasa tak layak lagi di hadapan Allah. Tapi Allah berfirman dengan kasih-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ
"Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."
(QS. Az-Zumar: 53)

Maka wahai jiwa yang cemas, jangan engkau tolak rahmat Tuhanmu. Tak ada dosa yang lebih besar dari kasih-Nya.

Allah juga mengingatkan dalam Surat Al-Insyiqaq ayat 6-8 tentang arah pulang kita:

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ
فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

"Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Maka adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah."

Setiap kita sedang berjalan menuju-Nya. Lelahmu, gelisahmu, ujianmu, semuanya bukan sia-sia. Ada pertemuan yang pasti dengan-Nya. Maka tenangkanlah hatimu, dempe-dempe (melekat eratlah) pada Allah. Jangan lepas. Jangan tergoda dunia. Jangan tertipu hawa nafsu. Pegang erat Allah, dan engkau akan temukan kedamaian itu.

Penutup:

Wahai jiwa yang letih, semoga kau dengar panggilan Rabbmu. Jangan menjauh. Jangan ragu. Allah tidak akan pernah menolakmu. Kembalilah dengan hati yang tenang. Dekap Allah dalam sujudmu, dalam dzikirmu, dalam air matamu. Karena hanya dengan mengingat-Nya, hati bisa tenang:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28)


Tag: 



Sunday, April 13, 2025

KALLĀ: Sebuah Teguran yang Terlupakan




Dalam hidup ini, sering kali manusia sibuk dengan dunia:
mencari rezeki, mengejar impian, membangun nama,
namun lupa pada satu hal yang paling utama—untuk apa kita diciptakan.

Terkadang manusia merasa sudah berbuat cukup,
sudah banyak amal, sudah banyak memberi,
padahal Allah menyampaikan satu ayat teguran,
yang jika direnungkan... bisa membuat dada terasa sesak.



Allah berfirman dalam QS. ‘Abasa: 23:
كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ
Kallā, lammā yaqḍi mā amarah

“Jangan begitu! Belumlah ia melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya.”

Kata “Kallā” bukan sekadar “tidak”.
Dalam bahasa Arab Al-Qur’an, “Kallā” adalah bentuk teguran tegas.
Teguran bagi mereka yang mengabaikan kebenaran,
terutama orang-orang kafir yang mengingkari hari kebangkitan.

Tapi apakah hanya untuk mereka?
Ataukah kita pun termasuk yang terkena teguran ini?

Allah berikan kita akal, hati, nikmat hidup, makanan, udara,
tapi adakah kita sungguh-sungguh telah menunaikan perintah-Nya?
Adakah hati ini betul-betul tunduk saat shalat?
Adakah tangan ini menahan dari yang haram?
Adakah lisan ini benar-benar menjaga kehormatan sesama?

Jangan-jangan...
Kita masih sibuk menikmati karunia-Nya,
namun lalai untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba-Nya.


Penutup:

Wahai saudaraku,
Hidup bukan hanya soal berlari dan mengejar dunia,
tetapi tentang kembali dengan selamat kepada Dia yang menciptakan kita.

Jangan tunggu ajal datang lalu menyesal.
Jangan sampai ayat ini menjadi saksi bahwa kita telah ditegur… tapi tetap lalai.

“Kallā, lammā yaqḍi mā amarah.”
Jangan begitu...
Belumlah kau laksanakan perintah Tuhanmu.

Mari kita kembali dengan taubat.
Mari kita hidup sebagai hamba, bukan sekadar manusia yang hidup.
Semoga kita tergolong orang yang sadar sebelum terlambat,
dan taat sebelum diseru pulang.