Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati
Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati
Seiring bertambahnya usia, banyak dari kita mulai merasakan perubahan pada raga. Tubuh yang dahulu terasa ringan, kini mudah lelah. Gerak tidak lagi seluwes dulu, dan waktu istirahat pun terasa berbeda. Pada saat seperti inilah hati sering diuji: antara menerima dengan lapang, atau mengeluh dalam diam.
Pada fase usia tertentu, melemahnya raga sering hadir bersama keluhan-keluhan kecil yang terasa nyata. Ada yang merasakan lutut nyeri ketika berdiri terlalu lama, kaki mudah kram di malam hari, atau badan terasa kaku saat bangun tidur. Keluhan seperti ini tidak selalu berat, namun cukup untuk menguji kesabaran dan ketenangan hati, terutama ketika datang berulang-ulang.
Sebagian orang bertanya dalam batin, “Apakah ini pertanda Allah tidak lagi memberi kekuatan?”
Padahal, Al-Qur’an justru menjelaskan bahwa keadaan seperti ini adalah bagian dari sunnatullah.
Allah Ta‘ala berfirman:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً
“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban.”
(QS. Ar-Rum: 54)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa melemahnya raga bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah Dia tetapkan dengan penuh hikmah.
Namun Islam tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa usaha. Rasulullah ﷺ bersabda:
تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً
“Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.”
(HR. Abu Dawud)
Ikhtiar menjaga raga adalah bagian dari syukur.
Setiap usaha yang dilakukan dengan niat baik dan cara yang dibenarkan syariat memiliki nilai ibadah, meskipun hasilnya tidak selalu langsung terlihat.
Dalam menjalani ikhtiar, sebagian orang merasakan perubahan ketika mulai lebih memperhatikan kebutuhan raganya. Menjaga pola makan, mencukupi minum, serta mencoba cara-cara alami yang dirasakan membantu tubuh menjadi lebih rileks. Hasilnya memang tidak selalu cepat, namun bagi sebagian orang, ikhtiar kecil yang dilakukan dengan sabar mampu menghadirkan rasa ringan dan harapan.
Di sisi lain, ketenangan jiwa memiliki pengaruh besar terhadap raga. Hati yang dipenuhi kecemasan dan keluh kesah sering membuat tubuh terasa semakin berat. Sebaliknya, hati yang bersandar kepada Allah, menerima takdir dengan lapang, sering kali membuat raga lebih tenang menjalani hari.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang sederhana namun sarat makna:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Memohon ‘afiyah bukan hanya meminta terbebas dari penyakit, tetapi juga memohon ketenangan jiwa dan kekuatan raga untuk tetap taat kepada Allah.
Jika hari ini raga terasa melemah, jangan tergesa-gesa berputus asa. Bisa jadi Allah sedang mengajak kita untuk lebih mengenal diri, lebih lembut terhadap tubuh yang telah lama menemani, dan lebih dekat kepada-Nya melalui kesabaran.
Karena pada akhirnya, kesehatan jiwa dan raga bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk digunakan sebaik-baiknya dalam ketaatan kepada Allah.
Penutup Doa
Ya Allah, kuatkanlah jiwa kami ketika raga melemah. Bimbinglah kami dalam ikhtiar yang Engkau ridai, dan karuniakanlah kepada kami ketenangan serta ‘afiyah di dunia dan akhirat. Aamiin.


Comments
Post a Comment